Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
21. Petunjuk supaya Bapak masuk Islam


__ADS_3

"Masa sih sampah?!" Meski kakek tadi sudah memintanya untuk membuka kresek itu saat sudah sampai rumah, nyatanya Joe tidak menuruti. Sebab dia sendiri merasa penasaran ditambah Sandi juga berbicara dengan aneh menurutnya.


Namun saat dibuka, dia justru merasa bingung, sebab isinya adalah sebuah benda yang mirip seperti buku yang cukup tebal. Tapi ada resleting pada sisinya.


"Isinya apa, Pak?" tanya Sandi yang ikut penasaran. Dia pun memutar kepalanya ke belakang.


"Nggak tau, San, tapi ini mirip buku." Joe membolak-balik benda berwarna coklat berukuran sedang itu. Rasa penasarannya pun membuatnya membuka resleting untuk dapat melihatnya. "Tulisannya bahasa Arab, San. Tapi ada terjemahannya." Joe memerhatikannya dengan seksama, lalu membaca terjemahannya.


"Itu bukan buku, Pak, tapi Al-Qur'an," ucap Sandi memberitahu. Sebagai umat muslim dan pernah membacanya, dia dapat mengenalinya.


"Iya bener, ini Al-Qur'an." Joe juga menemukan kata itu di dalam sana. Memang benar itu Al-Qur'an, dan kebetulan dengan terjemahannya. "Bukannya Al-Qur'an itu kitab sucinya orang Islam, ya, San?"


"Iya, Pak." Sandi menganggukkan kepala, kemudian menatap kembali ke arah depan.


"Tapi kenapa Kakek tadi memberikanku Al-Qur'an? Sedangkan aku sendiri bukan orang Islam?!" tanya Joe yang tampak bingung.


"Saya nggak tau, Pak." Sandi menggeleng. "Tapi, apa Bapak selama ini punya indigo?" Sandi berpikir jika Kakek yang Joe maksud itu adalah makhluk tak kasat mata, yang hanya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu. Sebab dia sendiri memang tak melihat siapa-siapa tadi.


"Indigo itu bukannya bisa melihat mahluk halus ya, San?" tebak Joe.


"Iya, Pak." Sandi mengangguk.


"Jadi maksudmu, Kakek tadi itu adalah mahluk halus?"


"Ya bisa jadi."


"Tapi aku nggak punya indigo. Selain itu nggak mungkin juga kayaknya ... mahluk halus memberikan Al-Qur'an. Ini 'kan kitab sucinya orang Islam, San," ujar Joe.


"Bisa saja dia jin muslim, yang menjelma jadi manusia. Tapi memang sengaja hanya Bapak saja yang mampu melihatnya," tebak Sandi.


"Tapi aneh, San, apa coba alasan dia ngasih Al-Qur'an ke non muslim?! Kan percuma juga, nggak bakal bisa aku membacanya."


"Iya, sih, Pak. Bahkan aku pernah baca artikel katanya orang non muslim itu nggak boleh pegang Al-Qur'an, kecuali kalau dia memang ingin jadi mualaf."

__ADS_1


"Mualaf itu apa, San?" Joe cepat-cepat memasukkan benda itu ke dalam kresek, lalu menaruhnya ke kursi di sebelahnya. Supaya tidak dia pegang lagi.


"Orang yang mau masuk Islam. Itu namanya mualaf," jawab Sandi. "Tapi apa Kakek tadi nggak ngomong apa-apa dulu ke Bapak, sebelum ngasih Al-Qur'an?"


"Dia bilang ... ini alat untuk mengantarkanku supaya mendapatkan istri baru dan tentunya untuk akhiratku kelak," jelas Joe memberitahu.


"Berarti memang itu petunjuk supaya Bapak masuk Islam," tebak Sandi dan seketika membuat Joe membulatkan kedua bola matanya.


"Nggak usah ngaco kamu, San!" tegas Joe nyaring. Dia juga terlihat marah. "Agamaku Kristen dan sampai kapan pun tetap Kristen!" tambahnya menegaskan.


"Maaf, Pak, bukan maksud menyakiti Bapak. Saya 'kan hanya menebak saja, karena Bapak sendiri sedang dekat dengan Bu Syifa yang beragam Islam." Suara Sandi terdengar lembut dan pelan.


"Kami nggak dekat kok. dan tulah kesalahanku, kenapa nggak dari awal aku sadar jika kami berbeda?" Joe menggeleng lesu, lalu menatap ke arah jendela dengan mata sendu. "Itu sebabnya aku menyuruhmu mencari perempuan lain, yang mirip istriku, karena Syifa bukan jodohku, San."


Sandi langsung terdiam, dia merasa bingung untuk menjawab apa. Takutnya nanti akan menyakiti hati Joe lagi.


*


*


"Al-Qur'an itu untukmu saja, San," ucapnya, kemudian melangkah pergi.


"Iya, Pak, terima kasih." Sandi membungkuk sopan. Dia pun memerhatikan Joe yang sudah menghilang masuk ke dalam rumah. "Tapi kalau Bapak masuk Islam ... Bapak insya Allah bisa menikahi Bu Syifa. Aku hanya berharap Bapak dan Dek Robert dapat menemukan kebahagiaan baru, hanya itu saja." Sandi bergumam sendiri, lantas setelah itu dia masuk ke dalam mobilnya.


***


Keesokan harinya di sekolah.


"Selamat pagi Bu Syifa!!" Seluruh murid di dalam kelas satu SD itu menyeru dan berdiri dengan kompak saat melihat Syifa datang.


Meskipun jam pelajaran Syifa tidak setiap hari ada, tapi setiap pagi dia selalu datang untuk mengabsen. Karena itu juga kewajiban sebagai wali kelas.


"Pagi juga anak-anak, sekarang duduk!" seru Syifa seraya duduk di kursi mengajarnya. Seluruh anak-anak itu pun ikut duduk ke kursinya masing-masing. "Sekarang kita mulai absen, ya?" Syifa membuka buku absen dan bolpoinnya di atas meja, lalu mulai menyebut nama muridnya yang berawal dari huruf A sampai Z.

__ADS_1


Namun, saat memanggil nama murid yang berawal huruf R yakni Robert Anderson, justru yang punya nama itu tidak menyahut.


"Robert nggak masuk, Bu!" sahut Baim.


Syifa langsung menatap ke arah depan dan menatap bocah tampan itu, dia juga baru tersadar jika memang tak ada Robert di sampingnya.


"Kenapa Robert nggak masuk, Im?" tanya Syifa, barangkali saja Baim tahu.


"Aku—" Ucapan Baim seketika terhenti lantaran pintu kelas itu diketuk-ketuk dari luar.


Tok ... Tok ... Tok.


Syifa segera berdiri, lantas melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu lalu membukanya.


Ceklek~


Rupanya ada Pak Bambang berdiri di depan sana, dan dialah orangnya yang mengetuk pintu tadi. "Maaf menganggu Bu Syifa, tadi Pak Joe telepon. Katanya Robert nggak masuk dulu hari ini," tuturnya memberitahu.


"Kenapa, Pak?" tanya Syifa penasaran.


"Katanya dia nggak mau sekolah, Bu," jawab Pak Bambang.


"Lho, kok nggak mau sekolah? Kenapa? Padahal hari ini 'kan ada PR."


"Iya. Tapi Pak Joe hanya mengatakan hal itu. Katanya juga nggak apa-apa kalau absen Robert diberi alpa."


"Oh ya sudah. Tapi apa boleh saya minta nomor Pak Joe? Saya ingin mengobrol dengannya tentang Robert, Pak."


"Boleh. Nanti siang setelah istirahat saja ya, Bu, sekarang Ibu mengajar saja dulu," saran Pak Bambang. Setelah itu dia pun pamit keluar dari kelas, sedangkan Syifa melangkah kembali ke kursinya.


'Kenapa, ya, dengan Robert? Kok tiba-tiba dia malah nggak mau sekolah. Padahal kuperhatikan dia anaknya cukup rajin. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Daddynya? Yang aku tolak kemarin?' batinnya bertanya-tanya, kemudian langsung menggelengkan kepala. 'Ah nggak mungkin, masa sampai segitunya.'


...Marah dia, sama Ibu 🤣...

__ADS_1


__ADS_2