
"Lho, Bu, bukannya itu Syifa, ya?" ujar seorang wanita berdaster kepada teman sebayanya. Dia baru saja lewat di depan gerbang rumah Abi Hamdan dan langsung menghentikan langkah, ketika melihat Syifa menarik seorang pria tidak dikenal ke dalam rumah.
"Iya. Sama siapa dia? Orang tuanya 'kan pergi tadi naik mobil," ucap temannya yang memakai gamis biru. Mereka berdua adalah tetangga Syifa, rumahnya tepat di samping kanan.
"Berarti dia di rumah sendirian dong, Bu?"
"Iya lah, Bu."
"Wah ... jangan-jangan ...." Wanita tersebut geleng-geleng kepala dengan pikiran negatif yang tiba-tiba muncul di dalam otaknya. Perlahan dia pun merogoh kantong dasternya untuk mengambil ponsel, kemudian mengklik kamera. Hendak melakukan rekaman video. "Kita cek saja, Bu, takutnya Syifa dan pria itu berbuat macam-macam. Kan kita dapat dosanya."
"Iya, ayok, Bu, apalagi 'kan Bapaknya si Syifa itu seorang Ustad," ajak teman wanita tersebut, seraya menarik lengannya. "Masa anaknya Ustad kelakuannya begitu? Ditambah dia 'kan seorang guru."
Keduanya pun langsung melangkah cepat masuk ke dalam rumah yang pintunya sudah terbuka lebar. Akan tetapi, langkah keduanya terasa seperti mengendap-endap, itu dilakukan supaya tidak ketahuan.
Setidaknya mereka ingin menyaksikan sambil mengabadikan apa yang tengah Syifa lakukan terlebih dahulu, sebelum menegur kelakuan gadis itu.
Keduanya sekarang sudah masuk ke dalam kamar Syifa, yang pintunya kebetulan terbuka juga.
Sampai akhirnya, mereka melihat dari pintu kamar mandi, Syifa di sana tengah menguyur celana bahan Joe dengan air di dalam bak kamar mandi secara bertubi-tubi. Pria itu tampak tengah meringis, merasakan perih yang tak karuan.
"Aakkh perih!" Joe memekik kecil.
'Ngapain si Syifa guyur celana pria itu? Habis ngapain mereka?' batin wanita berdaster yang memegang ponsel. Dia tengah melakukan rekaman video.
Dia dan temannya tak mampu melihat apa yang sebenarnya terjadi, sebab terhalang oleh punggung lebar Joe. Tapi keduanya sudah menyimpulkan dengan pikirannya masing-masing.
Kobaran api itu pun seketika lenyap. Namun sayangnya—Joe justru jatuh pingsan akibat syok melihat penampakan celana pada daerah intinya.
Bukan hanya berlubang sampai tembus ke celana dalaam, api tersebut juga sudah berhasil membakar bulu perindu serta bagian ujung tongkat bisbolnya.
Tak bisa terbayangkan. Selain merasakan perih, Joe juga sangat malu sebab Syifa ikut melihatnya dengan gamblang. Akhirnya tanpa sadar, dia pun hilang kesadaran.
__ADS_1
Bruk!!
"Astaghfirullah! Pak Joe!" jerit Syifa histeris. Dia bukan hanya kaget melihat Joe ambruk dengan keadaan terlentang, tapi juga dengan kondisi inti tubuhnya yang hangus. "Pak Joe! Bangun, Pak!" pekiknya seraya berjongkok, lalu menggoyangkan tubuh tegap Joe.
Dua wanita itu sontak terbelalak melihat apa yang terjadi. Cepat-cepat mereka pun berlari keluar dari rumah itu, saat melihat Syifa hendak keluar kamar ingin meminta bantuan.
"Pak, Bu! Tolong!" teriak Syifa dengan lantang sambil menoleh ke kanan dan kiri.
Tepat disisi jalan, ada dua orang laki-laki lewat dengan memakai baju koko, sarung serta peci. Keduanya hendak menuju masjid. Akan tetapi langkahnya seketika terhenti lantaran mendengar suara pekikan dari Syifa.
Keduanya langsung berlari tergesa-gesa menghampiri gadis di depan rumah itu.
"Ada apa Syifa?! Kenapa?" tanya salah satu dari mereka. Keduanya tentu mengenal Syifa, sebab rumahnya juga cukup dekat.
"Pak Joe, dia pingsan di kamarku, Pak! Cepat tolong aku untuk bawa dia ke rumah sakit!" seru Syifa dengan napas yang memburu.
"Pingsan di dalam kamar?!" Keduanya berujar secara bersamaan dengan wajah yang tampak kaget. Pikiran negatif pun seketika terlintas pada benaknya masing-masing.
Dua laki-laki tersebut sontak terperanjat, sebab sempat terbengong memikirkan hal senonoh mengenai Syifa dan Joe. Lantas, mereka pun segera berlari masuk ke dalam rumah. Begitu pun dengan Syifa yang langsung memberitahukan letak kamarnya.
"Astaghfirullah! Kenapa dengan burungnya?!" Lelaki berkoko hitam refleks menutup bibirnya, saat begitu syok melihat kondisi Joe.
"Udah cepat bantu aku bawa dia ke rumah sakit, Pak! Kasihan Pak Joe!" pinta Syifa. Segera, dia membuka lemari untuk mengambil hijab pashmina berwarna merahnya, kemudian menutupi inti tubuh Joe yang sudah gosong.
Kedua laki-laki itu langsung mengangguk, lantas membungkukkan badannya dan bersama-sama mengangkat tubuh Joe. Membawanya keluar rumah bersama Syifa yang langsung mengunci pintu.
"Ada apa ini?!" Ustad Yunus berlari menghampiri mereka bertiga yang sudah berada tepat di jalan raya. Syifa hendak menstopkan taksi yang baru saja lewat, tapi urung dilakukan.
Dia langsung menoleh. "Ini Ustad, Pak—"
"Astaghfirullah! Pak Joe!" sergah Ustad Yunus dengan cepat, saat baru sadar jika pria yang digendong dua laki-laki itu adalah Joe. "Bawa ke mobilnya saja, biar saya juga ikut mengantarnya ke rumah sakit!" titahnya seraya menunjuk ke arah mobil yang berada di depan masjid.
__ADS_1
Kedua laki-laki itu mengangguk, lantas berlari membawa Joe ke sana. Syifa juga ikut menyusul dan berlari menghampiri mereka.
"Kamu yang bawa mobil, biar aku di belakang sama Pak Joe," perintah Ustad Yunus pada laki-laki berkoko hijau, saat dia dan temannya telah berhasil memasukkan Joe ke dalam mobil pada kursi belakang.
"Baik, Tad." Laki-laki itu mengangguk, kemudian masuk ke dalam kursi kemudi. Sedangkan temannya memilih mundur beberapa langkah dari mobil.
"Ustad, aku juga mau ikut mengantar Pak Joe ke rumah sakit," pinta Syifa dengan raut memohon. Dia juga tampak begitu khawatir dengan kondisi Jonathan.
"Masuk ke kursi depan, Fa," sahut Ustad Yunus. Setelah itu dia masuk ke dalam kursi belakang menemani Joe yang sudah berbaring. "Kita langsung ke rumah sakit."
Syifa mengangguk, segera dia pun masuk ke dalam mobil. Duduk di samping laki-laki yang menyetir. Tak lama, mobil itu pun melaju pergi.
"Sekarang kita harus bagaimana, Bu? Masa kita diam saja setelah mendapatkan buktinya? Pasti Syifa dan pria bermata sipit itu habis berbuat mesum, sampai-sampai Syifa membersihkan celananya," ucap wanita berdaster penuh curiga kepada temannya.
Mereka berdua sejak tadi masih di sana dan menyaksikan apa yang terjadi. Akan tetapi keduanya sengaja bersembunyi di samping tembok masjid, supaya Syifa dan yang lain tak melihatnya.
"Kita laporkan Syifa ke Pak RT saja. Biar dia yang urus. Sekalian juga kasih tau Ustad Hamdan," usul wanita bergamis biru. Kemudian melangkah bersama menuju rumah Pak RT yang letaknya tak terlalu jauh.
"Nanti Ustad Hamdan pasti nutupin, Bu, kan Syifa anak semata wayangnya," ujar wanita berdaster.
Dia tentu tahu bagaimana Abi Hamdan yang selalu memuji anak semata wayangnya di depan para tetangga. Seolah-olah mengungkapkan jika Syifa adalah perempuan yang sholeha.
"Nggak mungkin lah. Dia 'kan ngerti sama agama," sahut temannya. "Coba Ibu kirimkan saja video tadi ke Ustad Hamdan atau ke istrinya. Bagaimana coba responsnya, setelah mengetahui anak gadisnya memasukkan pria asing ke dalam kamar."
"Benar juga ya, Bu." Wanita berdaster yang masih memegang ponsel itu menganggukkan kepalanya tanda setuju. Cepat-cepat dia pun mengetik-ngetik layar pipih tersebut, kemudian mengirimkan video tadi beserta chat yang berisi ....
[Bagaimana tanggapan Ustad mengenai video ini? Aku dan Bu Sulis tadi nggak sengaja melihat Syifa menarik pria asing ke dalam rumah. Dan bukannya Syifa itu mau menikah sama Ustad Fahmi anaknya Pak Haji Samsul, ya? Kok dia malah gatel, sih, bawa pria lain ke dalam rumah yang belum muhrimnya.] Mengirim.....
"Aku yakin, Bu, Ustad Hamdan pasti marah besar," ungkap wanita bergamis biru sambil menganggukkan kepalanya dengan yakin.
...Bukan marah lagi, tapi murka 7 turunan 🤣...
__ADS_1