
"Kamu harus ikut! Masa Fahmi mau tampil kamu nggak lihat?! Yang benar saja, Fa!" tekan Abi Hamdan marah.
Malam ini, adalah malam dimana Fahmi akan tampil secara perdana dalam acara tabligh akbar di masjid Istiqlal. Pria itu sempat menghubungi Abi Hamdan, memintanya untuk ikut melihat penampilannya. Tentu dengan membawa Syifa juga, yang akan menjadi istrinya kelak.
Namun, disini lagi-lagi Syifa yang merasa keberatan. Apa pun yang berhubungan dengan Fahmi—dia tidak mau ikut-ikutan. Selain karena tidak menyukai orangnya, Syifa juga malas melihat wajahnya. Muak, karena tingkahnya yang menurutnya sangat sok.
"Kan aku sudah bilang ... kalau aku sakit perut, Bi! Abi kok tega, sih, maksa anak yang lagi sakit untuk pergi?!" Syifa hanya berbohong saja, itu semua demi dirinya tidak ikut.
"Udah, Bi, jangan paksa Syifa. Kasihan dia," pinta Umi Maryam seraya melepaskan tangan sang suami terhadap anak semata wayangnya. Dia terlihat tak tega lama-lama, jika anaknya terus dipaksa. "Biarkan Syifa istirahat di rumah."
"Kamu pasti berbohong, kan? Nggak sakit beneran, kan?" tuduh Abi Hamdan dengan sorot mata tajam. Dia terlihat tidak percaya dan curiga, merasa yakin jika Syifa hanya beralasan.
"Ngapain aku bohong? Orang perutku sakit beneran. Aku kena sembelit, Bi!" Syifa mengusap perutnya, dan berekspresi seolah-olah merasakan sakit. Demi meyakinkan kebohongannya.
'Kasihan banget Syifa. Makan apa dia sampai sembelit begitu?' batin Joe. Dia masih berdiri membeku di sana, sembari mendengarkan percakapan mereka.
Abi Hamdan mengusap dadanya yang terasa bergemuruh. Dia betul-betul merasa jengkel, kalau anaknya susah diatur. ."Lagi-lagi, Nak Fahmi kecewa pasti, gara-gara kamu nggak ikut," gerutunya kesal. "Ya sudah, sana masuk dan istirahat. Jangan lupa kunci pintunya!" tambahnya memerintah.
Akhirnya, dia mengalah. Meskipun sesungguhnya hatinya sangat dongkol.
Syifa langsung mengulum senyum. Merasa senang rencananya berhasil. "Iya. Abi dan Umi hati-hati di jalan, ya?" Perlahan dia pun meraih tangan Abi dan Uminya, kemudian mencium punggung tangan mereka silih berganti.
"Iya, Fa," jawab Umi Maryam sambil mengusap puncak hijab Syifa. "Kamu jangan lupa minum obat sembelit, ambil di kotak obat di dalam lemari tv."
"Iya, Umi." Syifa menganggukkan kepalanya.
"Assalamualaikum," ucap Umi Maryam dan Abi Hamdan secara bersamaan. Akan tetapi Abi sudah masuk duluan ke dalam mobil taksi onlinenya.
"Walaikum salam," jawab Syifa seraya melambaikan tangan, ketika melihat Umi Maryam masuk ke dalam mobil. Kemudian tak berselang lama mobil berwarna putih itu melaju pergi.
Setelah itu, barulah Syifa berloncat-loncat kegirangan. Merasa senang sudah berhasil tidak ikut.
Lantas, dia pun berlari masuk ke dalam rumah dan menutup pintu sambil berjingkrak-jingkrak.
Joe yang melihat tingkahnya tentu merasa heran. Sebab baru tadi dia mendengar Syifa mengatakan jika dirinya sakit perut. Tapi sekarang justru seperti sedang bahagia. 'Aneh banget si Syifa, katanya tadi sakit perut? Kok malah loncat-loncat?' Tanpa disadari, Joe justru terkikik. Merasa lucu sendiri dengan tingkah gadis itu.
"Maaf, Bapak ada keperluan apa, ya?" Seorang pria berpeci hitam, bersarung hitam serta berkoko putih pendek melangkah menghampiri Joe. Dia terlihat begitu tampan dan berkulit putih. Usianya seperti seumuran dengannya. "Saya perhatikan daritadi, Bapak terus berdiri di depan gerbang," tambahnya.
Joe langsung mengalihkan atensinya, segera menatap pria di depannya. Setelah diperhatikan sebentar, wajah pria itu ternyata sedikit mirip dengan Sandi. "Aku mencari Ustad Yunus, Pak," jawab Joe.
"Saya Yunus." Pria itu menyentuh dadanya.
"Oh. Salam kenal, aku Joe." Joe perlahan mengulurkan tangannya, lalu tersenyum.
"Bapak bosnya Sandi yang mengajak ketemuan, kan?" tebak Ustad Yunus, kemudian meraih tangan Joe. Membalas jabatan tangannya.
"Benar." Joe mengangguk cepat.
"Silahkan masuk, Pak, kita mengobrol di dalam masjid saja," ajak Ustad Yunus seraya mengarahkan ibu jarinya ke arah dalam masjid.
"Maaf, tapi aku non muslim. Memangnya boleh ... aku masuk masjid, Tad?" tanya Joe bingung.
"Boleh. Nggak masalah." Ustad Yunus menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu Ustad saja yang masuk duluan, nanti aku menyusul. Aku mau pergi membeli obat dulu sebentar." Joe tiba-tiba saja mengingat Syifa yang mengatakan jika dirinya sakit perut. Mendadak, perasaannya menjadi khawatir. Takut jika gadis itu kenapa-kenapa. Apalagi di rumah seorang diri.
"Bapak sakit apa memangnya?" tanya Ustad Yunus.
"Bukan aku yang sakit, Tad, tapi Syifa." Joe menggerakkan dagunya ke arah rumah Abi Hamdan.
"Bapak kenal Syifa anaknya Ustad Hamdan?"
"Jadi Syifa anaknya seorang Ustad?" Joe justru berbalik tanya. Dia bahkan terlihat terbengong sendiri.
"Iya. Memangnya Bapak nggak tau?"
"Aku baru tau, Tan," sahut Joe. "Eemm ... ya sudah, aku ingin mencari obat dulu. Hanya sebentar, Tad, nanti balik lagi ke sini."
"Oh ya sudah." Ustad Yunus menatap ke arah rumah bercat oranye itu sebentar, kemudian mengangguk dan melangkah masuk ke dalam masjid. Sedangkan Joe langsung buru-buru masuk dan menarik gas mobilnya untuk mencari apotek terdekat.
Niatnya bertemu Ustad Yunus adalah ingin membahas sesuatu yang penting. Akan tetapi baginya, Syifa juga sama pentingnya. Dan harus di dahulukan.
*
*
*
Ting, Tong!
Ting, Tong!
Syifa yang tengah membaca buku di dalam kamar langsung menghentikan aktivitasnya, saat mendengar suara bel rumah.
__ADS_1
'Apa Abi sama Umi sudah pulang? Tapi kok cepet banget?' batin Syifa bingung.
Merasa penasaran, gegas dia menutup buku, kemudian meletakkannya ke atas meja. Namun, sebelum membuka pintu, Syifa lebih dulu mengintipnya dari balik jendela. Membuka sedikit gorden kamarnya.
"Lho, itu 'kan Pak Joe?" Bola mata Syifa seketika terbelalak. Antara kaget dan heran, melihat pria itu berdiri di depan rumahnya dengan membawa dua plastik putih yang entah apa isinya. Akan tetapi, anehnya dia merasakan jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang. Dan ada perasaan senang tersendiri, melihat kehadiran pria itu. "Mau apa, ya, dia kira-kira ke sini?" gumam Syifa.
Gegas, dia pun berlari keluar dari kamarnya, kemudian membereskan hijab pashminanya dulu sebentar, sebelum dirinya membuka pintu.
Ceklek~
"Selamat malam, Fa. Ini buatmu," ucap Joe tanpa basa-basi. Dia langsung menyerahkan apa yang ada di tangannya.
"Apa ini, Pak?" Syifa menunjuk ke arah plastik, sembari memandangi wajah tampan di depannya. Jantungnya masih berdegup kencang.
"Ada obat sembelit yang aku beli dari apotek. Dan buah pepaya juga," jawab Joe sambil tersenyum dengan kedua pipi yang tampak merona. "Aku baca di google ... katanya buah pepaya bisa mengatasi sembelit."
"Tapi aku nggak lagi sembelit, Pak." Syifa menggelengkan kepalanya dengan raut bingung.
"Katanya kamu lagi sembelit."
"Kapan aku ngomong?" Kening Syifa tampak mengernyit.
"Barusan, nggak sengaja aku ...." Joe mendadak menjeda ucapannya, sebab hidungnya mencium aroma gosong yang entah asalnya dari mana.
"Nggak sengaja apa, Pak?" tanya Syifa penasaran.
"Kamu ada masak apa, Fa? Kok rumahmu bau gosong?" Joe justru berbalik tanya. Pandangan matanya pun menelisik ke dalam rumah, mencari-cari asal bau tersebut.
"Nggak masak apa-apa kok." Syifa menggelengkan kepalanya.
Lantas dia berbalik badan, kemudian menatap sekitar ruangan rumahnya. Namun, tiba-tiba saja dia melihat sebuah kebulan asap yang bermunculan di udara.
Setelah mencari tahu ternyata asalnya dari celana Joe yang terbakar, dan anehnya berada tepat di area tongkat bisbolnya.
"Lho, Pak, kok celana Bapak ada apinya?" tanya Syifa dengan kedua mata yang membulat sempurna.
"Api?!" Joe langsung menurunkan pandangan, ketika dia juga merasakan bulu serta miliknya yang tiba-tiba panas. Dan sontak saja, kedua matanya melotot. Mendapati celananya terbakar dengan api yang cukup besar. "Ya Allah, kebakaran, Fa!" teriak Joe panik, dengan refleks dia menyebut nama Allah.
Syifa yang ikut panik tanpa berpikir panjang langsung menarik Joe untuk masuk ke dalam rumah, kemudian membawanya masuk ke dalam kamarnya untuk dibawa ke dalam kamar mandi yang ada di dalam sana.
***
"Kamu harus ikut! Masa Fahmi mau tampil kamu nggak lihat?! Yang benar saja, Fa!" tekan Abi Hamdan marah.
Malam ini, adalah malam dimana Fahmi akan tampil secara perdana dalam acara tabligh akbar di masjid Istiqlal. Pria itu sempat menghubungi Abi Hamdan, memintanya untuk ikut melihat penampilannya. Tentu dengan membawa Syifa juga, yang akan menjadi istrinya kelak.
Namun, disini lagi-lagi Syifa yang merasa keberatan. Apa pun yang berhubungan dengan Fahmi—dia tidak mau ikut-ikutan. Selain karena tidak menyukai orangnya, Syifa juga malas melihat wajahnya. Muak, karena tingkahnya yang menurutnya sangat sok.
"Kan aku sudah bilang ... kalau aku sakit perut, Bi! Abi kok tega, sih, maksa anak yang lagi sakit untuk pergi?!" Syifa hanya berbohong saja, itu semua demi dirinya tidak ikut.
"Udah, Bi, jangan paksa Syifa. Kasihan dia," pinta Umi Maryam seraya melepaskan tangan sang suami terhadap anak semata wayangnya. Dia terlihat tak tega lama-lama, jika anaknya terus dipaksa. "Biarkan Syifa istirahat di rumah."
"Kamu pasti berbohong, kan? Nggak sakit beneran, kan?" tuduh Abi Hamdan dengan sorot mata tajam. Dia terlihat tidak percaya dan curiga, merasa yakin jika Syifa hanya beralasan.
"Ngapain aku bohong? Orang perutku sakit beneran. Aku kena sembelit, Bi!" Syifa mengusap perutnya, dan berekspresi seolah-olah merasakan sakit. Demi meyakinkan kebohongannya.
'Kasihan banget Syifa. Makan apa dia sampai sembelit begitu?' batin Joe. Dia masih berdiri membeku di sana, sembari mendengarkan percakapan mereka.
Abi Hamdan mengusap dadanya yang terasa bergemuruh. Dia betul-betul merasa jengkel, kalau anaknya susah diatur. ."Lagi-lagi, Nak Fahmi kecewa pasti, gara-gara kamu nggak ikut," gerutunya kesal. "Ya sudah, sana masuk dan istirahat. Jangan lupa kunci pintunya!" tambahnya memerintah.
Akhirnya, dia mengalah. Meskipun sesungguhnya hatinya sangat dongkol.
Syifa langsung mengulum senyum. Merasa senang rencananya berhasil. "Iya. Abi dan Umi hati-hati di jalan, ya?" Perlahan dia pun meraih tangan Abi dan Uminya, kemudian mencium punggung tangan mereka silih berganti.
"Iya, Fa," jawab Umi Maryam sambil mengusap puncak hijab Syifa. "Kamu jangan lupa minum obat sembelit, ambil di kotak obat di dalam lemari tv."
"Iya, Umi." Syifa menganggukkan kepalanya.
"Assalamualaikum," ucap Umi Maryam dan Abi Hamdan secara bersamaan. Akan tetapi Abi sudah masuk duluan ke dalam mobil taksi onlinenya.
"Walaikum salam," jawab Syifa seraya melambaikan tangan, ketika melihat Umi Maryam masuk ke dalam mobil. Kemudian tak berselang lama mobil berwarna putih itu melaju pergi.
Setelah itu, barulah Syifa berloncat-loncat kegirangan. Merasa senang sudah berhasil tidak ikut.
Lantas, dia pun berlari masuk ke dalam rumah dan menutup pintu sambil berjingkrak-jingkrak.
Joe yang melihat tingkahnya tentu merasa heran. Sebab baru tadi dia mendengar Syifa mengatakan jika dirinya sakit perut. Tapi sekarang justru seperti sedang bahagia. 'Aneh banget si Syifa, katanya tadi sakit perut? Kok malah loncat-loncat?' Tanpa disadari, Joe justru terkikik. Merasa lucu sendiri dengan tingkah gadis itu.
"Maaf, Bapak ada keperluan apa, ya?" Seorang pria berpeci hitam, bersarung hitam serta berkoko putih pendek melangkah menghampiri Joe. Dia terlihat begitu tampan dan berkulit putih. Usianya seperti seumuran dengannya. "Saya perhatikan daritadi, Bapak terus berdiri di depan gerbang," tambahnya.
Joe langsung mengalihkan atensinya, segera menatap pria di depannya. Setelah diperhatikan sebentar, wajah pria itu ternyata sedikit mirip dengan Sandi. "Aku mencari Ustad Yunus, Pak," jawab Joe.
"Saya Yunus." Pria itu menyentuh dadanya.
__ADS_1
"Oh. Salam kenal, aku Joe." Joe perlahan mengulurkan tangannya, lalu tersenyum.
"Bapak bosnya Sandi yang mengajak ketemuan, kan?" tebak Ustad Yunus, kemudian meraih tangan Joe. Membalas jabatan tangannya.
"Benar." Joe mengangguk cepat.
"Silahkan masuk, Pak, kita mengobrol di dalam masjid saja," ajak Ustad Yunus seraya mengarahkan ibu jarinya ke arah dalam masjid.
"Maaf, tapi aku non muslim. Memangnya boleh ... aku masuk masjid, Tad?" tanya Joe bingung.
"Boleh. Nggak masalah." Ustad Yunus menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu Ustad saja yang masuk duluan, nanti aku menyusul. Aku mau pergi membeli obat dulu sebentar." Joe tiba-tiba saja mengingat Syifa yang mengatakan jika dirinya sakit perut. Mendadak, perasaannya menjadi khawatir. Takut jika gadis itu kenapa-kenapa. Apalagi di rumah seorang diri.
"Bapak sakit apa memangnya?" tanya Ustad Yunus.
"Bukan aku yang sakit, Tad, tapi Syifa." Joe menggerakkan dagunya ke arah rumah Abi Hamdan.
"Bapak kenal Syifa anaknya Ustad Hamdan?"
"Jadi Syifa anaknya seorang Ustad?" Joe justru berbalik tanya. Dia bahkan terlihat terbengong sendiri.
"Iya. Memangnya Bapak nggak tau?"
"Aku baru tau, Tan," sahut Joe. "Eemm ... ya sudah, aku ingin mencari obat dulu. Hanya sebentar, Tad, nanti balik lagi ke sini."
"Oh ya sudah." Ustad Yunus menatap ke arah rumah bercat oranye itu sebentar, kemudian mengangguk dan melangkah masuk ke dalam masjid. Sedangkan Joe langsung buru-buru masuk dan menarik gas mobilnya untuk mencari apotek terdekat.
Niatnya bertemu Ustad Yunus adalah ingin membahas sesuatu yang penting. Akan tetapi baginya, Syifa juga sama pentingnya. Dan harus di dahulukan.
*
*
*
Ting, Tong!
Ting, Tong!
Syifa yang tengah membaca buku di dalam kamar langsung menghentikan aktivitasnya, saat mendengar suara bel rumah.
'Apa Abi sama Umi sudah pulang? Tapi kok cepet banget?' batin Syifa bingung.
Merasa penasaran, gegas dia menutup buku, kemudian meletakkannya ke atas meja. Namun, sebelum membuka pintu, Syifa lebih dulu mengintipnya dari balik jendela. Membuka sedikit gorden kamarnya.
"Lho, itu 'kan Pak Joe?" Bola mata Syifa seketika terbelalak. Antara kaget dan heran, melihat pria itu berdiri di depan rumahnya dengan membawa dua plastik putih yang entah apa isinya. Akan tetapi, anehnya dia merasakan jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang. Dan ada perasaan senang tersendiri, melihat kehadiran pria itu. "Mau apa, ya, dia kira-kira ke sini?" gumam Syifa.
Gegas, dia pun berlari keluar dari kamarnya, kemudian membereskan hijab pashminanya dulu sebentar, sebelum dirinya membuka pintu.
Ceklek~
"Selamat malam, Fa. Ini buatmu," ucap Joe tanpa basa-basi. Dia langsung menyerahkan apa yang ada di tangannya.
"Apa ini, Pak?" Syifa menunjuk ke arah plastik, sembari memandangi wajah tampan di depannya. Jantungnya masih berdegup kencang.
"Ada obat sembelit yang aku beli dari apotek. Dan buah pepaya juga," jawab Joe sambil tersenyum dengan kedua pipi yang tampak merona. "Aku baca di google ... katanya buah pepaya bisa mengatasi sembelit."
"Tapi aku nggak lagi sembelit, Pak." Syifa menggelengkan kepalanya dengan raut bingung.
"Katanya kamu lagi sembelit."
"Kapan aku ngomong?" Kening Syifa tampak mengernyit.
"Barusan, nggak sengaja aku ...." Joe mendadak menjeda ucapannya, sebab hidungnya mencium aroma gosong yang entah asalnya dari mana.
"Nggak sengaja apa, Pak?" tanya Syifa penasaran.
"Kamu ada masak apa, Fa? Kok rumahmu bau gosong?" Joe justru berbalik tanya. Pandangan matanya pun menelisik ke dalam rumah, mencari-cari asal bau tersebut.
"Nggak masak apa-apa kok." Syifa menggelengkan kepalanya.
Lantas dia berbalik badan, kemudian menatap sekitar ruangan rumahnya. Namun, tiba-tiba saja dia melihat sebuah kebulan asap yang bermunculan di udara.
Setelah mencari tahu ternyata asalnya dari celana Joe yang terbakar, dan anehnya berada tepat di area tongkat bisbolnya.
"Lho, Pak, kok celana Bapak ada apinya?" tanya Syifa dengan kedua mata yang membulat sempurna.
"Api?!" Joe langsung menurunkan pandangan, ketika dia juga merasakan bulu serta miliknya yang tiba-tiba panas. Dan sontak saja, kedua matanya melotot. Mendapati celananya terbakar dengan api yang cukup besar. "Ya Allah, kebakaran, Fa!" teriak Joe panik, dengan refleks dia menyebut nama Allah.
Syifa yang ikut panik tanpa berpikir panjang langsung menarik Joe untuk masuk ke dalam rumah, kemudian membawanya masuk ke dalam kamarnya untuk dibawa ke dalam kamar mandi yang ada di dalam sana.
...Aduh, kok bisa? 🤣...
__ADS_1