
Waktu bergulir begitu cepat. Sampai tak terasa sudah lewat Magrib.
Orang tua Syifa, orang tua Joe, Sandi, Ustad Yunus, Pak RT, orang butik serta Pak Penghulu yang sudah datang—kini semuanya menunggu calon pengantin. Yang tak tahu entah ada di mana.
Sandi sudah mencoba menghubungi Joe berulang kali, tapi nomornya justru tidak aktif sejak tadi. Dia juga sampai menelan pada nomornya Robert, tapi tidak diangkat-angkat.
"Belum aktif juga, nomornya, San?" tanya Abi Hamdan yang baru saja keluar dari kamar inap orang tua Joe. Sedangkan orang-orang yang lain berada di dalam sana.
Sandi yang terlihat mondar-mandir sambil memegang ponselnya itu lantas menoleh, lalu menganggukkan kepalanya dengan lesu. "Belum, Tad."
"Ke mana sih mereka? Si Robert juga malah ikut-ikutan pergi. Kan sebentar lagi mau mulai akadnya." Abi Hamdan hanya bisa menggerutu sambil menatap jam pada pergelangan tangannya, yang menunjukkan pukul 18.30.
Namun, tak dipungkiri, jika ada rasa khawatir yang melanda hati.
"Apa perlu kita lapor polisi, Tad?" usul Sandi.
"Lapor polisi mau ngapain? Memangnya mereka diculik? Kan mereka perginya bareng!" omel Abi Hamdan. Menunggu sesuatu hal tentu sangatlah membosankan. Apalagi ini adalah momen yang penting. 'Gimana sih pikiran mereka itu? Katanya kepengen nikah, tapi giliran mau ijab kabul malah pergi,' batinnya dengan jengkel.
"Saya coba cari ke rumah Pak Joe deh, Tad. Barangkali, mereka ada di sana."
"Ya sudah, kalau nggak ada di rumah tolong cari ke tempat lain ya, San," titah Abi Hamdan yang mana dianggukan oleh Sandi. "Pokoknya, kamu jangan pulang sampai mereka ketemu. Soalnya ini sangat penting, aku nggak enak sama yang lain kalau semuanya gagal."
"Siap, Tad." Sandi mengangguk cepat sambil membungkukkan badannya. Setelah itu dia lantas melangkah pergi dari sana.
__ADS_1
Sedangkan Abi Hamdan sendiri memilih masuk lagi ke dalam kamar inap orang tua Joe sambil berdoa dalam hati. 'Ya Allah tolong lindungi mereka bertiga, apalagi Syifa. Aku harap mereka segera pulang dan melangsungkan ijab kabul.'
"Mereka bertiga belum datang, Pak?" tanya Mami Yeri seraya menatap calon besannya. Dia duduk selonjoran di tempat tidur.
"Belum." Abi Hamdan menggelengkan kepalanya. "Nggak tau ke mana. Coba kita tunggu sebentar lagi, Bu," lanjutnya. Perlahan dia pun menurunkan tubuhnya untuk duduk lesehan pada tikar, di dekat Ustad Yunus, Pak RT dan Pak Penghulu.
***
Sementara itu,
Di sebuah rumah kosong bercat putih, Beni dan kedua temannya masuk ke dalam sana dengan membawa Syifa yang sudah tak sadarkan diri.
Pingsannya gadis itu ada akibatnya, yakni karena obat bius.
Niat awal Beni memanglah ingin menculik Syifa supaya bisa memperko*sanya. Tapi jika dilakukan seorang diri, rasanya dia tidak akan bisa. Selain itu, dia juga tak punya mobil.
Kedua teman Beni ingin membantu karena memang diberikan iming-iming. Tapi ini bukan soal uang, melainkan soal kebutuhan biologis.
"Kamu yakin, di sini tempat yang aman, Ben?" tanya pria berjaket hitam. Saat melihat Beni tengah membaringkan tubuh Syifa secara perlahan di lantai yang beralaskan karpet merah.
"Yakinlah. Siapa juga yang curiga, sih." Beni tersenyum menyeringai, lalu berjongkok dan membelai mesra pipi kanan Syifa yang tampak merah.
"Tapi aku takut ketahuan, apalagi sampai ketahuan Bapaknya Syifa. Bisa-bisa kita dibakar, Ben." Teman Beni yang memakai kaos merah terlihat ketakutan. Wajahnya pun berkeringat banyak.
__ADS_1
Meski dia juga ikut penasaran, ingin merasakan tubuh gadis yang paling cantik di RT tempat dirinya tinggal—tapi nyatanya ada rasa takut di dalam dada. Sebab apa yang akan dia dan temannya lakukan adalah sebuah tindakan kejahatan. Apalagi, Syifa masih perawan.
"Iya, Ben. Udah gitu pas kamu culik Syifa ... ada yang tau. Kan itu nggak aman," tambah temannya yang memakai jaket.
"Dia hanya anak kecil. Kalian nggak perlu khawatirkan soal itu," sahut Beni yang terlihat yakin—jika misinya akan berhasil.
Dia tak peduli, jika memang tidak berjodoh dengan Syifa. Tapi yang jelas, Beni sudah bisa mendapatkan kesuciannya.
Itu sudah lebih dari cukup, untuk menghilangkan rasa penasarannya selama ini. Sebab selama satu tahun berpacaran, jangankan berhubungan badan, dicium saja Syifa tak pernah mau.
"Sekarang kalian pergi tinggalkan aku dan Syifa. Aku lah yang lebih dulu mencetak gol, barulah nanti bergilir ke kalian!" perintahnya sambil melepaskan jaket jeans berwarna hitamnya. Kemudian menaruhnya di bawah kepala Syifa, dijadikan alas.
"Jangan lama-lama, ya, Ben. Aku dan Juned udah nggak sabar ingin coba juga," ucap pria berjaket hitam seraya menepuk pundak kanan Beni.
"Iya. Jangan masuk sebelum aku selesai pokoknya!"
Kedua temannya langsung menganggukkan kepala. Lantas melangkah keluar dari kamar itu, kemudian menutup pintunya dengan rapat.
Dengan cahaya remang-remang, dan hembusan angin yang menerpa lewat jendela berlubang, Beni dengan cepat melucuti seluruh benang di tubuhnya. Dia benar-benar sudah tidak sabar, ingin cepat menggagahi mantan kekasihnya itu.
"Sebelum kamu menikah dengan orang lain, kamu harus memberikanku jatah mantan. Itu baru, mantan yang baik. He he he." Beni terkikik sendiri. Merasa senang.
Setelah tubuhnya polos dengan sempurna, kini giliran tubuh Syifa yang akan dia buat polos sama seperti dirinya.
__ADS_1
...Mana ini Om Joenya, calon istri mau diperkaos tuh 🙈...