Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
11. Abi kenalkan kamu sama Fahmi


__ADS_3

"Kok Abi tiba-tiba memintaku untuk menolak? Memangnya Abi melihat Pak Joe itu bukan orang baik, ya?" Dari dulu, setiap kali ditembak laki-laki dan diketahui oleh sang Abi—pria itu pasti langsung memintanya untuk menolak.


Selain memang tidak dibolehkan pacaran, Abi Hamdan juga menilai beberapa pria itu tidak baik. Dan tentu tidak cocok bersanding dengan Syifa.


"Kalau tentang baik nggaknya Abi sendiri nggak tau. Tapi sepertinya nggak perlu Abi jelaskan kamu mengerti alasannya apa," ungkapnya dengan wajah yang mendadak menjadi masam. "Selain itu ... dia juga seorang duda beranak satu, nggak cocok dengan kamu yang masih gadis." Abi Hamdan lantas berdiri, kemudian melangkah masuk ke dalam kamarnya.


'Pasti yang utama karena dia non muslim,' batin Syifa menebak. 'Tapi aku sendiri nggak ada hati kok sama Pak Joe, jadi Abi tenang saja.'


***


Malam hari di kamar Joe.


Sama seperti kemarin, lagi-lagi Joe tidak bisa tidur padahal jam sudah menunjukkan pukul tengah malam.


Dia saat ini sedang berbaring di atas kasur bersama anaknya. Robert terlihat sudah pulas dalam pelukan, sedangkan dia sendiri—jangankan pulas tertidur, menutup mata pun rasanya engan.


Itu semua terjadi karena lagi-lagi bayangan wajah Syifa berada di dalam otaknya. Tidak ingin dipikirkan, tapi terus menerus kepikiran.


'Kenapa, sih, si Syifa yang berwajah Sonya itu terus menganggu otakku. Mana tadi sore dia cantik banget lagi pakai kerudung hitam. Ah bagaimana ini?' Joe mengusap wajahnya berkali-kali kala jantungnya tiba-tiba berdebar. Dilubuk hati kecilnya, ada rasa ingin memiliki. 'Kayaknya memang aku harus mencoba membuka hati, mungkin memang Robert ada benarnya.'


Joe menarik selimut sampai sebatas dada. 'Besok kalau ketemu Syifa, aku akan bicara empat mata sama dia. Dan coba sekalian kutembak, kali aja dia suka padaku,' batinnya lalu mulai mencoba memejamkan mata.


****


Keesokan harinya.


"Berangkat ngajar, Nona?" tanya seorang pria pengangkut sampah yang baru saja turun dari mobil truknya. Dia menyapa Syifa yang melangkah keluar dari rumah.


"Iya, Pak." Syifa mengangguk dan tersenyum. "Eh, Pak, tunggu dulu sebentar!" cegahnya saat melihat pria itu hendak mengangkat tong sampah di depan rumah.


Itu dikarenakan Syifa melihat sebuah buket bunga mawar yang terlihat cantik di dalam sana. Segera, dia pun mengambil bunga tersebut.


"Itu 'kan kotor, Nona, kok diambil?" tanya pria itu heran. Lantas membawa tong sampah itu untuk dia buang isinya ke dalam truk, lalu meletakkannya kembali ke tempat semula.


"Kok ada bunga di tempat sampah? Bunga dari siapa kira-kira?" gumam Syifa bertanya-tanya. Dia tak berani menghirup aromanya, sebab takutnya bau sampah. Tapi yang Syifa lakukan sekarang adalah merogoh ke dalam, seperti mencari-cari sesuatu.

__ADS_1


Ternyata dia pun menemukan kartu ucapan berbentuk hati. Setelah dibuka ternyata tulisannya adalah.


"Syifa, semoga kamu suka dengan bunga ini." Jonathan Anderson~


'Ternyata bunga ini dari Pak Joe dan untukku? Tapi kenapa malah ada di tong sampah?' batin Syifa bertanya-tanya.


"Syifa! Ngapain kamu ngambil bunga itu?!" Tiba-tiba terdengar suara bariton milik Abi Hamdan. Pria yang baru saja keluar dari pintu rumahnya itu lantas berlari cepat menghampiri, kemudian merebut buket bunga tersebut. "Ini 'kan sudah masuk ke tong sampah, kotor Syifa," tegurnya. Langsung saja dia melempar buket bunga itu ke dalam truk, sebelum truk sampah itu melaju pergi dari rumahnya.


"Apa kemarin Pak Joe memberikan bunga ini sama Abi terus Abi buang?" tebak Syifa penasaran.


"Iya." Abi Hamdan mengangguk.


"Tapi kenapa dibuang, Bi?"


"Nggak penting. Ngapain ngasih bunga segala."


"Harusnya jangan Abi terima saja, daripada dibuang. Kan sayang mubazir. Udah gitu bunganya cantik banget dan kelihatan mahal, sayang banget sampai dibuang." Wajah Syifa seketika sendu.


Baru pertama kali seumur hidupnya, Syifa diberikan buket bunga. Tapi sayangnya belum sampai ke tangan, sudah dibuang duluan.


Tak berselang lama, dia pun keluar dari rumahnya dengan mendorong motor bebeknya. Di atas kepala sudah terpasang helm dan dia juga memberikan helm satunya kepada Syifa.


"Ayok pakai, kita berangkat sekarang," titahnya kemudian naik ke atas jok motor lebih dulu.


Syifa langsung memakainya, lalu membonceng di belakang.


"Udah?" tanya Abi Hamdan yang sudah menyalakan mesin motor.


"Udah." Syifa mengangguk. Dan kendaraan roda dua itu pun melaju pergi. "Abi kok tumben mau anterin Syifa ngajar?" tanya Syifa heran.


Sebelum berangkat, dia bahkan sudah bersalaman dan mengucapkan salam kepada kedua orang tuanya. Tapi aneh memang, mengapa tiba-tiba Abi Hamdan ingin mengantarkannya. Padahal setiap pagi dia selalu sibuk menjadi imam masjid untuk sholat Dhuha, sampai tak pernah sempat mengantar Syifa mengajar di sekolah.


"Nggak apa-apa, sesekali Abi antar kamu. Udah lama juga, kan? Nanti kalau ada rezeki Abi belikan kamu motor, ya, Fa. Biar kamu nggak bolak balik naik angkot mulu."


"Lebih enak naik angkot, daripada naik motor, Bi," sahut Syifa.

__ADS_1


"Lho, kenapa? Bukannya lebih enak karena nggak macet, ya? Kamu 'kan selalu bilang kena macet."


"Kadang-kadang. Tapi nggak setiap hari. Enaknya naik angkot 'kan nggak kehujanan dan kepanasan, Bi." Syifa mengeratkan tangannya pada kantong jaket Abi Hamdan.


"Sekarang umurmu berapa, Fa?"


"Dua puluh empat tahun, Bi. Kenapa memangnya?"


"Usia dua empat untuk perempuan sudah sangat cukup untuk berumah tangga. Bagaimana nanti Abi kenalkan kamu sama Fahmi, ya, setelah kamu pulang mengajar," usul Abi Hamdan seraya tersenyum menatap anaknya dari kaca spion.


"Siapa Fahmi?" Alis mata Syifa bertaut.


"Anak bungsunya Haji Samsul, masa kamu nggak tau? Yang kuliah di Kairo itu lho."


"Oh, yang katanya kuliah di Mesir itu, Bi?" tanya Syifa.


"Iya, kebetulan dia sudah lulus S2 seminggu yang lalu dan kemarin sudah pulang ke Indonesia," sahut Abi Hamdan. "Terus semalam setelah sholat Maghrib ... Abi sempat mengobrol dengan Papanya Fahmi, katanya Fahmi nanyain kamu dan minta nomor teleponmu."


"Ngapain nanyain aku?"


"Nggak tau, mungkin ada perlu sama kamu."


"Terus Abi kasih nomorku?"


"Kasih. Dia juga ada rencana ingin main ke rumah katanya, Fa." Abi Hamdan tersenyum.


"Tapi aku sama Kak Fahmi nggak saling mengenal, Bi. Wajahnya juga udah rada lupa."


Fahmi ini tinggal di RT sebelah dan anak orang kaya. Selain itu dia juga sudah 9 tahun pergi ke Mesir untuk melanjutkan pendidikannya.


Syifa pun dari dulu hanya tahu nama dan wajah saja, tapi tidak pernah bertutur sapa meskipun pernah ketemu.


"Nggak apa-apa. Nanti kalau sudah ketemu juga kamu inget lagi," ujar Abi Hamdan.


...Wah, Abi Hamdan garcep 🤣 pegimane nasib Om Joe sipit 🙈...

__ADS_1


__ADS_2