
"Perkenalkan, Fa, mereka Mami dan Papiku," ucap Joe mengenalkan dua orang di samping kanan kirinya. Syifa sendiri sejak tadi hanya tersenyum sambil memandangi kedua orang tuanya. "Namanya Mami Yeri dan Papi Paul," tambahnya.
"Selamat siang Tante, Om," sapa Syifa.
Dia mendekat ke arah Mami Yeri terlebih dahulu. Tubuhnya agak membungkuk dengan tangan yang perlahan meraihnya. Akan tetapi saat hendak mencium, wanita itu justru menarik tangannya sendiri. Sehingga membuat Syifa tak jadi mencium punggung tangannya.
"Joe, apa dia yang bernama Syifa?" tanya Mami Yeri dengan wajah yang masih terlihat syok, dia menoleh ke arah anaknya.
"Iya, Mi." Joe mengangguk sambil tersenyum manis. "Dia calon menantu Mami dan Papi. Cantik, kan?"
"Tapi kenapa dia pakai kerudung, Joe? Apa jangan-jangan dia ...." Ucapan Papi Paul terhenti, saat pintu rumah itu dilebarkan oleh seseorang yang baru saja keluar. Dan ternyata dia adalah Abi Hamdan.
"Selamat datang Pak, Bu, salam kenal," sapanya sambil tersenyum dengan tangan yang terulur ke arah Papi Paul.
Jika dia terlihat tidak ramah kepada Joe, namun berbeda kepada kedua orang tua Joe. Tampak jelas bahwa senyuman yang terbit dibibir pria paruh baya itu sangatlah tulus.
Dia juga terlihat senang, sebab besannya yang Joe katakan sedang berada di Korea—sekarang sudah ada di depan mata.
Bukannya menjawab sapaan Abi Hamdan atau pun Syifa, orang tua Joe justru sekarang sibuk memerhatikan apa yang dipakai pria di depannya. Yakni Koko pendek berwarna hitam, sarung batik berwarna hitam kuning serta peci hitam.
Mereka terlihat kebingungan dan tak menyangka, sebab bisa dipastikan jika calon besan serta calon menantunya itu berbeda agama.
'Apa dia Abinya Syifa?' Papi Paul menerka-nerka dalam hati. 'Apa-apaan ini? Mereka seperti umat muslim. Bagaimana bisa, Joe sama Syifa menikah? Ini 'kan nggak boleh.'
"Papi sama Mami kok diam saja? Itu Syifa dan Abinya 'kan nyapa," tegur Joe seraya menyenggol lengan keduanya hingga membuat Papi dan Maminya tersentak kaget. Dia sendiri merasa tak enak, melihat Syifa dan Abi Hamdan yang terlalu ramah sedangkan orang tuanya sendiri sejak tadi kebanyakan bengong.
Papi Paul cepat-cepat meraih tangan Abi Hamdan, lalu menatapnya dengan heran. "Salam kenal juga. Maaf sebelumnya, tapi apakah aku dan istriku bisa pamit sebentar bersama Joe? Karena ingin mengobrol sesuatu hal yang penting?" tanyanya meminta izin, perlahan melepaskan genggaman tangan.
"Maksudnya kalian ingin pulang lagi? Bukannya baru sampai?" tebak Abi Hamdan bingung.
"Bukan." Papi Paul menggelengkan kepalanya. "Tapi mengobrol di dalam mobil saja. Ayok, Joe!" ajak Papi Paul seraya menarik cepat lengan Joe untuk ikut dengannya masuk ke dalam mobil. Mami Yeri pun segera menyusul.
"Bi, orang tua Pak Joe kok kelihatan aneh, ya? Kenapa dengan mereka?" tanya Syifa heran yang sejak tadi memerhatikan gerak gerik keduanya.
__ADS_1
Akan tetapi perasaannya mendadak tidak enak entah mengapa, apalagi mengingat saat dimana Mami Yeri tak mau dicium punggung tangannya. 'Mereka mau mengobrol tentang apa, ya, kira-kira? Dan apa hanya perasaanku saja ... kalau Maminya Pak Joe seperti nggak menyukaiku?' batinnya.
Sebelum Joe datang, Syifa sudah lebih dulu bertanya kepada Abi Hamdan tentang orang tua Joe.
Apakah mereka tahu, kalau Joe akan menikahinya?
Abi Hamdan sendiri menjawab sudah, karena memang itu juga jawaban dari Joe.
Jadi, Syifa berpikir kalau kedua orang tua Joe sudah merestui. Bukan hanya tentang Joe yang akan menjadi mualaf, tapi juga dengan hubungan mereka berdua.
"Abi juga nggak tau," sahut Abi Hamdan sambil menggelengkan kepala. Tak lama, Umi Maryam pun keluar menghampiri mereka berdua.
Wanita paruh baya itu memakai gamis bunga-bunga berwarna merah, senada dengan kerudungnya.
"Mana Pak Joe dan orang tuanya? Apa sudah datang?" tanyanya penasaran. Umi Maryam melihat ke arah Sandi yang masih berdiri mematung, pria itu pun segera mendekat dan memberikan roti buaya di tangannya.
"Ini roti buaya dari Maminya Pak Joe, Bu, mohon diterima," ucap Sandi sambil tersenyum.
"Sama-sama, Bu," sahut Sandi dengan kepala yang mengangguk sedikit. "Tapi terima kasihnya kepada Nyonya Yerinya saja, jangan ke saya."
"Nyonya Yeri itu siapa?" tanya Umi Maryam.
"Dia Maminya Pak Joe, Bu," jawab Sandi.
"Oh. Terus ke mana mereka? Apa nggak jadi datang?"
"Joe dan orang tuanya ada di dalam mobil, Mi." Abi Hamdan menggerakkan dagunya ke arah mobil Joe di depannya, sang istri langsung mengikuti arah yang dimaksud.
"Kok nggak turun mereka? Apa ada yang ketinggalan di mobil?" tanya Umi Maryam. Dia terlihat sudah tak sabar ingin melihat calon besannya.
"Udah turun kok tadi, Mi," sahut Syifa. "Tapi mereka mengajak Pak Joe untuk masuk lagi ke dalam mobil, katanya ingin bicara sesuatu."
"Oh. Ya sudah, kita tunggu saja mereka turun lagi, Fa." Umi Maryam perlahan merangkul bahu anaknya, kemudian mencium keningnya.
__ADS_1
"Iya, Mi." Syifa menganggukkan kepalanya.
Sementara itu di dalam mobil.
"Papi dan Mami ngapain ngajak aku masuk ke dalam mobil? Bukannya pas belum sampai katanya nggak sabar ketemu Syifa, ya? Tadi Syifa ... tapi kok kalian nggak menjawab sapaannya?" Beberapa rentetan pertanyaan itu terlontar, saat Joe sudah masuk dan duduk di dalam mobil pada kursi belakang.
"Kamu ini gila apa gimana, sih, Joe? Masa mau menikahi perempuan muslim? Kan itu dilarang di agama kita!" tegur Papi Paul mengomel. Dia benar-benar merasa tidak menyangka sekali.
"Aku sepertinya lupa ngasih tau Papi dan Mami ... sebenarnya aku memang hari ini mempunyai niat ingin menjadi mualaf."
Tentunya, apa yang dikatakan Joe membuat Papi Paul dan Mami Yeri terkejut bukan main. Kedua bola mata keduanya sampai membulat sempurna.
"Apa?!" Keduanya memekik secara spontan. "Kamu nggak perlu bercanda deh, Joe! Ini nggak lucu!" Mami Yeri tampak marah.
"Aku nggak bercanda Mi, Pi, aku serius," jawab Joe dengan sungguh-sungguh. "Aku ingin menjadi bagian dari Islam, salah satu umatnya. dan aku mau ... menjadi imam yang baik untuk Syifa. Jika dia bukan yang pertama, tapi aku berharap ... dia menjadi yang terakhir," tambahnya sambil menyentuh dada yang berdebar kencang. Pandangannya menatap lurus ke depan, tepat di mana Syifa berada.
"Jadi kamu masuk Islam hanya karena Syifa?!" Papi Paul mulai meninggikan nada suaranya. Mendadak dia emosi. Ini menyangkut hidup dan mati seseorang, agama adalah pondasi kehidupan.
"Nggak, Pi!" sahut Joe cepat. Kepalanya menggeleng. "Aku memang sudah suka sama Syifa awalnya, tapi niatku masuk Islam karena aku merasa itu jalan hidupku. Bukan karena Syifa."
"Itu pasti alasan kamu saja, Joe!" bantah Mami Yeri.
Jelas, dia tak percaya dengan alasan Joe. Sebab dia sendiri tahu jika Joe selama ini rajin beribadah ke gereja. Serta selalu membawa-bawa nama Tuhan Yesus setiap langkah kehidupannya. Bisa dikatakan, Joe termasuk manusia yang taat sebagai kaum Nasrani.
"Aku berani bersumpah, Mi!" seru Joe dengan yakin.
"Pokoknya Papi nggak mau, Joe! Papi nggak mau kamu masuk Islam atau menikah dengan Syifa! Itu dosa!" tegas Papi Paul.
"Mami juga nggak mau! Mami nggak setuju!" tegas Mami Yeri menimpali. "Kamu lahir karena atas karunia Tuhan Yesus, masa kamu dengan tega meninggalkannya?"
...Novel ini dibuat tidak untuk menyinggung agama mana pun....
...Jika ada salah-salah kata Author minta maaf, karena besok juga Insya Allah kita yang beragama Islam akan merayakan lebaran 🙏☺️...
__ADS_1