
"Jelas sangat cantik, Mi, Wajahnya juga mirip Sonya." Joe mengulum senyum dengan penuh kebahagiaan. Sambil membayangkan wajah cantik Syifa.
"Wah, seriusan?"
Joe mengangguk semangat. "Iya. Malah Robert yang awalnya ngebet banget kepengen dia jadi Mommy barunya."
"Mami jadi nggak sabar, kepengen banget ketemu Syifa. Ayok cepat, Joe! Kita ke rumah Abinya!" serunya yang terlihat tak sabar.
Keduanya cepat-cepat masuk ke dalam mobil saat sudah sampai parkiran sekolah, kemudian Joe mulai mengendarainya.
"Mami punya nomor Sandi, kan?" tanya Joe seraya menoleh ke arah samping, tepat di mana Mami Yeri berada.
"Iya. Kenapa memangnya?"
"Telepon dia dan suruh carikan aku sempaak khusus sunat, Mi." Joe sendiri baru ingat dengan permintaan Abi Hamdan kemarin, yang memintanya memakai dalamman ketika datang untuk bertunangan.
"Memangnya ada, sempaak khusus sunat? Dan memangnya kenapa dengan sempaak versi biasamu?" tanya Mami Yeri heran. Keningnya tampak mengernyit.
"Aku nggak bisa pakai sempaak biasa, Mi, kan tongkatku luka," sahut Joe.
"Jadi kamu dari pagi nggak pakai sempaak, Joe?"
Joe mengangguk. "Iya. Malah dari kemarin, Mi, pas baru sunat."
"Lho, apa nggak kedinginan dia?" Mami Yeri menatap inti tubuh Joe sambil bergidik. Bibirnya tampak meringis.
"Nggak lah, malah adem, Mi, cuma agak was-was kalau melorot, mangkanya aku mau pakai sempaak dan kata Sandi ... ada sempaak khusus buat sunat. Coba Mami telepon dia dan minta belikan secepatnya, soalnya aku mau pakai saat ke rumah Abinya Syifa," pinta Joe.
"Oke." Mami Yeri mengangguk patuh. Segera, dia merogoh kantong celana kulotnya untuk mengambil ponsel. Kemudian melakukan panggilan suara kepada Sandi. "Sekalian minta dia carikan cincin juga nggak, Joe? Eh, sama roti buayanya?" Benda pipih itu sudah menempel ke telinga kanan.
"Cincin aku sudah membelinya, Mi," sahut Joe. "Kalau roti buaya bukannya itu untuk melamar, ya? Bukan bertunangan?"
"Tapi Papimu dulu pas mengajak Mami tunangan sambil membawa roti buaya. Masa kamu nggak?"
"Pas sama Sonya aku juga nggak. Nggak usah pakai roti buaya segala deh, ribet."
"Halo, San." Mami Yeri berbicara saat panggilan itu diangkat oleh seberang sana.
"Iya, Nyonya?"
"Kata Joe, kamu diminta untuk membelikan sempaak sunat. Dan belikan juga sekalian roti buaya. Karena aku, suamiku dan Joe ... ingin ke rumah calon Mommy barunya Robert," perintah Mami Yeri. Padahal tadi, Joe mengatakan untuk tidak membeli roti buaya. Tapi nyatanya Mami Yeri tetap meminta Sandi untuk membelikannya.
"Nyonya sudah ada di Indonesia?"
"Iya." Mami Yeri mengangguk.
"Kebetulan saya lagi ada di pasar, Nyonya, memang lagi nyari sempaak buat Pak Joe dari kemarin sore. Tapi belum ketemu juga sampai sekarang," jelas Sandi.
"Belinya di mall saja, San, ngapain di pasar?"
"Udah itu juga, Nyonya. Ada sih ada, sempaak sunat. Tapi buat ukuran anak-anak. Buat yang dewasa nggak ada, karena mungkin kebanyakan yang sunat itu kalangan anak kecil," jelas Sandi. "Mungkin saya akan memesan pada tukang jahit saja, Nyonya, biar Pak Joe bisa pakai sempaak sunat sesuai dengan sempaak yang biasa dia pakai."
"Tapi kata Joe, dia mau pakai sempaak sunatnya sekarang, San, saat mau pergi ke rumah Abinya Syifa. Gimana dong?" tanya Mami Yeri bingung.
__ADS_1
Sandi terdengar diam sebentar. Tampaknya dia tengah memikirkan. Selang beberapa menit saja, dia lantas berkata, "Saya punya ide, Nyonya!"
"Ide apa?"
"Nanti saya beritahu pas sudah sampai rumah Pak Joe. Kita ketemu di sana sama Pak Joe juga. Sekarang saya akan membeli roti buaya dulu."
"Oh ya sudah. GPL, ya, San!"
"Iya, Nyonya. Saya tutup dulu teleponnya, selamat pagi."
"Pagi." Mami Yeri mematikan panggilan, kemudian mengantongi benda pipih itu kembali ke dalam kantong celana kulot.
"Apa kata Sandi, Mi?" tanya Joe penasaran. Dia menoleh sebentar ke arah Maminya.
"Sandi bilang sempaak sunatnya nggak ada, tapi dia ada ide supaya kamu bisa pakai sempaak, Joe," sahut Mami Yeri.
"Kok begitu? Gimana maksudnya?" Kening Joe tampak mengernyit. Sepertinya dia tak mengerti dengan apa yang dijelaskan Maminya.
"Mami juga nggak ngerti." Mami Yeri menggelengkan kepalanya. "Cuma kata dia, kita ketemu saja dulu di rumahmu. Nanti dia akan membuatmu memakai sempaak dengan idenya."
'Katanya sempaaknya nggak ada, tapi kok Sandi bisa punya ide, supaya aku bisa pakai sempaak? Aneh sekali.' Joe menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa bingung sendiri.
*
*
Beberapa menit kemudian, sampainya Joe di rumahnya bertepatan sekali dengan Sandi. Malah, mereka juga turun secara bersamaan saat mobilnya terhenti pada halaman rumah.
"Siang Pak Joe, Nyonya Yeri," sapa Sandi sambil membungkukkan badan. Lantas mengulurkan tangannya yang memegang roti buaya sebesar Robert. Kakinya melangkah mendekat ke arah Yeri. "Ini roti buaya pesanan Nyonya," lanjutnya.
"Ada, Nyonya, sebentar ...." Sandi menuju mobil Joe terlebih dahulu untuk menaruh roti buaya pada bagasi, setelah itu dia masuk kembali ke dalam mobilnya untuk mengambil paper bag. "Ini, Pak," ucapnya seraya menyerahkan.
Joe langsung mengambilnya, kemudian merogoh ke dalam.
Sontak, kedua bola matanya membulat sempurna, begitu pun dengan bola mata Mami Yeri. Bahkan wanita itu terlihat bergidik geli.
Semuanya karena benda yang Sandi belikan adalah 3 buah sempaak dengan warna merah, kuning dan hijau. Dari bagian belakang seperti tak ada yang aneh, akan tetapi dibagian depan—kain tersebut memiliki lubang pada inti tubuhnya.
"Jadi ini idemu, San?" tanya Joe yang tampak tak menyangka. "Yang benar saja, masa aku pakai sempaak beginian?"
"Lagian itu berlubang, sama saja seperti nggak pakai sempaak dong," timpal Mami Yeri.
"Sempaak sunat saya cari nggak ada, Pak, adanya sempaak biasa," ujar Sandi, kemudian menambahkan. "Terus, saya kebetulan punya ide dan akhirnya membeli sempaak biasa lalu sengaja digunting bagian itunya." Memang, ada bekas guntingan di sana, tapi terlihat rapih sebab diobras.
"Tapi aneh banget jadinya, San, buat apa juga aku pakai sempaak kalau asetku nggak ditutup? Kan sama saja."
"Kalau ditutup 'kan masih luka, Pak, maka dari itu saya sengaja mengguntingnya. Lalu mengobrasnya secara mendadak," sahut Sandi. Ada benarnya juga apa yang dia katakan.
Akan tetapi, yang Joe inginkan adalah asetnya ikut tertutup, tanpa kulitnya tergores.
"Ya sudah, Joe, pakai saja deh, daripada nggak pakai sempaak sama sekali," sahut Mami Yeri memberikan saran. "Cepat masuk dan pakai, Joe, Mami sudah nggak sabar ingin ketemu Syifa dan keluarganya."
"Ya sudah deh." Joe dengan terpaksa akhirnya menurut, daripada membuang-buang waktu. Perlahan kakinya itu melangkah masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Tak berselang lama, Papi Paul melangkah menghampiri. Pria paruh baya itu seperti habis mandi. Dia memakai stelan jas berwarna abu tua dan wajahnya terlihat sangat berseri dikarenakan habis diberitahu oleh Joe kalau sekarang akan pergi ke rumah calon menantu barunya.
"Mami nggak ganti baju? Pakai gaun atau dress gitu?" tanya Papi Paul.
"Kalau Mami ganti baju pasti lama, belum dandannya," balas Mami Yeri. "Mending sekarang langsung berangkat. Lagian ... Mami baru ganti baju sebelum ke sini. Masih wangi dan cantik juga." Perlahan, mengendus baju rajut lengan pendeknya pada bagian lengan kanan kiri. Memang benar, masih tercium wangi.
"Ya sudah. Mami nggak mandi juga masih tetap cantik kok," balas Papi Paul seraya mengusap pipi kanan istrinya.
"Ayok, Mi, Pi," ucap Joe yang baru saja datang menghampiri. Kedua orang tuanya itu tampak terkesima sesaat, sebab melihat penampilan Joe yang serba putih.
Jas, kaos, sarung dan sepatu. Wajahnya juga ikut bersinar, juga ketampanannya makin bertambah.
"Kamu ganteng banget, Joe," ucap Mami Yeri dan Papi Paul secara bersamaan. Kedua mulut mereka sampai menganga melihatnya.
"Ah Papi dan Mami bisa saja," sahut Joe dengan malu-malu. Kedua pipinya bersemu merah. "Udah ayok berangkat," ajaknya, kemudian masuk lebih dulu ke dalam mobil. Dia juga sekalian meminta Sandi untuk ikut dan mengemudikan mobilnya.
*
*
*
Ting, Tong!
Ting, Tong!
Di depan pintu rumah Abi Hamdan, keempatnya berdiri. Mereka menunggu seseorang di dalam sana yang membukakan pintu setelah Joe memencet bel.
"Duh, kok Mami yang deg-degan ya, Joe," ucap Mami Yeri seraya menyentuh dadanya. Terasa berdebar di dalam sana.
"Iya, Papi juga, udah nggak sabar mau ketemu menantu baru," sahut Papi Paul.
Joe berada ditengah sedangkan Sandi di belakang sambil memegang roti buaya.
Berbeda dengan kedua orang tuamu yang tampak grogi sebab menurut mereka ini sangat mendadak, Joe justru merasa sangat senang sekali. Selain bisa menjadi mualaf, dia juga bisa bertunangan dengan Syifa.
Ceklek~
Tak berselang lama, terdengar suara pintu yang dibuka oleh seseorang, dan ternyata dia adalah Syifa.
Gadis itu terlihat sangat cantik sekali, dan entah kebetulan dari mana—gamis serta kerudung pashmina yang dia pakai berwarna putih juga. Senada dengan Joe.
"Assalamualaikum, Fa," ucap Joe sambil tersenyum manis. Bola matanya tampak berbinar melihat gadis pujaan hatinya di depan sana. "Cantik sekali kamu, Fa."
"Walaikum salam, terima kasih, Pak," sahut Syifa dengan malu-malu. Kedua pipinya langsung merona.
Orang pertama yang dia lihat adalah Joe, barulah setelahnya kedua orang di samping kanan kiri pria itu.
Mami Yeri dan Papi Paul terlihat seperti terkejut memandanginya, sebab mendengar untuk pertama kali anak semata wayangnya itu mengucapkan salam ditambah melihat gadis berhijab di depannya, yang begitu mirip dengan Sonya.
'Siapa gadis ini? Apa dia yang bernama Syifa? Tapi kenapa pakai kerudung?' batin Mami Yeri tak habis pikir.
'Apa dia Syifa? Calon istri anakku yang berarti calon menantuku?' batin Papi Paul tak menyangka. 'Kok pakai kerudung? Apa jangan-jangan dia orang Islam? Lho, bagaimana urusannya?'
__ADS_1
^^^Bersambung....^^^