Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
76. Ada cucu kedua Papi dan Mami


__ADS_3

Opa Angga lantas berjongkok, lalu berbisik ke telinga kanan cucunya. "Memangnya, Daddynya si Robert seorang duda, Jun?"


"Iya. Duda karatan, Opa," jawab Juna sambil menganggukkan kepalanya.


"Kok bisa, jadi duda karatan? Memangnya Daddynya besi?" Alis mata Opa Angga tampak bertaut. Cucunya itu memang terkadang aneh kalau bicara.


"Om Joe sudah menjadi duda saat Robert dilahirkan. Wajarlah karatan, orang 7 tahun, Opa," sahut Juna. Dia memerhatikan Robert yang masih lompat-lompat, bahkan sekarang sambil berguling-guling di lantai. Benar-benar konyol menurutnya.


"Ucapan kamu ini kayak orang dewasa saja, Jun. Tapi nggak ada duda karatan di dunia ini tau," papar Opa Angga memberitahu.


"Ada. Ya buktinya itu Daddynya si Robert." Juna terlihat bersikukuh.


"Coba Papi telepon Pak Pendeta Yosi, suruh dia ke sini, Pi," titah Mami Yeri kepada sang suami. Pak Pendeta tersebut memang memiliki kesaktian mengusir roh halus, serta dapat mengetahui seseorang terkena ilmu hitam atau tidak.


"Ck!" Mendengar itu, Robert langsung berdecak kesal. Permintaannya saja belum mereka jawab, tapi mereka justru seperti mengabaikannya. 'Oma dan Opa nyebelin! Harusnya, jawab dulu permintaan si macan putih ini. Jangan malah suruh paranormal untuk datang. Dan kalau bukan Ustad Yunus ... bisa-bisa bahaya, aku akan ketahuan, kalau aku nggak benar-benar kesurupan.'


"Nggak perlu, Nyonya!" cegah Sandi dengan kedua tangan yang melambai. Dia terlihat ikut panik, sebab merasa takut jika rencana anak majikannya itu gagal.


Papi Paul yang sudah memegang ponsel hendak menghubungi Pak Pendeta lantas tidak jadi. "Kenapa, San?"


"Omku kebetulan seorang ustad, dia juga orang yang bisa mengusir mahkluk halus, Tuan," tambah Sandi kemudian berlari menuju pintu.


Diluar sana memang sudah ada Ustad Yunus yang menunggu aba-aba darinya. Sandi sudah menceritakan segalanya lewat telepon dan dia mengatakan akan bersedia untuk membantu, segera menyusul ke rumah sakit.


Namun, saat Sandi sudah membuka pintu. Justru Abi Hamdan dan Umi Maryam lah yang ada di depannya. Keduanya kebetulan baru datang.

__ADS_1


"Eh, Ustad Hamdan, Bu Maryam," cicit Sandi yang tampak kaget. Melihat mereka tiba-tiba berada di depannya.


"Astaghfirullah! Robert! Kenapa kamu, Nak!" Abi Hamdan berteriak dengan lantang ketika melihat apa yang tengah terjadi. Gegas dia berlari menghampiri Robert, lalu berjongkok dan menyentuh kening bocah itu.


"Dia kesurupan Ustad, cepat bantu dia!" titah Juna. Dia berpikir kalau Abi Hamdan adalah Omnya Sandi.


"Kesurupan?! Benarkah?" Abi Hamdan langsung melepaskan kedua sepatu yang Robert kenakan. Susah payah dia melakukannya sebab Robert terlihat memberontak. Setelah itu dia menyentuh beberapa titik dimana tempat untuk mengusir mahkluk ghaib ditubuh Robert, sambil membaca do'a-do'a.


Dia melakukannya tidak asal. Sebab memang Abi Hamdan mengerti dan pernah menyembuhkan orang yang kesurupan.


"Aaaww! Sakit Opa!" teriak Robert kesakitan, saat jempol kakinya ditekan oleh Abi Hamdan. Padahal dia tidak kesurupan beneran, tapi memang apa yang dilakukan pria itu terasa begitu sakit.


"Nah, udah keluar rohnya berarti," ucap Opa Angga.


"Belum! Aku masih macan putih!" teriak Robert penuh amarah. Dia merasa kesal sebab permintaannya belum berhasil terlaksana, tapi Abi Hamdan datang-datang sudah mengobatinya. Dan seperti mengacaukan semua rencananya.


"Robert kesurupan beneran, Opa!" tegas Robert yang sudah keceplosan, jika dirinya menyebutkan nama dalam panggilannya. Harusnya, kata itu menggunakan 'aku' bukan 'Robert'


Apa yang bocah itu katakan bertepatan dengan kedatangan Joe dan Syifa, yang masuk ke dalam sana.


Mereka awalnya tidak berniat datang, sebab sejujurnya mereka juga baru tahu jika Papi Paul dan Mami Yeri dirawat di rumah sakit itu. Akan tetapi, kedatangannya berawal dari Joe dan Syifa yang pulang ke rumah Abi Hamdan.


Namun, saat mereka hendak turun dari mobil taksi, keduanya justru melihat dua orang tua itu naik motor. Merasa penasaran, jadilah Joe dan Syifa ikut membuntuti sampai sekarang.


Papi Paul dan Mami Yeri yang mempercayai ucapan Abi Hamdan sontak membelalakkan matanya, wajah kedua pun seketika merah padam.

__ADS_1


"Jadi kamu daritadi pura-pura kesurupan, Rob?!" tanya Papi Paul penuh curiga. Sorotan matanya begitu tajam.


"Kamu melakukannya hanya karena Bu Syifa? Benar begitu?" tebak Mami Yeri sambil tersenyum miring. Tampaknya, dia dan suaminya itu marah sekaligus kesal dengan sikap yang sang cucu berbuat. "Kenapa kamu berlebihan sekali, sih?"


"Robert nggak berlebihan, Mi!" tegas Joe. Suaranya yang nyaring itu seketika mengalihkan atensi mereka semua. Dan mereka semua juga baru sadar akan kehadirannya. "Dia melakukan hal itu hanya untuk membantuku, demi mendapatkan restu dari kalian!" Meskipun Joe tidak tahu awal dari apa yang dilakukan sang anak, tapi dia sudah paham lantaran mendengar apa yang diucapkan orang tuanya.


Cepat-cepat, Joe pun meraih tubuh Robert yang masih merangkak di lantai. Perlahan dia pun mengendongnya dari depan.


"Oh. Jadi kamu yang nyuruh, Joe," ujar Papi Paul dengan tatapan tajam ke sang anak. "Tega sekali ya, kamu, membawa-bawa anakku dari perkara ini!" hardiknya kemudian.


"Apa kamu nggak sayang sama Robert, Joe!" teriak Mami Yeri marah, lalu mengambil tubuh Robert secara paksa untuk menggendongnya. "Selama ini Robert sakit keras, pasti kamu tahu itu, kan? Dan kamu nggak memberitahu Papi dan Mami. Tapi sekarang kamu justru menyiksa anakmu seperti ini dengan cara menyuruhnya!" Dia juga memerhatikan Syifa sebentar dengan sinis, wajah gadis itu terlihat lesu sekali meskipun sudah mandi.


'Lesu sekali wajah si Syifa. Kira-kira, apa yang habis dia dan Joe lakukan semalaman? Apa jangan-jangan mereka ....' Seketika, khayalan Mami Yeri menjadi negatif. Entah mengapa dia justru menebak jika Joe dan Syifa habis melakukan malam bersama.


Padahal, gadis itu terlihat lesu karena kurang tidur saja. Sebab terus memikirkan adegan ciumannya bersama Jonathan.


"Robert nggak merasa tersiksa untuk membantu Daddy, Oma!" tegas Robert sambil menepuk dada. Tentunya, dia akan membela Joe. Dan dia memang jujur tak pernah merasa keberatan, malahan ikut senang kalau Daddynya masih berjuang untuk mendapatkan Syifa. "Karena Robert juga sangat ingin Bu Syifa lah yang menjadi Mommy Robert!" sambungnya dengan lantang sambil menatap wajah Syifa dengan bola mata yang berbinar.


"Papi dan Mami mau nggak mau harus merestui aku untuk jadi mualaf dan menikahi Syifa. Karena ...." Joe menggantung ucapannya dengan napas yang memburu. Berbicara dengan nada keras memang cukup menguras energi.


"Karena apa?!" bentak Papi Paul dengan emosi yang memuncak.


"Karena Syifa ...." Joe langsung menoleh kepada Syifa yang berada di sampingnya. Tangan kanannya perlahan terulur ke arah perut, lantas mengusapnya dengan lembut. "Karena ada cucu kedua Papi dan Mami di dalam sini."


"Apa?!" Bukan hanya Papi Paul dan Mami Yeri saja yang berteriak histeris dengan keterkejutannya. Tapi Abi Hamdan juga, yang dibuat tercengang mendengarnya.

__ADS_1


...Kapan bikinnya, Om, tau-tau udah jadi? 😆...


__ADS_2