
"Pak Jonathan astaghfirullah!" Pak Polisi sontak membelalakkan matanya, saat mendapati Beni sudah hilang kesadaran.
Cepat-cepat, dia yang dibantu temannya yang baru saja menghampiri langsung menarik tubuh Joe hingga membuatnya berdiri.
Setelah itu, dia lantas berjongkok ke arah Beni. Jari telunjuknya ditempelkan pada lubang hidungnya. Untuk bisa memastikan jika pria itu masih bernapas atau tidak.
"Astaghfirullah! Dia nggak bernapas, Pak! Cepat kita bawa ke rumah sakit!" perintahnya pada rekan seprofesinya. Sebab memang dia tak merasakan angin yang berhembus dari lubang hidung pria itu.
"Ayok, Pak." Rekannya itu mengangguk, kemudian berjongkok dan meraih tubuh Beni.
Keduanya berlari pergi dari sana, membawa Beni. Sedangkan polisi yang satunya datang menghampiri Joe, dia baru saja selesai memasukkan kedua teman Beni ke dalam mobil. Tentunya dengan diborgol juga, supaya tak kabur.
"Syifa!" Joe langsung berlari menghampiri Syifa saat mengingat akan dirinya yang sejak tadi menangis. Dia melihat, kaki putih calon istrinya berada dibalik tumpukan kardus kosong.
"Jangan mendekat!" teriak Syifa histeris. Dia beringsut mundur dengan wajah ketakutan, tubuhnya terlihat bergetar hebat. Kedua tangannya itu menyilang ke arah dada, berusaha menutupi bagian-bagian tubuh supaya tak dapat dilihat orang lain.
Joe masih melangkah pelan. Perlahan dia pun melepaskan jas, kemudian melepaskan beberapa kancing kemejanya.
"Jangan mendekat kataku! Jangan perko*sa aku!" teriak Syifa yang makin kencang sambil menangis.
__ADS_1
Melihatnya yang begitu ketakutan, Joe akhirnya menghentikan langkahnya. Padahal niat Joe, ingin memberikan apa yang dia pakai kepada Syifa. Supaya gadis itu dapat menutupi tubuhnya.
"Aku Jonathan, Fa. Aku nggak akan mempe*rkosamu. Aku datang justru membantumu." Perlahan, Joe berjongkok. Tangan kanannya pun terulur dengan pelan ke arah Syifa yang tengah menundukkan wajahnya. Rambut panjang berwarna hitamnya bergerai indah. "Tolong pakailah ini untuk sementara, biar aku akan membawakan baju ganti untukmu," pintanya dengan lembut.
Bukannya mengambil, Syifa justru menangis pilu dengan menutupi wajahnya. Dia merasa, saat ini hidupnya benar-benar telah hancur. Dunia pun rasanya runtuh.
"Hiks! Hiks!"
"Tenanglah, Fa. Aku sudah datang dan menolongmu," ucap Joe dengan lembut seraya mengusap puncak rambut Syifa. Akan tetapi, gadis itu menepisnya. Jas abu yang sudah Joe lepaskan kini diletakkan di samping kaki kanan Syifa, sebab sejak tadi belum diambil. "Kamu sudah aman sekarang. Tunggu sebentar ... aku akan mencarikan baju untukmu supaya kita bisa pulang, ya?"
Joe tersenyum manis. Dia lantas berdiri. Baru saja kakinya hendak melangkah pergi, tetapi seketika urung saat di mana Syifa berucap,
"Aku nggak mau menikah dengan Bapak." Suara Syifa begitu lirih, tertahan oleh tangisnya dan terasa begitu menyesakkan dada.
"Harusnya Bapak nggak perlu tanya kenapa. Kan Bapak sudah tau sendiri, apa yang telah aku alami, hiks!" rintih Syifa.
"Terus kenapa? Apa masalahnya di sini, Fa? Yang penting 'kan kamu sudah baik-baik saja sekarang."
"Baik-baik saja apanya, Pak?" Syifa mengangkat wajahnya yang sudah banjir karena air mata. Matanya merah begitu pun dengan seluruh wajahnya. "Aku sudah nggak suci lagi. Aku wanita kotor, hiks!"
__ADS_1
Jantung Joe sontak berdebar kencang. Dadanya terasa berdenyut. Ngilu sekali rasanya, mendengar apa yang terucap dibibir gadis pujaan hati itu.
Namun, dia sendiri justru memilih untuk menyalahkan dirinya sendiri. Sebab kalau benar itu semua telah terjadi—itu dikarenakan dia lah yang lalai. Telat datang untuk menyelamatkan.
Harusnya, Joe juga tidak perlu mandi saat itu. Supaya tidak meninggalkan Syifa bersama Robert.
"Kamu benar-benar sudah dilecehkan tadi? Dia memperko*samu?" tanya Joe dengan bibir yang bergetar. Bola matanya tampak berkaca-kaca. Dia tentunya ikut sedih. Melihat calon istrinya bersedih.
Syifa hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Tapi sejujurnya, dia sendiri tak tahu jelas bagaimana kejadiannya. Sebab saat terbangun dari pingsan, Syifa sudah melihat Beni tengah berada di atas tubuhnya yang bermandikan keringat. Sedang menciumi bibir.
Keadaan mereka pun yang bisa dikatakan tak berbusana. Selain itu, Syifa juga sekarang merasakan seluruh tubuhnya sakit, sela*ngkangannya, serta kepala. Jadi semua itu rasanya sudah meyakinkan hatinya, jika Beni benar-benar sudah melakukan tindakan asusila.
"Aku benar-benar wanita kotor, Pak! Bapak pasti sudah jijik kepadaku, kan, hiks?!" Syifa kembali menangis, meratapi nasibnya.
"Kamu bukan wanita kotor, Fa!" tegas Joe dengan gelengan kepala. "Aku juga nggak peduli dengan apa yang telah terjadi. Karena kamu tetap akan menikah denganku!"
"Tapi aku tetap nggak mau menikah dengan Bapak!" tegas Syifa sambil menggeleng cepat.
__ADS_1
"Kenapa, Fa?" Suara Joe terdengar begitu lembut. Air mata pun seketika luruh, membasahi kedua pipinya. "Bukan cuma aku saja yang telah berjuang. Tapi Robert juga. Masa kita sudah dititik ini harus nggak jadi menikah? Masa perjuanganku sia-sia?"
...Kalau Syifa tetap nggak mau, nikahin Authornya aja, Om 🤣...