
"Aku akan berusaha semaksimal mungkin, untuk melakukan hal yang Bapak inginkan. Serta membahagiakan Syifa," jawab Joe dengan sungguh-sungguh. "Tapi, Pak, apa ini berarti aku musti menghafal semua buku-buku ini dulu sebelum menikahi Syifa?"
"Kenapa? Kau tidak mau?" Ini bukan jawaban, tapi seperti sebuah tantangan.
"Mau." Joe mengangguk cepat. "Tapi, apa nggak terlalu lama?" Do'a untuk berwudhu saja Joe belum terlalu lancar. Tentunya, itu akan memakan banyak waktu, jika semuanya harus dihafalkan.
"Kau sudah sangat kebelet? Kepengen cepat menikahi Syifa?"
"Bisa dibilang begitu, Pak." Joe menganggukkan kepalanya dengan wajah merona. "Tapi yang jelas ... aku hanya takut, jika nantinya Bapak berubah pikiran atau Syifa diambil orang, sebelum aku dan dia menikah." Mengetahui Fahmi yang terlihat tidak ikhlas, jika dirinya telah ditolak—tentunya itu membuat Joe merasa ketakutan, kalau suatu saat Fahmi akan merebut Syifa dan Abi Hamdan pun menarik restunya.
"Nggak perlu mempunyai pikiran seperti itu, Jon. Percayalah dan fokus saja dulu pada tujuan awalmu, yakni mengenal Islam. Kalau kau memang berjodoh dengan Syifa ... semuanya pasti akan indah pada waktunya," jelas Abi Hamdan.
"Tapi ... boleh nggak, Pak, setidaknya aku dan Syifa bertunangan dulu. Supaya sedikit membuat hatiku tenang?" pinta Joe dengan raut memohon.
Abi Hamdan seketika terdiam. Dia seperti tengah memikir keras.
Meskipun Pak RT sendiri memintanya untuk mempercepat pernikahan Syifa dan Joe, tapi nyatanya Abi Hamdan sendiri tidak bisa melakukan secepat yang dia inginkan. Karena menurutnya, pernikahan itu harus dilakukan dan diselenggarakan secara matang-matang. Meskipun Joe dan Syifa dianggap sudah melakukan zina.
Abi Hamdan tentunya memiliki syarat yang kuat, untuk calon menantunya. Jangan sampai membuatnya kecewa. Sebab yang dia inginkan adalah Syifa menikah sekali seumur hidup.
Setelah beberapa menit terdiam, akhirnya Abi Hamdan pun berkata, "Besok, setelah kau menghapus tato ... kau harus belajar baca syahadat, Jon. Kemudian temui aku."
__ADS_1
"Baca syahadat itu berarti aku akan menjadi seorang muslim, dan sudah pindah agama, kan, Pak?" tanya Joe menebak.
Abi Hamdan mengangguk. "Itu benar. Nanti aku yang menyaksikan sendiri kau berikrar, tentu dengan mengundang dua saksi juga." Perlahan dia meraih selembar kertas yang tadi sempat diberikan kepada Joe, tapi belum diambil. Masih berada di atas meja. "Hafalkan saja kalimat syahadatnya, sudah kutulis disini, Jon."
Memberikan benda itu, dan langsung diambil oleh Joe. Pria tampan bermata sipit itu pun membaca kalimat syahadat berbahasa latin di sana. Abi Hamdan sengaja menulis dengan bahasa latin sebab Joe pasti tidak akan bisa jika ditulis dengan huruf Arab.
"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah."
Tulisan dua kalimat syahadat dan artinya:
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah."
Selain dua kalimat syahadat, ada pula beberapa syarat menjadi mualaf yang dituliskan. Yakni mandi besar, sudah dikhitan bagi laki-laki dan menjalankan rukun Islam.
"Mandi besar itu apa, Pak?" tanya Joe yang tampak tak paham. Tapi sudah ada kalimat do'anya, yang dilakukan saat dirinya hendak melaksanakan mandi wajib.
"Mandi besar atau mandi wajib dalam Islam dilakukan dengan tujuan untuk menyucikan diri dari hadas besar. Seperti yang dijelaskan dalam hadis, mandi besar juga termasuk syarat bagi seseorang yang baru masuk Islam. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits: “Aku mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk masuk Islam. Kemudian beliau menyuruhku untuk mandi dengan air dan daun bidara.” (HR. Abu Daud)," jelas Abi Hamdan. "Mandi wajib dilakukan sehabis kamu mengucapkan syahadat saja, Jon."
"Baik, Pak." Joe mengangguk paham. "Tapi besok, aku temui Bapak di mana? Dan jam berapa?"
"Besok aku yang memberitahumu. Sekarang ... kau pulang saja, karena ini sudah sore dan aku juga mau pergi ke rumah Pak RT." Abi Hamdan perlahan berdiri. Begitu pun dengan Joe, tapi dia langsung membenarkan sarungnya sebab melorot. Serta menenteng kantong merah. "Besok-besok benarkan lagi cara memakai sarungnya, biar nggak melorot terus," tambahnya menegur.
__ADS_1
"Iya, nanti aku minta diajari Sandi lagi, Pak."
"Pakai daleman juga dong, jangan dilepasin begitu. Apa kau nggak takut dia terbang?"
"Mana mungkin dia terbang. Kan nggak ada sayap, Pak," kekeh Joe. Dia menganggap Abi Hamdan tengah bercanda, akan tetapi wajah pria itu terlihat begitu datar tanpa ekspresi.
Mereka pun melangkah bersama menuju kamar Syifa. Abi Hamdan pun lantas mengetuk pintu.
Tok ... Tok ... Tok.
"Pak, berarti besok ... setelah aku membaca syahadat, dan resmi menjadi seorang muslim, aku langsung bisa bertunangan dengan Syifa? Hari itu juga?" Pertanyaan dari Joe bertepatan dengan Syifa yang baru saja membukakan pintu kamarnya.
Ceklek~
"Ya." Abi Hamdan mengangguk. "Tunangannya nggak usah mewah, tukar cincin dan pertemuan keluarga saja, Jon."
"Berarti keluargaku disuruh datang juga ke sini?" terka Joe.
"Iya. Kau masih punya orang tua, kan?" tanya Abi Hamdam.
'Aku dan Pak Joe akan bertunangan besok?' batin Syifa dengan kedua pipi yang tampak memerah. Matanya melirik ke arah Joe dengan debaran jantung di dada. 'Tapi kenapa pakai tunangan segala? Kenapa nggak langsung nikah saja?'
__ADS_1
...rupanya Bu Syifa juga udah ga sabar, ya 🤣...