
"Walaikum salam," jawab salah satu wanita bersanggul sembari menatap Abi Hamdan. "Sebentar ... saya cari namanya dulu, ya, Pak. Tapi sebelumnya, boleh saya minta ... kartu identitas Bapak?"
Abi Hamdan langsung merogoh kantong celananya untuk mengambil dompet kulitnya, setelah itu dia memberikan sebuah KTP ke tangan wanita tersebut.
Wanita bersanggul itu menatap KTP Abi Hamdan, kemudian beralih menatap ke layar komputer untuk mencari nama pasien bernama Jojon yang sudah terdaftar di sana.
"Pak Jojon ada di ruang VIP nomor 203, Pak, tapi Bapak ini sebenarnya siapa ...." Belum sempat wanita itu menyelesaikan ucapannya, tapi Abi Hamdan sudah merebut KTP di tangannya kemudian berlari pergi begitu saja.
Dia terlihat sudah tak sabar, ingin cepat bertemu dengan Joe untuk mendengar jawaban serta memberinya perhitungan.
"Syifa sendiri ada di mana sekarang, Tad?" tanya Pak RT yang berlari menyusul Abi Hamdan. Pria itu berlari sangat cepat sekali dengan rahang yang tampak mengeras di wajahnya.
"Pasti dia juga di sini," balas Abi Hamdan dengan suara tertahan. Dia sendiri sebenarnya tak tahu jelas dimana Syifa berada, sebab tadi menelepon hanya bertanya Joe dirawat di mana.
__ADS_1
Hanya saja—rasanya dia sudah yakin, jika Syifa pasti masih ada di rumah sakit.
*
Tak lama, mereka pun sampai di kamar inap VIP nomor 203. Abi Hamdan datang dengan penuh kemurkaan dan langsung membanting pintu. Masuk tanpa permisi.
Brak!!
"Br*ngsek kau, Jon! Berani-beraninya ...." Nada suaranya sudah sangat meninggi. Emosinya juga ikut memuncak.
"Bapak siapa, ya? Kok datang langsung marah-marah?!" tanya seorang wanita paruh baya yang juga ada di sana. Dia tengah menyuapi pria yang berbaring lemah di atas tempat tidur itu.
"Di mana si Jojon? Ini bukannya kamar inapnya?" tanya Abi Hamdan heran. Manik matanya langsung berkelana menatap sekitar, mencari keberadaan Joe dan Syifa juga.
__ADS_1
"Saya Jojon." Pria yang berbaring lemah di atas tempat tidur itu menyahut. "Tapi saya nggak kenal Bapak."
"Mungkin kita salah kamar, Tad," tebak Pak RT seraya meraih tangan Abi Hamdan, lalu menariknya untuk keluar sembari menatap dua orang di depannya. "Maaf kalau menganggu, kami permisi," pamitnya dengan sopan.
"Ustad nggak perlu emosi, kita harus selesaikan masalah ini dengan kepala dingin," tegur Pak RT sambil menepuk pundak kiri Abi Hamdan. Dilihat pria itu tengah mengusap kasar wajahnya yang sudah memerah, napasnya juga terdengar memburu menahan emosi.
"Bagaimana bisa kepalaku dingin, Pak, sedangkan anak gadisku satu-satunya sudah melakukan hal yang nggak pantas?!" geram Abi Hamdan dengan kedua tangan yang mengepal kuat. Dia berkeinginan menonjok wajah Joe, jika sudah berhasil bertemu dengannya. "Aku juga malu sama tetangga, bagaimana kalau seluruh warga tau atau bahkan sampai masuk ke telinga Nak Fahmi dan Papanya? Mau taruh dimana mukaku?" Menunjuk wajahnya dengan penuh emosi.
Tak bisa terbayangkan jika itu sampai terjadi. Pastinya, Fahmi atau Papanya akan membatalkan perjodohan. Padahal, disini sudah sangat jelas—jika Abi Hamdan sudah sangat menyukai pria lulusan Cairo itu.
"Saya akan meminta Bu Nining dan Bu Sulis supaya tidak menyebarkan video itu, Tad. Tapi dengan catatan Ustad harus meluruskan masalah ini," ucap Pak RT. "Saran saya sih ... Syifa dan pria itu sebaiknya dihalalkan saja, supaya nggak membuat dosa yang berkepanjangan."
"Nggak sudi amat aku punya menantu non muslim seperti Jojon! Itu haram!" tegas Abi Hamdan.
__ADS_1
Segera, dia berlari menuju tempat resepsionis lagi. Hendak menanyakan lagi di mana Joe berada. Dirinya sekarang sudah teringat jika nama asli pria bermata sipit itu adalah Jonathan, bukan Jojon.
...Kalau mau benci sewajarnya aja, Bi, nanti jadi berubah sayang lho 🤣...