
Sementara itu ditempat yang sama, Syifa masih berada di sana.
Namun, bedanya sekarang dia duduk di kursi panjang di depan kamar inap VIP nomor 300 khusus dewasa, dimana Joe yang sudah dipindahkan.
Ustad Yunus dan Damar sudah pulang duluan ke rumahnya masing-masing, Syifa juga sempat diajak, tapi dia menolaknya.
Selain karena ingin menunggu Joe sadar, Syifa sekaligus menunggu Abi Hamdan yang akan datang. Penasaran juga dengan alasan pria itu yang memintanya untuk pulang bersama Jojon, sebab terdengar jelas jika dia seperti marah.
'Mau apa kira-kira Abi? Dan kok bisa, dia seolah tau kalau aku lagi sama Pak Joe?' batin Syifa bertanya-tanya. Duduknya pun terlihat begitu gelisah, sebab perasaannya memang tidak tenang.
"Lho, Bu Syifa belum pulang? Saya kira tadi ikut pulang sama Om Yunus?"
Sandi menghentikan langkahnya saat mengetahui keberadaan Syifa. Dia tadi sempat pergi untuk mengambil obat untuk Joe, juga membelikan sarung yang pastinya akan berguna nanti, jika pria itu sudah sadarkan diri.
"Iya, Pak." Syifa mengangguk sembari mengangkat wajahnya menatap Sandi. "Kebetulan ... Abiku bilang mau ke sini, jadi aku sekalian nungguin dia."
"Oh. Masuk saja kalau begitu, Bu, tunggu Abi Ibu di dalam," ajak Sandi seraya menurunkan handle pintu kamar inap Joe, lalu melebarkannya.
"Nggak usah, Pak, terima kasih," tolak Syifa dengan gelengan kepala. "Aku di sini saja."
"Oh ya sudah kalau begitu." Sandi mengangguk, kemudian melangkah masuk dan menutup pintu. Kakinya pun melangkah menuju nakas, lalu menaruh paper bag dan plastik di atas sana.
"Ssss ...." Joe mendesis pelan seraya membuka matanya secara perlahan, kemudian mengerjap beberapa kali.
"Bapak sudah bangun? Apa yang Bapak rasakan sekarang?" tanya Sandi seraya mendekat.
"Tongkatku, San! A-apa masih utuh?" tanya Joe dengan terbata. Dia menatap nanar selimut yang menutupi perut hingga kaki.
__ADS_1
Wajahnya tampak meringis ngilu saat merasakan perih yang teramat dahsyat pada daerah intinya. Tampaknya, obat anatesti itu sudah mulai hilang. Dan dia juga teringat akan kejadian kebakaran yang sudah dialami.
"Masih utuh kok, Pak, Bapak tenang saja." Sandi segera membuka plastik obat saat mengetahui Joe tengah kesakitan. Kemudian mengambil dua kaplet obat pereda nyeri dan antibiotik, lalu memberikan ke arah Joe beserta dengan segelas air yang baru saja dituang dari teko kaca.
Selain ada obat untuk diminum, Dokter juga memberikan obat salep yang khusus untuk dioles.
"Tapi kenapa perih, San? Seperti habis disayat gitu?" Joe cepat-cepat menenggak obat tersebut, lalu mendorongnya dengan air.
"Karena memang ujungnya dipotong, Pak. Bapak mengalami luka bakar yang membuat Dokter akhirnya mengkhitan tongkat Bapak," jelas Sandi.
"Mengkhitan?!" Kening Joe tampak mengernyit.
"Iya, disunat maksudnya. Bapak mengerti disunat, kan?"
Joe mengangguk lemah. "Ngerti, tapi bukannya yang disunat itu hanya untuk anak kecil yang beragam Islam, ya?"
"Oh. Tapi ngomong-ngomong ... kok aku bisa ada di rumah sakit?" Joe menatap sekeliling, memerhatikan ruangan itu. "Dan di mana Syifa?"
"Bapak di rumah sakit karena Bu Syifa, Om Yunus dan tetangganya yang membawa Bapak. Mereka mengatakan kalau Bapak pingsan karena mengalami kebakaran," jelas Sandi memberitahu, kemudian menambahkan. "Kalau tentang Bu Syifa ... dia masih ada diluar, katanya nungguin Abinya yang mau datang."
"Abinya?" Kening Joe tampak mengernyit heran. "Mau ngapain memangnya, Abinya Syifa datang?"
"Saya kurang tau. Mungkin mau jenguk Bapak."
'Jenguk?' Joe membatin heran. Rasanya tidak mungkin, jika pria itu datang berniat menjenguknya. Sebab Joe tentu tahu, bagaimana sikap Abi terhadapnya.
"Oh ya, kok bisa, sih, celana Bapak kebakar?Tadinya Bapak ngapain?" tanya Sandi penasaran.
__ADS_1
"Aku juga awalnya nggak tau, San." Joe menggeleng. "Niatku datang ke rumah Syifa sehabis beli buah pepaya dan obat untuknya. Eh tau-tau ada api di celanaku entah dari mana. Mana las banget dibagian asetku lagi, untungnya nggak habis semua." Dengan ragu, perlahan Joe meraih selimutnya. Kemudian mengangkatnya sedikit supaya bisa mengintip ke dalam sana.
Rupanya, Joe tidak memakai celana. Dan sontak—dia terbelalak saat melihat penampakan ujung bisbolnya yang merah mengelupas serta ada darahnya. Tampak begitu horor.
"Astaga!" teriaknya dengan penuh keterkejutannya.
Pekikannya itu bertepatan sekali dengan suara pintu yang dibanting oleh seseorang yang baru saja datang.
Brak!!
Joe langsung menatap ke arah depan, dan kembali—dia merasa terkejut saat melihat kedatangan Abi Hamdan yang berlari menghampirinya dengan mata melotot.
"Pak Ham ... Aaakhhh!" Joe langsung memekik tertahan ketika Abi Hamdan secara tiba-tiba mencekik lehernya.
"Kurang ajar sekali kau, Jon! Berani-beraninya merayu anak gadisku!" geram Abi Hamdan murka.
Sandi, Pak RT beserta Syifa yang baru saja masuk ke dalam kamar inap segera berlari menghampiri, kemudian mencoba menghentikan aksi gila pria dengan gelar Ustad itu.
Dia mencekik Joe dengan menggunakan kedua tangan dan terlihat seperti memakai tenaga dalam. Abi Hamdan benar-benar seperti sudah kerasukan setan.
"Abi istighfar, Bi! Apa yang Abi lakukan?!" teriak Syifa panik. Dia tampak begitu khawatir dan takut, kalau terjadi sesuatu pada Joe. Mengingat, baru tadi pria itu mengalami kebakaran, pingsan dan pembedahan tongkat.
"Istighfar katamu?!" Abi Hamdan langsung menoleh ke arah Syifa dengan geramnya. "Harusnya kamu dan Jojon yang beristigfar karena telah melakukan zina!!" Bukannya menghentikan aksi mencekik yang dilakukannya, tapi Abi Hamdan justru menonjok wajah Joe dengan kuat hingga membuat pria itu jatuh pingsan dan mengeluarkan darah segar pada kedua lobang hidung.
Bugh!
...Terlalu sadis Abi ya ampun 🥲🙈...
__ADS_1