
"Dih, mana bisa begitu, Opa! Nggak boleh!" tolak Robert.
"Nggak bolehnya kenapa?"
"Kan di sini yang mau pindah agama itu Daddy, bukan Bu Syifa. Lagian ... kata Opa Hamdan juga, agama yang paling sempurna itu hanya Islam, Opa, maka dari itu ... Daddy dan Robert ingin masuk Islam," jelasnya panjang lebar.
"Nggak! Pokoknya Opa nggak mau. Kalau kamu dan Daddymu pindah agama, itu sama saja kalian sudah nggak menganggap Opa dan Oma keluarga kalian!" tegas Papi Paul. Rupanya dia masih tetap pada pendiriannya, yakni bersikeras tak mau merestui hubungan Joe dan Syifa. Sebab menurutnya ini sangatlah berat.
"Robert juga tetap ingin ...." Ucapan Robert menggantung kala sambungan telepon itu terputus dari seberang sana. Segera, dia menelepon balik. Akan tetapi, nomor itu justru tidak aktif. "Ah nyebelin banget Opa!" gerutu Robert kesal. Giginya menggertak dengan gemas.
***
Sementara itu ditempat berbeda, Papi Paul sengaja mematikan panggilan teleponnya karena tak mau berdebat dengan cucu kesayangannya.
Dia juga tak mau, jika hatinya lama-lama akan luluh karena ucapan lugu bocah itu.
"Kita putar balik, San! Kembali ke rumah Syifa!" titahnya pada Sandi yang tengah mengemudi. Sedangkan dirinya duduk di kursi belakang bersama Mami Yeri. Pria itu tadi diminta kembali saat sudah dijalan hendak menjemput Robert ke sekolah.
"Kok putar balik, Tuan? Katanya mau mencari Pak Joe dan Bu Syifa di kantor Pak Joe?" tanya Sandi bingung. Sebab memang tujuan awalnya mencari adalah pergi ke kantor Joe.
"Nggak usah. Kita kembali saja ke sana untuk menjemput Robert."
"Baik, Tuan." Sandi menganggukkan kepalanya. Lantas memutar balik kemudinya. "Maaf sebelumnya kalau saya lancang, tapi saya ingin bercerita sesuatu kepada Tuan dan Nyonya," ucap Sandi tak enak. Matanya menatap kaca depan yang memantul ke arah Papi Paul dan Mami Yeri yang sibuk dengan ponselnya.
"Cerita tentang apa?" Keduanya menjawab secara bersamaan dan mengangkat wajahnya untuk menatap Sandi.
"Niat Pak Joe jadi mualaf bukan karena Bu Syifa atau paksaan pihak mana pun, Tuan ... Nyonya, tapi itu karena dirinya dapat hidayah," jelas Sandi. Diam-diam dia ikut mendengarkan obrolan Papi Paul dengan Robert. Niatnya sekarang ingin membantu Joe dan Robert, karena menurut hatinya, dia tak boleh diam saja.
"Mana ada hidayah? Itu bujukan setan namanya! Murtad!" tegas Papi Paul sambil melotot. Sama halnya seperti agama Islam, umat Kristen juga menganggap orang yang pindah agama adalah murtad. Jika dilakukan akan mendapatkan dosa besar.
"Tapi memang itu kenyataannya," sahut Sandi. "Sebelumnya, Pak Joe sering didatangi Kakek-kakek tak kasat mata, Tuan. Dia memberikan Al-Qur'an, lalu mengatakan jika itu adalah pedoman hidupnya dan jalannya supaya mendapatkan istri baru."
"Kamu nggak usah ngarang cerita deh, San! Mana ada Kakek tak kasat mata. Aneh deh," kilah Papi Paul tak percaya. Dia dan Mami Yeri geleng-geleng kepala.
"Sumpah, Tuan! Ngapain juga saya berbohong," ungkap Sandi dengan sungguh-sungguh. "Setahu saya, agama itu adalah kepercayaan orang masing-masing. Pak Joe sendiri sudah percaya sekali ingin masuk Islam, seharusnya Tuan mensuport dia."
"Apa-apaan kamu ini! Kenapa kamu jadi yang mengaturku?!" Papi Paul terdengar meninggikan nada suaranya. Matanya pun dari kaca terlihat melotot. Sepertinya dia mulai tersulut emosi, terpancing karena ucapan Sandi.
"Maaf, Tuan, saya bukan mengatur. Hanya meluruskan saja. Tuan dan Nyonya juga perlu tau, kalau Dek Robert baru sembuh dari sakitnya. Dan kebahagiaan Dek Robert sekarang jauh lebih penting untuk dituruti," lanjut Sandi yang masih mencoba membantu.
"Sakit? Sakit apa memangnya dia?" Mami Yeri yang bertanya cepat. Wajahnya tampak begitu penasaran.
__ADS_1
"Kanker hati."
Jawaban dari Sandi sontak membuat dua orang itu membelalakkan matanya, mereka tampak kaget.
"Jangan bohong kamu, San!" seru Mami Yeri tak percaya.
"Sumpah, Nyonya," jawab Sandi. Menurutnya, dengan menceritakan hal itu akan mereka berdua ibu dan menuruti permintaan majikan kecilnya. "Malah sudah stadium 2."
"Ya Tuhan!" Keduanya menutup bibir yang menganga. Jantungnya sontak berdebar kencang tak karuan. "Tapi kapan itu sakitnya? Dan kenapa Joe sendiri nggak ngasih tau?!" tanya Mami Yeri.
"Dia baru keluar dari rumah sakitnya kemarin, habis dioperasi pengangkatan sel kanker, Nyonya," balas Sandi. "Tapi Dokter meminta seminggu sekali atau dua Minggu ... untuk melakukan tes darah, supaya hasilnya bisa memastikan, jika sel kanker itu benar-benar sudah menghilang atau nggak. Dan Dokter juga menyarankan ... supaya selalu membuat suasana hati Robert selalu bahagia. Tentu dengan begitu, dia dilarang untuk bersedih karena mungkin akan beresiko untuk kesehatannya," jelasnya panjang lebar. Sandi juga memutar tubuhnya sebentar untuk memberikan sebuah amplop putih. Dan Papi Paul langsung mengambil.
"Apa ini?" tanya Papi Paul heran. Sembari membolak-balikkan amplop di tangannya yang bertuliskan nama sebuah rumah sakit.
"Itu hasil tes darah Dek Robert, Tuan, baca saja," jawab Sandi. Kemudian mematikan mesin mobilnya sebab tak terasa mereka sudah sampai di depan halaman rumah Abi Hamdan. Hari juga sudah mulai menjelang sore.
Papi Paul membukanya, sedangkan Mami Yeri ikut melihat dan membaca di sampingnya.
Beberapa detik kemudian, keduanya sontak membelalakkan matanya. Merasa terkejut jika memang apa yang dikatakan Sandi memanglah benar.
"Kasihan sekali Robert, Pi!" Mami Yeri menyentuh dadanya yang seketika terasa ngilu. Bola matanya pun tampak berkaca-kaca. Sungguh, dia teramat sedih mengetahui semua itu, meskipun kata Sandi sendiri Robert sekarang sudah sembuh.
"Iya. Dia masih terlalu kecil. Tapi untungnya sekarang sudah sembuh, Mi," balas Papi Paul yang sama ikut terenyuh.
"Kamu nggak boleh ngomong seperti itu, San! Itu nggak baik!" omel Papi Paul marah. Cepat-cepat dia turun dari mobil, lantas cepat menuju rumah Abi Hamdan yang tertutup rapat.
Di pintu atas ada sebuah, gegas dia pun memencetnya. Mami Yeri yang ikut turun segera menyusulnya.
"Semoga saja Dek Robert sekarang sudah sehat walafiat, Tuan, meskipun suasana hatinya nggak bagus." Sandi kembali membalas. Sengaja dia memancing supaya membuat keduanya khawatir.
Dilihat sekarang, kedua wajahnya memucat. Kecemasan pun tak dapat ditutupi.
"Robert! Buka pintunya, Sayang! Ayok pulang!" teriak Papi Paul. Merasa tak sabar, dia sambil menggedor-gedor pintu.
"Ini Oma dan Opa!" tambah Mami Yeri berteriak. Sama halnya seperti sang suami, dia yang ikut tak sabar akhirnya dengan berani menarik turunkan handle pintu. Tetapi sayangnya, pintu itu pun dikunci dari dalam.
*
*
Mungkin ada satu jam lamanya, keduanya sibuk berupaya membuka pintu sambil berteriak-teriak memanggil nama Robert.
__ADS_1
Namun, nyatanya sampai sekarang pintu itu tak kunjung dibuka. Juga tak ada satupun orang yang berada di dalam untuk menyahut.
"Coba Papi telepon Robert, biar Mami dan Sandi periksa ke pintu belakang rumah ini, siapa tau nggak dikunci," usul Mami Yeri. Mendadak, dia dan sang suami justru mencemaskan Robert.
"Iya, Mi." Papi Paul mengangguk. Segera dia mengetik ponselnya yang sejak tadi dipegang, kemudian melakukan panggilan. Sedangkan Mami Yeri sendiri sudah menarik Sandi untuk ikut dengannya ke pintu belakang, mengeceknya.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, mohon ...." Suara operator yang terdengar, menandakan jika nomor itu tidak aktif.
Tak berselang lama, Sandi dan Mami Yeri datang menghampiri. Terlihat mereka begitu tergesa-gesa.
"Bagaimana, Pi? Pintu belakang ternyata nggak dikunci," ucap Mami Yeri.
"Nomornya nggak aktif, Mi," jawab Papi Paul seraya menyeka keringatnya di dahi, yang baru saja mengalir. Lantas, dirinya menatap ke arah Sandi. "Coba kamu dobrak saja pintunya, San! Pasti Robert bersembunyi di dalam sana," perintahnya sambil menunjuk ke arah pintu.
"Masa didobrak, Tuan? Memangnya kita mau maling?" Sandi terlihat tak setuju. Dia menggelengkan kepalanya.
"Ya daripada Robert nggak ketemu. Mau gimana coba? Cepat dobrak saja!" perintahnya yang terlihat tak sabaran.
"Kalau ketahuan warga sini bagaimana? Bisa-bisa mereka mengira kita semua maling, Tuan."
"Nggak mungkinlah, San! Sudah cepat dobrak! Kalau Robert kenapa-kenapa di dalam bagaimana? Mau kamu tanggung jawab, hah?!" sentaknya emosi. "Dia cucu satu-satunya aku lho!"
"Oke, Tuan." Sandi mengangguk.
Meskipun awalnya tidak mau, pada akhirnya Sandi tak bisa menolak untuk menuruti permintaannya. Akan tetapi, dia mendobraknya dengan menggunakan sebuah kunci yang diambil dari bagasi belakang mobil Joe. Sebab kalau menggunakan tubuh, pastinya itu akan sulit dan menguras tenaga.
Entah kunci apa saja yang dia ambil kemudian dipergunakan. Tapi semuanya cukup memakan waktu, hingga adzan Magrib berkumandang.
"Alhamdulillah," ucap Sandi penuh syukur, saat pintu itu telah berhasil dibuka. Handlenya berhasil dirusak olehnya.
Secepat kilat, Papi Paul dan Mami Yeri berlari masuk ke dalam sana. Kemudian masuk keseluruhan ruangan di dalam ruang itu. Mencari setiap sudut dan celah. Kebetulan juga kedua kamarnya tidak dikunci.
"Robert! Ke mana kamu, Nak?!" teriak Mami Yeri.
"Robert!" teriak Papi Paul.
Sama halnya seperti Joe dan Syifa, rupanya Robert juga ikut menghilang. Tentu bersama Abi Hamdan dan Umi Maryam juga tentunya.
"Ke mana Robert dan orang tuanya Syifa?? Kok mereka ikut menghilang juga?"
Sebuah tanda tanya besar tertera di dalam benak kedua orang tua Joe. Dan tak berselang lama, keduanya pun jatuh pingsan. Sudah pusing mencari Joe hilang, sekarang ditambah Robert. Selain itu, perut keduanya juga kosong sejak tadi siang karena belum sempat makan. Jadi tubuh pun ikut lemas tak berdaya.
__ADS_1
^^^Bersambung.....^^^