
"Berhenti di sini, Dad!" perintah Robert sambil menatap jam pada pergelangan tangannya yang menunjukkan arah.
Dia, Joe dan dua polisi di belakang masih mencari keberadaan Syifa. Dan Robert baru ingat, jika jam tangannya saling terhubung dengan cincin yang Syifa kenakan.
Terhubungnya dikarenakan sinyal GPS. Sebelumnya, tanpa sepengetahuan Joe, Robert sebenarnya meminta Sandi untuk membelikan cincin berlian yang terpasang GPS. Supaya nantinya bisa terhubung dengan jam tangan canggihnya.
Awalnya apa yang dia lakukan hanya iseng, sebab merasa takut jika nantinya jauh dengan Syifa. Tapi ternyata, apa yang dia lakukan ada manfaatnya juga.
Memang, tidak perlu diragukan lagi. Robert benar-benar anak yang pintar. Bukan hanya dari pelajaran di sekolah, tapi juga pada sehari-harinya.
"Kamu yakin, di sini penculik itu membawa Bu Syifa?" tanya Joe seraya mengerem pelan mobilnya. Mobil polisi yang berada di belakang dengan jarak yang cukup jauh itu pun ikut terhenti.
Ketiga polisi di dalamnya mengikuti arahan Robert sambil mencari tahu titik di mana mobil merah berplat nomor B 4040 SPS.
Mungkin saja, dengan melihat dari GPS, itu akan memudahkannya dapat menemukan Syifa lebih cepat.
Robert mengangguk cepat. "Iya, Dad. Dan posisi Bu Syifa saat ini ...."
Robert mengangkat wajahnya, lalu menatap jendela ke arah luar. Di sana ada sebuah rumah kosong berukuran kecil, warna putih tapi begitu gelap sebab tak ada lampu.
"Di sana, Dad!" lanjut Robert sambil menunjuk rumah kosong.
'Apa jangan-jangan Syifa akan diperk*osa di dalam sana?' batin Joe dalam hati. Hanya baru menebak, tapi bulu kuduknya sudah berdiri karena sangking takutnya. Tentunya, Joe tidak bisa diam begitu saja. Apalagi ini menyangkut nyawa dan harga diri.
Cepat-cepat, Joe pun membuka sabuk pengaman. Lantas turun dari mobil.
"Kamu tunggu di sini, ya, jangan ke mana-mana. Biar Daddy yang masuk," perintah Joe.
"Robert juga mau ikut, Dad!" Robert langsung turun dari mobil dan berlari menghampiri. Dia terlihat panik dan tak mau ditinggal. Sebab ingin ikut menjadi pahlawan.
Tak lama kemudian tiga orang polisi berlari kecil mendekati mereka. Ketiganya terlihat menyamar dengan memakai pakaian serba hitam. Itu sengaja dilakukan supaya tidak dicurigai dan diketahui penculik, jika mereka bertiga adalah seorang perwira polisi.
"Adek nggak perlu ikut, ya, ini masalah orang dewasa. Sebaiknya tunggu di mobil saja," saran salah satu Pak Polisi, yang membuka pintu mobil untuk Robert masuk lagi.
"Robert juga kepengen menyelamatkan Bu Syifa, Pak. Walau bagaimanapun Robert ikut bertanggung jawab!" Bocah itu terlihat bersikukuh ingin ikut, bahkan sudah mengangkat kakinya hendak berlari menyusul Joe yang sudah lebih dulu pergi ke sana.
__ADS_1
"Bapak paham. Tapi tetap saja kamu masih kecil. Ini terlalu berbahaya, apalagi Bapak dan teman-teman Bapak membawa senjata tajam."
Pihak polisi tak mau mengambil resiko, jika ada sesuatu hal yang terjadi pada bocah dibawah umur itu.
Maka dari itu, dengan terpaksa, salah satu dari polisi mengendong tubuh Robert dan memasukkannya ke dalam mobil. Dilihat bocah itu memberontak, tapi susah payah akhirnya dia bisa mengunci bocah itu di dalam mobil.
"Tetaplah di sini dan menurut! Apa kamu nggak mau, Daddymu dan Bu Syifa melangsungkan ijab kabul?" Polisi itu berbicara dengan nada dingin, matanya melotot sambil menunjuk wajah Robert dibalik kaca.
Setelah itu, dia dan kedua temannya berlari menuju rumah kosong. Sedangkan Robert hanya bisa melihatnya di dalam mobil, dengan bibir yang mengerucut dan bersedep dada.
"Pak Polisi nggak seru ah! Padahal aku juga bisa mukul orang yang menculik Bu Syifa! Biar dia tau rasa!" Dengan geramnya, Robert menonjok menyangga kursi. Emosinya benar-benar mendidih, saat tahu calon Mommy itu dibawa kabur pria tak dikenal.
"Semoga saja Daddy bisa menyelamatkan Bu Syifa, dan berhasil menghajar penculik itu! Setelah itu mereka nikah deh, terus aku bisa tidur bareng sama Bu Syifa."
Tadi emosi, tapi setelah berkhayal indah tentang bagaimana hangatnya pelukan Syifa di malam hariāemosi Robert seketika pudar begitu saja. Dia malah benar-benar sudah tak sabar, ingin segera mewujudkan semua impiannya itu.
*
"Angkat tangan kalian ke atas!" seru seorang polisi sambil menodongkan sebuah pistol pada dua pria di depan pintu kamar.
Ada Joe juga di samping salah satu polisi itu.
'Kok tiba-tiba sudah ada polisi? Wah gawat ini,' batin pria berjaket hitam seraya mengangkat tangannya.
'Kira-kira si Beni sudah selesai memperko*sa Syifa belum, ya?' batin pria berkaos merah. Dia juga perlahan mengangkat tangannya. 'Ah sial banget sih ini, padahal aku belum memperko*sa Syifa. Masa sudah ditangkap duluan.'
"Pak, saya dan teman saya hanya disuruh Beni. Dia lah orang yang ...." Ucapan pria berjaket hitam itu terhenti saat tiba-tiba saja mendengar suara perempuan berteriak histeris di dalam kamar. Padahal sebenarnya dia ingin menjelaskan supaya tak mendapatkan hukuman.
"Kakak br*ngsek, hiks!"
"Syifa!" seru Joe dengan keterkejutannya. Sorotan matanya tertuju ke arah pintu kamar. Suara itu dia kenal betul milik calon istrinya.
Dengan panik, Joe langsung menendang pintu di depannya. Tidak lagi menggunakan tangan untuk membuka. Ternyata, kayu jatinya pun sudah rapuh. Sehingga sekali tendangan saja benda tersebut langsung tertubruk jatuh.
Bruk!
__ADS_1
"Astaga Syifa!" Joe sontak terbelalak dengan jantung yang berdegup kencang, kala melihat Syifa yang setengah tel*njang itu dihimpit dari bawah serta diciumi oleh pria yang entah dia sendiri tak tahu siapa. Tapi yang jelas, pria itu tanpa busana.
"Bre*ngsek sekali, kau! Berani-beraninya melecehkan calon istriku!" geram Joe dengan kedua tangan yang mengepal kuat. Dadanya bergemuruh dan matanya memanas.
Namun, ada rasa sakit di dalam lubuk hatinya, dan itu membawanya untuk menghajar habis-habisan Beni.
Kerah belakang pria itu langsung Joe tarik dengan kasar, hingga membuat tubuhnya terhentak ke lantai.
Bruk!
"Ternyata kau orangnya?! Dasar manusia bia*dab!" berang Joe dengan penuh kemurkaan, ketika mengetahui ternyata Beni lah oranganya. Pertemuannya sekali dengan pria itu ternyata tidak membuatnya lupa dengan wajahnya.
Segera, Joe menghentakkan bokong ke perut Beni. Kemudian mulai menonjokki seluruh wajah pria itu secara bertubi-tubi dan tanpa ampun.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Hiks, hiks, hiks!" Syifa yang sejak tadi menangis langsung membenarkan pakaiannya, kemudian beringsut mundur menuju beberapa tumpukan kardus kosong di sana untuk menutupi tubuhnya.
Pakaiannya sekarang sudah tak bisa lagi menutupi aurat. Banyak yang robek karena ulah Beni. Bahkan hijab pashminanya pun hilang entah ke mana.
"Pak Jonathan! Hentikan, Pak!" Seorang polisi mencoba menarik tangan Joe. Berupaya menghentikan aksinya, yang sekarang tengah mencekik leher Beni.
Wajah pria itu terlihat memerah dalam kegelapan. Napasnya sudah tersendat-sendat. Kalau aksi Joe tidak dihentikan, bisa-bisa Beni kehilangan nyawa.
"Biarkan aku membunuhnya malam ini!" Joe sudah seperti orang yang kerasukan setan, karena sangking murkanya melihat keadaan. Dengan kasar, dia pun menepis tangan Pak Polisi yang menghalanginya.
Lantas, dengan satu tangan, dia kembali mencekik leher Beni. Dan tangan satunya dia gunakan untuk mencengkeram tongkat dan kedua telur Beni.
"Bukan hanya nyawamu yang kubuat melayang. Tapi tongkat dan kedua telurmu juga, Bia*dab!!" teriaknya. Bagi Joe, Beni pantas mendapatkan semua itu. Sebab dia menggunakan ketiga benda tersebut di tubuhnya untuk bisa melecehkan Syifa.
"Aaarrrgghh!" Beni mengerang tertahan. Matanya sontak mendelik ke atas. Saat merasakan sakit yang tak terhingga, sepanjang sejarah dalam hidupnya.
__ADS_1
...Cengkeram yang kuat, Om, biar telurnya pecah š¤¬...