
"Datang ke rumah?! Mau ngapain, Pak?"
"Banyak tanya amat sih kau ini?!" gerutu Abi Hamdan kesal. "Kalau nggak mau ya sudah, aku nggak maksa!"
"Bukan begitu, Pak, tapi ...." Ucapan Joe belum usai, tapi panggilannya sudah terputus.
Segera, dia pun menelepon balik. Akan tetapi, panggilan itu justru sengaja dimatikan. Pria itu sepertinya marah padanya. 'Apa Abinya Syifa marah padaku? Tapi, kok tumben banget dia memintaku datang ke rumahnya? Ada apa, ya, kira-kira?' batin Joe penasaran.
Joe pun segera mengetik layar ponselnya, kemudian mengirim chat kepada Syifa. [Nanti siang setelah makan siang, aku akan datang bertamu ke rumah Bapak.] Mengirim....
Setelah itu, Joe masuk kembali ke dalam ruangan itu, untuk menemui Dokter Spesialis Onkologi.
"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Joe yang sudah duduk di kursi di depannya. Dokter itu tengah memegang selembar kertas hasil pemeriksaan tes darah.
"Dari hasil tes, sel kanker yang telah diangkat sudah berhasil terangkat dan nggak ditemukan lagi, Pak."
Penjelasan dari dokter itu seketika membuat Joe tersenyum senang. Dadanya pun terasa begitu hangat.
"Jadi, ini artinya ... anakku sudah sembuh, Dok? Syukurlah," ucapnya dengan penuh kebahagiaan.
"Saya belum bisa pastikan, Pak, soalnya kanker ini 'kan punya akar dan bisa tumbuh lagi," sahut Dokter berkacamata. "Tapi saya sarankan, sekitar seminggu atau dua minggu berikutnya ... Robert harus melakukan cek darah lagi. Untuk memastikan, sel kanker itu tumbuh lagi atau nggak," tambahnya menjelaskan.
"Baik, Dok. Tapi mudah-mudahan saja anakku benar-benar sembuh. Karena aku nggak mau kehilangannya," ucap Joe penuh harap. Kedua bola matanya tampak berkaca-kaca.
"Amin, Pak. Semoga saja," balas Dokter sambil tersenyum. "Dan ada kabar baik juga, yaitu Robert sudah dibolehkan pulang. Nanti saya akan tuliskan, apa saja makanan yang nggak boleh dimakan dan apa saja yang dibolehkan untuk makan."
"Iya, Dok." Joe mengangguk cepat dengan semangat. "Terima kasih. Dan apa ada lagi?"
"Tidak ada. Hanya itu saja." Dokter itu melipat kertas di tangannya, lalu memasukkan ke dalam amplop putih dan memberikan kepada Joe. "Tolong jaga perasaan Robert untuk tetap bahagia. Jangan biarkan dia bersedih apalagi sampai menangis."
"Itu pasti, Dok, karena aku sangat menyayanginya." Joe tersenyum.
Seusai menemui Dokter, Joe segera menuju kamar Robert. Untuk melihat kondisinya.
Ceklek~
__ADS_1
"Daddy!!" Robert menyeru di atas tempat tidur dengan kedua tangan yang terangkat ke udara. Wajahnya tampak berseri sekali, saat melihat Joe baru saja masuk.
"Lho, sudah ganti baju kamu, Rob?" Joe menatap heran anaknya. Dia pun melangkah mendekat dan langsung menggendong tubuhnya.
Bocah itu sudah memakai stelan kaos panjang berwarna hijau tosca, bukan lagi pakaian pasien. Kakinya juga memakai sepatu serta sudah tak ada lagi jarum infus yang menempel pada punggung tangannya.
"Iya, kata Suster ... Robert sudah boleh pulang hari ini. Dan tadi Om Sandi membantu Robert mengganti pakaian, Dad," sahut Robert. Perlahan dia pun memeluk leher Joe dengan penuh kasih sayang dan rasa rindu, lalu mencium pipi kanannya. "Tapi Daddy dari mana? Kok baru ke sini? Padahal Robert nyariin Daddy dari Subuh. Dan kenapa juga Daddy pakai sarung? Kayak mau sholat saja."
Begitu banyak rentetan pertanyaan yang dia lontarkan, sampai-sampai Joe susah untuk menjelaskannya satu persatu.
"Nanti Daddy ceritakan semuanya kalau kita sudah sampai rumah." Joe mengelus lembut puncak rambut anaknya, lalu tersenyum manis.
"Dek Robert sudah dibolehkan pulang hari ini, Pak, tinggal Bapak ambil obat dan bayar administrasinya saja," ucap Suster memberitahu. Dia juga ada di sana, tengah membereskan selang infusan dan ventilator oksigen.
"Baik, Sus. Terima kasih." Joe tersenyum kepadanya, lalu mencium kening Robert.
"Sama-sama." Suster mengangguk. Lantas mendorong troli dan melangkah pergi dari sana.
"Biar saya saja yang ambil obat dan bayar administrasinya, Pak." Sandi menawarkan diri. "Bapak sama Dek Robert langsung masuk ke mobil saja."
"Nggak perlu berterima kasih, Pak, ini 'kan memang kewajiban saya," sahut Sandi dengan santai.
Mereka pun berpisah saat sudah sampai di depan resepsionis rumah sakit.
"Kamu mau pergi ke mana dulu, Sayang? Langsung pulang atau mau jalan-jalan?" tawar Joe penuh semangat. Rasa perih pada tongkatnya seketika lenyap begitu saja, saat melihat senyuman manis yang terukir di bibir mungil anaknya. Bocah itu tampak riang gembira, saat sudah dibolehkan pulang.
Memang, sejak kemarin dia juga sudah merengek ingin pulang. Merasa tidak betah dan bosan.
"Robert kepengen ke rumah Bu Syifa, Dad. Robert kangen sama dia."
"Tapi ini masih pagi, Sayang, Bu Syifanya pasti masih ada di sekolah."
"Kalau begitu kita langsung ke sekolah saja, Dad."
"Tapi nantinya ...." Ucapan Joe seketika terhenti saat baru saja ada seseorang yang memanggil namanya, berikut dengan langkah kakinya yang sudah sampai pada parkiran mobil.
__ADS_1
"Pak Joe!" pekiknya agak lantang.
Joe langsung berbalik badan, dan ternyata yang memanggilnya adalah Ustad Yunus. Segera, dia pun tersenyum menatapnya. Pria itu memakai celana jeans panjang berwarna hitam dan kemeja pendek berwarna merah maroon. "Eh Ustad, selamat pagi, Tad," sapanya.
"Pagi juga. Bapak bagaimana keadaannya? Sudah baik?" Ustad Yunus memerhatikan Joe dari ujung kaki hingga kepala. Tapi pandangan matanya fokus pada sarung yang dikenakan oleh Joe.
"Sudah baik, Tad," jawab Joe sambil tersenyum. "Ustad ngapain ke rumah sakit? Siapa yang sakit?"
"Saya ke rumah sakit memang sengaja ingin melihat keadaan Bapak. Dan saya perhatikan ... Bapak ini cocok juga pakai sarung, ya?" Ustad Yunus masih memerhatikan sarung yang dikenakan Joe. Refleks dia juga meraba kainnya. "Kayaknya kalau ditambah pakai baju koko ... jauh lebih cocok lagi, Pak," tambahnya sambil tersenyum.
"Ah masa, sih, Tad?" tanya Joe tak percaya. Tapi wajahnya terlihat malu-malu. Pandangan matanya pun turun ke bawah, tepat pada sarungnya.
"Beneran, Pak."
"Tapi aku pakai sarung 'kan karena memang habis disunat, bukan untuk gaya-gayaan, Tad."
'Disunat?' Kening Robert tampak mengernyit. 'Apa itu disunat?'
"Saya tau itu, Pak. Nggak masalah juga kalau Bapak pakai sarung, nggak diharamkan ini," balas Ustad Yunus santai. Dia pun melangkah mendekat, kemudian tangan kanannya terulur untuk menyentuh puncak rambut Robert. "Anak ganteng ini siapa, Pak? Apa anak Bapak?"
"Benar, Tad. Dia anak semata wayangku," sahut Joe. Dia pun mengusap pipi kanan anaknya. "Ayok kenalan, Sayang. Om ini adalah Ustad Yunus, Omnya Om Sandi."
"Ustad itu kayak Pak Pendeta, kan, Dad?" Robert mengangkat wajahnya menatap Joe. Sang Daddy langsung mengangguk cepat. "Salam kenal, Om Ustad, namaku Robert," ucapnya seraya mengulurkan tangan. Berhubung Ustad Yunus terlihat seperti seumuran Joe, jadi tak ada salahnya jika Robert memanggilnya dengan sebutan Om juga.
"Salam kenal juga, Sayang," balas Ustad Yunus yang meraih tangan kecil Robert. "Oh ya, Pak, ngomong-ngomong ... saya masih penasaran dengan alasan Bapak ingin mengajak saya bertemu kemarin malam. Ada apa ya, Pak?"
"Aku sebenarnya ingin mengenal Islam lebih jauh, Tad. Banyak juga yang ingin aku tanyakan kepada Ustad, perihal nabi Isa dan Allah."
"Alhamdulillah ...." Ustad Yunus mengelus dadanya sambil tersenyum. "Apakah ini berarti Bapak ingin menjadi mualaf?!"
Mendengar kata 'Mualaf' mata Robert langsung berbinar. Dia juga sudah senang duluan sekarang.
'Syukur deh kalau Daddy mau jadi mualaf tanpa Robert minta. Apakah ini artinya ... sebentar lagi Daddy dan Bu Syifa akan menikah?' batin Robert penuh harap.
...Semoga ya, Rob ☺️...
__ADS_1