Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
54. Ini mustahil!


__ADS_3

"Dipercepat?" Umi Maryam mengulang kata itu dengan tatapan heran. "Maaf sebelumnya, tapi apa suami saya belum cerita sama Pak Haji? Atau .... Pak Haji sendiri belum tahu?"


"Cerita apa, Bu? Dan nggak tahu gimana maksudnya?" Pak Haji Samsul terlihat seperti kebingungan.


Belum tahu yang Umi Maryam maksud adalah belum tahu dari orang-orang. Sebab dia yakin, jika gosip yang disebarkan oleh ibu-ibu biasanya akan cepat diketahui banyak orang.


"Tentang Syifa dan Pak ...." Ucapan Umi Maryam seketika terhenti saat tiba-tiba saja ada seorang bocah yang menghamburkan pelukan kepadanya.


"Oma!!"


Umi Maryam langsung menurunkan pandangan, dan ternyata yang memeluknya adalah Robert. Bocah itu datang tidak sendiri, melainkan bersama Joe dan Abi Hamdan yang langsung mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum!"


"Walaikum salam," sahut Umi Maryam dan Pak Haji Samsul secara bersamaan.


"Pak Haji kok ke sini? Ada apa, ya?" tanya Abi Hamdan heran. Tangan kanannya terangkat saat Umi Maryam meraih dan mencium punggung tangannya.


"Ada sesuatu hal yang ingin aku obrolkan sama Ustad. Ini mengenai Syifa dan Fahmi," ujar Pak Haji Samsul.


'Syifa dan Fahmi?' Joe menghentikan langkahnya di samping Abi Hamdan. Dia lantas tersenyum, ketika Pak Haji Samsul menatap ke arahnya. 'Siapa dia kira-kira?'


'Apa Pak Haji akan berbicara untuk membatalkan perjodohan?' batin Abi Hamdan. Sejujurnya, dia sendiri sudah mempunyai niatan ingin datang ke rumah pria itu. Membahas masalah pembatalan perjodohan.


Tapi nanti, setelah selesai bertemu dengan Joe. Namun justru—pria itu malah yang datang duluan ke rumahnya, mana bukan waktu yang tepat. Sebab masih ada Joe di sana.


Abi Hamdan ingin menyelesaikan masalah ini satu persatu.


"Tapi ngomong-ngomong ... siapa dia, Pak? Kayaknya saya baru melihatnya." Pak Haji Samsul memerhatikan wajah Joe.


"Namaku, Joe, Pak." Tangan kanan Joe langsung terulur ke arahnya, hendak mengajaknya berkenalan. "Aku calon suaminya—"


"Kita masuk saja ke dalam, Pak!" Abi Hamdan langsung memotong perkataan Joe, telunjuknya mengarah pada pintu utama rumahnya. "Kita ngobrol di dalam biar enak."


"Oh gitu. Baiklah." Pak Haji Samsul mengangguk. Lantas dirinya berdiri, kemudian melangkah masuk lebih dulu saat pintu rumah sederhana itu dibukakan oleh Abi Hamdan.

__ADS_1


Joe juga melangkah. Niatnya ingin ikut masuk, sayangnya di ambang pintu Abi Hamdan sudah menghalanginya.


"Kau dan Robert pulang saja dulu, Jon!" seru Abi Hamdan dengan nada mengusir.


"Kok pulang? Katanya tadi Bapak mau memberikanku syarat supaya bisa menikahi—"


"Iya. Tapi nanti," selanya cepat. Abi Hamdan selalu saja menyela ucapan Joe. Dia juga mendorong dada pria itu sedikit sebab menghalangi pintu yang akan dia tutup. "Sekarang aku ada tamu penting dan nggak bisa diganggu, Jon!"


'Aneh banget Pak Hamdan,' batin Joe bertanya-tanya. 'Dan kenapa juga ucapanku terus dipotong? Aku 'kan udah penasaran banget, pengen tau dan pengen cepat memenuhi syarat supaya bisa menikahi Syifa. Pasti Robert juga nggak sabar banget, kepengen melihat aku menikah lagi dengan Mommy idamannya.' Melirik ke arah Robert. Bocah itu tengah diajak duduk oleh Umi Maryam pada kursi plastik.


"Robert nggak mau pulang, Dad!" seru Robert dengan gelengan kepala.


"Daddy juga nggak mau pulang, Rob." Joe melangkah menghampiri anaknya, lalu duduk di kursi plastik di sampingnya. Sejak tadi, Umi Maryam terus memerhatikan Joe yang memakai sarung. Merasa aneh menurutnya.


'Tumben, Pak Joe pakai sarung. Oh, apa disuruh sama Abi?!' batin Umi Maryam.


"Kita tunggu di sini sampai tamu Opa Hamdan pulang, ya?" tambah Joe. Sang anak langsung mengangguk semangat.


"Iya." Pandangan mata Robert pun seketika tertuju ke arah beberapa potong bolu marmer di atas piring, pada meja plastik di depannya. Perlahan dia menelan saliva, lalu menatap ke arah Umi Maryam. "Oma, ini bolu punya siapa? Apa punya Opa tadi?"


"Nggak usah merepotkan, Bu," sahut Joe menolak. Dia sendiri memang tidak haus.


"Robert kepengen air putih saja, Oma. Tenggorokan Robert kering banget." Robert meraih satu potong bolu, dan tangan sebelahnya mengelus leher.


"Air dingin, sedang atau hangat, Nak?" Umi Maryam mengambil segelas susu dan kopi milik tamunya yang pertama, kemudian meletakkannya kembali pada nampan. Ingin dia bawa masuk.


"Air dingin."


"Jangan dingin, hangat saja, Bu." Joe ikut menyahut. "Robert baru sembuh dari sakitnya, jadi jauh lebih bagus minum air hangat."


"Oh iya, Umi lupa." Umi Maryam mengangguk, lalu menatap Robert. "Syukurlah kalau kamu sudah sembuh dari penyakit mematikan itu, semoga kamu selalu sehat dan dilindungi sama Allah ya, Nak," tambahnya kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.


"Memangnya magh penyakit mematikan, Dad?" Robert bertanya dengan mulut yang terpenuhi bolu.


"Kalau udah kronis memang mematikan, Sayang," sahut Joe.

__ADS_1


"Berarti Robert kemarin kronis, ya?" Robert menatap sang Daddy.


"Iya, mangkanya dioperasi." Joe mengangguk-nganggukan kepalanya. "Tapi sekarang sudah sembuh kok."


*


*


Sementara itu di ruang tengah, Abi Hamdan dan Pak Haji Samsul tengah duduk di sofa. Abi Hamdan di sofa single, sedangkan Pak Haji Samsul di sofa panjang.


"Saya datang tadi sama Fahmi, Tad, tapi dia sekarang sedang pergi menjemput Syifa yang pulang mengajar," ujar Pak Haji Samsul yang memulai obrolan.


"Oh. Terus kalau boleh tau ... niat kedatangan Bapak sama Nak Fahmi apa, ya?" tanya Abi Hamdan penasaran.


"Ini, Tad, si Fahmi bilang dia sudah nggak sabar ingin cepat menikahi Syifa. Kalau bisa, besok kita harus memulai pesta pertunangan untuk mereka. Terus Minggu depannya mereka langsung menikah," jelas Haji Samsul panjang lebar.


"Maaf, Pak, sepertinya Syifa dan Nak Fahmi nggak bisa menikah," ujar Abi Hamdan. Sebenernya dia merasa tidak enak, selain itu juga tidak rela. Tapi mau bagaimana lagi? Memang sudah begini harusnya.


"Nggak bisa menikah?!" Kening Pak Haji Samsul tampak mengernyit. Heran mendengarnya. "Kenapa, Tad?"


'Apa Pak Haji Samsul benar-benar belum tau tentang masalah Syifa, ya? Apa Ibu-ibu nggak menyebarkan gosip?' batin Abi Hamdan bertanya-tanya. 'Tapi kalau emang nggak disebar, malah bagus. Aku jadi nggak malu.'


"Tad. Kok bengong??" tanya Pak Haji Samsul lagi yang mana membuat pria berkoko putih itu tersentak kaget.


"Ah, maaf, Pak!" seru Abi Hamdan dengan keterkejutannya.


"Apa alasan Ustad mengatakan Fahmi dan Syifa nggak bisa menikah? Apa ada masalah?" Pak Haji Samsul menerka dengan wajah penasaran.


"Syifanya nggak mau, Pak, jadi aku juga berniat ... eemm, mohon maaf sebelumnya ... aku ingin membatalkan perjodohan," ungkap Abi Hamdan dengan wajah bersalah.


"Lho, kok dibatalkan?!" tanyanya dengan mimik wajah tak percaya.


"Iya, sebenarnya aku juga nggak mau semua ini batal. Tapi Syifanya yang nggak mau sama Nak Fahmi, Pak. Mau maksa juga gimana? Susah." Abi Hamdan mengusap tengkuknya.


"Tapi kayaknya nggak mungkin deh, kalau alasannya karena Syifa nggak suka sama Fahmi. Fahmi 'kan pria sempurna, Tad. Jangankan seorang perempuan ... seekor semut saja nggak mungkin, kalau nggak suka sama dia. Ini mustahil!" Pak Haji Samsul geleng-geleng kepala, merasa tak percaya.

__ADS_1


...Idih lebaynya 🤣 Author aja ga suka sama Fahmi Pak Haji 😆...


__ADS_2