Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
23. Stadium 2


__ADS_3

30 menit kemudian, mobil Sandi pun akhirnya sampai di depan rumah sakit yang jaraknya lebih dekat dari rumah Joe.


Segera, pria itu turun dari mobilnya. Kemudian membukakan pintu mobil untuk Joe turun.


"Suster! Tolong anakku, Sus!" teriak Joe seraya berlari masuk ke dalam.


Dua orang perawat yang berada di pintu masuk itu langsung berlari dengan membawa brankar, lalu menghampiri Joe.


"Baringkan Adeknya ke sini, Pak," titah salah satu perawat pria itu.


Joe dengan perlahan membaringkan tubuh Robert, lalu mengecup keningnya. Setelah itu dia dan dua perawat itu berlari bersama menuju ruang IGD.


"Dokter! Tolong anak saya, Dok!" pinta Joe menyeru.


Di dalam sana ada seorang dokter pria berkacamata yang tengah memakai sarung tangan. Dia lantas melangkah cepat menghampiri Joe dengan membawa stetoskop.


"Bapak keluar dan cepat daftar. Saya akan segera menanganinya," perintahnya pada Joe seraya menunjuk pintu.


"Baik, Dok." Joe mengangguk cepat, lalu berlari keluar dari sana dan langsung mendaftarkan nama Robert di depan resepsionis.


Setelah itu dia pun menuju IGD lagi. Untuk duduk menunggu anaknya yang tengah diperiksa.


"Tuhan Yesus, tolong lindungi anakku. Semoga nggak terjadi apa-apa dengannya," gumam Joe dengan tangan yang saling mengenggam di depan dada. Matanya terpejam.

__ADS_1


*


*


Beberapa menit berlalu, pintu ruangan itu pun akhirnya dibuka dan keluarlah dokter tadi.


Ceklek~


Melihat itu, Joe langsung berdiri. Kemudian melangkah mendekat ke arahnya.


"Kenapa dengan anakku, Dok? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Joe cemas.


"Ada sesuatu yang serius, Pak, jadi sebaiknya kita mengobrol di ruangan saya. Bapak ikut dengan saya," ajaknya seraya melangkah lebih dulu.


"Masuk dulu, Pak." Dokter itu langsung membukakan pintu ruangannya saat mereka telah sampai.


Joe mengangguk, kemudian segera masuk ke dalam sana. Dokter juga menyuruhnya duduk pada kursi yang berada di depan mejanya.


Setelah menutup pintu ruangan, Dokter itu pun ikut duduk di depan Steven yang terhalang oleh meja persegi.


"Saya rasa ini akan mengagetkan Bapak, tapi saya harap Bapak berusaha untuk tenang," kata dokter itu berbicara dengan lembut.


"Bicara saja, Dok, langsung," titah Joe yang terlihat sudah tak sabar.

__ADS_1


"Anak Anda mengalami kanker hati, Pak."


Degh!


Jantung Joe seakan berhenti sejenak, bola matanya pun ikut melebar sempurna.


"Dokter pasti berbohong padaku, kan?"


"Saya jujur, Pak," sahut Dokter itu.


"Tapi nggak mungkin anakku terkena kanker! Di-dia, dia anak yang sehat, Dok." Kepala Joe menggeleng cepat. Bola matanya seketika berair, dadanya pun terasa begitu sesak.


Meski sudah diberitahu, nyatanya Joe benar-benar tidak percaya jika anak semata wayangnya itu menderita penyakit mematikan. Yang sama seperti mendiang istrinya.


Dia sudah sangat menderita saat dimana Sonya meninggal karena penyakit mematikan itu, dan kalau sampai Robert bernasib sama, mungkin dunianya sudah benar-benar hancur.


"Saya tidak membohongi Bapak. Ini buktinya kalau Bapak tidak percaya." Dokter berkacamata itu merogoh kantong jas putihnya, lalu memberikan selembar kertas ke arah Joe di atas meja.


Pria itu segera mengambil lalu membacanya. Dan sontak saja matanya kembali membulat, saat dimana dia melihat ternyata kertas itu adalah hasil tes darah yang menunjukkan jika Robert memang benar mengalami kanker hati. Parahnya sudah memasuki stadium 2.


Tubuh Joe langsung terasa lemas dan bergetar. Dadanya makin ngilu. 'Ya Tuhan, apa lagi ini? Kau sudah mengambil Sonya dariku ... tapi tolong jangan ambil Robert. Dia harta yang paling berharga yang kupunya. Aku bisa hidup sampai sekarang pun hanya karena dia.' Tak kuasa, air mata Joe akhirnya mengalir oleh sendirinya. Dia menangis sampai tersedu-sedu.


...😭😭😭😭😭...

__ADS_1


__ADS_2