Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
6. Jatuh cinta pada pandangan pertama


__ADS_3

"Pagi, Pak Joe," sapa Pak Bambang yang baru saja datang menghampiri. Pria berjas hitam itu membawa buku absen di tangannya.


"Pagi, Pak." Joe mengangguk sambil tersenyum menatapnya. "Oh ya, Pak, guru yang bernama Syifa sudah datang atau belum, ya?" tanyanya.


Sebenarnya dia hanya ingin memastikan dulu, benar atau tidaknya Syifa orang yang sama. Tapi kalau soal menjadikannya istri, Joe musti pikir-pikir dulu. Karena pernikahan bukanlah hal yang main-main.


"Hari ini Bu Syifa kebetulan nggak mengajar, Pak," sahut Pak Bambang.


"Kenapa?"


"Dia nggak enak badan katanya."


"Oh begitu." Joe menganggukkan kepalanya.


"Memangnya ada apa ya, Pak? Apa Bapak butuh sesuatu?"


"Nggak sih, cuma tanya saja." Joe menggeleng cepat. "Ya sudah, Pak, kalau begitu aku permisi." Kakinya melangkah. Pada akhirnya Joe memilih untuk pergi ke kantor.


*


*


Siang hari.


Seluruh murid-murid sekolah SD itu pun keluar dari kelas sebab jam pelajaran telah usai, begitu pun dengan Robert dan beberapa teman-temannya.


Bocah laki-laki itu langsung melangkah menghampiri Sandi, sopir sekaligus bodyguardnya itu. Yang sudah standby berdiri di samping mobilnya.


"Kok Om Sandi yang jemput? Di mana Daddy?" tanyanya seraya menatap sekitar.


"Daddy sibuk ada meeting katanya, Dek."


"Padahal Robert mau mengajak Daddy ke rumahnya Bu Syifa, mau jenguk dia yang lagi sakit, Om." Robert merengut lesu, lalu menoleh ke arah Baim teman sebangkunya.


Rencananya pulang sekolah dia dan Baim ingin mengerjakan PR bareng di rumah. Tapi sebelum itu mereka ingin menjenguk Syifa terlebih dahulu.


"Bareng sama Om saja. Ayok," ajak Sandi seraya membukakan pintu belakang mobil.


"Eemm ... ya sudah, deh. Ayok, Im kita masuk," ajak Robert pada Baim. Teman sebayanya itu langsung mengangguk dan keduanya masuk bersama.


***


Sementara itu di sebuah rumah sederhana berwarna oranye, Syifa yang telah selesai makan dan masuk kamar dihampiri oleh Abi Hamdan. Pria berkoko putih berumur 50 tahun itu membawakan secangkir air jahe panas di tangannya, lalu meletakkan di atas nakas.


"Aku sudah sembuh kok, Bi, nggak usah minum air jahe lagi," ucap Syifa menolak sambil mengelus perutnya.

__ADS_1


Tadi pagi dia sempat muntah-muntah karena masuk angin, ditambah tubuhnya juga menggigil dan akhirnya dia terpaksa tidak mengajar.


"Nggak apa-apa, nanti kamu minum lagi biar tubuhmu tambah fit." Abi Hamdan merangkul bahu Syifa, lalu membantunya untuk berbaring di kasur. Setelah itu dia duduk di sampingnya, kemudian menyelimuti Syifa sampai sebatas perut. "Oh ya, Abi ingin kamu jujur sama Abi, Fa," pintanya dengan lembut.


"Jujur apa, Bi?" tanya Syifa.


"Sebenarnya kamu dan Beni masih punya hubungan nggak?"


Sebelumnya, setelah tahu Syifa dan Beni berpacaran, Abi Hamdan langsung memintanya untuk langsung mengakhiri hubungan. Syifa menyetujui, tapi ternyata tanpa sepengetahuannya, dia diam-diam masih menjalin hubungan.


"Udah nggak kok," jawab Syifa sungguh-sungguh. "Kan dari awal Abi minta suruh putus, dan aku bilang sudah aku putusin."


"Tapi kemarin kata salah satu ibu pengajian ... dia melihat kamu boncengan naik motor pagi-pagi."


"Salah lihat kali itu, Bi. Nggak mungkinlah," kilah Syifa. Sengaja dia berbohong sebab merasa takut.


"Bener? Bohong nggak kamu kira-kira?" Abi Hamdan memperhatikan wajah Syifa dengan lekat. Gadis itu pun memilih untuk menarik selimut untuk menutupi wajahnya.


"Aku mau tidur, Bi, ngantuk banget," ucapnya beralasan. Demi menghindari pertanyaan lebih lanjut.


"Ya sudah, tidur siang dulu sa—" Ucapan Abi Hamdan langsung terhenti lantaran mendengar suara bocah laki-laki diluar rumah.


"Assalamualaikum Bu Syifa!"


Tepat di depan sana, dia melihat kedua muridnya berdiri di depan mobil hitam.


"Siapa mereka, Fa?" tanya Abi Hamdan yang ikut melihat dari jendela.


"Mereka muridku, Bi. Tapi kok mereka tau rumahku dan mau apa kira-kira?"


"Coba temui mereka. Kasihan juga jauh-jauh datang," ucap Abi Hamdan, kemudian keluar dari kamar itu terlebih dahulu. Syifa pun segera menyusulnya, tapi sebelum itu dia mengganti kerudungnya.


"Mau cari siapa kalian?" tanya Umi Maryam yang lebih dulu keluar menemui kedua bocah laki-laki itu.


Baim pun segera mendekat lalu mencium punggung tangan, dan dialah tadi yang mengucapkan salam sebab beragama Islam.


"Kami mau cari Bu Syifa, Oma," sahut Robert. Dia juga langsung mencium punggung tangan Umi Maryam.


"Memangnya kalian mau apa cari Bu Syifa?" tanyanya.


"Bu Syifa!" seru Robert yang terlihat antusias melihat keluarnya Syifa dari rumah bersama Abi Hamdan. Dia juga langsung menghamburkan pelukan kepada perempuan itu.


"Mereka berdua murid di sekolahku, Umi," ucap Syifa memberitahu, lalu mengelus rambut Robert.


Baim pun segera mencium punggung tangannya, kemudian beralih mencium punggung tangan Abi Hamdan.

__ADS_1


"Kami datang ingin menjenguk Ibu dan ini ada buah yang sempat kami beli," ujar Baim memberitahu saat Sandi baru saja keluar dari mobil dengan menenteng kantong merah berisi buah jeruk. Kemudian memberikannya ke tangan Syifa.


"Wah, merepotkan sekali. Terima kasih juga sudah jenguk Ibu." Syifa tersenyum dan menerimanya dengan senang hati. Kemudian mengajak mereka berdua masuk ke dalam rumah.


"Kalian mau minum apa? Biar Oma buatkan," tawar Umi Maryam yang ikut masuk. Kemudian menatap Robert dan Baim bergantian.


"Jus mangga saja, Oma," sahut Baim.


"Ih air putih saja, Oma. Nggak usah repot-repot," ucap Robert tak enak hati.


"Nggak apa-apa. Oma belikan jus mangga dulu sebentar, ya!" Umi Maryam tersenyum, kemudian melangkah keluar lagi dari rumahnya.


"Ngomong-ngomong ... Oma sama Opa tadi siapanya Bu Syifa?" tanya Robert penasaran.


"Mereka Umi dan Abinya Ibu." Syifa mengajak Robert dan Baim menuju ruang tamu.


Ada tiga sofa di sana. Yakni satu yang panjang dan dua sofa single. Syifa memilih sofa panjang untuk mereka duduk bertiga. Di depannya ada meja dan tv juga yang menempel di tembok.


"Umi sama Abi itu apa?" tanya Robert bingung.


"Seperti Daddy dan Mommy," jawab Syifa.


"Oh ...." Robert manggut-manggut. "Oh ya, Bu. Sebenarnya Ibu sakit apa? Kok nggak masuk ngajar hari ini?"


"Ibu hanya masuk angin kok," jawab Syifa.


"Terus besok ngajar nggak, Bu?" tanya Baim.


"Ngajar." Syifa mengangguk dan tersenyum ke arahnya.


"Padahal ya, Bu, tadi pagi itu Daddyku sempat nungguin Ibu lho," ujar Robert memberitahu.


"Nungguin?" Kening Syifa mengernyit. "Mau apa memangnya?'


"Mau nembak."


"Nembak? Apanya yang ditembak?" sahut Abi Hamdan yang baru saja masuk rumah. Dia langsung menyahuti apa yang dikatakan Robert.


Bocah laki-laki itu langsung menoleh, kemudian tersenyum. "Ini Opa, Daddyku bilang dia suka sama Bu Syifa."


"Rob, kamu ini bicara apa, sih?" Syifa langsung mengelus pipi kanan Robert. Merasa heran sekaligus cemas, bisa-bisa Abi Hamdan berpikir yang tidak-tidak. "Jangan dengarkan Robert, Bi. Dia memang suka bercanda anaknya," tambahnya sembari menatap sang Abi yang baru saja duduk di sofa single.


"Robert serius, katanya Daddy kalau ketemu Ibu mau menyatakan cinta. Dia bilang jatuh cinta pada pandangan pertama." Robert sengaja berkata demikian, itu semata-mata supaya Syifa mau dengan Joe. Walau dia sendiri tidak tahu hati keduanya.


...Ngarang aja kamu, Rob🤣...

__ADS_1


__ADS_2