
"Bapak yang sabar. Saya tau ini sangat menyakitkan." Tangan Dokter terulur ke arah bahu kanan Joe, lalu menepuk-nepuknya dengan pelan.
"Tapi masalahnya ... selama ini aku nggak mendapatkan tanda-tanda jika Robert memiliki penyakit. Dia terlihat sehat seperti anak pada umumnya, Dok," lirih Joe pelan seraya mengusap air mata di pipi.
"Tidak semua penyakit kanker memiliki tanda-tanda, bisa saja terdeteksi saat kanker itu sudah ditahap kronis, Pak," jelas Dokter itu.
"Apa sama sekali nggak ada faktornya, Dok?! Aku benar-benar nggak percaya jika anakku terkena kanker."
Rasanya ini seperti mimpi.
Meskipun dulu Sonya mengalami penyakit yang sama hingga tak mampu tertolong, tapi nyatanya sampai sekarang Joe masih tidak habis pikir dengan faktor penyebabnya. Karena dirinya selalu memberikan Sonya asupan makanan yang sehat, vitamin serta berolahraga ringan, apalagi dengan kondisinya yang sedang berbadan dua.
Dokter saat itu malah menganjurkan Sonya untuk mengangkat janinnya pada usia 3 Minggu, sebab kondisi Sonya memang terbilang lemah.
Namun, Sonya sendiri bersikeras tidak mau melakukan. Karena baginya itu sama saja membunuh sang anak. Dia berpikir pasti buah hatinya itu ingin hidup juga, sama seperti bayi yang lain.
Joe yang sebagai seorang suami tidak bisa memaksa, karena memang hampir semua keinginan Sonya selalu dituruti. Dan keinginannya yang terakhir itu adalah melihat anaknya lahir ke dunia.
Syukurlah semuanya terwujud, meskipun saat Robert lahir dan beberapa detik melihat, dia langsung menghembuskan napasnya yang terakhir.
"Banyak faktor penyebab penyakit kanker, Pak, tapi umumnya jika itu dialami anak-anak adalah dari kelahiran yang prematur. Faktor keturunan juga bisa," jelas Dokter itu.
"Istriku, dia juga meninggal karena kanker, Dok," ujar Joe dengan sendu. "Dan Robert pas lahir pada usia 7 bulan, karena kondisi Mommynya sudah sangat lemah."
"Berarti itu bisa jadi penyebabnya, Pak," sahut Dokter. "Kalau boleh tau ... dulunya kanker apa yang dialami istri Bapak?"
"Kanker hati juga, Dok, sama."
"Sudah coba melakukan operasi pengangkatan sel kanker atau stansplatasi hati belum, Pak?" tanya Dokter itu penasaran.
Joe mengangguk lemah. "Semuanya sudah aku lakukan, tapi tetap saja dia diambil Tuhan, Dok."
__ADS_1
"Semoga saja anak Bapak tidak mengalami hal yang sama. Kita harus cepat melakukan tindakan selagi kankernya masih stadium 2, masih ada harapan untuk dapat sembuh, Pak."
"Lakukan apa saja demi kesembuhannya, Dok. Aku nggak mau anakku pergi meninggalkanku seperti Mommynya," pinta Joe dengan suara bergetar.
"Berarti sekarang Robert harus segera dipindahkan ke ruang operasi, ya, Pak. Dia secepatnya harus menjalani operasi pengangkatan sel kanker. Tapi penyakit kanker hati ini tidak bisa langsung sembuh total, karena harus sering dicek perkembangannya," jelas Dokter itu panjang lebar.
Joe mengangguk cepat. "Iya, Dok. Tolong panggilkan Dokter spesial kanker yang hebat untuk mengoperasi Robert. Aku akan mengurus syarat-syarat dan biayanya," ujarnya seraya berdiri.
Dokter itu pun mengajak Joe keluar dari ruangan, kemudian langsung meminta perawat untuk memindahkan Robert menuju ruang operasi.
"Kamu akan segera sembuh, Sayang. Daddy yakin itu." Joe membungkuk ke arah tempat tidur yang didorong oleh beberapa perawat. Perlahan dia pun mengecup seluruh wajah Robert. Dari mulai kening, kedua mata, kedua pipi sampai dagu.
Setelah mengisi formulir pendaftaran dan membayar biaya operasi, Joe pun melangkah keluar dari rumah sakit, lalu menghampiri Sandi yang tengah bermain ponsel sambil berdiri di depan mobilnya.
"San, tolong kamu tunggu Robert di depan ruang operasi. Aku mau cari gereja di dekat sini," ujar Joe sambil mengusap kasar wajahnya yang berkeringat banyak. Dia hendak berdo'a untuk kesembuhan sang anak.
Sandi langsung menatap Joe sambil mengantongi ponselnya ke dalam celana. "Jadi Dek Robert sakit apa, Pak? Kok sampai dioperasi segala?"
"Dia terkena kanker dan sudah stadium 2, San," jawab Joe dan sekarang dia sudah menangis. "Aku benar-benar bukan Daddy yang baik untuknya, bisa-bisanya aku nggak tau dia mengidap penyakit mematikan seperti Mommynya," lanjutnya sambil tersedu-sedu.
"Iya, terima kasih ya, San." Joe merelai pelukan, lalu mengusap air matanya.
"Sama-sama, Pak. Nanti saya juga akan sekalian do'akan Dek Robert setelah selesai sholat," sahut Sandi, kemudian merogoh kantong celananya untuk mengambil kunci mobil. "Ini, Bapak ingin pakai mobil saya nggak?" tanyanya dengan tangan yang terulur.
"Iya." Joe langsung mengambil benda tersebut, kemudian masuk ke dalam mobil. Sedangkan Sandi, dia masuk ke dalam rumah sakit.
*
*
*
__ADS_1
"Lho, ini bukannya udah diposisinya, tapi kok nggak ada gerejanya?" gumam Joe dengan bingung, menatap ponselnya.
Dia mencari gereja terdekat melalui maps, berniat ingin berdo'a di sana, supaya do'a untuk Robert cepat terkabul. Di lokasi itu tertera jika posisinya sekarang sudah ada ditujuan, tapi nyatanya tidak ada gereja disekitarnya.
"Permisi, Pak." Joe menurunkan kaca mobilnya dan menghentikan mobil, tepat di mana ada seorang pria yang berjalan di sisi jalan. Dan pria tersebut langsung menghentikan langkahnya, lalu menoleh.
"Iya, ada apa ya, Pak?"
"Bapak tau nggak, gereja protestan di dekat sini?" tanya Joe.
"Bapak lurus aja, nanti kalau ada perempatan belok kanan. Di situ ada gereja protestan." Pria itu memberitahu sembari mengarahkan jari telunjuknya.
"Oke, terima kasih banyak, ya, Pak," ujar Joe sambil tersenyum.
"Sama-sama."
Joe menarik gasnya, kemudian mengemudikan kembali mobil Sandi sesuai dengan apa yang dikatakan pria tadi.
Namun, saat dalam perjalanan, Joe justru melihat seorang pria berpeci tengah mendorong motor bebeknya. Ketika posisinya cukup dekat, dia baru sadar kalau itu ternyata Abi Hamdan.
Segera, Joe menghentikan mobilnya. Lantas turun dari sana dan berjalan cepat menghampiri.
"Bapak motornya kenapa?" tanya Joe.
Abi Hamdan langsung menghentikan langkah kakinya, kemudian menoleh. Wajahnya terlihat berkeringat banyak, akan tetapi sangat tampak jelas jika rautnya begitu masam menatap Joe.
"Bapak jangan pernah mencoba untuk mendekati Syifa lagi. Karena Syifa akan segera menikah," ucapnya tiba-tiba. Padahal sudah jelas tadi jika Joe bertanya tentang motornya.
"Menikah?!" Kening Joe tampak mengernyit. Namun, dadanya seketika terasa berdenyut. "Menikah sama siapa, Pak?"
"Sama Fahmi," jawab Abi Hamdan. "Selain itu dia juga calon ustadz dan pastinya seagama dengan kami. Jadi Bapak jangan sesekali mendekati anakku lagi, apalagi dengan menjadikan Robert sebagai alatnya," tambahnya kemudian dengan tegas.
__ADS_1
"Aku nggak akan mendekati Syifa lagi, Pak, Bapak tenang saja," jawab Joe sambil tersenyum getir.
^^^Bersambung....^^^