
30 menit saat sudah sampai di rumah sakit, Joe langsung dimasukkan ke dalam ruang IGD. Supaya cepat ditangani dokter.
Syifa, Ustad Yunus dan laki-laki berkoko hijau tengah duduk di kursi panjang. Menunggu Joe yang tengah diperiksa di dalam sana.
'Ya Allah, tolong lindungi Pak Joe dan selamatkan dia,' batin Syifa penuh harap. Lantas mengusap wajahnya. Berkali-kali dia membuang napasnya.
Sejak di dalam mobil, Syifa merasakan jantungnya tidak pernah berhenti untuk terus berdebar kencang. Selain khawatir akan kondisi Joe, dia juga khawatir pada Robert.
Bocah yang masih memerlukan perawatan khusus itu pastinya sangat membutuhkan Joe. Kalau sampai Joe kenapa-kenapa, lalu bagaimana nasibnya? Itulah yang terpikir dalam benak Syifa.
"Ustad Yunus kenal pria tadi? Memang siapa?" tanya lelaki berkoko hijau, yang duduk di sampingnya.
Ustad Yunus pun menoleh. "Namanya Joe. Dia bosnya keponakan saya. Kebetulan tadi memang ada perlu ketemu, tapi malah pergi dulu katanya ingin membeli obat untuk Syifa."
'Obat untukku? Tapi aku 'kan nggak sakit, kenapa dia musti membeli obat untukku?' batin Syifa bertanya-tanya.
"Syifa, ada apa sebenarnya? Kenapa Pak Joe pingsan?" tanya Ustad Yunus menatap Syifa.
"Iya, kenapa, Fa?" tambah lelaki berkoko hijau, kemudian tatapannya berubah menjadi penuh curiga. "Kenapa juga dia sampai masuk ke dalam kamarmu? Apa orang tuamu tau?"
"Masuk kamar?!" seru Ustad Yunus dengan bola mata yang tampak terbelalak. Dia terlihat terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Ustad Yunus dan Pak Damar jangan salah paham dulu," ucap Syifa, kemudian mulai menjelaskan. "Pak Joe masuk ke dalam kamarku karena aku menariknya. Tapi aku melakukannya karena hawa panik ... soalnya celana dia tiba-tiba kebakar."
"Kok bisa, celananya kebakar?" Ustad Yunus terheran-heran.
"Yang anehnya, kenapa diarea burungnya saja lho, Tad," tambah Damar.
"Astaghfirullah!" Ustad Yunus sampai beristighfar.
"Aku juga nggak tau, Tad, alasan celananya kebakar," sahut Syifa kembali menjelaskan. "Awalnya dia datang ke rumah karena ingin mengantarkan obat sembelit dan buah pepaya. Eh tau-tau kami berdua mencium bau gosong."
"Jadi Pak Joe juga nggak tau, kenapa celananya terbakar?" tebak Ustad Yunus. Syifa pun mengangguk.
"Iya."
Saat tadi dirinya turun dari mobilnya yang sengaja diparkir di depan masjid, sehabis pergi membeli obat untuk Syifa, tiba-tiba ada seorang pria pengendara motor yang lewat dengan tak sengaja membuang puntung rokoknya. Dan itu mengenai tepat pada celana di daerah inti tubuhnya.
Joe sendiri tidak tahu, jika yang dibuang pria itu adalah puntung rokok. Joe kira hanya sampah.
Sampai akhirnya dengan keadaan tak sadar, puntung rokok itu menempel di sana dan dibawa Joe untuk menemui Syifa.
Dengan keadaan yang masih menyala dan menempel kain, tentu itu membuat benda tersebut bisa mengeluarkan api yang berhasil menghanguskan masa depan Joe.
__ADS_1
Syifa sendiri sudah berusaha untuk menyelamatkannya, tapi tidak tahu bagaimana nasibnya nanti.
Ceklek~
Tiba-tiba, dua pintu ruang IGD itu perlahan dibuka. Keluarlah dokter pria berkacamata yang memakai jas putih.
Ketiga orang yang menunggu itu langsung berdiri, Syifa segera mendekat ke arah Dokter.
"Bagaimana keadaan Pak Joe, Dok? Apa dia baik-baik saja?" tanya Syifa dengan penuh khawatir.
"Nona ini siapanya? Istri atau adik?" Dokter itu bertanya balik sembari memerhatikan wajah Syifa yang penuh keringat.
"Aku guru SD anaknya, Dok. Tapi aku mengenal Pak Jonathan."
"Oh. Saya akan sampaikan bahwa luka bakar pada alat kel*amin Pak Joe cukup parah, Nona. Jadi terpaksa saya melakukan pembedahan."
"Pembedahan?!" Kening Syifa tampak mengernyit. "Pembedahan gimana maksudnya?" tanyanya tak mengerti.
"Pe*nisnya saya potong, Nona."
Syifa sontak terbelalak, begitu pun dengan Ustad Yunus dan Damar. "Dipotong?" Mulut Syifa tampak menganga, merasa syok sekaligus tercengang. "Astaghfirullah, jadi Pak Joe udah nggak punya tongkat lagi, Dok? Buntung?!"
__ADS_1
...Kasihan amat 🤣...