Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
47. Menantu yang dikirim Allah


__ADS_3

"Iya." Pak RT mengangguk dengan semangat, kemudian melirik ke arah Abi Hamdan. Wajah pria tua itu tampak begitu murung. "Tapi itu juga harus dengan restu dari kedua orang tuamu, termasuk Abimu," tambahnya yang mana membuat Abi Hamdan makin terpuruk.


"Tapi, Pak, Pak Joe sendiri non muslim. Mana bisa kami menikah?" tanya Syifa bingung.


"Pak Jojon harus masuk Islam nantinya, Fa," jawab Pak RT, lalu menoleh ke arah Abi Hamdan. "Bagaimana keputusan Ustad? Soal status Pak Jojon sendiri ... itu bisa dirubah karena ini sudah masuk keranah kewajiban, beliau harus mempertanggungjawabkan semuanya."


Abi Hamdan masih membeku di tempat duduknya, dia masih bingung dan tak bisa mengambil keputusan.


*


Beberapa menit sudah dia terdiam, sedangkan Pak RT dan Syifa sejak tadi menunggu jawaban. Perlahan, Abi Hamdan pun berdiri, kemudian membenarkan jasnya yang terlipat dan membenarkan pecinya yang miring.


"Aku harus sholat istikharah dulu, Pak, berikan aku waktu, karena ini sangat sulit," pintanya lirih. Tidak bisa segampang itu dia melepaskan anak gadis semata wayangnya untuk pria yang menurutnya tidak baik. Abi Hamdan harus berpikir keras, supaya tak salah jalan.


"Baiklah," sahut Pak RT seraya ikut berdiri. Dia mencoba untuk memberikan pengertian. "Kita sekarang pulang, dan Ustad silahkan berpikir. Tapi bukan berarti Ustad bisa menolak permintaan saya, karena ini permintaan yang mutlak. Jangan sampai membuat saya kecewa berikut dengan warga sekitar yang menganggap Ustad sebagai panutan."


Setelah mengatakan hal itu, Pak RT memilih untuk melangkah pergi tanpa pamit. Meninggalkan mereka berdua dan Sandi.


"Kamu sudah membuat Abi malu, Fa," ucap Abi Hamdan lirih. Kemudian menoleh ke arah anaknya dengan wajah penuh kecewa. Meskipun dirinya menolak, tapi semuanya tidak akan bisa. Keputusan Pak RT yang menjadi pemimpin di tempatnya harus dituruti, ditambah Abi Hamdan juga tak mungkin bisa menahan malu jika semua orang tahu bagaimana kelakuan anaknya, yang selama ini dia banggakan. "Abi benar-benar sudah bingung musti bagaimana, Abi kecewa padamu," lanjutnya seraya melangkah pergi.


"Tapi, Bi, aku berani bersumpah ... kalau nggak melakukan zina atau apa pun yang Pak RT dan Abi tuduhkan," ucap Syifa. Dia berlari mengejar sang Abi dan mengandeng tangan kanannya, akan tetapi pria itu justru menepisnya dengan kasar. Wajahnya terlihat begitu merengut.


'Bagaimana Abi bisa percaya, sedangkan selama ini Abi melihatmu seperti sudah tertarik sama Jojon. Harusnya ... sejak awal kamu itu mau dijodohkan sama Nak Fahmi. Biar pernikahan kalian cepat dilaksanakan dan kamu nggak sampai melakukan hal seperti ini,' batin Abi Hamdan. Hatinya terasa sakit, sebab Syifa sudah mengkhianati kepercayaannya selama ini.

__ADS_1


"Apa aku harus sumpah dengan Al-Qur'an, supaya Abi dan Pak RT percaya?" tantang Syifa yanga masih berlari mengejar. Langkah kaki Abi Hamdan terasa panjang, hingga mereka tak terasa sudah sampai disisi jalan di depan rumah sakit.


Saat melihat taksi yang baru saja lewat, Abi Hamdan langsung melambaikan tangan. Dan ketika kendaraan roda empat itu berhenti, segera dia masuk ke dalam. Begitu pun dengan Syifa yang langsung menyusulnya.


"Bi, bagaimana? Aku bersedia bersumpah dengan cara apa pun, asalkan Abi dan Pak RT percaya padaku," pinta Syifa memohon. Perlahan dia meraih tangan kanan sang Abi, lalu menggenggamnya dengan erat. Masih berusaha untuk meyakinkan, jika semua tuduhan itu salah. "Kalian semua hanya salah paham. Dan harusnya, Abi itu percaya padaku. Karena aku juga masih waras, nggak mungkinlah melakukan hal yang dilarang agama," tambahnya.


Abi Hamdan masih membeku dengan dada yang bergemuruh. Dia memilih untuk diam, sebab selain kepalanya sangat pusing, dia juga bingung untuk menanggapi apa tentang ucapan sang anak. Sudah kehabisan kata-kata.


Meskipun Syifa bersumpah, dia sendiri tidak yakin jika semua orang dapat percaya. Sebab mereka sudah punya bukti yakni dari video berdurasi 5 menit itu. Yang terlihat jelas, jika Syifa dan Joe berada di dalam ruangan berduaan.


*


*


Hingga sampai rumah, nyatanya Abi Hamdan masih betah diam membisu, tak memberikan tanggapan apa-apa terhadap Syifa.


Akan tetapi, dirinya secara tiba-tiba langsung ditarik oleh Abi Hamdan, untuk masuk ke dalam kamar bersama. Sehingga dia tak dapat berinteraksi dengan Syifa.


"Bagaimana, Bi? Apa kata Syifa dan Pak Joe?" tanya Umi Maryam penasaran. Dia duduk di atas kasur sambil memerhatikan suaminya yang tengah mengganti pakaian.


"Syifa nggak ngaku. Sedangkan si Jojon pingsan," jawab Abi Hamdan gusar.


"Pak Joe pingsan? Kok bisa, Bi?" Umi Maryam tampak terkejut mendengarnya.

__ADS_1


"Iya." Abi Hamdan mengangguk. "Dia habis Abi tonjok sampai berdarah. Abi sangat emosi." Mendekat ke arah istrinya, lantas duduk di atas kasur di sampingnya sembari memijat dahi secara perlahan.


"Terus, sekarang bagaimana, Bi? Apa Pak RT percaya?" Umi Maryam meraih segelas air di atas nakas. Penutup di atasnya dia ambil, kemudian benda itu pun diserahkan kepada sang suami. Abi Hamdan terlihat seperti capek, pasti dia haus.


"Nggak. Dia tetap kekeh pengen Jojon dan Syifa dihalalkan," balas Abi Hamdan. Dia meraih gelas di tangan istrinya, lalu menenggaknya hingga habis tak tersisa.


"Berarti, Pak Joe harus jadi mualaf dulu, ya, Bi? Dan Syifa sama dia harus menikah?" Umi Maryam menatap sang suami meminta jawaban. Akan tetapi pria itu tak memberikannya jawaban, dia memilih berdiri kemudian melangkah menuju kamar mandi. Hendak mengambil air wudhu, supaya bisa melaksanakan sholat istikharah.


*


*


*


"Kenapa kamu musti ragu? Harusnya, kamu senang, karena memang Jonathan itu adalah calon menantu yang dikirim Allah untukmu!" seru seseorang yang mana membuat Abi Hamdan menoleh.


Keningnya seketika mengernyit, memperhatikan wajah keriput pria yang sudah kakek-kakek itu.


"Kakek siapa?" tanya Abi Hamdan heran.


"Kamu nggak perlu tau siapa aku. Tapi yang jelas ... aku sudah memberikan jawaban, atas keraguan di hatimu." Perlahan, tangan kakek itu pun menjulur ke arah pundak kanan Abi Hamdan, lalu mengelusnya secara perlahan. "Pria yang kamu anggap baik, belum tentu itu yang terbaik. Sebaliknya, pria yang menurutmu nggak baik, bisa jadi yang terbaik. Ingat itu," tambahnya kemudian berkumat-kamit sembari mengusap wajah Abi Hamdan.


Seketika, pria itu pun mengerjapkan matanya sembari menarik tubuhnya untuk duduk. Abi Hamdan baru saja terbangun dari tidurnya, dan itu bertepatan sekali dengan suara kumandang adzan Subuh.

__ADS_1


"Astaghfirullah, rupanya semalam sehabis sholat istikharah aku ketiduran," gumamnya saat sadar jika dirinya duduk di atas sajadah, dengan masih memakai koko dan sarung.


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2