Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
60. Obat pemutih kulit b*rung dan telornya


__ADS_3

Bicara tentang orang tua, Joe sendiri belum pernah cerita sama sekali kepada orang tuanya yang saat ini berada di Korea. Jangankan tentang Syifa, tentang Robert yang sakit pun tidak.


Bukan tidak mau memberitahu, hanya saja dia tak mau membuat kedua orang tuanya khawatir dan merasa terbebani. Cukup dulu saja, saat dirinya ditinggal oleh Sonya. Semua keluh kesah hingga kehidupannya dicurahkan kepada orang tua, sampai-sampai bisnis mereka di Korea mengalami kerosotan sangat parah hingga bangkrut.


Untungnya, saat setahun kemudian Joe sudah mulai bangkit, mereka kembali menjalankan bisnisnya. Sampai dapat maju lagi sampai sekarang.


"Orang tuaku masih lengkap, Pak. Tapi saat ini mereka ada di Korea," jawab Joe.


"Sedang liburan?"


"Nggak." Joe menggeleng. "Mami memang asli orang sana dan punya bisnis juga. Tapi dia mengelolanya bersama Papiku."


"Oh. Terus bagaimana itu? Apa nanti mereka akan setuju kamu bersama Syifa dan masuk Islam?"


"Nanti malam, aku akan menghubungi mereka dan memintanya untuk pulang, Pak. Aku akan menjelaskan semuanya."


"Maaf Pak Joe," ucap Syifa yang mana membuat kedua pria berbeda generasi itu mengalihkan atensinya. Terlalu serius mengobrol, mereka hanya fokus menatap wajah lawan bicaranya.


"Iya, Fa?" ujar Joe.


"Mana Robertnya, Fa? Suruh keluar, si Jojon mau mengajaknya pulang," titah Abi Hamdam.


"Pak Hamdan, tapi namaku Jonathan, bukan Jojon," ucap Joe.


"Alah, sama saja. Malah Jojon lebih bagus," sahut Abi Hamdan tak peduli. Lantas kembali menatap anaknya. "Panggilkan Robert, Fa!"

__ADS_1


"Robertnya ketiduran di dalam, Bi." Syifa perlahan melebarkan pintu kamarnya. Terlihat, Robert tengah meringkuk di atas karpet di dekat ranjang. Tangannya memegang buku dan pulpen. "Dia lagi menghitung tadi, eh lama-lama malah tidur."


"Kebiasaan memang dia, suka tidur kalau lagi belajar," ucap Joe. "Maaf ya, Fa. Tapi ... apa boleh aku masuk ke dalam kamarmu untuk menggendong Robert?"


"Boleh, Pak." Syifa mengangguk cepat. "Silahkan masuk," titahnya.


"Terima kasih." Joe tersenyum manis. Kemudian melangkah masuk ke dalam kamar Syifa dan perlahan menggendong bocah itu. "Kalau begitu, aku pamit Pak Hamdan, Syifa. Assalamualaikum," ucapnya, lantas melangkah keluar dari rumah Abi Hamdan.


"Walaikum salam." Keduanya menjawab secara bersamaan. Syifa sendiri merasa takjub, mendengar salam dari Joe yang terdengar begitu fasih itu. Bola matanya tampak berbinar. "Pak Joe sudah bisa mengucapkan salam, hebat banget," gumamnya yang mampu didengar oleh Abi Hamdan.


"Nggak usah lebay kamu, Fa!" celoteh Abi Hamdan. Dia terlihat tak suka melihat sang anak yang tampak seperti orang kasmaran, sambil memandangi tubuh Joe yang menghilang dari balik pintu.


"Lebay apanya, sih, Bi? Orang aku cuma ngomong doang."


"Walaikum salam," jawab Syifa.


***


Malam hari.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, mohon ...." Terdengar suara operator, saat Joe menghubungi Papinya yang bernama Paulus Anderson, atau biasa dipanggil Paul.


Kemudian, Joe beralih untuk menghubungi Maminya yang bernama Yeri.


Namun, sayangnya sama saja. Nomor kedua orang tuanya sama-sama tidak aktif.

__ADS_1


"Kok nomor mereka nggak aktif? Apa hapenya lowbet, ya?" gumam Joe menerka-nerka. "Coba aku telepon lagi besok deh." Perlahan, dia mengulurkan tangannya untuk menaruh benda pipih itu ke atas nakas, lalu mengambil buku tuntunan sholat dan mulai membacanya.


Joe juga sejak sampai rumah terus menghafalkan dua kalimat syahadat. Supaya besok benar-benar sudah siap, jika akan berikrar.


***


"Abi lagi ngapain? Bukannya tidur, ini 'kan sudah malam," tegur Umi Maryam yang baru saja membalik tubuhnya.


Saat ini dia tengah berbaring di samping sang suami, dan dilihat kini suaminya itu tengah memasukkan seluruh kepalanya ke dalam sarung. Entah sedang apa, tapi kedua tangannya seperti sibuk pada inti tubuhnya sendiri yang tak dipakaikan dalamman.


"Nggak lagi ngapain-ngapin kok," sahut Abi Hamdan. Cepat-cepat dia menarik kepalanya, lalu membenarkan sarung dan menatap Umi Maryam. Mata wanita itu terlihat sayup-sayup. Memang, dia sudah tidur awalnya. Tadi hanya mendusin saja.


"Nggak ngapa-ngapain tapi kayak sibuk gitu? Udah tidur, ini sudah malam lho, Bi. Besok 'kan kita akan ada tamu penting." Umi Maryam menarik selimut sebatas dada, lalu mulai memejamkan matanya secara perlahan.


"Iya, Umi." Abu Hamdan menghela napasnya dengan berat, lalu menyentuh kembali miliknya dibalik sarung.


Dia melakukan hal itu bukan karena benda keramatnya ingin minta jatah, tapi ada rasa tidak pede pada miliknya sendiri, sebab membayangkan milik calon menantunya yang begitu sempurna. Jauh dibandingkan dengan dirinya. Warnanya saja gelap, tak seputih dan semulus milik Joe.


'Ada nggak, ya, obat memutihkan kulit burung dan telornya? Kalau ada aku mau beli deh. Masa aku kalah dari si Jojon?' batinnya yang kembali berkhayal, membandingkan miliknya dan milik Joe.


Tidak penting sebenarnya, tapi anehnya, sejak kepulangan Joe dia terus memikirkan hal itu.


'Sekalian obat pemutih bokong juga deh, kalau semuanya putih pasti terlihat lebih indah dan tentunya Umi senang,' lanjutnya, kemudian memejamkan mata.


...Kalah saing ya, Bi 🤣...

__ADS_1


__ADS_2