
"Astaghfirullahallazim Abi!" jerit Syifa dengan keterkejutannya. Cepat-cepat dia turun dari mobil dan mencekal lengan Abi Hamdan yang hendak memberikan bogem mentahnya lagi, ke pipi kanan Joe.
"Sini kamu!" Abi Hamdan dengan murkanya menghentakkan tangan Syifa, kemudian beralih dia lah yang mencekal lengan sang anak. Lantas menarik tubuhnya masuk ke dalam rumah. "Bisa-bisanya kamu berbuat mesum dengan si Jojon di depan rumahmu sendiri, otakmu taruh di mana Syifa?!" geramnya penuh emosi.
"Siapa yang berbuat mesum?! Nggak, Bi!" bantah Syifa dengan gelengan kepala.
"Nggak apanya?! Kamu kira Abi buta, hah?" sentaknya marah.
"Abi, Abi kenapa? Ada apa dengan Syifa?!" Umi Maryam sontak terkejut saat keluar dari dapur, sebab mendapati suaminya menyeret Syifa untuk masuk ke dalam kamar.
Brak!
Pintu itu pun langsung ditutup secara paksa, lalu menguncinya dari luar. Setelah itu Abi Hamdan keluar lagi dari rumahnya, untuk menemui Joe.
Umi Maryam yang merasa khawatir ikut keluar mengejar sang suami.
Tepat di depan teras, Joe masih ada di sana. Dia berdiri di dekat kursi plastik.
"Sudah pernah kuberitahu dari awal, untuk jangan mendekati Syifa. Tapi kenapa kau nggak paham-paham juga?!" geram Abi Hamdan. Kedua tangannya kembali mengepal. Ingin rasanya dia kembali menonjok wajah polos Joe, tapi sekarang Abi Hamdan ingin mendengar penjelasannya.
"Maaf, Pak, tapi aku nggak berniat mendekati Syifa," jawab Joe jujur. "Aku tadi nggak sengaja—"
__ADS_1
"Nggak mendekati apanya?“ sergah Abi Hamdan dengan cepat. Matanya melotot tajam. "Jelas sekarang kau dan Syifa baru pulang, dan tadi kalian sedang ciuman, kan?"
Umi Maryam sontak terbelalak, mendengar kata 'ciuman'
"Nggak, Pak," bantah Joe dengan gelengan kepala. "Tadi itu Syifa ketiduran. Jadi aku berniat ingin membangunkannya. Dan nggak mungkin juga aku melakukan tindakan seperti itu kepada Syifa."
Joe sangat menghormati perempuan. Apalagi Syifa adalah guru anaknya. Tidak mungkin dirinya melakukan tindakan seperti itu kepada perempuan yang tidak memiliki hubungan dengannya. Kecuali pacar atau sudah menjadi istri.
"Bohong!" teriak Abi Hamdan dengan ketus. Dia tampak tak percaya.
"Aku berani bersumpah." Joe langsung menyentuh kedua daun telinganya.
"Aku nggak bawa Syifa ke mana-mana, Pak," jawab Joe dengan jujur. Entah mengapa keringat diarea dahinya tiba-tiba mulai bermunculan. Suasana pun mendadak menjadi panas. "Syifa hanya pergi menyusulku ke rumah sakit. Dia bilang ... dia mau jenguk Robert," jelasnya.
"Kau pasti berbohong!" tuduh Abi Hamdan lagi.
"Aku berani bersumpah, Pak." Joe berusaha menyakinkan, meskipun tidak tahu akan dipercaya atau tidak. Ya minimal usaha dulu. "Memang benar Syifa itu pergi hanya menjenguk Robert. Anakku sedang dirawat di rumah sakit."
Abi Hamdan menghela napasnya dengan berat. Dia melakukan hal itu bukan karena merasa lega, melainkan tengah mengontrol emosinya yang sudah mulai naik ke ubun-ubun.
Jangankan berbicara dengan Joe, mendengar namanya saja—Abi Hamdan sudah merasa kesal. Jelas sekali, jika dia begitu tak suka dengan pria di depannya.
__ADS_1
"Robert sakit apa?" tanyanya dengan suara datar.
"Dia terkena kanker hati, Pak."
"Kanker hati?!" Abi Hamdan sontak terbelalak. "Itu penyakit yang mematikan, Jojon! Kamu jangan suka mengada-ngada!"
'Jojon?!' Kening Joe tampak mengernyit mendengar nama panggilan itu. 'Jojon siapa yang Abinya Syifa maksud? Apa aku? Tapi namaku 'kan bukan Jojon.'
"Hei! Aku masih bicara denganmu! Kenapa kau justru melamun?!" sentak Abi Hamdan marah. Joe langsung terperanjat dibuatnya. Jantungnya juga seketika berdegup kencang.
Syifa dari dalam kamar segera membuka gorden jendela. Kemudian menatap keduanya. Dia juga berdo'a supaya Joe tidak dimarahi oleh Abinya, karena memang dia tahu—jika Abi Hamdan tidak menyukai Jonathan.
'Apa yang mereka bicarakan? Semoga saja Abi nggak nonjok Pak Joe lagi. Dia nggak salah apa-apa di sini,' batin Syifa penuh harap. 'Lagian ... aku juga senang bisa menjenguk Robert. Rasa penasaranku tentang keadaannya sekarang sudah terobati, meskipun sekarang aku sejujurnya masih khawatir dengan keadaannya. Tapi semoga saja dia kembali sehat seperti dulu.'
"Maafkan aku, Pak," sahut Joe dengan keterkejutannya. "Tapi apa yang aku katakan semuanya jujur. Robert memang saat ini sedang sakit, baru tadi siang juga habis dioperasi."
Abi Hamdan terdiam beberapa saat sembari menatap lekat bola mata Joe. Mencoba memastikan jika pria itu jujur atau tidak. "Aku akan pegang kata-katamu, awas saja kalau apa yang kau katakan tadi adalah sebuah kebohongan!" ancamnya sambil melotot. "Dan ingat juga kata-kataku tadi siang. Jangan pernah mencoba mendekati Syifa lagi, atau berharap kalau Syifa mau menjadi istrimu. Karena itu nggak akan terjadi!” tambah Abi Hamdan dengan tegas.
"Apa sama sekali, aku nggak diberikan kesempatan untuk bisa menjadi suaminya Syifa, Pak?" Entah ada sebuah keberanian dari mana, sampai-sampai Joe bisa berucap sedemikian rupa.
...Jadi ceritanya masih mau berjuang, Om?😆...
__ADS_1