
Abi Hamdan hanya menatap Joe, kemudian melanjutkan langkahya untuk mendorong motor.
"Tapi, Pak, motor Bapak sebenarnya kenapa?" Joe kembali bertanya. Dia juga melangkah cepat menghampiri.
Niat dia menghampiri Abi Hamdan memang ingin membantu, bukan karena ingin membahas Syifa.
Dia juga sudah sadar diri saat ditolak, dan langsung mengurungkan niatnya untuk menjalin hubungan dengan gadis itu.
"Motorku nggak kenapa-kenapa, Bapak nggak perlu khawatir," sahut Abi Hamdan dengan suara datar, bahkan sama sekali dia tak menatap ke arah Joe.
Akhirnya, pria bermata sipit itu masuk kembali ke dalam mobil. Kemudian melanjutkan untuk pergi ke gereja.
*
*
*
"Tuhan Yesus ... tolong sembuhkan lah Robert, angkat semua penyakitnya. Aku mohon sekali padamu. Jangan ambil dia dariku Tuhan, dia masih terlalu kecil," gumam Joe dengan air mata yang mengalir membasahi kedua pipi.
Kedua tangannya menangkup di atas dada dengan mata yang terpejam. Dia berdiri di hadapan patung Tuhan Yesus yang disalibkan.
"Jangan lupa bawa anakmu ke rumah sakit, dan semoga dia cepat sembuh, ya? Jangan sampai ikut ibunya."
Degh!
Jantung Joe seketika berdegup kencang kala mendengar seseorang berucap demikian. Cepat-cepat dia pun membuka mata, lalu menoleh ke samping kanan. Sebab asal suaranya dari sana.
Namun, saat dilihat justru tak ada siapa-siapa di sana. Dan memang kebetulan gereja itu sepi, saat datang tadi dia hanya melihat ada satu pendeta diluar tengah duduk.
__ADS_1
"Siapa yang bicara tadi? Kok nggak ada siapa-siapa?!" Joe berbalik badan, lalu menoleh ke kanan dan kiri. "Tapi kok ... kayaknya aku ...."
Dia langsung terdiam dan entah mengapa tiba-tiba teringat kepada Kakek tua yang bertemu dengannya kemarin malam.
Selain suaranya yang terdengar mirip, perkataannya juga sama. Dan anehnya, mengapa dia berucap yang seolah-olah tahu, jika Robert sedang sakit. Sedangkan dirinya yang sebagai Daddynya, tidak tahu menahu.
"Kok aneh, ya? Tapi yang lebih anehnya lagi kenapa hanya aku saja yang bisa melihatnya. Sedangkan Sandi nggak?" gumam Joe sembari menggaruk rambut kepalanya. Perlahan kakinya melangkah keluar dari gereja. "Tapi masa, sih, aku berhalusinasi? Jelas-jelas apa yang dia berikan juga nyata."
Joe masuk lagi ke dalam mobil, kemudian menyalakan mesin mobilnya. Namun, ketika dirinya menoleh ke samping hendak menarik perseneling, pandangan matanya pun justru teralihkan oleh Al-Qur'an yang berada di kursi sebelah.
Lagi-lagi, benda berwarna coklat itu selalu Joe temukan. Mungkin karena memang diberikan kepada Sandi.
"Memangnya ... kenapa, sih, kok bisa Al-Qur'an itu nggak boleh dipegang oleh non muslim? Sedangkan setahuku ... Alkitab itu nggak masalah, jika dipegang maupun dibaca sama umat muslim. Yang terpenting 'kan kita nggak mengikuti ajarannya," gumam Joe bingung.
Entah mengapa, dia jadi berpikir ke arah sana dan merasa penasaran. Hingga akhirnya, tanpa disadari tangan Joe mulai terulur dan meraih benda tersebut.
'Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.'
'Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.'
'Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.'
'Pemilik hari pembalasan.'
'Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan han-ya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.'
'Tunjukilah kami jalan yang lurus,'
'(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nik-mat kepadanya; bukan (ja-lan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) me-reka yang sesat.'
__ADS_1
Kemudian, Joe beralih membaca arti surah yang kedua yakni Al Baqarah. Hingga ke surah-surah selanjutnya.
***
"Robert! Kamu mau pergi ke mana, Nak?!" teriak Syifa.
Dia memanggil Robert yang tengah melangkah seorang diri disebuah taman bunga. Bocah itu memakai stelan jas berwarna putih.
"Rob!" Syifa langsung berlari dan cepat-cepat mencekal tangan kanan Robert, hingga membuat langkahnya terhenti.
Bocah bermata sipit itu lantas mendongakkan wajahnya, lalu menatap Syifa sambil tersenyum manis. Wajahnya tampak begitu bercahaya dan putih.
"Kamu mau ke mana? Dan ke mana Daddymu?!" Syifa menatap sekitar, mencari-cari keberadaan Joe tapi tak ada di mana-mana.
"Robert, ayok ikut dengan Mommy, Sayang," ucap seseorang.
Syifa menatap ke arah depan, tepat asal suara itu. Di depan sana ada seorang wanita berambut panjang yang memakai dress putih, dia tengah melambaikan tangannya ke arah Robert.
Bocah itu langsung menepis tangan Syifa, kemudian berlari menghampiri wanita tersebut dengan wajah sumringah. Syifa yang melihatnya pun ikut berlari mengejar. Dan sebelum Robert berhasil memeluk tubuh wanita itu, dia dengan cepat mencekal lengannya.
"Lho, kok?" Kening Syifa seketika mengernyit kala mata keduanya bertemu. Dia tampak heran sebab seperti melihat wajahnya sendiri dalam diri orang lain. "Mbak siapa? Kok wajah kita sangat mirip?!"
"Aku Mommynya Robert. Aku mau membawanya pergi, tolong lepaskan dia." Wanita itu mengulurkan tangannya ke arah Robert. Dan bocah itu langsung meraih tangannya, tapi tangan kirinya masih dipegang oleh Syifa.
"Pergi ke mana, Mbak?"
"Ke tempat yang jauh. Kamu nggak perlu tau." Wanita itu menarik tangan Syifa dari tangan Robert. Setelahnya dia menggandeng tangan Robert dan menariknya untuk melangkah bersama.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1