Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
30. Di mana Syifa?


__ADS_3

"Karena dia orangnya sangat sombong. Aku nggak suka banget sama pria yang sombong, Pak. Dia juga sampai merendahkan gajiku yang sebagai guru, lalu membandingkan dengan uang jajannya yang banyak," gerutu Syifa kesal. Jelas dia berkata demikian, sebab sama sekali dia tak mau kalau sang Abi berniat menjodohkannya. Apalagi dengan pria congkak seperti Fahmi.


"Dia orang kaya memangnya?" tanya Joe.


"Menurutku sih, nggak, yang kaya itu hanya Papanya."


"Terus, apa Abimu tau kalau dia orangnya sombong, Fa?"


"Dia ...." Belum sempat Syifa melanjutkan ucapannya, tapi tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar. Kemudian tak berselang lama, pintu itu pun dibuka.


Ceklek~


"Selamat malam Dek Robert, Pak Jonathan ...," sapa seorang suster yang baru saja masuk dengan mendorong meja troli berisi makan malam. "Saya ingin mengantar makan malam untuk Dek Robert, sebelum dia tidur," tambahnya sambil tersenyum.


"Malam juga, Sus," jawab Joe yang ikut tersenyum.


Syifa hendak berdiri saat Suster itu mendekatkan meja troli ke arahnya. Akan tetapi tangan Robert cepat-cepat menahan.


"Ibu duduk saja. Robert mau disuapi sama Ibu," pintanya lirih.


"Makannya disuapi Daddy saja, Rob," ucap Joe seraya meraih mangkuk di atas troli. Yang berisi sup krim jagung.


"Nggak mau." Robert menggelengkan kepalanya.


"Nggak apa-apa, Pak," sahut Syifa sambil tersenyum. Kemudian meriah mangkuk ditangan Joe. "Biar aku yang suapi Robert."


"Adek masih sesak napas, nggak?" Suster mendekat ke arah Robert, lalu menyentuh ventilator diwajahnya.


"Sedikit, Sus," jawab Robert pelan. "Tapi Robert nggak betah."


"Dilepas saja dulu nggak apa-apa, selagi makan. Nanti pasang lagi pas sudah makan atau mau tidur." Suster dengan perlahan melepaskan benda tersebut. Kemudian menaruhnya di atas bantal. "Kalau begitu saya permisi, ya, Dek Robert ... Pak Jonathan," ujar Suster itu lagi. "Habis makan jangan lupa minum obatnya."


"Iya, Sus." Joe mengangguk kemudian tersenyum. Suster itu pun lantas melangkah keluar dari sana.

__ADS_1


"Ayok buka mulutnya. Kamu harus makan yang banyak biar cepat sembuh," ucap Syifa yang mulai menyendokkan sup krim pada mangkuk. Lalu mendekatkan ke arah bibir Robert.


Bocah itu langsung membuka mulutnya, lalu melahapnya dengan perasaan senang.


"Enak?" tanya Syifa. Dia tersenyum menatap Robert.


"Sebenarnya nggak enak, Bu. Robert lebih suka bubur abon. Tapi berhubung Ibu yang suapi ... jadi rasanya lebih enak, ngalahin bubur abon," kekeh Robert kemudian membuka mulutnya kembali, saat diberikan suapan yang kedua.


Joe terdiam dan memerhatikan keduanya. Dia tersenyum dengan hati yang terasa hangat. Tentunya, dia juga ikut bahagia melihat Robert bahagia.


'Padahal dari kemarin-kemarin Robert susah banget disuruh makan. Apalagi makanan rumah sakit yang dia sendiri nggak suka. Tapi gara-gara ada Syifa ... dia langsung bersemangat,' batin Joe. Tangan kanannya terulur untuk mengusap pipi kanan Robert. 'Kamu cepat sembuh ya, Nak, Daddy ingin melihatmu tumbuh dewasa. Semoga saja Daddy secepatnya mengabulkan permintaanmu untuk mendapatkan Mommy baru.'


Pandangan mata Joe seketika beralih ke arah Syifa. Gadis itu terlihat begitu telaten dalam menyuapi, juga sangat lembut.


'Syifa benar-benar perempuan yang sangat baik dan sempurna. Dan bukan hanya wajahnya saja yang mirip Sonya, tapi juga hatinya,' batin Joe sambil mengulum senyum. 'Kira-kira ... aku bisa menemukan perempuan lain yang seperti dia nggak, ya? Sebenarnya sih kalau boleh jujur ... dalam hati ada rasa nggak rela, jika suatu saat Syifa menikah dengan orang lain. Tapi aku sendiri bingung musti bagaimana? Bagaimana caraku supaya aku dan dia bisa bersatu?'


Padahal, Joe sudah pernah mengatakan kepada Robert untuk tidak lagi mengharapkan Syifa. Tapi nyatanya dia sendiri masih berharap, jika suatu hari nanti akan ada keajaiban—supaya dia dan Syifa bisa bersatu.


"Bu Syifa kelihatan sayang banget sama Dek Robert ya, Pak," ujar Sandi kepada Joe yang baru saja keluar dari kamar. Tapi mata dan kepala pria bermata sipit itu terus memerhatikan ke arah sana.


"Bapak ketemu Bu Syifa di mana? Apa Bapak ke rumahnya?" tanya Sandi penasaran.


Joe menggelengkan kepala. "Aku ketemu nggak sengaja di restoran yang baru buka di dekat sini. Eh, nggak taunya dia malah ngikutin sampai sini dan katanya mau jenguk Robert, San."


"Oh. Semoga dengan begini hubungan kalian makin baik, ya, Pak. Saya akan selalu do'a kan yang terbaik," ungkap Sandi.


"Amin, mudah-mudahan." Joe mengangguk.


"Oh ya, Pak ... sudah ada tiga orang yang menghubungi saya. Mereka-mereka mengatakan jika mirip dengan istri Bapak," ujar Sandi memberitahu.


"Posternya sudah disebar memangnya, San?"


"Sudah. Malam Bapak ngomong, besoknya langsung dibuat dan disebar Pak."

__ADS_1


"Cepet juga, ya? Coba kamu temui dulu untuk memastikannya. Mereka beneran mirip atau nggak," pinta Joe.


"Iya, Pak." Sandi mengangguk.


***


Sementara itu di restoran, pesanan makan malam Fahmi dan semuanya sudah tersaji rapih di atas meja.


Akan tetapi, sejak tadi Abi Hamdan sibuk memerhatikan sekitar restoran, sebab mencari-cari keberadaan Syifa yang tak terlihat batang hidungnya.


"Umi, di mana Syifa?" tanya Abi Hamdan yang baru saja menghampiri istrinya. Dia berbicara dengan lirih.


"Tadi dia izin mau ketemu Pak Joe, Bi," jawab Umi Maryam. "Tapi nggak tau, belum balik-balik sampai sekarang." Menatap ke arah pintu keluar. Umi Maryam memang sempat melihat anaknya berlari keluar mengejar Joe, tapi sampai disitu saja. Selebihnya tidak tahu.


"Ketemu dengan Pak Joe?!" Abi Hamdan membelalakkan matanya. Dia tampak terkejut, tapi wajahnya seketika merah seperti marah. "Yang benar saja?! Dan kenapa Umi mengizinkan?"


"Tadi orangnya ada di restoran, Bi," sahut Umi Maryam. "Nggak sengaja Umi melihat dan ngomong sama Syifa. Terus Syifa bilang mau izin sebentar, mau nanyain tentang Robert yang nggak masuk sekolah tadi pagi."


"Ketemunya di mana?"


"Tadi Umi lihat di sana." Umi Maryam menunjuk ke arah meja kosong bekas Joe tadi. "Terus mereka berdua keluar dari restoran dan setelah itu Umi nggak tau lagi," jelasnya kemudian.


"Di mana Syifa, Bi?" tanya Fahmi. Sejak tadi dia baru selesai bermain ponsel dan sekarang menatap ke arah Abi Hamdan. "Ayok kita makan malam. Mumpung baru matang, kalau sudah dingin keburu nggak enak," ajaknya.


"Sebentar, ya, Nak Fahmi. Abi panggilkan Syifa dulu," pamit Abi Hamdan. Lantas melangkah cepat keluar dari restoran.


Tepat di depan sana, Abi Hamdan langsung mencari anaknya. Menoleh ke kanan dan kiri.


"Mana si Syifa?! Bisa-bisanya dia menemui si Jojon di sini. Padahal Robert juga besok pasti sekolah," gerutunya kesal. Abi Hamdan pun merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel. Setelah itu dia mencoba menelepon.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, mohon ...."


Abi Hamdan langsung berdecak kesal kala menerima suara operator yang mengatakan nomor Syifa tidak aktif.

__ADS_1


"Kenapa nomornya nggak aktif, sih? Terus bagaimana sekarang? Kasihan Nak Fahminya dong, aku juga nggak enak sama Pak Haji Samsul," gumam Abi Hamdan menggerutu.


...Yuk, bisa, yuk, kasih vote sama hadiahnya. Ini novel masih sepi banget 🙈...


__ADS_2