
Entah ada ide gila apa, sehingga dengan beraninya Joe berkata demikian. Tanpa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Namun, yang dilakukannya hanya semata-mata untuk bisa secepatnya bisa menikahi Syifa. Tentu dengan mengantongi restu Abi Hamdan serta kedua orang tuanya.
'Masa sih, si Syifa hamil?' batin Umi Maryam yang tampak tak percaya. Dia pun memerhatikan perut rata anaknya lalu beralih ke wajah. 'Kalau memang kejadian saat di rumah itu benar, mereka berzina. Tapi tetap saja nggak mungkin kalau langsung jadi. Soalnya 'kan belum juga seminggu,' tambahnya.
"Apa yang Bapak—" Syifa yang hendak berucap tiba-tiba langsung terpotong.
"Br*ngsek sekali kau, Jojon!" teriak Abi Hamdan dengan penuh kemurkaan.
Segera, dia pun mencengkeram kerah kemeja putih di dalam jas yang Joe kenakan, lalu menariknya dengan kasar menuju tembok pojok ruangan.
Punggung pria tampan bermata sipit itu langsung dihentakkan begitu saja hingga membentur tembok. Dan secara tiba-tiba, Abi Hamdan lantas mencekik lehernya.
Joe sontak membelalakkan matanya, begitu pun dengan beberapa orang yang lain, yang ada di sana. Sedangkan Papi Paul justru sudah jatuh pingsan, akibat merasakan sakit kepala secara dadakan itu. Dikarenakan stoknya mendapatkan berita yang cukup mencengangkan menurutnya.
"Aku akan membunuhmu, Jon!" geram Abi Hamdan dengan kuat mencekik leher Joe dengan kedua tangannya. Pria itu langsung mendelikkan mata. Wajahnya tampak merah dan panas. Napasnya juga mulai tersendat-sendat
'Ya Allah, kenapa aku dicekik?' batin Joe heran. Kedua tangannya meraih tangan Abi Hamdan, berusaha untuk membebaskan jeratan itu. Sayangnya, semua itu tidak berhasil.
"Abi! Hentikan, Bi!" Umi Maryam langsung berlari menghampiri, lalu mencoba melepaskan aksi yang dilakukan suaminya itu.
Dan bukan hanya dia saja, tapi Mami Yeri, Sandi, Opa Angga, dan Syifa juga turut serta menghentikan aksinya.
Mungkin hanya Juna dan Robert saja yang memilih tak menolong, sebab mereka sadar diri dengan kekuatannya yang tidak sepadan.
"Uhuk! Uhuk!" Joe terbatuk-batuk saat lehernya berhasil selamat. Tentunya, tenaga Abi Hamdan seorang diri tak seberapa jika dibandingkan dengan beberapa orang di sekitarnya. Apalagi ada dua pria yang memiliki tenaga yang sebanding dengan tenaganya, yakni Sandi dan Opa Hamdan.
Namun, ketika aksi mencekiknya itu berakhir. Kini Abi Hamdan yang sudah tersulut emosi dengan memuncak itu tiba-tiba saja menonjok wajah Joe secara cepat.
Abi Hamdan terlihat kurang puas untuk menuntaskan emosinya yang mendidih, jadi dengan cara memukul saja.
Bugh!
__ADS_1
Bogem mentah itu mendarat dan terasa sakit beserta panas sebab menggunakan tenaga dalam. Darah segar pada lubang hidung bagian kanannya seketika mengalir darah segar oleh sendirinya. Joe dibuat memekik bercampur terkejut bukan main.
"Aaaww!"
"Jangan sakiti anakku, Pak!" Mami Yeri langsung menangkis kepalan tangan Abi Hamdan yang hendak dilayangkan kembali untuk anaknya. Melihat Joe disakiti, tentunya dia tidak terima. Karena seumur-umur, dia dan Papi Paul meski semarah apa pun kepadanya—tak pernah berani main tangan, apalagi sampai berdarah seperti itu. "Aku dan suami yang sebagai orang tuanya saja nggak pernah sekalipun memukuli Joe! Kenapa Bapak yang bukan siapa-siapanya dengan berani melakukan hal demikian?" hardiknya, kemudian menambahkan. "Mau aku laporkan ke polisi biar Bapak dipenjara, hah?!" bentaknya penuh amarah. Bola matanya itu melotot tajam kepada pria berpeci hitam di depannya.
"Harusnya aku yang melaporkan anakmu ke polisi lalu memenjarakannya!" teriak Abi Hamdan tak mau kalah. Jika Mami Yeri tak terima anaknya dikasari, dia juga tentunya sangat tak terima dunia akhirat, dengan apa yang sudah Joe perbuat terhadap anaknya. Meskipun mungkin, keduanya melakukan dengan suka sama suka—pikirnya. Namun tetap, tindakan zina tentu tak pernah dibenarkan oleh agama serta negara
"Syifa itu anak gadis semata wayangku! Dan anakmu yang duda lapuk itu dengan teganya merampas masa depan Syifa yang cerah! Padahal, kalau nggak ada dia ...!" Abi Hamdan menuding wajah Joe dengan penuh kebencian. "Syifa itu sudah menikah dengan Fahmi!" tambahnya dengan dada yang terlihat naik turun. Abi Hamdan mengatur napas dan emosinya yang memburu.
"Apa yang dikatakan Pak Joe—"
"Hei! Kamu jangan hanya menyalahkan Jonathan saja di sini!" Mami Yeri memotong cepat ucapan Syifa sambil menunjuk-nunjuk wajah Abi Hamdan. Padahal, gadis itu berniat ingin meluruskan. Jika apa yang dikatakan Joe adalah kebohongan besar. "Harusnya, kamu menyalahkan anakmu juga ...." Sekarang, giliran Mami Yeri yang menatap Syifa dengan sinis dan penuh kebencian. "Yang nggak bisa menjaga diri, sampai semua ini terjadi!" tambahnya yang seketika membuat suasana makin panas. Makin emosi dan makin dipuncak kemurkaan kedua belah pihak.
"Jaga bicaramu!" berang Abi Hamdan sambil melotot. Kedua tangannya mengepal kuat di bawah. Jika bukan seorang perempuan, Mami Yeri pastinya akan mendapatkan apa yang Joe dapatkan saat ini. "Syifa itu perempuan baik-baik! Ini semua pasti berawal dari Jojon yang merayunya. Kalau nggak, semuanya nggak akan terjadi."
"Berhenti untuk mengatakan nama Jojon! Namanya Jonathan!" tegas Mami Yeri tak suka. "Dan apa yang telah terjadi pastinya—"
"Kami melakukannya suka sama suka, Mi!" serbu Joe dengan cepat. Tangan kanannya menyentuh lehernya yang masih sakit bekas cekikan.
Plak!
"Berhenti mengarang cerita, Pak! Kita nggak melakukan apa pun selama ini! Dan aku nggak lagi hamil!" Syifa mencoba meluruskan, supaya kesalahpahaman ini tak melebar kemana-mana.
"Bukan nggak hamil, Fa, tapi mungkin hanya belum," sahut Joe yang kembali berbohong. Matanya mengerjap beberapa kali menatap wajah Syifa. Sebenarnya Joe tengah memberikan kode, supaya gadis itu mengiyakan saja idenya. Sebab dia berpikir, dengan begitu pernikahan mereka berdua akan cepat terlaksana. "Dan mungkin kamu juga sudah lupa, bahkan semalam saja kita melakukannya lagi. Karena kita saling mencintai, kan?"
"Bapak ini kenapa sangat ...." Syifa menggertakkan giginya saat tangan kanannya melayang ke udara, hendak menampar pipi kiri Joe. Wajah serta mata Syifa sudah sama-sama merah dan agak melotot. Dia betul-betul merasa emosi dan tak habis pikir, bisa-bisanya Joe dengan jahatnya melakukan hal seperti ini. Sebab itu sama saja menginjak-injak harga dirinya sebagai kaum hawa.
Namun, sebuah tamparan yang hendak dia layangkan itu terhenti. Sebab Abi Hamdan yang menangkisnya secara tiba-tiba.
"Kenapa, Bi? Pak Joe pantas mendapatkan ini semua! Dia telah memfitnahku!" geram Syifa marah menoleh ke arah sang Abi.
"Sudah cukup, Fa! Cukup!" pekik Abi Hamdan dengan lantang. Dadanya terasa bergemuruh, hatinya pun ikut sakit yang begitu teriris. "Sampai kapan kamu terus menerus membuat Abi sakit hati begini? Abi mendidikmu untuk menjadi wanita terhormat! Tapi kamu justru merelakan harga dirimu untuk Jojon! Seorang duda kristen beranak satu!" tambahnya dengan jengkel.
__ADS_1
"Tapi aku—"
"Ustad Hamdan dan Bu Yeri nggak perlu berantem!" Ustad Yunus yang baru saja membuka pintu kamar inap itu langsung menyeru dengan lantang. Alasannya masuk karena Sandi tadi menemuinya, disaat Mami Yeri dan Abi Hamdan beradu mulut dengan panas.
Semua atensi pun mereka langsung mengarah kepadanya.
"Di sini semuanya yang salah. Nggak perlu saling menyalahkan," tambahnya kemudian.
"Ustad Yunus bener, Bi." Umi Maryam yang sejak tadi diam di samping Abi Hamdan kini membuka suara. Lidahnya ikut gatal juga jika terus berdiam diri. "Bukankah memang Abi sudah setuju untuk menikahkan Syifa dengan Pak Joe?" Perlahan, dia menatap wajah sang suami.
Dia sendiri merasa tidak percaya, jika benar Syifa tengah mengandung.
Jangankan mengandung, melakukan zina pun dia sangat tidak percaya sebenarnya. Itu disebabkan dia yakin—jika putri semata wayangnya itu dapat menjaga kehormatannya, meskipun semua orang selalu menyudutkan serta memberikan bukti kalau Syifa memang bersalah.
Hanya saja di sini—apa yang Umi Maryam katakan adalah hal yang menurutnya baik. Sebab tak perlu mendengar secara langsung, tapi dari sikapnya saja Umi Maryam sudah bisa menebak jika yang disukai Syifa adalah Joe, bukan Fahmi.
Jadi untuk apa juga menunda pernikahan? toh Joenya sendiri yang dengan suka rela akan menjadi mualaf demi bersanding dengan anaknya.
Abaikan tentang duda serta memiliki anak. Bagi Umi Maryam itu tidaklah penting, yang terpenting mereka berdua bisa membuat Syifa bahagia. Itu saja sudah sangat cukup menurutnya.
"Jadi untuk apa berdebat, lebih baik nikahkan saja mereka. Tapi secepatnya, nggak perlu ditunda-tunda lagi!" tambahnya dengan penuh ketegasan.
Mendengar itu, Joe dan Robert tentunya merasa sangat bahagia. Hidungnya yang kembang kempis seperti sudah melayang ke udara sekarang. Memang itulah keinginan mereka sejak dulu, dan akhirnya ada yang peka juga terhadap perasaannya.
Abi Hamdan menghela napasnya dengan berat, saat tangan kanan Umi Maryam menyentuh serta perlahan mengusap dadanya. Wanita itu memang sengaja melakukan hal demikian, supaya sedikit meredakan rasa emosinya yang mulai lepas kontrol itu.
"Yang menunda disini itu bukan Abi, Mi. Abi sendiri hanya ingin Joe jadi mualaf serta mematuhi permintaan Abi sebelum dia resmi menjadi suami Syifa, nggak ada yang lain," jelas Abi Hamdan yang memang benar adanya, tapi dia menolehkan kepalanya ke arah Mami Yeri, seolah menyindir dirinya yang belum mengeluarkan restu.
Sebagai seorang mertua, wajar menurut Abi Hamdan jika meminta sesuatu hal kepada calon menantu sebelum dia menjadi bagian dari keluarganya. Asalkan itu tidak memberatkan bagi Joe sendiri.
"Bu Yeri sendiri bagaimana? Apa masih mau egois, setelah melihat semua ini?" pungkas Umi Maryam menatap wanita sipit di depannya. "Apa Ibu ingin lepas tanggung jawab, dan membiarkan anak Ibu menghamili seorang gadis? Ibu ingat, Ibu juga sama-sama perempuan! Tentu pernah mengandung dan melahirkan juga!" hardiknya dengan sorotan tajam.
Ucapan terakhir Umi Maryam seketika menusuk relung hati Mami Yeri, dan membuat kedua matanya itu melebar sempurna.
__ADS_1
...Yok bisa, yok, restui mereka berdua, Mi, Authornya juga udah ga sabar, pengen cepat kondangan 🤣...