
"Menyembah Allah? Tapi dia 'kan bukan Tuhanku, Kek. Ngapain aku sembah?" tanya Joe bingung.
"Dia Tuhanmu. Tuhan kita semua, Tuhan semesta alam," terang Kakek tua seraya melebarkan kedua tangannya ke udara.
"Kamu selama ini bukan menyembah Tuhan, tapi nabinya. Yesus itu adalah nabi Isa, nabinya Allah SWT. Kamu harus tau itu, Nak." Kakek tua mengusap puncak rambut Joe.
"Nabi?" Kening Joe tampak mengernyit. "Kok bisa ke nabi-nabi, Kek?"
"Iya. Kalau kamu masih ragu, setelah bangun kamu harus membaca terjemahan Al-Qur'an dari surah Maryam ayat 16 sampai 36; surah Ali 'Imran ayat 49 sampai 55; surah Al-Ma'idah ayat 110 sampai 118; dan surah An-Nisa ayat 157 sampai 158. Setelah membacanya, insya Allah kamu akan paham sedikit demi sedikit," jelas Kakek tua itu.
"Setelah bangun?" Kembali, Joe terlihat bingung. Ucapan Kakek itu terdengar aneh menurutnya. "Memangnya, Kakek pikir aku sedang tidur?"
"Iya, kamu memang sedang tidur. Maka bangunlah sekarang," sahutnya.
Kakek tua itu pun langsung meniupkan wajah Joe dan mengusapnya. Dan seketika itu pun—Joe membuka matanya dengan lebar, kemudian mendongak ke atas. Ada Sandi di depannya dan saat ini dirinya tengah berbaring di lantai.
"Lho, kok aku ada di lantai, San?!" Joe gegas menarik tubuhnya hingga berdiri, kemudian menoleh ke arah Robert di atas tempat tidur. Bocah itu tengah menatap dirinya.
"Iya, Pak, Bapak semalaman tidur di lantai. Saya coba bangunkan tapi nggak bangun-bangun," jawab Sandi.
"Semalaman tidur di lantai?!" Pandangan mata Joe langsung menengadah ke arah jam dinding, yang berada tepat di atas pintu. Di sana menunjukkan pukul 5.30. "Lho, beneran sudah pagi ternyata, San."
"Memang sudah pagi, Pak."
"Tapi kenapa aku bisa ketiduran di lantai? Dan ke mana Kakek tua tadi?" tanya Joe seraya menatap sekitar ruang kamar itu. Mencari-cari keberadaan Kakek yang tak terlihat batang hidungnya.
"Kakek yang mana? Orang nggak ada Kakek-kakek daritadi." Sandi mengerutkan keningnya. Dia menatap sang bos dengan heran. Joe terlihat seperti orang linglung.
"Tadi malam bukannya aku minta kamu belikan kopi, kan? Terus pas aku mau masuk aku ketemu Kakek tua yang kemarin itu. Yang ngasih aku Al-Qur'an, San," ucap Joe seraya menatap Sandi.
"Bapak memang meminta saya untuk membeli kopi. Tapi pas saya pulang dari cafe ... Bapak justru sudah tidur di lantai."
"Masa, sih?" Joe menggaruk rambut kepalanya yang tidak gatal. Merasa aneh, sekaligus tak menyangka. Sebab adegan tadi seperti nyata menurutnya.
"Daddy sepertinya kecapekan deh, mangkanya kayak gitu." Robert membuka suara, tapi terdengar begitu lirih. "Mending Daddy mandi sekarang, supaya kelihatan seger dan ganteng. Takutnya Bu Syifa datang lagi untuk menjenguk Robert."
"Iya, Sayang, mungkin Daddy hanya kecapekan." Joe mengangguk-nganggukan kepalanya menatap anaknya. "Daddy mandi dulu kalau begitu, ya?"
"Iya." Robert mengangguk pelan.
Joe pun melangkah menuju sofa, lalu meraih koper hitam berukuran besar yang berada di dekat sana. Setelah itu dia membukanya, kemudian mengambil pakaian ganti dan menuju kamar mandi yang berada di ruangan itu.
"Berarti aku hanya mimpi, saat Kakek tua itu datang ke kamar Robert. Tapi masa, sih, Tuhan Yesus itu nabinya Allah, yang bernama nabi Isa?!" gumam Joe. Dia membuka pakaian sembari memikirkan apa yang diucapkan Kakek tua dimimpinya tadi. Meskipun kejadiannya seperti nyata, tapi memang benar Joe hanya mimpi. "Aku harus baca terjemahan Al-Qur'an lagi. Untuk mencari tau siapa itu nabi Isa."
***
Tok! Tok! Tok!
"Abi! Buka pintunya! Aku mau sarapan dan pergi mengajar!" teriak Syifa dari dalam kamar sembari mengetuk pintu.
Sejak semalam, pintu kamarnya itu dikunci oleh Abi Hamdan. Dan sampai sekarang belum dibukakan.
Abi Hamdan berdiri dari duduknya di sofa sambil membenarkan posisi peci yang terlihat miring, setelah itu dia pun melangkah menuju kamar Syifa dan membukakan kunci serta pintunya.
Ceklek~
"Kamu hari ini nggak usah pergi mengajar," ucapannya datar seraya menatap Syifa. Perempuan berhijab lavender itu memakai stelan jas berwarna biru navy. Sudah begitu rapih dengan menenteng tas dan memakai sepatu.
"Kenapa? Orang hari ini aku ada rapat guru." Syifa pun melangkah dari pintu kamar, kemudian meraih tangan sang Abi, hendak menciumnya. Akan tetapi pria itu justru menggeserkan tangannya. Seolah tidak mau.
"Abi 'kan sudah bilang, kamu jangan masuk mengajar dulu. Kalau bisa, sih ... mending kamu berhenti menjadi guru saja."
"Lho, kenapa, Bi?" Syifa tampak terkejut mendengarnya.
Abi Hamdan melangkah menuju sofa ruang tengah, kemudian duduk di salah satu sofa tersebut. "Buat apa kamu jadi guru, kalau kelakuanmu bukan mencerminkan kepribadian seorang guru. Abi yang malu, Fa."
"Maksudnya?" Syifa melangkah mendekat dengan kening yang mengernyit. Dia terlihat bingung mendengar apa yang dikatakan pria tua itu.
"Semalam ... apa coba yang kamu lakukan sama si Jojon? Abi benar-benar kecewa sama kamu. Selama ini Abi mendidikmu untuk menjadi perempuan yang berakhlak. Tapi nyatanya kamu seperti itu." Bola mata Abi Hamdan menatap lekat penuh kekecewaan. Meskipun Joe sudah menjelaskan, tapi nyatanya dia masih belum percaya seratus persen.
"Abi hanya salah paham. Aku dan Pak Joe nggak ngapain-ngapin. Semalam itu aku ketiduran di mobilnya," jelas Syifa dengan jujur.
__ADS_1
Tak lama Umi Maryam datang dengan membawa nampan yang berisi nasi goreng dan secangkir kopi hitam. Dia pun menyajikannya di atas meja.
"Katanya kamu nggak suka sama si Jojon, tapi kenapa kamu justru mengejarnya saat di restoran? Padahal kamu datang ke sana 'kan niatnya ingin makan malam sama Fahmi. Tapi kamu malah buat dia kecewa, Abi nggak enak sama dia, Fa."
Syifa perlahan meriah tangan Abi Hamdan, lalu mengenggamnya sembari duduk di sofa di sampingnya. "Aku minta maaf, Bi. Yang aku lakukan semalam itu begitu spontan karena aku khawatir sama Robert. Aku menyusul Pak Joe karena ingin melihat keadaan Robert saja di rumah sakit, hanya itu," jelasnya panjang lebar.
"Tapi kamu nggak suka sama Jojon, kan?"
Syifa menggeleng.
"Bener?" tanya Abi Hamdan memastikan.
"Iya. Kan dia non muslim juga, Bi."
"Kalau misalkan dia jadi mualaf? Kamu suka?"
"Nggak tau." Syifa menggelengkan kepalanya, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Namun, Abi Hamdan tak sengaja melihat kedua pipi gadis itu tampak merah merona.
"Kok nggak tau? Jangan bilang kamu akan suka. Sampai kapan pun Abi nggak akan mengizinkan kamu menikah dengannya! Yang Abi mau kamu menikah sama Fahmi. Hanya dia, nggak ada yang lain!" tegasnya dengan lantang.
"Aku lebih baik menjadi perawan tua. Daripada menikah dengan pria sombong seperti Kak Fahmi!" Syifa langsung berdiri dan melepaskan genggaman tangannya. Merasa kesal, masih pagi sudah membahas masalah Fahmi.
"Hush! Jangan bilang seperti itu, nggak sopan!" tegur Abi Hamdan dengan mata melotot.
Dia terlihat marah Syifa berkata demikian, sebab menganggap jika Syifa mengatai Fahmi yang tidak-tidak. Padahal memang benar, pria itu congkak. Hanya saja mata Abi Hamdan sepertinya masih tertutup.
"Pokoknya aku nggak mau dijodohkan sama Kak Fahmi! Titik!" tegas Syifa marah. Kemudian berlari keluar dari rumah tanpa mengucapkan salam.
Abi Hamdan langsung berdiri dengan rahang yang sudah mengeras. Kakinya hendak berlari ingin mengejar Syifa yang pergi begitu saja, tetapi Umi Maryam secara tiba-tiba menahan tangan kanannya.
"Nggak usah dikejar, Bi, biarkan saja," ucap Umi Maryam dengan lembut.
"Tapi dia mau ke mana kira-kira? Apa menemui Jojon?" geram Abi Hamdan seraya menatap Umi Maryam dengan sengit.
"Syifa pasti berangkat mengajar, kan dia sudah bilang ada rapat." Umi Maryam menarik tangan sang suami untuk duduk kembali ke sofa, lalu mengusap dadanya. "Jangan terlalu keras juga sama Syifa, Bi, kasihan dia," tambahnya menegur.
***
"Menyembah Allah? Tapi dia 'kan bukan Tuhanku, Kek. Ngapain aku sembah?" tanya Joe bingung.
"Dia Tuhanmu. Tuhan kita semua, Tuhan semesta alam," terang Kakek tua seraya melebarkan kedua tangannya ke udara.
"Kamu selama ini bukan menyembah Tuhan, tapi nabinya. Yesus itu adalah nabi Isa, nabinya Allah SWT. Kamu harus tau itu, Nak." Kakek tua mengusap puncak rambut Joe.
"Nabi?" Kening Joe tampak mengernyit. "Kok bisa ke nabi-nabi, Kek?"
"Iya. Kalau kamu masih ragu, setelah bangun kamu harus membaca terjemahan Al-Qur'an dari surah Maryam ayat 16 sampai 36; surah Ali 'Imran ayat 49 sampai 55; surah Al-Ma'idah ayat 110 sampai 118; dan surah An-Nisa ayat 157 sampai 158. Setelah membacanya, insya Allah kamu akan paham sedikit demi sedikit," jelas Kakek tua itu.
"Setelah bangun?" Kembali, Joe terlihat bingung. Ucapan Kakek itu terdengar aneh menurutnya. "Memangnya, Kakek pikir aku sedang tidur?"
"Iya, kamu memang sedang tidur. Maka bangunlah sekarang," sahutnya.
Kakek tua itu pun langsung meniupkan wajah Joe dan mengusapnya. Dan seketika itu pun—Joe membuka matanya dengan lebar, kemudian mendongak ke atas. Ada Sandi di depannya dan saat ini dirinya tengah berbaring di lantai.
"Lho, kok aku ada di lantai, San?!" Joe gegas menarik tubuhnya hingga berdiri, kemudian menoleh ke arah Robert di atas tempat tidur. Bocah itu tengah menatap dirinya.
"Iya, Pak, Bapak semalaman tidur di lantai. Saya coba bangunkan tapi nggak bangun-bangun," jawab Sandi.
"Semalaman tidur di lantai?!" Pandangan mata Joe langsung menengadah ke arah jam dinding, yang berada tepat di atas pintu. Di sana menunjukkan pukul 5.30. "Lho, beneran sudah pagi ternyata, San."
"Memang sudah pagi, Pak."
"Tapi kenapa aku bisa ketiduran di lantai? Dan ke mana Kakek tua tadi?" tanya Joe seraya menatap sekitar ruang kamar itu. Mencari-cari keberadaan Kakek yang tak terlihat batang hidungnya.
"Kakek yang mana? Orang nggak ada Kakek-kakek daritadi." Sandi mengerutkan keningnya. Dia menatap sang bos dengan heran. Joe terlihat seperti orang linglung.
"Tadi malam bukannya aku minta kamu belikan kopi, kan? Terus pas aku mau masuk aku ketemu Kakek tua yang kemarin itu. Yang ngasih aku Al-Qur'an, San," ucap Joe seraya menatap Sandi.
"Bapak memang meminta saya untuk membeli kopi. Tapi pas saya pulang dari cafe ... Bapak justru sudah tidur di lantai."
"Masa, sih?" Joe menggaruk rambut kepalanya yang tidak gatal. Merasa aneh, sekaligus tak menyangka. Sebab adegan tadi seperti nyata menurutnya.
__ADS_1
"Daddy sepertinya kecapekan deh, mangkanya kayak gitu." Robert membuka suara, tapi terdengar begitu lirih. "Mending Daddy mandi sekarang, supaya kelihatan seger dan ganteng. Takutnya Bu Syifa datang lagi untuk menjenguk Robert."
"Iya, Sayang, mungkin Daddy hanya kecapekan." Joe mengangguk-nganggukan kepalanya menatap anaknya. "Daddy mandi dulu kalau begitu, ya?"
"Iya." Robert mengangguk pelan.
Joe pun melangkah menuju sofa, lalu meraih koper hitam berukuran besar yang berada di dekat sana. Setelah itu dia membukanya, kemudian mengambil pakaian ganti dan menuju kamar mandi yang berada di ruangan itu.
"Berarti aku hanya mimpi, saat Kakek tua itu datang ke kamar Robert. Tapi masa, sih, Tuhan Yesus itu nabinya Allah, yang bernama nabi Isa?!" gumam Joe. Dia membuka pakaian sembari memikirkan apa yang diucapkan Kakek tua dimimpinya tadi. Meskipun kejadiannya seperti nyata, tapi memang benar Joe hanya mimpi. "Aku harus baca terjemahan Al-Qur'an lagi. Untuk mencari tau siapa itu nabi Isa."
***
Tok! Tok! Tok!
"Abi! Buka pintunya! Aku mau sarapan dan pergi mengajar!" teriak Syifa dari dalam kamar sembari mengetuk pintu.
Sejak semalam, pintu kamarnya itu dikunci oleh Abi Hamdan. Dan sampai sekarang belum dibukakan.
Abi Hamdan berdiri dari duduknya di sofa sambil membenarkan posisi peci yang terlihat miring, setelah itu dia pun melangkah menuju kamar Syifa dan membukakan kunci serta pintunya.
Ceklek~
"Kamu hari ini nggak usah pergi mengajar," ucapannya datar seraya menatap Syifa. Perempuan berhijab lavender itu memakai stelan jas berwarna biru navy. Sudah begitu rapih dengan menenteng tas dan memakai sepatu.
"Kenapa? Orang hari ini aku ada rapat guru." Syifa pun melangkah dari pintu kamar, kemudian meraih tangan sang Abi, hendak menciumnya. Akan tetapi pria itu justru menggeserkan tangannya. Seolah tidak mau.
"Abi 'kan sudah bilang, kamu jangan masuk mengajar dulu. Kalau bisa, sih ... mending kamu berhenti menjadi guru saja."
"Lho, kenapa, Bi?" Syifa tampak terkejut mendengarnya.
Abi Hamdan melangkah menuju sofa ruang tengah, kemudian duduk di salah satu sofa tersebut. "Buat apa kamu jadi guru, kalau kelakuanmu bukan mencerminkan kepribadian seorang guru. Abi yang malu, Fa."
"Maksudnya?" Syifa melangkah mendekat dengan kening yang mengernyit. Dia terlihat bingung mendengar apa yang dikatakan pria tua itu.
"Semalam ... apa coba yang kamu lakukan sama si Jojon? Abi benar-benar kecewa sama kamu. Selama ini Abi mendidikmu untuk menjadi perempuan yang berakhlak. Tapi nyatanya kamu seperti itu." Bola mata Abi Hamdan menatap lekat penuh kekecewaan. Meskipun Joe sudah menjelaskan, tapi nyatanya dia masih belum percaya seratus persen.
"Abi hanya salah paham. Aku dan Pak Joe nggak ngapain-ngapin. Semalam itu aku ketiduran di mobilnya," jelas Syifa dengan jujur.
Tak lama Umi Maryam datang dengan membawa nampan yang berisi nasi goreng dan secangkir kopi hitam. Dia pun menyajikannya di atas meja.
"Katanya kamu nggak suka sama si Jojon, tapi kenapa kamu justru mengejarnya saat di restoran? Padahal kamu datang ke sana 'kan niatnya ingin makan malam sama Fahmi. Tapi kamu malah buat dia kecewa, Abi nggak enak sama dia, Fa."
Syifa perlahan meriah tangan Abi Hamdan, lalu mengenggamnya sembari duduk di sofa di sampingnya. "Aku minta maaf, Bi. Yang aku lakukan semalam itu begitu spontan karena aku khawatir sama Robert. Aku menyusul Pak Joe karena ingin melihat keadaan Robert saja di rumah sakit, hanya itu," jelasnya panjang lebar.
"Tapi kamu nggak suka sama Jojon, kan?"
Syifa menggeleng.
"Bener?" tanya Abi Hamdan memastikan.
"Iya. Kan dia non muslim juga, Bi."
"Kalau misalkan dia jadi mualaf? Kamu suka?"
"Nggak tau." Syifa menggelengkan kepalanya, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Namun, Abi Hamdan tak sengaja melihat kedua pipi gadis itu tampak merah merona.
"Kok nggak tau? Jangan bilang kamu akan suka. Sampai kapan pun Abi nggak akan mengizinkan kamu menikah dengannya! Yang Abi mau kamu menikah sama Fahmi. Hanya dia, nggak ada yang lain!" tegasnya dengan lantang.
"Aku lebih baik menjadi perawan tua. Daripada menikah dengan pria sombong seperti Kak Fahmi!" Syifa langsung berdiri dan melepaskan genggaman tangannya. Merasa kesal, masih pagi sudah membahas masalah Fahmi.
"Hush! Jangan bilang seperti itu, nggak sopan!" tegur Abi Hamdan dengan mata melotot.
Dia terlihat marah Syifa berkata demikian, sebab menganggap jika Syifa mengatai Fahmi yang tidak-tidak. Padahal memang benar, pria itu congkak. Hanya saja mata Abi Hamdan sepertinya masih tertutup.
"Pokoknya aku nggak mau dijodohkan sama Kak Fahmi! Titik!" tegas Syifa marah. Kemudian berlari keluar dari rumah tanpa mengucapkan salam.
Abi Hamdan langsung berdiri dengan rahang yang sudah mengeras. Kakinya hendak berlari ingin mengejar Syifa yang pergi begitu saja, tetapi Umi Maryam secara tiba-tiba menahan tangan kanannya.
"Nggak usah dikejar, Bi, biarkan saja," ucap Umi Maryam dengan lembut.
"Tapi dia mau ke mana kira-kira? Apa menemui Jojon?" geram Abi Hamdan seraya menatap Umi Maryam dengan sengit.
__ADS_1
"Syifa pasti berangkat mengajar, kan dia sudah bilang ada rapat." Umi Maryam menarik tangan sang suami untuk duduk kembali ke sofa, lalu mengusap dadanya. "Jangan terlalu keras juga sama Syifa, Bi, kasihan dia," tambahnya menegur.
...Nggak tau nih si Abi, nggak ada kalemnya sama anak perawan 😥...