Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
20. Kakek tunawisma


__ADS_3

"Sandi, apa kamu tau foto ini kapan diambil?" tanya Joe saat sudah berada di dalam mobil.


Mobil miliknya itu melaju menuju arah jalan pulang dan Sandi lah yang mengemudi. Sedangkan dirinya, ada di belakang bersama Robert. Bocah itu masih tertidur pulas dalam pelukannya.


"Foto apa, Pak?" Sandi memutar kepalanya ke belakang sebentar, lalu memerhatikan selembar foto yang Joe tunjukkan. "Oh, itu kemarin, Pak, saat Adek Robert main ke rumah Bu Syifa," jawabnya.


"Pake hape siapa? Kata Robert dia nggak boleh bawa hape di sekolah."


"Pakai hape saya, kemarin Adek Robert sempat pinjam."


"Apa masih ada fotonya?" tanya Joe.


"Masih." Sandi menganggukkan kepala.


"Kirimkan ke aku ya, San."


"Baik, Pak, nanti kalau sudah sampai rumah."


"Ya." Joe mengangguk pelan, lalu menaruh foto itu kembali ke dalam saku baju anaknya. "Oh ya, San, satu lagi. Aku mau minta tolong padamu."


"Tolong apa, Pak?"


"Sewa orang untuk buatkan poster foto istriku. Terus disebar ke beberapa daerah. Seluruh Indonesia bila perlu," titah Joe.


Apa yang dia lakukan adalah usaha untuk mencarikan Robert Mommy baru, karena baginya Syifa bukanlah jodohnya.


"Poster gimana maksudnya? Kayak semacam orang hilang?" Sandi terlihat bingung dengan permintaan Joe. "Tapi, Pak, maaf sekali, kan istri Bapak sudah meninggal 7 tahun yang lalu."


"Iya, semacam untuk orang hilang. Tapi nanti kamu bikinnya dicari duplikat istriku, jadi mencari perempuan yang mirip dengan almarhumah Sonya," jelas Joe memberitahu.


"Oh. Nanti kalau misalkan sudah ketemu gimana? Apa mau Bapak nikahi?"


"Aku mau mengenalnya dulu, kalau cocok ya aku nikahi. Tapi poin pentingnya tulis juga agamanya harus Kristen, ya, San," jelas Joe.


"Iya, Pak," jawab Sandi dengan anggukan kesehatan. "Tapi itu berarti sekalian tulis nomor Bapak juga, ya, diposternya?"


"Nomormu saja, San, nomorku udah banyak ke sebar di sosmed. Nanti aku makin pusing," sahut Joe. "Kalau misalkan sudah ada, kamu pastikan dulu benar atau nggaknya orang itu mirip istriku. Barulah setelah itu kamu beritahu aku. Tapi tenang aja ... ini bayarannya beda dengan gajimu yang menjadi sopir."

__ADS_1


"Siap, Pak." Sandi mengangguk cepat. Bicara tentang uang, pasti dia sangat semangat.


"San ... coba deh berhenti dulu!" perintah Joe saat melihat ke arah jendela.


Tepat di sisi jalan, ada seorang kakek tunawisma yang tengah duduk selonjoran menyandar pada pohon besar. Di samping kakek itu ada sebuah karung, tapi yang Joe perhatikan disini dia tengah mengusap lehernya. Sepertinya dia haus.


"Mau apa, Pak?" tanya Sandi bingung, tapi dia langsung menghentikan mobilnya.


"Itu, kakek itu kasihan banget. Kayaknya dia lapar dan haus," ucap Joe seraya turun dari mobil.


"Kakek?!" Kening Sandi mengernyit. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Jalanan itu sepi sangat sepi, dan tak ada seorang Kakek yang Joe maksud. "Kakek yang mana, sih?"


Sekarang, Sandi melihat Joe tengah berjongkok di sisi jalan, dengan Robert yang masih tertidur dalam gendongannya.


"Kek, Kakek kenapa? Apa laper sama haus?" tanya Joe seraya memerhatikan wajah sang kakek.


Kulitnya putih dan sudah sangat keriput. Dia memakai jubah panjang berwarna putih dan peci putih, tapi jubah dan pecinya terlihat bersih sekali. Bahkan seperti pakaian baru.


"Iya, aku sangat haus," jawabnya sambil mengangguk. Suaranya terdengar serak dan seperti tertahan. Mungkin karena sangking keringnya tenggorokan.


"Nggak usah, Nak." Dia menggeleng. "Aku hanya butuh air saja. Apa kamu punya?" Kembali, Kakek tua itu meraba lehernya sendiri.


"Sebentar ...." Joe berdiri, kakinya melangkah menuju mobil lalu mengetuk kaca pada posisi di mana Sandi berada. Pria di dalam sana pun langsung menurunkan kacanya.


"Pak, ayok naik. Orang nggak ada siapa-siapa kok," ucap Sandi mengajak.


"Nggak ada siapa-siapa apanya, sih? Matamu buta, ya, San?" tegur Joe yang tak habis pikir. Padahal sudah jelas ada seorang Kakek yang terlihat tak berdaya. "Cepat ambilkan sebotol air yang masih disegel dan buka segelnya," titahnya kemudian.


Sandi langsung membungkuk ke bawah kursi di sampingnya. Di sana ada kardus air mineral. Segera, dia mengambil satu. Kemudian membuka segel dan memberikan kepada Joe.


"Aku nggak buta kok, Pak, tapi memang bener nggak ada Kakek-kakek," ucap Sandi seraya menatap ke arah dimana tadi Joe berjongkok.


Namun, sang bos tidak menghiraukannya. Joe melangkah kembali menghampiri Kakek itu. Yang masih duduk lemah di sana.


"Ini airnya, minum dulu, Kek," titah Joe seraya berjongkok dan mengulurkan sebotol air.


Kakek itu langsung meraihnya, kemudian menenggak sebotol air mineral itu sampai tandas tak tersisa. "Alhamdulillah, terima kasih banyak, Nak," ucapnya kemudian.

__ADS_1


"Sama-sama. Kakek sekarang ikut aku, kita makan di restoran," ajak Joe seraya meraih tangan sang Kakek. Tapi pria itu malah menarik tangannya hingga terlepas.


"Nggak usah, Nak. Ini saja sudah cukup," tolaknya. Kakek itu pun membuka karung yang sejak tadi berada di samping tubuhnya, lalu mengambil kantong kresek berwarna hitam yang entah apa isinya. "Ambil ini, untukmu. Tapi bukanya nanti kalau sudah sampai rumah, ya?" Dia memberikan kresek itu ke tangan Joe.


"Memangnya, apa isinya, Kek?" tanya Joe heran seraya menatap kresek.


"Alat untuk mengantarkanmu supaya mendapatkan istri baru dan tentunya untuk akhiratmu kelak, Nak," jawabnya yang terdengar ambigu. Dilihat sekarang Joe mengerutkan keningnya. Perlahan—kakek itu pun mengusap rambut kepala Joe dengan lembut, lalu berkumat-kamit entah membaca apa, karena sangking pelannya sampai Joe tak dapat mendengar. Kemudian, dia beralih mengelus rambut kepala Robert. "Jangan lupa bawa anakmu ke rumah sakit, dan semoga dia cepat sembuh, ya? Jangan sampai ikut ibunya."


"Ikut ibunya? Maksudnya bagaimana?" tanya Joe bingung.


Ucapan kakek tua itu lagi-lagi terdengar ambigu.


"Turuti saja apa yang aku katakan, Nak, karena itu baik untukmu."


"Tapi anakku nggak sakit, Kek." Joe menatap ke arah Robert yang masih tertidur pulas. "Ngapain juga aku musti ke rumah sakit dan ...." Ucapan Joe seketika menggantung kala menatap kembali ke arah sang Kakek. Tapi masalahnya di sini dia sudah tidak ada. Karungnya pun bahkan ikut tidak ada. "Lho, ke mana Kakek tua itu?"


"Pak! Ayok pulang! Saya takut kayaknya." Sandi turun dari mobilnya, kemudian menarik lengan Joe hingga membuatnya berdiri.


"San, Kakek itu kok hilang? Ke mana dia?" tanyanya bingung seraya menahan kakinya, sebelum Sandi membawanya masuk ke dalam mobil. Dia pun lantas menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari kakek itu berada.


"Nggak ada Kakek-kakek di sini, Pak, Bapak saja sejak tadi ngomong sendiri," ujar Sandi dengan bulu kuduk yang seketika berdiri.


Gegas, dia pun menarik Joe untuk masuk ke dalam mobil, setelah itu giliran dia yang masuk dan mengemudikan mobilnya lagi. Kali ini agak kencang.


"Ngomong sendiri apanya? Orang tadi sama Kakek-kakek kok, San." Joe terlihat bingung, apalagi mendengar ucapan Sandi tadi.


"Sumpah demi Allah, saya nggak lihat Kakek-kakek. Bapak hanya berhalusinasi saja kali."


"Yang berhalusinasi itu kamu kali, San. Jelas-jelas dia ada di sana. Dan dia ngasih ini kepadaku." Joe mengangkat tangan kanannya, yang masih memegang kresek pemberian kakek tadi.


Sandi menatap sang bos dari kaca depan mobil. "Itu plastik yang Bapak pungut dijalan. Coba buka saja, pasti isinya sampah."


"Masa sih sampah?!" Meski kakek tadi sudah memintanya untuk dibuka saat sudah sampai rumah, nyatanya Joe tidak menuruti. Sebab dia sendiri merasa penasaran ditambah Sandi juga berbicara dengan aneh menurutnya.


Namun saat dibuka, dia justru merasa bingung... sebab isinya adalah.....


...Ayok tebak, apa isinya 🤭...

__ADS_1


__ADS_2