
Mami Yeri perlahan menoleh ke arah Joe sambil menelan saliva. Disaat bersamaan Robert pun turun dari gendongannya dan langsung disambut oleh Joe. Pria itu juga langsung mengendongnya.
"Tolong restui, Mi, aku mohon ...," pinta Joe dengan raut memohon. Sungguh, wajahnya terlihat begitu memprihatinkan. Pipinya merah serta hidungnya pun masih keluar darah akibat tonjokkan Abi Hamdan.
"Kalau Oma merestui, Oma akan terlihat tambah cantik," rayu Robert dengan raut yang sama memohonnya. Tapi bedanya ekspresi wajahnya agak manja. Supaya meluluhkan hati sang Oma. "Ingat juga ucapan Daddy. Kalau ada cucu kedua Oma di perut Bu Syifa." Kepala Robert perlahan menoleh ke arah Syifa. Wajah gadis itu terlihat begitu masam, kemudian lantas dia beralih menatap kembali Mami Yeri dan masih dengan misinya, yakni membujuk.
"Memangnya Oma tega ... membiarkan dia lahir tanpa seorang Daddy? Berarti sama saja dong, seperti Robert yang lahir tanpa Mommy. Kan kasihan, pasti dia langsung sedih. Saat baru saja lahir ke dunia," tambahnya dengan bola mata berkaca-kaca. Seketika dia pun mengingat akan nasibnya yang memprihatinkan itu. Lahir tanpa ingat bagaimana hangatnya pelukan dari seorang Ibu.
Air mata Mami Yeri tiba-tiba saja mengalir membasahi pipi, padahal awalnya dia saja tidak tahu kapan air itu mengenang di bawah mata.
Segera, wanita bermata sipit itu berlari menghampiri Robert yang berada dalam gendongan Joe. Lantas memeluknya dengan erat serta menciumi puncak rambutnya.
"Enggak, Sayang! Dan kamu juga nggak boleh bicara seperti itu, karena itu akan membuat Oma sedih," lirih Mami Yeri sambil menangis tersedu-sedu.
Tentunya, dia ikut menyaksikan juga. Saat dimana Robert dilahirkan dan ditinggal sang Mommy tercinta. Momen menyakitkan itu sangat tak ingin dia ulang. Dia juga tak mau melihat cucu dan anaknya menderita, yang dia mau adalah melihatnya bahagia selamanya.
__ADS_1
"Kalau nggak, berarti Oma setuju, kan?" Robert meriah tangan Mami Yeri dengan lembut, lalu menciumi punggung tangan kanannya secara bertubi-tubi. "Pasti Oma juga mau melihat cucu dan anaknya bahagia, kan? Jadi tunggu apalagi ... cepat restui Daddy dan Bu Syifa," tambahnya meminta.
Mami Yeri kini mengangkat wajahnya, lalu menatap ke arah Joe dengan buliran bening yang masih terus membasahi kedua pipinya.
Berat sekali rasanya, restu itu terucap dari bibir. Apalagi ini menyangkut akan pedoman hidupnya di akhirat.
"Jangan menangis, Mi," pinta Joe dengan lembut. Kedua ibu jarinya itu mengusap pipi sang Mami. "Meskipun kita akan beda keyakinan ... tapi aku tetap akan menjadi anak Mami dan Papi untuk selamanya. Dan tentunya akan selalu menyayangi Mami dan Papi juga. Mami nggak perlu khawatir, ya?"
Mami Yeri dengan berat hati menganggukkan kepalanya, lantas memeluk tubuh Joe dengan erat dan menciumi dadanya. Namun, dia mengendus bau asem. Cepat-cepat Mami Yeri melepaskan pelukan itu, kemudian melangkah agak menjauh.
"Kamu pokoknya harus berjanji. Jika apa pun yang terjadi ... jangan sampai berubah. Tetaplah seperti ini, sebagai anak kesayangan Mami dan Papi," tambah Mami Yeri. Kalimatnya memang ada berupa ancaman, tapi sejujurnya dia amat menyayangi Joe, sehingga tak mau melihat anaknya berubah.
'Syukurlah Tuhan Yesus, ya Allah, akhirnya Oma merestui,' batin Robert yang sama senangnya. Dia bahkan sudah turun dari gendongan Joe, lalu berdiri sambil melompat-lompat dan mengajak Juna untuk melakukan apa yang dilakukannya.
Temannya itu ikut saja, sebab dia juga ikut senang kalau misi Robert mempunyai Mommy baru telah berhasil mendapatkan restu dari orang-orang terdekat.
__ADS_1
"Selamat ya, Rob! Akhirnya keinginanmu terwujud," ucap Juna pelan, tubuhnya naik turun seirama dengan Robert di sampingnya.
"Iya, Jun." Robert mengangguk dengan semangat. "Terima kasih juga, ya, karena berkat bantuanmu ... restu ini juga nggak akan berhasil."
"Sama-sama. Tapi semua ini bukan karena bantuanku, tapi kegigihan kamu dan Daddymu."
"Oh ya, kita tanya dulu kepada Papimu, Joe," ucap Mami Yeri yang baru teringat akan suaminya. Yang sejak tadi tak ada suara. Perlahan dia pun berbalik badan ke arah ranjang Papi Paul, untuk melihat keberadaannya.
Namun, sontak saja matanya itu membulat sempurna kala melihat suaminya sudah terkapar tak sadarkan diri di lantai dengan terlentang dan mulut yang menganga.
Rupanya—pingsannya sejak tadi tak diketahui orang-orang sekitar. Hingga dengan teganya mereka membiarkannya berbaring di lantai dingin rumah sakit sejak tadi.
"Astaga Papi!" teriak Mami Yeri dengan panik. Gegas dia berlari menghampiri, lalu berjongkok dan menangkup kedua pipi Papi Paul yang terasa panas.
"Tuan Paul!" pekik Sandi yang juga baru tahu jika pria itu pingsan. Dia pun langsung berlari menghampiri bersama Opa Angga dan Ustad Yunus, kemudian membantu Papi Paul untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
Setelah itu, Sandi lantas berlari keluar untuk memanggil Dokter , supaya cepat datang dan memeriksa keadaan dari Papi bosnya itu.
...Kasihan Papi Paul,. pingsan ga ada yang tau 🤣...