Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
57. Apa kurangnya aku dimatamu?


__ADS_3

"Jangan usir Daddy, Opa!!" seru Robert seraya berlari dan langsung memeluk tubuh Abi Hamdan. "Yang mulai duluan Om itu, bukan Daddy!" tunjuknya ke arah wajah Fahmi.


"Robert benar, Bi!" Syifa ikut-ikutan menyahut. "Kak Fahmi yang duluan nonjok Pak Joe."


Abi Hamdan langsung terdiam, tapi matanya menatap Joe yang perlahan berdiri lalu membenarkan sarungnya.


Ucapan Robert tak mungkin sebuah dusta. Meskipun Joe adalah Daddynya, Abi Hamdan tetap percaya, kalau bocah polos itu pasti jujur.


"Kamu kok belain Jojon sih, Fa? Di sini 'kan yang jadi calon suamimu itu Fahmi, bukan dia!" gerutu Pak Haji Samsul marah. Dia pun menatap tajam Joe, lalu membantu Fahmi untuk berdiri.


"Kak Fahmi bukan calon suamiku, Pak. Aku nggak mau menikah dengannya!" tegas Syifa.


Pak Haji Samsul sontak terbelalak, dia tampak terkejut mendengar apa yang Syifa katakan. "Serius kamu, bicara seperti itu? Menolak Fahmi yang sarjana Kairo?!" tanyanya dengan wajah tak percaya.


"Serius. Sejak kapan juga aku berbohong? Aku memang nggak pernah suka sama Kak Fahmi!"


Syifa hendak masuk ke dalam rumah, tapi Fahmi langsung menghalanginya.


"Kenapa kamu nggak suka padaku, Fa? Apa kurangnya aku dimatamu?" Fahmi menunjuk wajahnya sendiri yang tampak memerah. Dia terlihat marah dan tak terima, mendengar ucapan yang tak mengenakan yang terlontar dari bibir gadis yang dia anggap calon istrinya itu.


"Kakak orangnya terlalu sombong. Aku nggak suka sama pria yang sombong."


"Mana ada sih aku sombong?! Nggak, Fa!" bantah Fahmi. Dia tampaknya tak sadar diri, jika benar dirinya sangat congkak.


"Fahmi anaknya rendah hati, Fa!" seru Pak Haji Samsul, yang sama tak sadarnya. "Kok bisa-bisanya kamu mengatakan Fahmi sombong?! Kamu ini setres atau gimana, sih?" Kedua bola matanya tampak melotot.


"Memang itu—"


"Maaf Pak Haji," sela Abi Hamdan cepat. Dia ingin cepat mengakhiri perdebatan ini dan menyelesaikan masalah. "Seperti apa yang Syifa katakan, jadi intinya aku ingin minta maaf untuk sekali lagi ... kalau perjodohan Syifa dan Nak Fahmi akan dibatalkan."

__ADS_1


"Abi nggak bisa melakukan ini kepadaku! Masa aku ditolak?!" Fahmi yang tampak tak terima langsung menghampiri Abi Hamdan. Namun, saat dirinya hendak meraih tangan pria itu— Pak Haji Samsul langsung menahannya, lalu mencekal tangan kanannya.


"Ustad Hamdan pasti akan menyesal! Karena telah menolak anakku! Apalagi memilih dia yang akan dijadikan menantu!" seru Pak Haji Samsul seraya menudingkan jari telunjuknya ke arah Joe dengan penuh kekesalan. "Dia itu non muslim, manusia kafir!" tambahnya. Setelah itu menarik tangan anaknya untuk masuk ke dalam mobil.


Dia pergi tanpa pamit. Fahmi sendiri sebenarnya tak mau diajak pulang, sebab dirinya masih tidak menerima jika benar telah ditolak. Akan tetapi, Pak Haji Samsul terus memaksanya untuk pergi dari sana.


Abi Hamdan hanya bisa menghela napasnya dengan berat. Perlahan dia pun membungkukkan badannya untuk meraih tubuh Robert. Setelah itu dia gendong dan membawanya melangkah masuk.


Syifa langsung menyusul masuk, sedangkan Joe sendiri merasa bingung. Dia mematung ditempat sebab ingin masuk pun belum dipersilahkan. Tidak berani rasanya, takut diusir lagi.


"Ayok masuk, Pak Joe," ujar Umi Maryam yang baru saja keluar dari pintu.


Melihat itu, Joe langsung tersenyum. Kemudian membungkukkan badannya dan melangkah masuk.


"Terima kasih, Bu," ucapnya.


"Opa, kafir itu apa? Kok Opa dan Om tadi terus mengatakan Daddy manusia kafir?" tanya Robert penasaran, saat tubuhnya didudukkan di atas sofa. Abi Hamdan berada di sampingnya, duduk di sofa yang sama.


"Kafir itu adalah lawan dari iman," jawab Abi Hamdan, kemudian mulai menerangkan. "Orang kafir merupakan orang yang tidak mengikuti pentunjuk Allah SWT. Orang kafir terbagi menjadi beberapa golongan atau macam, tidak semua menjadi musuh umat Islam. Orang kafir adalah mereka yang enggan beriman kepada Allah SWT, meskipun belum atau telah diberi petunjuk."


"Menurut Opa, Daddy termasuk orang kafir?" Pertanyaan dari Robert bertepatan dengan Joe yang baru saja duduk di sofa single.


"Menurut Opa sih nggak," sahut Abi Hamdan. Lantas mengusap puncak rambut Robert. "Udah, nggak usah dibahas masalah tadi. Mereka mengatakan hal itu karena terbawa emosi."


Tak lama, Syifa datang menghampiri mereka. Dia membawa baskom kecil dan handuk kecil, kemudian meletakkannya di atas meja.


"Wajah Bapak dikompres saja, soalnya lebam," saran Syifa. Bukan hanya lebam sebenarnya, tapi sudut bibir sebelah kanan Joe juga terlihat berdarah.


"Iya. Terima kasih, Fa." Joe mengangguk sambil tersenyum, lantas meraih handuk kemudian mencelupkannya ke dalam baskom yang berisi es batu dengan air sedikit. Setelah memeerasnya, dia pelan-pelan menempelkanya ke area pipi sambil mendesis merasakan perih. "Sss ...."

__ADS_1


"Disudut bibir Bapak berdarah. Kompres juga sekalian, biar aku ambilkan obat merah," ujar Syifa yang sejak tadi memerhatikan Joe. Pria itu mengangguk, kemudian mulai menempelkan ke area bibir. Tapi sayangnya, darahnya tidak kena, sebab memang salah sudut. Joe menempelkan handuknya ke arah kiri, sedangkan yang luka berada di kanan. "Bukan di situ, Pak, tapi di sini." Syifa yang merasa gemas sendiri refleks mengambil handuk di tangannya, lalu menempelkannya pelan-pelan ke sudut kanan Joe.


"Aaww!" Joe memekik kecil, dan seketika wajahnya itu tampak merona.


"Maaf, Pak. Tapi tahan sedikit." Syifa langsung mencelupkan handuk itu ke dalam baskom. Kemudian memerasnya.


"Sini, biar Abi saja." Abi Hamdan dengan cepat merebut handuk yang hendak menempel ke pipi Joe. Matanya terasa panas sekali, melihat Syifa melakukan hal itu kepada Joe di depan wajahnya. "Jangan mentang-mentang Abi sudah merestui kalian, tapi kalian tanpa malu bermesraan di depan Abi!" tegurnya marah. Lantas menekan handuk itu ke pipi Joe dengan kasar, hingga membuat pria itu memekik kesakitan.


"Aaww! Sakit, Pak!" jerit Joe. Sakit pada lebamnya tidak seberapa, ketimbang penekanan yang pria itu lakukan.


"Nggak usah cengeng! Kau 'kan pria!" tegas Abi Hamdan. Dia pun langsung menoleh ke arah Syifa, dilihat gadis itu tampak ikut meringis juga. "Ngapain kamu masih di sini? Sana masuk ke kamar dan ganti baju! Abi ingin bicara serius dengan pria pujaan hatimu!" perintahnya dengan ketus.


Syifa langsung mengangguk, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar. 'Perasaan aku belum pernah deh, bilang Pak Joe pria pujaan hatiku. Kok Abi malah ngomong kayak gitu, sih?' batinnya seraya menutup pintu.


"Besok, kita ke rumah sakit. Kau harus memenuhi syarat yang pertama, untuk bisa menikahi Syifa!" seru Abi Hamdan. Lalu menaruh handuk itu ke atas meja.


"Ke rumah sakit?!" Joe mengerutkan keningnya. "Mau ngapain, Pak?"


"Disunat. Kau ini pasti belum disunat, kan?" tebak Abi Hamdan.


"Lho, baru kemarin aku disunat, Pak."


"Jangan bohong!"


"Serius, ini buktinya." Joe menunjuk inti tubuhnya dibalik sarung yang terasa nyut-nyutan.


Abi Hamdan memerhatikan, merasa penasaran sekaligus belum percaya. "Coba aku lihat."


...Yang bener aja, Bi🤣...

__ADS_1


__ADS_2