
"Syifa! Umi!" Fahmi menoleh ke arah perempuan yang dia sebut namanya. "Siapa laki-laki ini sebenarnya? Kenapa dia mengaku-ngaku calon suami Syifa?!"
"Namanya Pak Joe. Dan anaknya namanya Robert, Nak." Yang menyahut adalah Umi Maryam. "Umi dan Abinya Syifa memang sudah memutuskan untuk menikahkan Syifa dengan Pak Joe, bukan denganmu," ungkapnya.
Pernyataan yang terlontar dari mulut Umi Maryam seketika membuat Fahmi membelalakkan matanya. Tentunya, dia merasa terkejut, bercampur tak percaya.
Namun, berbeda dengan Syifa. Dia sendiri merasa lega, sebab tak jadi menikah dengan Fahmi.
"Umi ini sedang mimpi atau gimana, sih? Jelas Abi dan Papaku mengatakan kalau aku dan Syifa akan dijodohkan. Pernikahan kami saja akan dipercepat!" Fahmi langsung meriah tangan kanan Syifa, lalu menggenggamnya dengan erat.
"Aku nggak mau menikah dengan Kakak!" bantah Syifa seraya menarik tangan Fahmi untuk terlepas dari tangannya, akan tetapi terasa sulit.
"Apa yang kamu katakan, Fa?! Kita itu memang akan menikah!" tegas Fahmi.
Joe yang melihat dan merasa tak ikhlas, jika calon istrinya itu disentuh pria lain—gegas dia pun menepisnya kasar, Kemudian menarik tubuh Syifa untuk berada di dekatnya.
"Apa-apaan kau ini? Jangan kurang ajar, ya! Syifa itu calon istriku!" geram Fahmi jengkel. Kembali, dia mencoba untuk mengenggam tangan Syifa. Tapi lagi-lagi, Joe menghalanginya.
"Jangan sentuh Syifa!" teriak Joe marah.
"Kau yang jangan sentuh dia! Kau itu bukan orang Islam! Haram hukumnya!" Fahmi mendorong dada Joe dengan kasar, lalu menarik tangan Syifa. Dia teringat ucapan Abi Hamdan waktu itu, yang mengatakan jika ada seorang pria beragama non muslim yang menyukai anaknya.
Dan sekarang, Fahmi yakin—jika orang yang dimaksud itu adalah pria di depannya saat ini.
Baru saja Fahmi hendak membawa gadis itu ke mobilnya, tapi dengan cepat Joe menghentikan aksinya. Menahan tangan sebelah Syifa.
__ADS_1
"Kamu mau bawa Syifa ke mana?! Jangan membawanya!" tekan Joe. Dilihat sekarang Fahmi sudah melototinya, rahang diwajah tampannya juga tampak mengeras sempurna.
"Lepaskan aku, Kak!" teriak Syifa yang mulai memberontak. Dia juga merasakan sakit pada pergelangan tangannya, yang dicekal oleh Fahmi. Pria itu seperti sudah mencengkeramnya sekarang.
Umi Maryam langsung berlari masuk ke dalam rumah, ingin melaporkan kepada suaminya. Dia tentu tak mau, jika kedua pria itu berkelahi memperebutkan Syifa.
"Jangan kasari calon istriku Fahmi!" Merasa kesal dengan tingkahnya, sedangkan dia sendiri merasa kasihan serta tak ikhlas, Joe pun tanpa berpikir panjang segera mendorong dada pria itu dengan kasar.
Dengan sekali hentakkan saja, pria itu langsung terjatuh. Bokongnya menghantam lantai teras dan terasa sakit.
Bruk!!
"Br*ngsek! Kurang ajar sekali kau! Dasar manusia kafir!" geram Fahmi. Emosinya sudah benar-benar naik ke ubun-ubun. Tangannya pun terasa gatal ingin menghajar pria di depannya, apalagi dia memang paling membenci orang yang beragama non muslim.
Bugh!
"Rasakan itu!" seru Fahmi dengan puas.
Robert dan Syifa sontak terbelalak melihatnya. Bocah laki-laki itu langsung mengepalkan kedua tangannya, ingin membalas perbuatan Fahmi yang telah menyakiti Daddynya.
Namun, saat kepalan tangannya itu sudah melayang ke udara, Joe malah lebih duluan menonjok pipi kanan Fahmi. Berupaya membalasnya.
Bugh!
Lagian, tubuh Robert juga terlalu kecil jadi bocah itu tak akan sampai untuk bisa menonjok Fahmi.
__ADS_1
"Aaww!" Fahmi meringis kesakitan. Tak menunggu waktu yang lama, bogem mentah selanjutnya dia layangkan ke pipi kiri Joe. "Kau benar-benar ingin mengajakku ribut, ya!" geramnya penuh emosi.
Bugh!
Joe langsung mendorong tubuh Fahmi, menghentakkannya kembali hingga membuatnya jatuh terlentang. Setelah itu dia menghentakkan bokongnya, di atas perut Fahmi.
Bruk!
Tak peduli kalau saat ini tongkatnya tertindih dan sakit. Sebab sekarang, Joe juga ikut tersulut emosi. Dia juga benar-benar tanpa sadar melupakan sarungnya yang sudah melorot sampai paha, sehingga bokong putihnya itu terlihat ke mana-mana.
Syifa dan Robert sontak terbelalak. Segera, Syifa menutup matanya. Dia juga menutupi mata Robert. 'Astagfirullah! Kok Pak Joe nggak pakai daleman?! Untung putih dan mulus!' batin Syifa.
'Daddy pamer bokong lagi,' batin Robert.
"Hentikan Jojon!" Terdengar suara bariton seseorang yang baru saja datang menghampiri. Cepat-cepat dia menahan tangan Joe yang hendak memberikan bogem mentah selanjutnya untuk Fahmi.
Ternyata dia adalah Abi Hamdan. Dia baru saja keluar dari pintu rumahnya bersama Pak Haji Samsul, sehabis diberitahu Umi Maryam jika dua pria di depan seperti akan berkelahi.
Dan saat melihatnya secara langsung, keduanya memang sudah berkelahi. Bahkan terlihat jelas jika Joe hendak menonjok pipi Fahmi.
"Apa kau mau jadi preman?! Jangan menyakiti Nak Fahmi, Jon!" teriaknya marah.
"Cepat usir pria gila itu, Bi!" perintah Fahmi dengan lantang.
...Dih, apa ga kebalik 🤣 situ aja yang diusir 🤭...
__ADS_1