Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
75. Robert kesurupan


__ADS_3

Di apartemen.


Ceklek~


Joe yang sedang tidur di sofa panjang pada ruang tengah lantas mengerjapkan matanya secara perlahan, ketika mendengar suara pintu yang dibuka oleh seseorang. Ternyata dia adalah Syifa.


"Eh, Fa, kamu sudah bangun? Mau ke mana?" tanya Joe sambil mengucek kedua mata, sebab terasa buram dalam penglihatannya. Perlahan, dia pun berdiri kemudian melangkah cepat saat gadis itu telah melangkah tergesa-gesa keluar dari apartemen.


"Aku mau pulang," jawabnya dengan ketus. Melihat pintu lift pada lorong apartemen itu terbuka, cepat-cepat dia masuk. Dan Joe sendiri langsung berlari mengejar dengan paniknya, lantaran takut Syifa pergi meninggalkannya.


"Kok pulang? Pulang ke mana, Fa?" tanya Joe bingung. Dilihat wajah gadis di depannya itu tampak cemberut dan masam. Sepertinya, dia masih marah dengan apa yang telah mereka lakukan semalam.


"Ke rumahlah, ke mana lagi." Syifa membuang muka, lantas bersedekap dada.


"Kok pulang? Kita 'kan musti bersembunyi dulu. Sebelum mendengar aba-aba dari Robert, Fa."


"Bapak saja yang bersembunyi. Aku nggak mau." Syifa menggelengkan kepalanya.


"Terus sekarang pulangnya ke mana? Dan aku minta maaf tentang kejadian semalam. Aku khilaf, Fa, tolong maafkan aku." Perlahan, tangan Joe terulur. Dirinya hendak menyentuh lengan Syifa, akan tetapi gadis itu justru menepisnya dengan kasar. Kemudian mundur beberapa langkah supaya mereka menjaga jarak.


"Jangan sentuh aku, Pak! Kita belum muhrim!" tegasnya dengan suara lantang. Berbeda seperti biasanya yang bersikap sangat lembut, kali ini Syifa terlihat lebih galak.


"Kita akan segera menjadi muhrim, Fa. Tenang saja." Joe tersenyum manis. Tapi sama sekali gadis itu tak menatap ke arahnya. 'Semoga Robert berhasil membujuk Mami dan Papi. Kalau nggak, mungkin aku akan mengajak Syifa kawin lari saja. Itu juga kalau dianya mau.'


***


Sementara itu.


Ceklek~


Pintu kamar inap Papi Paul dan Mami Yeri terbuka, masuklah empat orang dari luar. Mereka adalah Robert, Sandi, Juna dan Opa Angga.


Ini adalah kesempatan emas, untuk Robert mulai berakting dengan usulan dari temannya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, selamat pagi," sapa Opa Angga yang berjalan mendekat ke arah ranjang Papi Paul. Di sampingnya ada Juna, bocah itu menenteng plastik putih tebal berisi buah jeruk.


"Kak Angga," ucap Papi Paul sambil tersenyum. Pria paruh baya yang datang itu tampak begitu familiar menurutnya.


"Lho, kok kamu tau namaku? Padahal aku belum menyebutkannya." Kening Opa Angga tampak mengernyit. Dia merasa heran menatap Papi Paul.


"Salam kenal Opa dan Omanya, Robert," ucap Juna seraya memberikan plastik ditangannya kepada Papi Paul, saat pria itu menarik tubuhnya untuk duduk selonjoran sambil menyandar pada sisi ranjang. "Namaku Juna, teman kelasnya Robert."


"Salam jenal juga, Nak!" sahut Mami Yeri. Sedangkan Papi Paul hanya tersenyum sambil menatap Juna.


"Apa Kakak lupa, kita 'kan pernah satu SMA bareng, dulu," ucap Papi Paul yang memang terlihat seperti mengenali Opa Angga. "Hanya saja aku jadi Adik kelas Kakak dulu."


"Oh benarkah?" Opa Angga tampak melebarkan matanya. Merasa terkejut.


"Iya, Kak." Papi Paul mengangguk sambil tersenyum.


"Mungkin aku sudah terlalu tua, jadinya lupa. Maaf, ya?" pinta Opa Angga.


"Aku kebetulan tadi mau jenguk temanku yang dirawat di sini. Eh terus nggak sengaja ketemu Robert, dan dia bilang Opa dan Omanya juga dirawat ...." Opa Angga menoleh sebentar ke arah Robert, lalu menatap kembali ke arah Papi Paul. "Jadi sehabis aku menjenguk temanku ... aku sekalian ke sini, untuk menjengukmu dan istrimu," tambahnya menjelaskan.


"Oh gitu, terima kasih, ya, Kak, maaf jadi merepotkan."


"Nggak ap—" Ucapan Opa Angga seketika terhenti saat seseorang terdengar menjerit.


"Astaga Robert!" jerit Mami Yeri yang tampak terkejut, saat dimana dia melihat cucu kesayangan itu terjatuh di lantai tanpa sebab dengan mata yang terpejam.


Kejadian secara tiba-tiba itu tentu membuatnya panik, hingga dirinya tanpa berpikir panjang langsung menarik jarum infussan pada punggung tangan, lalu turun dari ranjang.


Namun, saat dirinya berjongkok hendak meraih tubuh sang cucu—bocah itu sontak membuka matanya dengan lebar dan agak melotot. Tentunya, apa yang dilakukannya itu mengundang rasa kaget Mami Yeri, Papi Paul serta Opa Angga yang tak tahu menahu. Sedangkan Juna dan Sandi sendiri terlihat biasa saja, sebab mereka yakin—apa yang dilakukan bocah itu adalah akting belaka.


"Sayang, kamu kenapa? Ada ap—"


"Meeoong!!" Robert seketika mengaung bagaikan seekor kucing. Dia juga sudah berangkak dengan mata melotot.

__ADS_1


Juna yang melihatnya justru menepuk jidat, merasa tak habis pikir mengapa Robert justru kesurupan binatang, bukan setan yang dia sarankan. 'Kok si Robert malah kerasukan kucing, sih? Aneh banget ini bocah. Padahal saranku 'kan kerasukan setan.'


"Robert! Kenapa kamu, Sayang?" Papi Paul langsung meraih kantong infusan, kemudian turun dari ranjang dan cepat-cepat berjongkok mendekat ke arah cucunya.


"Meeoong ...!" erang Robert. Giginya menggertak dengan terbuka, tubuhnya langsung bergerak-gerak memperagakan binatang.


"Kok kamu jadi kayak kucing? Kamu kenapa sebenarnya, Rob!" seru Mami Yeri. Dia yang terlihat panik segera meraih tubuh bocah itu untuk menggendongnya, tetapi Robert justru memberontak menurunkan tubuhnya.


"Lho, kok dia kayak kena celeng sih?" gumam Opa Angga yang mampu didengar oleh Juna. Kening pria tua itu tampak mengernyit.


"Bukan celeng, tapi dia kesurupan Opa!" seru Juna lantang sambil menunjuk Robert. Sengaja dia berkata dengan keras supaya mampu didengar oleh semuanya, termasuk Papi Paul dan Mami Yeri.


"Kesurupan kok mirip kayak celeng, Jun? Mana kayak kucing lagi," ucap Opa Angga yang masih terlihat tak percaya.


"Aku bukan kucing! Tapi macan putih, penunggu rumah sakit ini. Meeoong!" erang Robert. Dia tak tahu cara memperagakan macan, jadi kucing lah yang dia peragakan.


"Macan putih?!" Mami Yeri dan Papi Paul menyeru secara bersamaan. Kedua matanya terbelalak.


"Pokoknya kalau kalian nggak merestui hubungan Joe dan Syifa, aku akan mengambil Robert!" seru Robert menatap Papi Paul dan Mami Yeri sambil melotot. Dia merangkak sambil melompat-lompat.


"Lho, apa hubungannya?" tanya Papi Paul heran. Keningnya tampak mengernyit.


"Itu karena aku nggak suka melihat anak kecil menangis di sini! Meeoong!" erang Robert yang masih berakting. Dia menahan rasa pegal pada matanya sebab sejak tadi terus melotot.


"Menangis? Maksudnya gimana?" Sekarang Mami Yeri yang bertanya. Sama halnya seperti Papi Paul, dia juga merasa bingung.


"Cucu kalian terus saja menangis setiap malam, karena menginginkan Syifa menjadi Mommy barunya!" teriak Robert sambil menepuk dada. "Aku yang sedang tertidur lelap menjadi terganggu, itu sebabnya aku bangun terus marah dan merasuki tubuhnya!"


Mami Yeri dan Papi Paul sontak melayangkan pandangan.


"Cepat restu mereka, atau kalau tidak ... Robert akan aku bawa!" ancamnya. Robert merasa sudah tidak sabar, ingin mengakhiri aktingnya. Tapi dia juga menginginkan jawaban cepat yang keluar dari mulut dua orang itu.


...Ayok cepat jawab Opa, Oma, kasihan tuh bocah melotot mulu 🤣...

__ADS_1


__ADS_2