Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
65. Joe dan Syifa menghilang


__ADS_3

"Selama ini kita salah, Mi, Pi ...." Joe menoleh ke kanan dan kiri, tepat dimana orang tuanya duduk. "Yang kita sembah itu nabi Isa, sedangkan nabi Isa sendiri nabinya Allah dan menyembah Allah. Untuk apa kita menyembah manusia yang jelas dia sendiri menyembah Allah? Harusnya yang kita sembah itu hanya Allah." Keterangan yang Joe sampaikan dikutip dari ceramah Abi Hamdan kemarin.


"Apa kamu bilang?!" Papi Paul langsung menajamkan sorotan matanya. Dadanya seketika bergemuruh, mendengar apa yang anaknya sampaikan. Jika sudah membawa-bawa agama serta Tuhan-Nya, itu sangat membuatnya tersinggung. Akan tetapi, sekesal apa pun dirinya—Papi Paul tak akan pernah bisa berbuat kasar kepada istri, anak serta cucunya. "Joe, apa kau benar-benar sudah gila? Apa yang kamu katakan?! Tega sekali kamu menyamakan Tuhanmu dengan nabi agama lain? Jelas mereka berbeda!" geramnya dengan emosi yang tiba-tiba naik ke ubun-ubun.


"Mereka sama, Pi!" tegas Joe yang menetap pada pendiriannya. Yakni ingin menjadi mualaf.


"Beda!" tegas Papi Paul.


"Sama!"


"Beda!"


"Sama!!" Keduanya berteriak-teriak, saling beradu argumen yang berbeda. Suaranya sampai membuat telinga Mami Yeri sakit serta terdengar keluar dari mobil.


"Sepertinya Joe kesambet, Pi, kita harus membawanya ke Pak Pendeta," saran Mami Yeri seraya menyentuh kening Joe, kemudian beralih menyentuh bokongnya. Seolah menyamakan suhu hangat pada kening sang anak dengan bokongnya. "Tuh, dahinya saja panas."


"Ada apa ini? Kenapa ribut?!" teriak Abi Hamdan diluar pintu mobil Joe. Dia mengetuk-ngetuk kacanya.


Papi Paul segera turun dari mobil, kemudian disusul oleh Joe dan Mami Yeri.


"Aku meminta maaf sekali, Pak, sepertinya ... Joe dan Syifa nggak jadi bertunangan," ucap Papi Paul.


Mereka semua yang mendengarnya sontak membelalakkan matanya, merasa terkejut dengan apa yang dikatakan pria itu.


'Nggak jadi? Kenapa?' batin Syifa. Gadis itu masih di sana bersama Umi Maryam. Dadanya seketika terenyuh. Raut wajahnya pun tampak kecewa.


Padahal, dia dari pagi sudah sibuk berdandan. Tentu semua ini karena Joe dan orang tuanya yang akan datang. Dia ingin tampil cantik, seperti saat pergi makan malam bersama Fahmi dan orang tuanya.


"Apa yang Papi katakan? Aku dan Syifa akan tetap bertunangan!" tegas Joe marah. "Aku juga akan menjadi mualaf!" Gegas, dia pun berlari cepat menghampiri Syifa dan langsung menarik tangannya untuk masuk ke dalam rumah Abi Hamdan.


Gadis itu tak bicara sepatah kata pun, sebab dirinya merasa kaget. Apa yang dilakukan Joe sangat tiba-tiba.


Papi Paul yang baru saja melangkah, hendak mengejar sang anak segera dicegah oleh Abi Hamdan. Pria tua berpeci itu mencekal tangannya.


"Kita duduk dulu, Pak, kita bicarakan hal ini baik-baik," tawar Abi Hamdan seraya menunjuk ke arah pintu rumahnya yang tertutup rapat. Umi Maryam yang masih berada diteras langsung melangkah menghampiri.


"Suami saya benar, Pak ... Bu ... sebaiknya kita ngobrol dulu. Dan apa alasan Bapak dan Ibu membatalkan pertunangan ini?" tanya Umi Maryam penasaran.


"Sepertinya nggak ada yang perlu diobrolkan," tolak Papi Paul.


"Lagian, Ibu dan Bapak harusnya tau. Alasan utama kami membatalkan perjodohan ini karena perbedaan keyakinan." Mami Yeri menambahkan.

__ADS_1


"Jojon harus masuk Islam, supaya mereka satu keyakinan," ujar Abi Hamdan yang terlihat masih sabar, meskipun sebenarnya marahnya sudah mulai terpancing.


"Anak kami namanya Jonathan, Pak, bukan Jojon!" tegas Mami Yeri.


"Maaf, maksudku Jonathan," ralat Abi Hamdan.


"Sandi, panggilkan Joe di dalam rumah itu, terus paksa dia untuk pulang!" perintah Papi Paul kepada Sandi. Matanya menatap dengan tajam.


"Kau dilarang masuk ke dalam rumahku!" tekan Abi Hamdan sambil melototi Sandi. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, sebab Joe sendiri masuk Islam sudah menjadi kewajiban karena perkara kesalahpahaman. Abi Hamdan sendiri merasa tak ikhlas, jika pria itu tidak bertanggung jawab terhadap anaknya. Bagaimana nasib Syifa nantinya, itulah yang terpikir. "Jonathan nggak boleh pulang, sebelum dia berikrar dan bertunangan dengan anakku!" tegasnya.


"Kenapa Bapak sangat memaksa? Bapak 'kan orang Islam, harusnya Bapak bisa bertoleransi," sahut Mami Yeri yang terlihat tak terima dengan apa yang dikatakan serta tindakan Abi Hamdan yang mencegahnya, untuk menemui Joe dan mengajaknya pulang. "Di dalam agamaku nggak ada seseorang yang dipaksa untuk pindah agama, karena itu hukumnya haram. Akan berdosa!" tambahnya menegaskan.


"Aku paham tentang itu, Bu!" sahut Abi Hamdan berteriak. "Sejujurnya aku juga nggak setuju ... jika anak semata wayangku menikah dengan Joe. Ini semua terpaksa, karena mereka sendiri telah melakukan zina!"


"Apa? Zina??" Papi Paul dan Mami Yeri membulatkan matanya dengan sempurna. Keduanya tampak terkejut bukan main. "Joe nggak mungkin melakukan perbuatan dosa seperti itu!" tambah Papi Paul tak percaya.


"Aku juga nggak percaya awalnya. Tapi semuanya ada bukti dan saksi, yang memperkuat mereka telah melanggar norma agama!" tegas Abi Hamdan marah.


"Apa yang dikatakan Ustad Hamdan benar Pak, Bu ...," ucap Pak RT yang baru saja melangkah menghampiri mereka. Dia datang bersama Ustad Yunus di sampingnya.


Kedatangan mereka bukan suatu kebetulan, tapi memang awalnya sudah diundang oleh Abi Hamdan. Saat dia selesai menghubungi Joe.


"Kalau Bapak dan Ibu nggak percaya, saya ada bukti dan saksinya," tambah Pak RT.


"Bapak ini siapa? Kok berani bicara seperti itu kepada anakku? Dia pria baik-baik lho, ini namanya pencemaran nama baik!" gerutu Papi Paul tak terima.


"Saya ketua RT di sini, saya berani mengatakan hal itu karena ada dua orang saksi yang mengadu. Dan inilah buktinya, jika Pak Joe dan Syifa telah berbuat mesum." Cepat-cepat, Pak RT merogoh kantong celana jeansnya untuk mengambil ponsel. Setelah itu dia mengklik sebuah video, lalu memutarkannya dengan layar yang sengaja diperlihatkan ke arah Papi Paul dan Mami Yeri. Supaya keduanya melihatnya sendiri secara langsung. "Video ini diambil di dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar Syifa. Terlihat jelas, Syifa seperti tengah membersihkan sesuatu dicelana Pak Jojon," tambahnya.


"Anakku bernama Jonathan, Pak! Bukan Jojon!" tegas Mami Yeri. Nama yang diberikan untuk sang anak tentu memiliki arti, maka dari itu dia merasa tak terima jika nama Joe diganti sembarangan.


"Maaf, Bu," ucap Pak RT.


Video berdurasi lima menit itu ditonton tanpa jeda. Keduanya memerhatikan dengan seksama.


"Bisa saja ini hanya salah paham," ujar Papi Paul tak percaya. "Lagian, mereka berdua juga masih mengenakan pakaian lengkap. Bagaimana bisa, Bapak dan orang yang mengadu menebak mereka telah berbuat mesum?"


"Itu benar." Mami Yeri menimpali. "Kalau nggak ada bukti yang kuat, itu bisa saja menjadi sebuah fitnah."


"Kita temui Joe, Mi! Biar kita tanya sendiri kepadanya, apakah dia berbuat mesum atau nggak!" Papi Paul berlari cepat menuju rumah Abi Hamdan, dia langsung masuk tanpa permisi.


Mami Yeri pun ikut menyusul, selanjutnya Abi Hamdan, Umi Maryam, Pak RT dan Ustad Yunus.

__ADS_1


"Joe!" teriak Papi Paul saat sudah sampai di ruang tengah, tepat dimana beberapa sofa di sana. Sayangnya—tak ada Joe atau pun Syifa.


"Jojon! Syifa!" Sekarang Abi Hamdan lah yang berteriak memanggil. Dia berlari menuju dapur, untuk mencari keberadaan mereka berdua.


"Syifa!" panggil Umi Maryam. Dia masuk ke dalam kamar Syifa, serta masuk juga ke dalam kamar mandi. Namun, mereka berdua tidak ada di sana.


Setelah itu, dia beralih masuk ke dalam kamarnya, juga masuk ke dalam kamar mandi. Akan tetapi sama saja, mereka tidak ada di sana.


"Umi, di mana Syifa dan Jojon?" tanya Abi Hamdan yang baru saja keluar dari dapur bersama Papi Paul yang sempat menyusulnya. Keluarnya mereka bertepatan dengan Umi Maryam yang keluar dari kamarnya. "Abi cari di dapur kok nggak ada?" Abi Hamdan tentu masih ingat, jika keduanya itu sama-sama masuk ke dalam rumah. Tapi anehnya, mereka tidak ketemu.


"Umi juga nggak tau, Bi." Umi Maryam menggelengkan kepalanya. "Tadi udah cek kamar Syifa dan kamar kita, tapi mereka tetap nggak ada," tambahnya.


"Kamar mandinya, sudah dicek belum?" tanya Abi Hamdan.


"Sudah." Umi Maryam mengangguk.


"Memangnya, tadi Pak Jonathan dan Syifa masuk rumah, Pak?" tanya Ustad Yunus yang tak tahu menahu. Tapi dia ikut penasaran.


"Iya, Tad. Tadi dia berlari dan mengajak Syifa masuk saat Papinya mengatakan melarangnya untuk bertunangan dengan Syifa," jelas Abi Hamdan.


"Abi cek di mana saja tadi? Di pintu belakang sudah belum?" tanya Umi Maryam.


Kamar di rumah itu hanya dua, dan ruangannya pun hanya ruang tengah dan dapur saja. Bisa saja mereka ada di sana.


"Oh iya, belum. Tapi masa, sih, mereka ada di sana?" tanyanya heran. Sedangkan Papi Paul sudah berlari lagi kembali ke dapur.


"Mungkin saja, Bi. Kamar mandi di dapur udah belum?" tanya Umi Maryam.


"Udah. Tinggal di pintu belakang yang belum." Abi Hamdan langsung berlari pergi menyusul Papi Paul. Dia tak akan membiarkan, pria itu melarang Joe dan Syifa untuk bersatu. "Pergi ke mana mereka? Kok ngilang?" gumamnya.


"Jonathan!" teriak Papi Paul.


Dia sudah melangkah keluar dari pintu belakang rumah dan Abi Hamdan yang berada di belakang ikut menyusul. Akan tetapi, langkahnya seketika terhenti sebab kaki kanannya menginjak sebuah sepatu berwarna putih. Hanya sebelah kanan saja.


Segera, dia memungutnya, lalu memperhatikan sepatu fantofel itu. Nomornya 43.


"Itu sepatunya Joe, Pak, tapi ke mana oranganya?" tanya Papi Paul bingung. Dia mendekat ke arah Abi Hamdan dan mengambil alih benda itu ke tangannya. Seketika saja, amarah mereka berdua meredup, sebab kebingungan mencari Joe dan Syifa tiba-tiba hilang entah ke mana.


"Coba Bapak telepon Joe. Soalnya aku mau telepon Syifa hapenya aku pegang," saran Abi Hamdan.


"Iya." Papi Paul mengangguk, gegas dia merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel. Kemudian mencoba menghubungi Joe.

__ADS_1


Abi Hamdan sendiri terlihat menghela napasnya dengan berat. Dia juga ikut bingung. 'Si Jojon kenapa nggak memberitahu awalnya, sih, kalau dia mau jadi mualaf dan menikahi Syifa? Jadi runyam begini 'kan urusannya, mana ditambah pakai menghilang segala. Ke mana coba mereka?' batinnya sambil berdecak. Kemudian menatap sekeliling belakang rumahnya. Ada kandang kambing juga di sana.


...Kawin lari kayaknya mereka 🤣...


__ADS_2