
"Besok pasti dia sekolah, Fa. Kamu akan ketemu sama dia. Sekarang siap-siap saja dulu, jangan sampai nanti Abi datang lagi untuk menegurmu," saran Umi Maryam lagi. Dia tersenyum lalu melangkah keluar dari kamar Syifa dan menutup pintu.
'Padahal aku nggak mau ikut, aku juga nggak suka sama Kak Fahmi,' batinnya. Syifa perlahan berdiri, lalu mengangkat kedua telapak tangannya diudara. "Ya Allah, tolong lindungi anak muridku. Di mana pun dia berada. Amin ... Amin ya Rabbal allamin." Lantas mengusap wajahnya.
Setelah itu mau tidak mau Syifa pun mengganti pakaiannya dan berdandan. Terpaksa, dia memenuhi permintaan Abi Hamdan.
***
"Ya Tuhan, aku harus cepat-cepat ke rumah sakit," gumam Joe seraya menatap arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 7. Segera, dia menutup Al-Qur'an. Kemudian menutup resletingnya juga dan menaruhnya ke tempat semula, yakni di kursi sebelah.
Akibat keasyikan membaca, dia sampai lupa waktu harus pergi lagi ke rumah sakit untuk melihat kondisi anaknya.
*
*
*
"San, apa operasinya sudah selesai? Berjalan dengan lancar, kan?" tanya Joe pada Sandi yang duduk di kursi depan ruang operasi.
Tangannya menenteng parsel buah dan paper bag berukuran besar, yang berisi mainan pesawat remote.
Sandi langsung menoleh, kemudian berdiri. "Belum, Pak," jawabnya sambil menggelengkan kepala.
"Belum ada yang keluar sama sekali?!" Joe perlahan duduk di kursi panjang.
"Belum, Pak. Mungkin beberapa menit lagi. Saya permisi mau sholat Isya dulu, ya, Pak."
"Iya, San." Joe mengangguk. Sandi pun melangkah pergi meninggalkannya.
"Lho, Om Joe ngapain di sini?!" tanya seorang bocah yang baru saja melangkah menghampiri. Joe langsung menoleh, dan ternyata bocah itu adalah Atta.
"Kamu Atta, teman sekolahnya Robert, kan?" tebak Joe.
"Iya." Atta mengangguk cepat. "Tapi Om ngapain ada di rumah sakit? Siapa yang sakit?" Lantas, menatap ke arah ruang operasi. Atta juga ikut duduk di samping Joe.
"Robert yang sakit, Ta."
"Oh, sakit apa dia, Om?" tanyanya penasaran.
"Cuma meriang, Ta," jawab Joe berbohong. Entah apa alasannya, tapi yang jelas—Joe juga tak ingin memberitahu penyakit itu meski kepada Robert sekali pun.
"Meriang kok sampai masuk ruang operasi, Om?" Atta kembali bertanya, dia juga tampak tak percaya dengan jawaban Joe.
__ADS_1
"Iya. Dokter menyarankannya untuk dioperasi," jelas Joe.
"Terus, Bu Syifanya ke mana? Kok nggak nemenin Om di sini?!" Atta menatap sekitar, mencari-cari keberadaan ibu gurunya.
"Ngapain Bu Syifa nemenin Om, Ta? Dia ada di rumahnya pasti."
"Bukannya dia calon istri Om, ya? Harusnya 'kan nemenin Om di sini."
"Kata siapa dia calon istri, Om?!" Kening Joe tampak mengernyit. Dia menatap heran Atta.
"Robert yang bilang. Dan kata Maira juga ... Om habis melamar Bu Syifa di kantin sekolah."
"Maira itu siapa, Ta?"
"Teman sekelas kami, Om."
"Oh. Tapi Bu Syifa itu bukan calon istri Om kok. Om sama dia nggak ada hubungan apa-apa."
"Berarti Robert bohong dong sama aku dan teman-teman?"
"Mungkin, Robert itu hanya ...." Ucapan Joe terhenti saat tiba-tiba saja ruang operasi itu dibuka dari dalam. Gegas, dia pun berdiri. Begitu pun dengan Atta.
"Apa Anda wali dari Robert Anderson?" tanya seorang pria yang memakai pakaian medis lengkap berwarna biru awan. Juga dengan masker, kacamata dan penutup kepala. Dia adalah dokter onkologi. Spesialis kanker dan tumor.
"Alhamdulillah, operasi Robert berjalan lancar, Pak," jawab Dokter itu yang mana membuat Joe bernapas lega. "Kita tinggal tunggu dia siuman. Tapi saya masih harus memantau keadaan kankernya, Pak. Jadi untuk beberapa hari ke depan ... Robert dianjurkan untuk dirawat di rumah sakit."
"Baik, Dok." Joe mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi dulu, ya, Pak, saya musti mengoperasi pasien yang lain," pamit sang Dokter.
"Iya, Dok." Joe tersenyum, lalu menangkup kedua tangannya di atas dada. 'Ya Tuhan terima kasih, kau telah memberikan kelancaran proses operasi Robert. Semoga dengan begini ... Robert anakku jadi sehat seperti semula.'
***
Ceklek~
"Ayok, Mi," ucap Syifa seraya membuka pintu kamarnya. Setelah beberapa menit dia berkutat di dalam sana.
Umi Maryam memerhatikan Syifa dari atas sampai bawah. Gadis itu memakai overall dress berbahan jeans dengan tambahan kaos putih polos panjang dan hijab pashmina berwarna putih. Make up diwajahnya tidak terlalu tebal, tapi memang dia sudah cantik dari lahir.
"Kamu cantik banget, Fa, ayok kita berangkat sekarang," ajak Umi yang langsung menggandeng tangan Syifa untuk keluar rumah.
"Umi juga cantik." Syifa menatap sang Umi yang memakai dress merah bermotif bunga-bunga.
__ADS_1
"Udah siap?" tanya Abi Hamdan yang duduk di teras bersama Fahmi. Keduanya pun lantas berdiri.
"Udah." Umi Maryam mengangguk, kemudian menutup pintu dan menguncinya.
"Kamu kok pakai baju itu, Fa?" tanya Fahmi yang menatap Syifa dari ujung kaki hingga kepala. Ekspresi wajahnya menandakan jika dia tak menyukai penampilan gadis itu.
"Kenapa?" Syifa tampak bingung. Dia langsung menundukkan wajahnya dan memerhatikan tubuhnya sendiri. Ukuran pakaiannya itu agak longgar, cocok sekali dengan perempuan yang memakai hijab menurutnya.
"Nggak cocok, kurang bagus. Boleh nggak aku minta kamu ganti baju?"
"Orang bagus kok," bantah Syifa. Dia sangat menyukai pakaian yang dipakainya saat ini. Terlebih itu juga masih baru dan dibelikan oleh Umi Maryam sebagai kado ulang tahun.
"Ganti baju saja, Fa. Pakai gamis lebaran kemarin yang Abi belikan itu," usul Abi Hamdan yang seolah menyetujui permintaan Fahmi.
"Jangan, Bi, pakai dress dariku saja," saran Fahmi seraya melangkah cepat menuju mobil Lamborghini berwarna kuning emasnya. Yang terparkir rapih di depan rumah. Segera, dia membuka bagasi mobil, lalu mengambil paper bag besar dan memberikannya kepada Syifa. "Pakai ini, Syifa, ini sangat bagus dan mahal. Aku beli dari Mesir."
Syifa belum mengambil benda itu. Dia malah memerhatikan sambil merengut dan mengapa, ada perasaan dongkol di dalam hatinya, karena mendengar apa yang diucapkan Fahmi.
Seumur hidup, baru Fahmi orang pertama yang mengatakan Syifa tak pantas memakai pakaian yang dipakainya saat ini. Kedua orang tuanya saja tak pernah komplain masalah baju, karena Syifa sendiri selalu memakai pakaian dengan ketentuan sebagai seorang muslim.
"Cepat ambil dan ganti baju, Fa, kok diem saja?" tanya Fahmi.
"Iya, nggak apa-apa ganti baju saja, Fa. Ayok cepat," titah Abi Hamdan sedikit memaksa.
Syifa meraih benda itu dengan wajah merengut, lantas membuka pintu yang sudah dikunci dan masuk ke dalam sana.
"Ternyata Kak Fahmi itu orangnya rada ngeselin, ya!" Sembari mengganti pakaiannya, Syifa mulai menggerutu. Meluapkan rasa kesal di dadanya. "Masa dia bilang bajuku nggak pantes aku pakai? Baju ini 'kan baju kesukaanku dan itu juga dari Umi." Syifa mencium dress overallnya yang sudah terlepas dari tubuh, lalu melemparnya ke atas kasur.
"Umi dan Abi juga diem saja, malah Abi mengiyakan ucapan Kak Fahmi. Aneh banget," geramnya.
Setelah dress brokat berwarna merah terpakai indah ditubuhnya, barulah Syifa keluar dari kamar dan rumah.
Menurutnya, dress yang dipakainya saat ini terbilang biasa. Jauh dari kata mahal. Sebab belum lama dipakai saja dia sudah merasa kepanasan.
"Nah, begini baru cocok. Kamu cantik banget malah," puji Fahmi dengan sudut bibir yang tertarik. Lantas dia pun membukakan pintu mobilnya, untuk Syifa masuk. "Eh, tunggu sebentar!"
Syifa baru saja mengangkat kaki kanannya hendak masuk ke dalam mobil. Tapi secara mendadak entah apa sebabnya, Fahmi menghalangi.
Pria itu pun berjongkok dengan membungkuk sedikit demi memerhatikan kaki Syifa yang memakai sendal hak tinggi, lalu beralih ke kaki Abi Hamdan dan Umi Hamdan.
"Kenapa, Nak Fahmi?" tanya Abi Hamdan heran.
"Aku hanya mau mengecek saja kok, alas kaki kalian kotor apa nggak," sahut Fahmi seraya berdiri dan membenarkan jas berwarna merahnya. "Selain mobilku masih baru, kan kebersihan itu sebagian dari iman. Iya, kan, Bi?"
__ADS_1
...Bilang aja nggak rela, kalau mobil barunya kotor 🙈...