
"Cepat panggilkan Robert dan temannya, Fa," titah Abi Hamdan dengan wajah kesal. Dia melirik sini ke arah Joe. Tatapan yang dilakukan pria itu terhadap anaknya benar-benar membuatnya sebal. Sebab baginya itu tidak baik dan tidak sopan.
"Robert sama Baim ketiduran di karpet, Bi, daritadi. Mau kubangunkan tapi nggak enak," sahut Syifa seraya melebarkan pintu kamarnya. Supaya sang Abi melihatnya sendiri.
"Tinggal dibangunkan saja, ngapain pakai nggak enak segala?" Abi Hamdan melangkah masuk ke dalam kamar Syifa, lalu berjongkok ke arah Robert dan Baim yang tengah berbaring terlentang di atas karpet.
Sebelumnya mereka memang tengah mengerjakan tugas, karena diminta oleh Syifa. Tapi lantaran kelamaan mikir mencari jawaban, mereka akhirnya ketiduran.
"Nak! Ayok bangun!" seru Abi Hamdan seraya menggoyangkan tubuh Robert dan Baim secara bergantian. Akan tetapi dua bocah itu masih tertidur dan terlihat begitu pulas. "Nak! Ini sudah malam, ayok bangun dan pulang!"
Sekali lagi, Abi Hamdan membangunkan mereka. Tapi kali ini dengan tepukan ke pipi kanan dan kiri.
"Nak! Ayok bangun! Maghrib-maghrib nggak boleh tidur, pamali!" serunya.
"Eehhh ...." Robert menggeliat, begitu pun dengan Baim. Kemudian mata kecil keduanya itu terbuka dan mengerjap beberapa kali.
"Opa siapa?" tanya Baim dan Robert secara bersamaan.
"Lho, kok kalian tanya lagi? Opa ini 'kan Abinya Bu Syifa."
Robert dan Baim langsung mengucek kedua matanya secara bersamaan, lalu saling melayangkan pandangan dan kembali menatap ke arah Abi Hamdan. Sepertinya, nyawa kedua bocah itu belum terkumpul sempurna tadi.
__ADS_1
"Oh iya, maaf, Opa, Robert lupa," ucap Robert seraya bangun.
"Iya, Baim juga." Baim ikut berdiri melihat Robert berdiri.
"Ayok keluar kamar, diluar ada Daddynya Robert. Katanya dia mau jemput kalian," titah Abi Hamdan.
"Benarkah?" Bola mata Robert seketika berbinar, dia juga mengulum senyum. "Daddy Robert ada diluar?"
"Iya. Sana temui." Abi Hamdan mengangguk.
Robert langsung berlari keluar kamar dengan girangnya, Baim pun ikut menyusul.
Di depan teras rumah, Joe tengah duduk di kursi seorang diri. Kedua tangannya masih memegang apa yang dia bawa.
"Oh iya, Daddy lupa. Kalian ambil tas dulu biar nanti sekalian Daddy pamit dan berikan semua ini," titah Joe.
"Daddy sekalian menyatakan cinta kepada Bu Syifa, kan?"
"Ekhhemm!" Abi Hamdan datang sambil berdehem. Kedua tangannya memegang tas ransel milik Robert dan Baim. Atensi mereka pun langsung beralih ke arahnya, kemudian sama-sama menoleh. "Ini tas kalian, jangan sampai lupa," tegur Abi Hamdan seraya memberikan kedua benda tersebut, dan langsung diambil oleh kedua bocah itu.
"Terima kasih, Opa," ucap mereka secara bersamaan, lalu memakai tasnya masing-masing.
__ADS_1
"Aku sekalian ingin pamit, Pak. Terima kasih dan maaf kalau sudah merepotkan," ucap Joe sambil tersenyum manis. Tapi dilihat sekarang, wajah pria tua di depannya tampak masam. "Tapi sebelum pulang, aku ingin bertemu dengan Syifa dulu sebentar. Mana ya, Pak, Syifanya?" Mata Joe menelisik ke dalam. Mencari-cari keberadaan Syifa yang tak terlihat.
"Mau apa memangnya? Bicara saja padaku, nanti aku sampaikan," ujar Abi Hamdan dengan suara datar.
"Ini, aku mau berikan semua ini untuknya. Mohon diterima." Joe mengulurkan tangannya, lalu memberikan apa yang sejak tadi dipegang.
Abi Hamdan mengambil semua itu, lalu memerhatikan buket bunga mawar merah yang terlihat begitu cantik. "Dalam rangka apa Bapak memberikan bunga segala?"
"Itu tanda salam kenal aku, Pak, kepada Syifa," jawab Joe yang entah mengapa menjadi salah tingkah.
Dia juga jadi gugup sendiri sebab semakin lama diperhatikan, wajah Abi Hamdan menjadi menyeramkan. Tatapannya pun begitu tajam hingga membuat bulu kuduk Joe ikutan berdiri.
'Bapak ini siapanya Syifa, ya? Kok kelihatan serem,' batin Joe.
"Kok tanda salam kenal? Kan harusnya Daddy menyatakan cinta," gerutu Robert seraya menggoyangkan tangan Joe. Dia tampak gemas sekali kepada sang Daddy yang belum berterus terang, padahal sejak tadi dia menunggu.
"Soal itu nanti saja, Rob!" sahut Joe cepat, lalu menggandeng tangan Robert dan Baim. Pada akhirnya dia memutuskan untuk mengurungkan niatnya, sebab menurutnya momen itu kurang pas sekarang. "Kalau begitu aku permisi, Pak, selamat malam." Membungkuk sopan, kemudian melangkah cepat menuju mobil sembari menarik kedua tangan bocah itu. Mereka pun lantas masuk bersama ke dalam mobil.
Abi Hamdan terdiam, lalu memerhatikan mobil yang sudah menjauh dari pekarangan rumahnya itu.
'Ternyata yang dikatakan Robert tadi bener, Daddynya suka sama Syifa. Tapi kenal di mana kira-kira mereka? Dan apa jangan-jangan Syifa juga suka sama Daddynya si Robert?' batinnya penuh tanya. Kemudian menggeleng cepat. 'Ah, tapi ini nggak boleh dibiarkan. Aku nggak setuju.'
__ADS_1
Abi Hamdan pun melangkah menuju tong sampah yang berada di depan pagar rumahnya. Kemudian langsung melempar buket bunga mawar ke dalam sana.
...Belum juga nyatain cinta, Bi, udah nggak setuju aja 🙃...