
Sebelumnya.....
"Assalamualaikum, permisi Ustad Hamdan," ucap seorang pria berkumis tebal yang baru saja melangkah menghampiri Abi Hamdan dan Umi Maryam.
Kedua orang itu baru saja turun dari taksi onlinenya, baru sampai rumah setelah menonton tabligh akbar Fahmi.
Acara itu berjalan lancar dan Abi Hamdan begitu bangga, dengan calon menantunya itu. Bahkan sekarang saja sudah sangat tak sabar, ingin cepat-cepat melihat Fahmi duduk di pelaminan bersama Syifa.
"Walaikum salam." Keduanya berucap secara bersamaan kemudian menoleh. "Eh, Pak RT. Ada apa, Pak?" tanya Abi Hamdan sambil tersenyum.
Pria yang datang itu memanglah seorang RT di daerahnya. Dan dia datang tidak sendiri, melainkan bersama dua orang ibu-ibu.
Mereka berdua bernama Sulis dan Nining, dua orang yang memergoki Syifa dan mengabadikan momennya. Abi Hamdan sendiri belum tahu tentang apa yang telah terjadi, sebab belum mengaktifkan ponselnya yang sempat dimatikan.
"Saya dan dua Ibu-ibu ini ada keperluan dengan Ustad. Apa boleh ... kami bertamu?" tanya Pak RT dengan sopan. Bahunya membungkuk sedikit.
"Tapi ini 'kan sudah malam, Pak. Kenapa nggak besok saja?" Abi Hamdan menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 10 malam.
Umi Maryam pun segera memencet bel, dia berpikir kalau Syifa ada di rumah dan pastinya akan membukakan pintu.
"Ini hal yang sangat penting. Kalau ditunda rasanya nggak bisa," sahut Pak RT dengan serius.
"Oh baiklah. Ayok masuk," ajaknya. Abi Hamdan merogoh saku jasnya untuk mengambil kunci serep yang dia bawa. Kemudian membukakan pintu rumah yang memang terkunci. Setelah itu dia pun membuka dan melebarkan pintunya. Lantas melangkah masuk lebih dulu dan disusul oleh Umi Maryam dan yang lain.
"Syifa pasti sudah tidur, Bi, mangkanya nggak dibuka-buka pintunya," tebak Umi Maryam sambil menelisik ke arah pintu kamar Syifa yang terbuka lebar. Perlahan kakinya itu melangkah masuk, ingin memastikannya sendiri.
"Silahkan duduk Pak, Bu," ucap Abi Hamdan sembari menunjuk dengan ibu jari ke arah sofa ruang tengah.
Pak RT dan dua ibu-ibu itu langsung mengangguk, kemudian menuju ke sana dan duduk di sofa.
"Lho, Bi! Syifa kok nggak ada di kamar?!" Umi Maryam yang baru saja keluar dari kamar Syifa langsung menyeru. Wajahnya tampak begitu khawatir saat mengetahui anak semata wayangnya tidak ada di dalam kamar.
"Mungkin ada di kamar mandi kali, Mi," sahut Abi Hamdan dengan santai, kemudian duduk di sofa single menemani tamunya yang datang tak diundang itu.
__ADS_1
"Umi tadi sekalian masuk ke dalam kamar mandi, tapi Syifanya tetap nggak ada, Bi," ungkap Umi Maryam dengan penuh kecemasan.
"Syifa ada di rumah sakit, Bu Maryam, mangkanya nggak ada di rumah." Bu Sulis tiba-tiba menyahut.
"Rumah sakit?!" Abi Hamdan dan Umi Maryam berujar secara bersamaan. Keduanya tampak kaget sampai Abi Hamdan pun berdiri dari duduknya dengan mata melotot.
"Kok Ibu bisa tau? Dan apa Syifa ke rumah sakit gara-gara terkena sembelit?!" tebak Umi Maryam sambil menatap wanita yang duduk di samping Pak RT.
"Ustad dan Bu Maryam jangan panik dulu, Syifa insya Allah nggak kenapa-kenapa kok," ujar Bu Sulis dengan santai.
"Malah, kedatangan saya dan dua ibu-ibu ini mau membahas tentang Syifa, Tad," lanjut Pak RT memberitahu. "Sebaiknya ... Bu Maryam ikut duduk juga, karena ini cukup serius."
"Ada apa dengan Syifa?" Umi Maryam gegas menutup rapat pintu kamar Syifa. Cepat-cepat dia pun menghampiri suaminya dan duduk di sofa kosong, di sampingnya.
"Silahkan Ibu-ibu yang menjadi saksi mata ... siapa yang ingin bercerita?" Pak RT menatap ke arah dua Ibu-ibu yang berada di samping kanannya.
Bu Nining langsung menyentuh dadanya, lalu menatap ke arah Abi Hamdan. "Saya tadi sama Bu Sulis lewat ke rumah Ustad Hamdan, kemudian ... kami berdua melihat Syifa menarik seorang pria asing ke dalam rumah hingga masuk kamar, Pak," paparnya memberitahu.
"Ibu jangan sembarang kalau bicara! Syifa nggak mungkin seperti itu!" bantah Umi Maryam. Selain tidak percaya, dia juga merasa tak terima, jika anak kesayangannya itu melakukan hal yang Bu Nining ucapkan.
"Saya punya buktinya, Bu, bahkan saya sudah mengirimkannya lewat via chat kepada Ustad Hamdan," ujar Bu Nining.
Umi Maryam segera merogoh tas jinjing yang masih menyangkut pada pergelangan tangan. Di dalam sana ada ponselnya dan ponsel sang suami.
Setelah mengambilnya, Umi Maryam langsung menyerahkan kepada Abi Hamdan. Dan segera, pria itu pun membuka isi chat serta memutar video berdurasi 5 menit.
Di sana Syifa tengah meraih gayung untuk mengambil air pada bak, lalu menguyurkannya ke arah celana bahan seorang pria. Meskipun hanya dari punggungnya saja, tapi Abi sudah tahu jika pria itu adalah Joe. Dia sangat hafal dengan tubuh pria yang dibencinya itu.
"Pas saya dan Bu Nining masuk ... kami melihat mereka berdua sudah ada di dalam kamar mandi. Seperti divideo itu, Pak," ujar Bu Sulis yang ikut memberikan penjelasan. Lidahnya terasa gatal jika dirinya diam saja. "Tapi kami berdua yakin ... pastinya mereka berdua sudah melakukan hal yang tidak senonoh," tambahnya.
"Syifa nggak mungkin seperti itu!" bantah Abi Hamdan dengan lantang.
Dia memang membantah tuduhan, tapi hatinya tak dapat dibohongi jika dirinya juga ikut berpikiran negatif. Sekarang saja, dia merasa sakit hati mengetahui semua itu.
__ADS_1
'Br*ngsek banget si Sipit Mesum! Dia pasti sudah merayu Syifa sampai membuat anak gadisku tak punya harga diri!' Abi Hamdan menggerutu dalam hati dengan dada yang terasa sesak.
"Kalau mereka nggak melakukan hal senonoh ... ngapain juga mereka sampai masuk ke dalam kamar, Tad? Apalagi di dalam video sudah jelas, jika Syifa ikut membantu, prianya yang seperti sedang kesusahan itu," cecar Bu Nining.
"Kalau pun Syifa dan pria sipit itu nggak melakukan hal apa-apa, tapi apakah pantas ... jika seorang perempuan membawa masuk pria yang bukan muhrimnya, Tad? Selain itu Syifa ini adalah seorang guru dan masih gadis. Harusnya dia menjadi panutan, kan?" tambah Bu Sulis. Dia dan temannya tak mau kalah, berusaha untuk meminta pertanggung jawaban Abi Hamdan yang menjadi tokoh agama di sana dan Abi dari Syifa.
Mereka tidak mau, jika tempat dimana dirinya tinggal—akan tercemar dan ikut merasakan dosanya.
"Iya. Ustad pasti lebih paham dari kita, karena Ustad juga jadi panutan di sini," tambah Bu Sulis. "Saya dan Bu Sulis meminta Ustad untuk menyelesaikan masalah ini, kalau masih menghargai agama kita."
Umi Maryam langsung merogoh kembali tasnya, kemudian mengambil ponselnya sendiri.
Setelah itu, dia segera melakukan panggilan telepon. Akan tetapi saat diangkat, Abi Hamdan justru langsung merebutnya.
"Walaikum salam!" teriaknya lantang saat baru saja Abi Hamdan mendengar ucapan salam dari Syifa, di seberang sana.
"Abi ...," ucap Syifa lirih.
"Cepat pulang ke rumah bersama Jojon!" perintah Abi Hamdan berteriak.
***
Berhubung Syifa tidak bisa pulang bersama Joe, jadilah Abi Hamdan dan Pak RT yang datang ke rumah sakit, untuk menemui pria bermata sipit itu beserta Syifa.
Tidak peduli jika hari sudah sangat larut, tapi masalah ini harus secepatnya selesai, supaya Abi Hamdan tak terus dicecar dan merasa malu kepada warga yang sudah tahu.
Setidaknya, dia harus mendengar langsung penjelasan dari dua orang itu terlebih dahulu, sebelum melakukan sebuah keputusan.
Abi Hamdan pun seketika menghentikan langkahnya bersama Pak RT di depan resepsionis. Ada dua wanita bersanggul yang berdiri di sana, kemudian di lantas berkata dengan lantang, "Assalamualaikum, dikamar mana si Jojon dirawat, Bu?!"
...Hari Senin, nih, kasih vote dan hadiahnya jangan lupa, ya, biar makin semangat buat update 🙂...
Selamat sahur~
__ADS_1