Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
48. Nanti siang datang ke rumahku!


__ADS_3

Pagi hari di rumah sakit.


"Bapak sudah baik-baik saja. Sudah boleh pulang, tapi dengan catatan untuk tidak memakai celana terlebih dahulu. Dan jangan lupa untuk rutin minum obat dan menggunakan salep," jelas Dokter pria berkacamata panjang lebar. Dia baru saja selesai memeriksa keadaan Joe.


"Kalau aku nggak pakai celana, nanti aku dikira orang gila dong, Dok?" tanya Joe yang merasa tak habis pikir dengan saran sang dokter.


"Pakai sarung saja, Pak, tapi tanpa celana dalaam," sahut Dokter. "Tongkat Bapak ini nggak boleh terkena gesekan, itu akan melukainya. Bisa susah kering nanti."


"Dokter benar, Pak." Sandi ikut menyahut, dia juga berada di sana. Hampir semalaman, dia terus bolak balik ke kamar Joe dan Robert. Untuk mengecek dan memastikan, jika keduanya baik-baik saja. "Saya kebetulan belikan Bapak sarung juga. Nanti saya bantu pakaikan." Tangan Sandi terulur ke arah nakas, lalu mengambil paper bag dan merogoh ke dalam. Sebuah sarung hitam polos dia tunjukkan.


"Tapi masa aku pakai sarung doang? Kalau misalkan melorot bagaimana, San?" Joe tampak meringis. Selain merasakan perih pada tongkatnya, dia juga membayangkan jika sarungnya melorot dan dilihat orang.


Syifa sudah melihatnya, jangan sampai orang lain juga. Rasanya sangat malu. Harga dirinya seperti sudah tidak ada.


"Nanti saya carikan Bapak sempaak khusus untuk sunat. Kalau ada nanti saya belikan," ucap Sandi.


"Tapi akan lebih bagus ... Pak Joe biarkan pakai sarung saja, Pak, tanpa daleman," sahut Dokter. "Karena supaya cepat kering."


"Memangnya, kalau hanya pakai sarung ... keringnya berapa lama, Dok?" tanya Joe penasaran.


Selain itu dia juga memikirkan tentang pekerjaannya di kantor. Pastinya, Joe tidak bisa pergi bekerja, sebab tak mungkin juga ke kantor dengan hanya menggunakan sarung. Malu rasanya.


"Umumnya 10 hari, Pak, tapi ada juga yang sampai dua Mingguan," jawab Dokter.


"Ah, lama juga, ya? Kukira hanya sehari dua hari saja," keluh Joe sambil menghela napas dengan gusar. "Mana dibawa kencingnya juga ikut perih. Mandi apalagi," tambahnya dengan sedih.


"Memang begitu, Pak. Tapi kalau sudah sembuh ... tongkat Bapak akan normal lagi. Malah, bentuknya makin bagus dibanding sebelumnya," ungkap Dokter.


"Anggap saja Bapak seperti operasi menjadi perjaka lagi. Kan hasilnya nanti buat istri baru Bapak, pasti dia senang saat melihatnya." Sandi berujar sedemikian rupa supaya Joe mampu melewati semuanya. Tidak mengeluh dan tentunya tetap semangat.


'Aku kepengennya Syifa, yang menjadi istri baruku,' batinnya penuh harap. "Eh ngomong-ngomong ... Syifa dan Abinya ke mana? Dari pas bangun tidur aku nggak lihat mereka?" Joe menatap ke arah pintu. Berharap jika dua orang yang dia tanyakan itu berada diluar.


Dia juga sejujurnya masih penasaran, dengan alasan Abi Hamdan yang tiba-tiba datang langsung menonjoknya hingga pingsan.


"Mereka dari semalam sudah pulang, Pak. Tapi kalau boleh tau ... sebenarnya Bapak dan Bu Syifa ada masalah apa, sih? Kok Abinya Bu Syifa datang-datang langsung nonjok wajah Bapak?" tanya Sandi heran. Semalam saat Abi Hamdan, Syifa dan Pak RT mengobrol—dia juga ikut mendengar semua percakapan mereka. Hanya saja, Sandi bingung dan belum paham betul dengan perkaranya.


"Aku juga nggak tau." Joe menggelengkan kepalanya. "Mungkin, itu gara-gara Syifa ada di rumah sakit. Kan dia nggak seneng banget sama aku, San," tambahnya menebak.


"Oh ...." Sandi mengangguk-anggukkan kepalanya.


*

__ADS_1


*


*


Setelah berganti pakaian dan memakai sarung, Joe dan Sandi menuju ruang inap Robert.


Semalaman dia meninggalkan bocah itu, Joe yakin—jika Robert pasti menanyakan dirinya kepada Sandi saat sudah terbangun dari tidurnya.


"Uuhh ... katanya aku sudah baik-baik saja. Tapi nyatanya aku susah jalan, mana sakit lagi," gerutu Joe lirih.


Dia berjalan tertatih-tatih sambil memegang sarung yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Langkahnya juga terlihat mengangkang dan menjadi pusat perhatian orang-orang di sana.


"Nanti kalau udah beberapa hari jalannya nggak akan sakit lagi kok, Pak," sahut Sandi.


"Dulu, pas kamu disunat ... sembuhnya berapa hari, San?" Joe menoleh, kemudian kakinya dan kaki Sandi melangkah masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka pintunya. Mereka menuju lantai 2, tepat dimana kamar inap Robert berada.


"10 hari, Pak," jawab Sandi.


*


Saat sudah sampai di depan kamar inap, seorang suster pun datang menghampiri mereka berdua. Sehingga menghentikan langkah kaki keduanya.


"Selamat pagi Pak Jonathan," sapa seorang suster wanita seraya tersenyum manis menatap Joe dan memerhatikan sarung yang dia kenakan.


"Bapak diminta Dokter Spesialis Onkologi untuk ke ruangannya. Beliau ingin membahas masalah hasil tes darah, karena hasilnya sudah keluar," jelasnya.


"Kapan anakku darahnya diambil, Sus?"


"Tadi pas Subuh, Pak. Dan sekarang sudah keluar hasilnya," jelas Suster.


"Oh, terus ... di mana ruangan Dokter Onkologinya, Sus?" tanya Joe yang tidak tahu.


"Ayok ikut saya, Pak," ajak Suster seraya melangkah lebih dulu.


"Aku titip Robert sebenar ya, San. Kamu langsung masuk saja dan temani dia."Joe berbicara kepada Sandi sambil menunjuk pintu kamar inap Robert, kemudian melangkah cepat mengejar Suster yang hampir lepas dari pandangannya.


*


Tok! Tok! Tok!


Suster mengetuk pintu ruangan dokter sebelum dirinya membuka pintu. Perlahan dia pun melebarkannya.

__ADS_1


"Pagi, Dok, ini Pak Jonathannya," ucap Suster yang berbicara dengan dokter berkacamata. Pria berjas putih itu tengah duduk di kursi di dalam ruangannya.


"Biarkan dia masuk. Terima kasih, Sus," sahut Dokter sambil tersenyum menatap Joe.


"Sama-sama." Suster itu membungkuk sopan, lantas melangkah pergi dari sana.


Joe pun melangkah masuk ke dalam sana, kemudian menutup pintunya dengan rapat.


"Silahkan duduk, Pak," ucap Dokter seraya menunjuk kursi kosong di depannya, yang terhalang oleh meja persegi


"Iya, Dok." Joe mengangguk.


Namun, baru saja kakinya hendak melangkah menuju kursi, tiba-tiba saja terdengar suara deringan ponsel miliknya yang berada di saku jas.


Segera, pria itu pun merogohnya ke dalam. Ternyata setelah dicek, itu adalah sebuah panggilan masuk yang bertuliskan nama 'Bu Syifa Calon Mommy Baru'


'Syifa?! Sejak kapan aku menyimpan nomornya?' batin Joe heran. Namun, terlihat jelas kedua sudut bibirnya terukir. Hatinya berbunga-bunga dan jantungnya pun ikut berdegup kencang.


"Dok, mohon maaf ... aku izin angkat telepon dulu boleh, nggak? Takut penting soalnya," ucapnya meminta izin.


"Boleh, silahkan, Pak. Angkat diluar saja," sahut Dokter dengan anggukan kepala.


Joe segera keluar dari ruangan itu, kemudian menutup pintu. Setelahnya, dia langsung mengusap layar benda pipih itu ke atas untuk menjawab telepon.


"Halo, Fa, selamat pagi," sapa Joe dengan kedua pipi yang tampak merona.


"Aku Abinya." Terdengar, suara datar seorang laki-laki. Dan memang benar, dia adalah Abi Hamdan.


"Pak Hamdan?!" Alis mata Joe seketika bertaut. Debaran jantungnya pun kini berubah menjadi harap-harap cemas. Ada perasaan takut yang entah karena apa. Dia memang sering seperti itu, jika bertemu atau mengobrol dengan pria itu. 'Kok Abinya? Tapi di sini namanya Syifa.'


"Kapan kau keluar dari rumah sakit?"


"Memangnya kenapa, Pak?" tanya Joe heran.


"Aku tanya padamu, kenapa kau justru berbalik tanya?!" omel Abi Hamdan. Suaranya sekarang terdengar begitu nyaring.


"Maaf," ucap Joe lirih. "Aku masih ada di rumah sakit, Pak, tapi aku sudah baik-baik saja."


"Kalau sudah baik-baik saja kenapa nggak pulang?! Oh ... kau berharap Syifa datang menjengukmu, ya?" tuduh Abi Hamdan sinis.


"Nggak kok," sahut Joe. Namun, dalam hati dia memang berharap Syifa datang. Hanya saja untuk menjenguk Robert, bukan dirinya.

__ADS_1


"Alasan!" tukasnya marah. "Oh ya, aku ingin kau nanti siang datang ke rumahku!" Entah ini sebuah permintaan atau perintah, tapi suara Abi Hamdan terdengar begitu kencang hingga membuat gendang telinga Joe sakit.


...Cieee Abi, katanya ga suka, kok suruh ke rumah sih, Om Joe-nya 🤣🤣...


__ADS_2