
Sementara itu di sebuah kamar.
Seusai melaksanakan sholat Isya, Syifa terus berguling-guling di atas kasur.
Semakin lama hari semakin larut, tapi dia sejak tadi tak kunjung memejamkan mata. Bahkan untuk sekedar berbaring dengan tenang pun tidak bisa.
Semua yang dialaminya adalah karena Joe. Pria itu sejak tadi mengusik ketenangannya dengan cara menari-nari di otak Syifa.
Adegan tadi rupanya tak bisa membuat gadis itu melupakannya, apalagi itu semua adalah pengalamannya yang pertama. Pastinya, sangat berkesan. Tapi ada rasa kecewanya juga, sebab itu terjadi sebelum mereka menikah.
"Sebenarnya rasanya enak. Bibir Pak Joe juga terasa manis." Tanpa sadar, Syifa mulai meraba bibirnya. Akan tetapi, cepat-cepat dia mengusap wajah dan geleng-geleng kepala. "Ah apa yang kupikirkan?! Pak Joe itu kurang ajar! Dia mesum! Harusnya dia nggak melakukan hal ini. Ini 'kan ciuman pertamaku yang akan aku serahkan kepada suamiku kelak. Pasti kalau Abi sampai tau, dia akan marah besar kepadanya!" gerutunya yang tiba-tiba marah.
Selang beberapa menit dia terdiam, lantas kembali berucap, "Sepertinya, aku nggak bisa lama-lama mengumpet, apalagi hanya berdua dengannya, ini sangat berbahaya. Bisa-bisa selanjutnya akan terjadi adegan yang lebih dari tadi. Dan bagaimana kalau sampai Pak Joe berhasil memperk*osaku??"
Syifa kembali terdiam dengan bola mata yang terbuka lebar. Kemudian tak lama dia geleng-geleng kepala lagi. "Nggak! Ini nggak boleh sampai terjadi. Apalagi Pak Joe sendiri belum mengikatku dan resmi menjadi mualaf. Pokoknya besok aku musti pulang ke rumah," tambahnya kemudian.
***
Pagi hari di rumah sakit.
Robert tengah duduk di kursi panjang bersama Sandi yang berdiri di sampingnya. Keduanya berada tepat di depan kamar inap Papi Paul dan Mami Yeri yang disatukan.
Dua orang itu akhirnya dirawat, karena selain magh, mereka juga kekurangan cairan hingga membutuhkan untuk diinfus.
Sekarang adalah hari Minggu, Robert tentunya libur sekolah. Selain sudah mandi, dia juga sudah sarapan dengan bubur abon.
Wajahnya tampak segar dan tampan. Dia memakai celana jeans pendek dibawah lutut berwarna biru denin dan kemeja kotak-kotak hitam putih.
"Om, Oma Maryam kok lama banget datangnya, ya? Ini 'kan sudah hampir satu jam'man dia pulang?" tanya Robert sembari menatap Sandi. Telunjuk kecil mengarah ke arah jam yang menempel di dinding. Tertera pukul 8 pagi.
Alasan dia duduk di sana adalah menunggu Umi Maryam kembali ke rumah sakit.
Wanita itu sempat menginap semalam dengannya, tapi sekarang dia pamit pulang dulu karena ingin mengambil baju ganti. Sekalian juga ingin memberitahu Abi Hamdan, sebab dia sendiri tak memegang ponsel. Jadi susah untuk menghubungi.
"Mungkin dijalan lagi macet, Dek, sabar saja," jawab Sandi sambil tersenyum.
Bocah itu menatap sekitar, pada beberapa orang serta perawat dan dokter yang lewat dengan berbeda arah. Suasana rumah sakit yang cukup besar itu terbilang bisa dikatakan sangat ramai. Dan hampir semua kamar inap VIP di sana penuh.
"Eh, Jun! Kamu ada di sini juga rupanya?!" teriak Robert saat tak sengaja berpapasan dengannya Juna temannya. Bocah sebayanya itu tengah digandeng seorang pria paruh baya yang entah siapa itu. Tapi tangannya terlihat memegang parsel buah.
"Robert." Juna menoleh, sudut bibirnya terlihat melengkung saat Robert melangkah menghampirinya.
"Kamu kok ada di rumah sakit? Siapa yang sakit?" Perlahan, kepala Robert mendongak kepada pria tua di samping Juna. Kemudian mengulurkan tangannya hendak mencium tangan. "Dan kamu sama siapa?"
"Ini Opaku, Rob, kenalkan ... namanya Angga." Juna hanya menjawab pertanyaan Robert yang terakhir, sembari menoleh ke arah pria yang dia sebut Opanya itu. "Dan Opa, ini Robert temanku. Yang pernah aku ceritakan itu."
"Kapan kamu cerita tentang dia?" Opa Angga memerhatikan wajah Robert. Meskipun baru ketemu, tapi tak terasa asing.
__ADS_1
Juna menarik perlahan tangan kanan Opa Angga hingga membuatnya membungkukkan badan. Cepat-cepat bocah itu pun berbisik ditelinga kanannya. "Yang nggak disunat itu lho."
"Oh. Yang non muslim, kaya si Leon-Leon itu?" tebak Angga pelan. Tapi Robert mampu mendengarnya, hanya saja dia diam saja.
"Iya." Juna mengangguk cepat.
"Salam kenal Opanya Juna, aku Robert," ucap Robert. Opa Angga pun lantas menegakkan tubuhnya, lalu meraih tangan kecilnya, dan Robert segera mencium punggung tangannya.
"Salam kenal juga, Sayang. Matamu sipit sekali, ya? Kayak teman Opa dulu," ujar Opa Angga.
"Oh, Opa dulunya punya teman matanya sipit? Siapa dia?" tanya Robert penasaran.
"Opa lupa namanya." Opa Angga tersenyum, kemudian mengusap puncak rambut Robert. "Kamu sendiri kenapa ada di rumah sakit? Siapa yang sakit?"
"Opa dan Oma Robert sakit, Opa. Terus Opa sama Juna sendiri kenapa ada di sini? Siapa yang sakit?" Robert berbalik tanya.
"Temen Opa sakit. Opa dan Juna pergi dulu, ya! Nanti setelah menjenguk temen Opa ... Opa akan menjenguk Oma dan Opamu," ucap Opa Angga.
"Opa sendiri saja deh jenguk Kakek Yahyanya, Juna tunggu di sini sambil main sama Robert. Boleh, kan?" pinta Juna yang justru dia tak mau ikut.
"Ya sudah nggak apa-apa," sahut Opa Angga sambil tersenyum. "Tapi mainnya jangan jauh-jauh. Di sini saja, ya! Biar Opa nggak susah nyari kamu pas ke sini lagi," tegurnya. Sang cucu langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat.
Setelah itu, Opa Angga tersenyum. Lantas melepaskan genggaman tangannya kepada Juna dan melangkah pergi ke kamar inap temannya. Sedangkan Juna dan Robert, keduanya memilih duduk di kursi panjang, tempat dimana Robert duduk tadi.
"Oh ya, Rob, gimana tentang Daddymu? Sudah jadi mualaf belum?" tanya Juna basa basi. Bola matanya menatap sekitar, mencari-cari keberadaan Joe.
"Lho kenapa? Apa dia nggak mau?" Juna menoleh kepada Robert dengan tatapan penuh penasaran.
"Mau. Malah sebenarnya Daddy dan Bu Syifa ada rencana mau bertunangan. Tapi sayangnya itu semua ditunda gara-gara Opa dan Omaku," jawab Robert dengan lesu. Raut wajahnya mendadak sendu. "Padahal, aku udah nggak sabar banget kepengen tidur bareng Bu Syifa, Jun, sambil memeluknya," tambahnya penuh harap.
"Maksudnya, gara-gara Opa dan Omamu masuk rumah sakit?" tebak Juna yang tak tahu apa-apa.
"Bukan." Robert menggelengkan kepalanya. "Tapi karena Opa dan Oma nggak merestui. Katanya ... kalau Daddy sampai masuk Islam, itu sama saja seperti menganggap mereka berdua bukan keluarganya. Aku sendiri bingung, Jun. Aku disuruh Daddy untuk membujuk Opa dan Oma ... sedangkan aku sendiri nggak punya ide." Tangan kanannya menggaruk rambut sambil mulai berpikir.
"Kamu bilang saja kalau kamu kepengen banget punya Mommy baru. Sampai nggak bisa tidur siang dan malam. Pasti mereka setuju," saran Juna.
"Kalau itu kayaknya mereka tetap nggak setuju deh." Robert menggeleng. Dia sudah menebak jika usulan temannya tidak akan efektif. "Soalnya, ini menyangkut agama, Jun. Opa dan Omaku 'kan sangat sayang sama Tuhan Yesus. Dan mereka malah menyarankan Daddy untuk mencari calon istri baru saja, yang mirip Bu Syifa. Sedangkan akunya hanya mau Bu Syifa yang mirip Mommyku."
"Agak susah juga, ya?" Juna ikut menggaruk kepalanya, juga berpikir keras. Terdiam sebentar, lantas berkata, "Eemm ... bagaimana kalau kamu pura-pura sakit saja?"
"Sakit?!" Kening Robert tampak mengernyit. "Terus nanti akunya gimana? Dan sakit apa?"
"Ya sakit apa saja. Tapi sekalian bilang saja kalau umurmu nggak akan lama lagi," saran Juna. Sandi yang mendengarnya sontak membelalakkan mata. Diam-diam dia ikut mendengarkan, apa yang dua bocil itu bicarakan. "Kan kalau begitu mereka pasti akan mikir, pasti berhasil kamu bujuk," tambahnya kemudian.
"Jangan saran itu, Dek! Nggak baik!" Sandi tiba-tiba menyahut. Dia merasa tak setuju, sebab takutnya itu beneran terjadi kepada Robert.
"Kan cuma bohongan, Om!" balas Juna sambil menoleh ke arah Sandi.
__ADS_1
"Om tau, Dek, tapi tetap saja nggak boleh kalau sampai bawa-bawa mati." Sandi menggeleng tak setuju. "Ingat ada pepatah, kalau ucapan adalah do'a. Meskipun memang berbohong, tapi tetap saja nanti akan dibicarakan dan itu nggak boleh."
"Tapi semua manusia 'kan bakal mati. Iya, kan?" Juna terlihat ngeyel.
"Iya." Sandi mengangguk. "Tapi jangan diumur yang masih kecil juga, kalau bisa. Dan lebih baik cari saran lain saja."
"Om Sandi bener, Jun." Robert menimpali. "Lagian serem juga kalau bawa-bawa mati. Lebih baik kita pikirkan saran yang lain."
Juna menganggukkan kepalanya. Dia terlihat setuju, kemudian mereka berdua lantas terdiam beberapa menit dan kembali, Juna mendapatkan sebuah ide. "Bagaimana kalau kamu pura-pura kesurupan saja?"
"Maksudmu kerasukan setan?" tebak Robert dan temannya itu langsung menganggukkan kepalanya. "Bukannya kata Bu Gisel, setan itu nggak ada, ya? Kata kamu juga adanya cuma difilm."
"Iya sih. Tapi buktinya masih ada kok orang yang kerasukan setan. Aku pernah nonton videonya di Yo*Tube soalnya, Rob."
"Masa?"
"Iya." Juna mengangguk semangat, kemudian menadahkan tangan kanannya ke arah Robert. "Coba mana hapemu? Nanti kutunjukkan videonya."
Robert lantas merogoh kantong celananya, kemudian memberikan ponselnya Soni ke tangan Juna. Temannya itu dengan lihai mengetik-ngetik benda pipih tersebut, hingga sampai dimana dia menulis pada kolom pencarian aplikasi You*Tube.
'Orang kesurupan di rumah kosong.'
Tak menunggu waktu yang lama, beberapa video itu langsung bermunculan. Dan Juna mengklik salah satunya yang paling teratas.
Saat video itu diputar, keduanya langsung menontonnya. Video tersebut adalah video paranormal yang mengajak anak buahnya pada rumah kosong, kemudian mengirimkan ilmu sampai membuat anak buahnya kesurupan.
Dia melakukannya sebab penasaran, pada arwah di rumah kosong itu.
"Nah! Nanti kamu akting seperti itu saja, Rob." Juna menunjuk layar ponsel, saat ada adegan pria yang tengah mendelikkan matanya. Kemudian di sana dia meminta kopi pahit dan rokok.
"Tapi aku nggak doyan kopi, Jun," sahut Robert dengan gelengan kepala. "Apalagi rokok. Kan masih kecil, nggak boleh ngerokok juga katanya."
"Nanti kamu jangan minta kopi pahit atau rokok, tapi minta saja ...." Juna berbicara panjang lebar, menjelaskan tentang ide briliannya. Robert yang mendengar hanya mengangguk-nganggukan kepalanya. Tapi dia terlihat paham.
"Berarti nanti butuh paranormal dong, Jun. Nanti paranormalnya siapa?" tanyanya bingung.
"Nggak usah pakai paranormal. Nanti undang saja seorang ustad," saran Juna. "Biasanya ... ustad itu banyak yang bisa melihat mahluk ghaib. Nanti aku bantu deh cari ustadnya."
"Omnya Om saja, Dek, nanti Om bantu bilang sama dia tentang rencana Adek." Sandi tiba-tiba menyahut. Ustad yang dia maksud adalah Ustad Yunus.
"Tuh, udah beres berarti. Tinggal kamu praktekan," ujar Juna.
"Kamu yakin ini berhasil?" tanya Robert menatap Juna ragu.
"Yakin. Mangkanya dicoba dulu."
"Oke deh." Robert mengangguk semangat. Tubuhnya perlahan beringsut ke bawah hingga berdiri, kemudian menatap jendela kamar Papi Paul dan Mami Yeri. Mereka berdua di sana tengah sarapan ditemani dua suster. "Nanti setelah mereka selesai sarapan ... aku akan masuk ke dalam dan pura-pura kesurupan."
__ADS_1
...Semangat Rob 🤣 semoga nggak kesurupan beneran ya, kamu ðŸ¤...