
Beberapa menit kemudian...
Mobil taksi yang ditunggangi oleh Robert akhirnya sampai tujuan, yakni di depan rumah Abi Hamdan.
Bocah itu lantas turun, kemudian merogoh saku baju batiknya untuk mengambil uang.
"Nggak perlu bayar, Dek," ucap sang sopir taksi menatap Robert, lalu menambahkan. "Sudah dibayar tadi sama Daddynya Adek."
"Oh begitu, ya sudah, terima kasih, Pak!" seru Robert sambil tersenyum.
"Sama-sama, Dek."
Setelahnya, bocah itu langsung berlari menghampiri Abi Hamdan yang baru saja naik motor bebeknya. Di sana dia juga tak melihat ada Opa dan Omanya. Hanya ada Umi Maryam, Ustad Yunus, Pak RT serta Abi Hamdan.
"Opa mau ke mana?!" tanyanya menyeru. Kedua tangannya langsung memeluk tubuh pria itu.
"Eh, kok kamu ada di sini, Nak?" Abi Hamdan tampak kaget, saat tiba-tiba melihat kehadiran bocah itu.
"Iya, Robert kepengen ngomong sama Opa dan Omanya Robert, Opa." Perlahan, Robert merelaikan pelukan, lalu menatap wajah Abi Hamdan.
"Opa dan Omamu tadi pergi naik mobil bersama sopirnya, ini Opa juga lagi bantu cari Daddymu dan Bu Syifa," jawab Abi Hamdan.
Baru saja, kedua orang tua Joe pergi dari sana. Mereka pergi lantaran ingin mencari keberadaan Joe dan Syifa yang tiba-tiba menghilang.
"Mereka pergi ke mana, Opa? Dan Opa mau cari Daddy dan Bu Syifa ke mana?"
"Opa nggak tau Opa dan Omamu pergi ke mana, kalau Opa sendiri mau cari keliling sini, siapa tau Daddymu dan Bu Syifa belum jauh." Umi Maryam memberikan helm kepada Abi Hamdan, dan pria itu langsung mengambil dan memakainya.
"Saya dan Ustad Yunus akan bantu cari ya, Pak, pakai motor," ucap Pak RT yang mana mendapatkan anggukan kepala oleh Abi Hamdan. Lantas, kedua pria itu pun melangkah pergi menuju masjid, sebab motor Pak RT ada di sana.
"Robert ikut ya, Opa!" pinta Robert sembari mengangkat tangannya ke udara.
__ADS_1
"Kamu mending pulang saja, Nak, atau di sini sama Oma. Nggak perlu ikut mencari." Yang menjawab Umi Maryam. Wanita berhijab itu langsung menarik tangan kanan Robert supaya tubuhnya berada di dekatnya, kemudian mengusap puncak rambutnya.
"Tapi sebenarnya ...." Ucapan Robert menggantung secara tiba-tiba kala terdengar suara dering panggilan masuk dari ponsel yang berada di dalam kantong celana. Melihatnya merogoh kantong, Abi Hamdan pun langsung menyalakan mesin motornya, kemudian melaju pergi tanpa pamit. Sebab memang dia tak mau jika Robert ikut mencari Joe dan Syifa, cukup dia dan yang lain saja. "Opa!" Bocah itu menyeru dengan bola mata yang tampak melebar, lantaran pada layar benda pipih dalam genggamannya itu tertera nama 'Papi' yang pastinya itu adalah Opanya. Sebab dia sendiri ingat jika ponsel itu milik Joe.
Segera, Robert mengangkatnya, kemudian menempelkan ke pipi kanan.
"Ha ...."
"Jonathan! Di mana kamu?!" Papi Paul memekik cukup kencang, hingga membuat telinga Robert berdengung. Untuk sebentar, dia lantas menjauhkan ponselnya.
"Kamu nggak usah konyol, Joe! Ngapain pakai kabur segala? Mana bawa Syifa juga lagi!" Sekarang suara Mami Yeri yang begitu nyaring.
"Ini bukan Jonathan, tapi Robert," sahutnya cepat, sebelum dua orang itu kembali berteriak-teriak.
"Robert?!" seru mereka berdua dari seberang sana. "Kok hape Daddymu ada sama kamu, Sayang?" tanya Mami Yeri. Tapi suaranya sekarang sangat rendah, malah bisa dibilang sangat lembut.
"Iya, Oma, soalnya ...." Robert langsung terdiam. Itu dilakukannya karena ingin mencari alasan. "Eemm ... Oma sama Opa ada di mana sekarang? Robert ada di rumah Bu Syifa nih! Baru pulang sekolah." Pada akhirnya, dia bertanya hal lain.
"Oma sama Opa lagi nyari Daddymu yang hilang bersama Bu Syifa. Tapi kamu kenapa pulang ke rumah Bu Syifa, Sayang? Padahal tadi Oma sudah suruh Om Sandi untuk menjemputmu ke sekolah."
"Mereka berdua nggak jadi bertunangan, Rob. Kamu diam dulu di sana, ya! Nanti Oma akan meminta Om Sandi untuk menjemput—"
"Lho, kenapa nggak jadi, Oma?" sela Robert cepat. Dia berpura-pura tidak tahu.
"Nanti Oma jelaskan kalau kita ketemu. Sekarang kamu tunggu dulu di sana sebelum Om Sandi jemput, ya!"
"Pokoknya Robert nggak mau pulang ke rumah, sebelum melihat Daddy dan Bu Syifa bertunangan!" tegasnya. Inilah saatnya, dia akan membantu Joe. Tentunya, dia juga tak akan diam saja, jika benar pertunangan itu dibatalkan.
"Tapi mereka sekarang menghilang, Sayang, mana bisa bertunangan?"
"Robert tau di mana mereka berdua, Oma. Asalkan Oma dan Opa setuju ... kalau mereka bertunangan lalu menikah, nanti Robert kasih tau."
__ADS_1
"Tau di mana kamu, Sayang? Apa tadi kamu bertemu dengan Daddymu?" tanya Mami Yeri.
"Itu rahasia," sahut Robert. "Asalkan Oma dan Opa mau merestui mereka, nanti Robert kasih tau."
"Ini nggak bisa, Nak." Sekarang berganti dengan suara Papi Paul. Suaranya sama lembutnya seperti Mami Yeri tadi. "Daddy dan Bu Syifa nggak bisa bersama. Tuhan mereka saja nggak sama."
"Mangkanya Daddy mau jadi mualaf, supaya Tuhan mereka sama. Rencananya Robert juga mau ikutan jadi mualaf, Opa."
"Nggak boleh!" tegas Papi Paul dengan lantang. "Kamu dan Daddymu kesurupan setan apa, sih, sebenarnya ... kok bisa tiba-tiba berpikir untuk pindah agama?? Itu 'kan dosa, Nak! Apa kamu mau ... Tuhan Yesus marah?"
"Tuhan Yesus nggak akan marah, Opa," sahut Robert. "Dia malah senang. Karena dengan begitu ... do'a-do'a Robert akan terkabul selama ini."
"Do'a?" Papi Paul terdiam sebentar, lantas melanjutkan. "Memangnya, kamu berdo'a apa selama ini? Jangan bilang kamu berdo'a karena ingin pindah agama?"
"Enggak!" bantah Robert dengan gelengan kepala. Umi Maryam sendiri yang masih ada di sana sejak tadi hanya diam, tapi telinganya mendengar apa saja yang Robert katakan. "Robert berdo'a sama Tuhan Yesus karena ingin punya Mommy baru. Dan sebetulnya ... awal pertama Daddy bisa dekat dengan Bu Syifa adalah karena Robert. Robert sendiri yang menginginkan Bu Syifa untuk jadi Mommy baru Robert, menantu baru Opa dan Oma," jelasnya panjang lebar.
"Tapi kenapa harus Bu Syifa? Perempuan banyak diluar sana, Nak! Daddymu juga tentu bisa mencari yang seiman."
"Robert nggak mau!" tegas Robert. Kepalanya kembali menggeleng. "Yang Robert mau hanya Bu Syifa. Kalau bukan dia, Robert nggak mau!"
"Tapi kasih tau dulu alasannya, kenapa kamu bisa memilih Bu Syifa, yang harusnya menjadi Mommy barumu?" tanya Papi Paul yang terdengar begitu penasaran.
"Yang pertama karena wajahnya mirip dengan Mommy. Yang kedua karena Bu Syifa orangnya baik dan penyayang. Abi sama Uminya juga sangat baik ...." Untuk sebentar, Robert menatap wajah Umi Maryam yang sejak tadi menatap wajahnya. Bola mata kecilnya tampak berkaca-kaca. "Pokoknya Robert nggak mau kalau sampai Opa dan Oma nggak merestui Daddy untuk bisa bersama Bu Syifa. Itu juga berarti ... Opa dan Oma nggak sayang sama Robert!" tekannya yang tiba-tiba marah.
"Opa dan Oma sayang padamu!" tegas Papi Paul. Mami Yeri juga ikut menyeru. "Tapi nggak begini juga caranya, Rob, apalagi sampai membawa-bawa agama."
"Ya cuma itu jalan satu-satunya, supaya Bu Syifa bisa menikah dengan Daddy, Opa."
Beberapa menit Papi Paul dan Mami Yeri terdiam. Setelah akhirnya berkata, "Bagaimana kalau dibalik saja?" tawar Papi Paul.
"Dibalik?" Kening Robert tampak mengernyit. Dia terlihat bingung. "Maksudnya, Opa?"
__ADS_1
"Bu Syifa saja yang masuk Kristen, jangan Daddymu yang masuk Islam."
...Hari Senin nih, jangan lupa vote sama hadiahnya, ya! biar semangat Author up-nya 😉...