Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
58. Jangan pernah membuatku menyesal


__ADS_3

"Lho, Bapak memintaku membuka sarung? Di sini?" Joe menatap sekitar ruangan rumah itu. Meskipun Syifa sudah masuk ke kamar dan Umi Maryam berada di dapur, tetap saja dia merasa malu. Tak mungkin juga dia gila, sampai membuka sarung di sana.


"Nggak di sini. Tapi di kamar mandi yang berada di dapur. Ayok ikut denganku." Abi Hamdan langsung berdiri, kemudian melangkah lebih dulu menuju dapur.


Robert langsung turun dari sofa, kemudian berlari mengejar Abi Hamdan.


'Abinya Syifa kok mesum banget, sampai mau lihat tongkatku segala? Kan ini aset berharga yang nggak boleh dilihat orang lain selain istri sendiri.' Meskipun sebenarnya Joe tidak mau, tapi nyatanya kedua kakinya mulai melangkah mengikuti ke mana pria itu pergi.


"Kamu nggak perlu ikut masuk, Nak!" Abi Hamdam menghalangi Robert yang hendak ikut masuk ke dalam kamar mandi, bersama dirinya dan Joe.


"Kenapa, Opa? Robert 'kan mau lihat Daddy yang sudah disunat." Dia sendiri tak tahu, apa itu disunat. Sebab Joe belum menjelaskannya.


"Jangan dong, Sayang, Daddy malu," ucap Joe. Jangankan kepada orang lain, kepada anaknya yang sama-sama berjenis kelamin laki-laki pun dia merasa malu, jika kehormatannya itu diperlihatkan.


"Daddymu benar." Abi Hamdan menyahut sambil mengusap puncak rambut Robert. "Kamu di sini saja, atau sana ke kamar Bu Syifa dan mintalah untuk mengajarimu belajar membaca. Karena Opa dan Daddymu ingin membahas masalah serius dan tentunya ini untuk orang dewasa."


"Kamu harus nurut, Rob," sahut Joe menatap anaknya. "Ini semua 'kan supaya Bu Syifa bisa menikah dengan Daddy. Kamu pasti kepengen cepat punya Mommy baru, kan?"


"Iya, Dad, Opa!" jawab Robert dengan anggukan cepat. Jika sudah berbicara tentang Mommy baru, tentunya Robert sudah kegirangan. Lantas, dia pun berlari pergi dari dapur menuju kamar Syifa.


"Cepat buka, kok bengong?" titah Abi Hamdan seraya menutup pintu kamar mandi. Dia memerhatikan Joe yang sejak tadi bengong.


"Tapi aku malu, Pak, masa aku menunjukkan tongkatku di depan Bapak?" tanya Joe dengan ragu. Kedua tangannya meremmas sarung.


"Ngapain malu? Kita 'kan sama-sama pria."


"Tapi Bapak masih normal, kan?" Joe menatap Abi Hamdam dengan raut wajah takut.


"Maksudmu apa, Jon?!" Abi Hamdan langsung berucap dengan nada tinggi. Matanya melotot tajam. "Aku jelas normal! Kalau nggak normal Syifa nggak akan ada di dunia ini!" teriaknya menggema.


"Ma-maaf, Pak," sahut Joe dengan gugup. Susah payah dia pun menelan salivanya.


"Mau buka sendiri atau aku yang buka, Jon?!" tekannya mengancam. Lantas meraih sarung yang Joe kenakan.


"Bu-buka sen-sendiri saja, Pak," jawab Joe terbata. Dengan penuh keraguan dan menahan malu, sarung itu perlahan dia raih. Kemudian menarik keseluruhannya ke atas sambil memejamkan mata.

__ADS_1


Abi Hamdan langsung menurunkan pandangan, tepat pada inti tubuh Joe. Sontak saja, dia terbelalak melihat bentuk dan ukurannya, kemudian berkhayal membandingkan dengan miliknya sendiri.


Bisa dikatakan, dari warna, bentuk dan ukuran jelas Abi Hamdan kalah jauh. Bentuk khitannya juga tampak sempurna, hanya saja masih memerah karena belum kering.


'Bagus juga burung si Sipit ini, mana panjang dan gede lagi,' batinnya.


"Sudah belum, Pak? Apa aku boleh menutupnya lagi?" tanya Joe yang masih memejamkan mata.


"Sudah. Tutup saja," titah Abi Hamdam.


Joe langsung menurunkan sarungnya, lalu membuka mata. "Bapak percaya 'kan, aku sudah disunat?"


"Iya. Sekarang coba buka jas dan bajumu," titah Abi Hamdan.


"Jas dan baju?!" Kedua mata Joe terbelalak. Dia pun langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Mau apa, Pak?"


"Aku hanya ingin mengecek, kau ini punya tato atau nggak. Karena aku nggak mau, punya menantu memiliki tato."


Joe langsung menelan saliva. "Aku punya tato, Pak," jawabnya.


"Di perut dan dada."


"Coba buka. Aku mau melihatnya."


Joe perlahan membuka kancing jas, lalu menyingkap kaos putihnya sampai dada. Di atas pusar, ada tato bergambar salib. Sedangkan di dada bagian kanan ada tato nama bertuliskan Sonya.


"Siapa Sonya?" tanya Abi Hamdan penasaran.


"Mommynya Robert, Pak."


"Kau belum bisa melupakannya?"


"Dia cinta pertamaku, Pak. Rasanya sulit, jika aku melupakannya." Menurutnya, seseorang yang dicintai itu tidak perlu dilupakan. Karena itu sangatlah sulit, apalagi cinta pertama. Akan tetapi, yang Joe lakukan sejak dulu adalah mencoba mengikhlaskan. Karena dengan begitu, dia mampu bertahan hidup sampai sekarang dengan membesarkan Robert sebagai orang tua tunggal.


"Kalau kau nggak bisa melupakannya, terus kenapa kau mau melamar Syifa? Kenapa nggak balikan saja sama mantan istrimu?" tanya Abi Hamdam.

__ADS_1


"Mommynya Robert sudah meninggal, 6 tahun yang lalu, Pak."


"Oohh ...." Abi Hamdan mengangguk-nganggukkan kepalanya. "Terus, kalau kau sudah menikahi Syifa, apa kau akan terus mengingatnya dan membandingkan Syifa dengan istrimu dulu?"


"Kalau akan terus mengingat, pastinya aku akan selalu mengingat. Tapi kalau membandingkan dengan Syifa, itu nggak akan pernah aku lakukan, Pak," jelas Joe. "Meskipun Syifa dan Sonya memiliki wajah yang begitu mirip, tapi mereka adalah orang yang berbeda. Hatinya mungkin sama-sama baik, tapi pasti akan ada perbedaan."


"Bagaimana bisa aku percaya, kalau suatu hari nanti kau nggak akan membandingkan Syifa dengan istrimu? Sedangkan kau saja seperti sangat mencintai istrimu?" tanya Abi Hamdam penasaran. Wajahnya tampak tak percaya.


"Semuanya bisa dibuktikan kalau aku dan Syifa sudah menikah, Pak," jawab Joe dengan sungguh-sungguh. "Aku akan berjanji kepada Bapak, nggak akan melakukan hal itu." Meriah tangan Abi Hamdan, lalu menggenggamnya dengan erat.


"Oke, aku akan tunggu buktinya," tantang Abi Hamdan. "Besok, aku nggak mau lagi melihat tubuhmu memiliki tato. Karena umat muslim itu diharamkan memiliki tato."


"Besok aku akan menghapusnya, Pak."


"Bagus." Abi Hamdam menganggukkan kepalanya, lalu membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar dari sana.


Joe juga ikut keluar, lantas mengekori Abi Hamdan yang kembali ke ruang tengah. 'Sonya Sayang, meskipun tato namamu akan kuhapus ... tapi namamu di hatiku nggak akan pernah terhapus. Aku melakukan hal ini tentu untuk kebahagiaan Robert, anak kita,' batinnya.


"Tunggu sebentar, ya, Jon!" titahnya. Setelah Joe duduk di sofa, Abi Hamdan lantas meninggalkannya. Kemudian masuk ke dalam kamar.


Selang beberapa menit, dia pun kembali dengan membawa selembar kertas dan kantong merah. Perlahan meletakkannya di atas meja di depan Joe.


"Bawa ini semua, dan pelajari," titah Abi Hamdan seraya duduk di sofa panjang.


"Apa ini, Pak?" Joe meraih tali kantong merah, lalu membuka isinya. Terdapat iqro, buku tuntunan sholat, juz amma, dan do'a-do'a sehari-hari.


"Kau pasti bisa baca, harusnya tau itu apa," sahut Abi Hamdan dengan datar. "Baca-baca saja dulu yang mana, nanti aku atur waktu supaya bisa mengajarimu."


"Bapak mau mengajariku?" Joe menatap Abi Hamdam dengan raut tak percaya.


"Apa masih kurang jelas?!" Abi Hamdan mengangkat dagunya.


"Jelas, Pak." Joe mengangguk cepat. "Tapi aku sudah ada omongan sama Ustad Yunus, memintanya untuk mengajariku dan Robert. Kalau begitu, berarti aku nggak jadi, diajari sama dia?" tanyanya bingung.


"Kalau soal itu sih terserah kau saja, mau diajari sama siapa pun nggak masalah," jawab Abi Hamdan dengan santai. "Tapi yang jelas ... aku ingin mengetahui secara langsung, jika kau bukan hanya sekedar ingin mengenal Islam, tapi juga harus bisa mengaji dan sholat. Aku ingin kau menjadi imam dan pemimpin keluarga yang baik untuk anakku. Syifa itu anak gadisku satu-satunya, Jon. Jangan pernah membuatku menyesal karena telah memilihmu."

__ADS_1


...Hari Senin nih, jangan lupa vote dan hadiahnya, ya! Biar Author semangat 🥺~...


__ADS_2