Mengejar Cinta Duplikat Istriku

Mengejar Cinta Duplikat Istriku
69. Dada p*erawan memang beda


__ADS_3

"Astaghfirullah! Tuan, Nyonya!" teriak Sandi dengan keterkejutannya. Mendapati orang tua dari majikannya itu jatuh pingsan.


Segera, dia pun keluar dari rumah itu, kemudian meminta tolong kepada para warga untuk membantunya membawa kedua orang itu masuk ke dalam mobil.


"Tolong! Pak! Bu!" pekik Sandi di dekat jalan raya.


Beberapa pria yang lewat hendak menuju masjid ingin melaksanakan sholat Maghrib itu langsung menghampirinya. Kemudian tak lama Robert dan Umi Maryam juga datang dengan berjalan kaki. Tangan Umi Maryam menenteng beberapa plastik putih.


Dua orang itu tadi keluar karena ingin membeli sate ayam. Umi Maryam awalnya ingin membelikan Robert, tapi bocah itu malah kepengen ikut.


"Om Sandi! Kenapa dengan Opa dan Oma?!" seru Robert sambil berlari, kemudian menatap tiga orang pria berbaju Koko yang tengah memasukkan tubuh Mami Yeri dan Papi Paul ke dalam mobil. Wajah bocah itu terlihat begitu khawatir.


"Dek Robert ke mana saja? Opa dan Oma Adek sampai pingsan mencari Adek." Sandi langsung meraih tubuh Robert, kemudian membawanya masuk ke dalam mobil pada kursi belakang.


Akan tetapi, tangan bocah itu sejak tadi mengenggam tangan Umi Maryam. Alhasil, wanita itu ikut masuk.


"Robert tadi beli sate sama Oma Maryam, Om," jawab Robert.


Sandi gegas berlari memutar dan masuk ke dalam mobil pada kursi kemudi. Setelah berterima kasih kepada orang-orang yang telah membantu, dia lantas melajukan mobilnya pergi dari sana.


"Sekarang kita mau ke mana, Om?" tanya Robert bingung. Dia duduk dipangkuan Umi Maryam.


"Rumah sakit, Dek," jawab Sandi.


***


Sementara itu di sebuah apartemen. Joe tengah duduk di sofa ruang tengah, menunggu Syifa yang sedang melakukan sholat.


Dia dan Syifa sudah dijemput oleh Soni sang sekretaris tadi siang. Rencananya sekarang mereka akan bersembunyi di apartemen.


Namun, mereka tentu tidak tinggal dalam satu apartemen. Joe menyewa dua kamar bersebelahan. Dan alasan Joe ada di sana sekarang karena menunggu Syifa, setelah sholat mereka akan makan malam bersama. Dia juga sembari menunggu pesanan makan malamnya yang diantar oleh kurir.


Ceklek~


Tak lama, pintu kamar yang berada tepat di depan Joe duduk lantas dibuka. Keluarlah Syifa yang sudah mengganti pakaian, dengan menggunakan gamis polos berwarna dusty, juga hijab segiempat berwarna senada.

__ADS_1


"Bajunya pas, Fa?" tanya Joe dengan mata berbinar, saat keduanya beradu pandang. Gamis dan kerudung itu yang membeli Soni secara dadakan, tentu atas permintaan Joe juga.


Seperti biasanya, Syifa tampak sangat cantik dan anggun. Meskipun kali ini wajahnya begitu polos tanpa polesan make up.


"Pas, Pak, banget malah. Terima kasih." Syifa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Kakinya melangkah mendekat, lantas mendaratkan bokongnya di sofa single di sebelah sofa yang Joe duduki.


"Sama-sama." Joe ikut tersenyum dengan kedua pipi yang tampak merona.


"Tapi kok Bapak belum ganti baju? Kenapa?" Syifa memerhatikan Joe yang masih memakai pakaian yang sama seperti tadi pagi. Bahkan dia juga terlihat belum mandi.


"Mau balik ke kamar untuk mandi tapi takut ada kurir yang mengantar makan malam kita, Fa. Jadi mandinya nanti saja, kalau kita selesai makan malam," jawab Joe.


"Oh. Terus ngomong-ngomong ... kita bersembunyi di sini sampai kapan, Pak? Abi sama Umi pasti khawatir."


"Nanti, kalau sudah ada kabar dari Robert. Dia belum menghubungiku, Fa." Joe merogoh saku dalam jasnya untuk mengambil ponsel milik Soni, yang dia pinjam untuk menunggu kabar selanjutnya dari Robert.


"Kalau misalkan Robert nggak berhasil bagaimana? Apa pertunangan dan pernikahan kita akan batal?" tanya Syifa dengan raut wajah yang mendadak sendu.


Perlahan Joe mengulurkan tangannya, kemudian meraih tangan kanan Syifa. Terasa hangat sekali dia genggam. "Nggak akan, Fa. Semuanya akan berjalan sesuai keinginan kita. Kita tunggu dulu sebentar kabar dari Robert, ya!"


Ting! Tong!


Terdengar suara bel berbunyi. Joe yang mendengarnya langsung menarik tangannya yang sejak tadi mengenggam Syifa. Cepat-cepat dia pun berdiri kemudian melangkah menuju pintu.


"Itu pasti makan malam kita, Fa, kita makan dulu." Joe membukakan pintu. Dan benar saja, itu seorang kurir pengantar makanan dan minuman yang sempat dia pesan. Yakni dua porsi nasi goreng spesial serta minuman es teh manis.


"Biar aku ambilkan piring dan sendoknya, ya, Pak!" tawar Syifa, ketika melihat dua kantong merah yang Joe bawa ditaruh di atas meja. Pria itu hanya mengangguk saja, atas jawaban dari pertanyaan Syifa.


Melihat gadis berhijab itu sudah menjauh menuju dapur, Joe pun kembali menghubungi Robert. Memastikan juga jika bocah itu baik-baik saja.


"Kok nggak diangkat-angkat? Ke mana si Robert? Dan bagaimana kira-kira, berhasil atau nggak?" gumam Joe bertanya-tanya. Panggilan itu sudah tersambung, tapi tidak diangkat.


*


*

__ADS_1


Seusai makan malam. Joe memutuskan untuk pindah ke apartemen sebelah. Tidak enak juga rasanya, jika terus berduaan. Takutnya dia khilaf.


"Kamu istirahat saja ya, Fa, kunci pintu terus tidur," ucap Joe. Dirinya sudah berada diambang pintu apartemen Syifa, gadis itu juga berdiri di depannya. "Tapi kalau butuh apa-apa, pencet bel apartemenku saja, ya!"


"Iya, Pak." Syifa mengangguk. "Si Robert ngomong-ngomong belum ada kabar juga? Ini sudah malam lho, Pak." Menatap ke arah jam tangan, yang sudah menunjukkan pukul 9.


"Belum. Nanti aku coba telepon Sandi deh, pasti si Soni juga menyimpan nomor Sandi," ucap Joe kemudian melangkah keluar. "Selamat malam, Fa, tidur yang nyenyak, ya!"


"Iya, Bapak juga." Syifa tersenyum. Dia mundur beberapa langkah untuk menutup pintu. Akan tetapi, tiba-tiba saja aliran listrik di apartemennya seketika padam.


Joe yang masih berada diluar langsung berteriak dan memanggil namanya, dia juga terlihat seperti panik. "Syifa! Kok mati lampu, Fa?!" pekiknya sambil menggedor-gedor pintu.


Cepat-cepat Syifa membuka pintu itu kembali, dan sontak saja dia terkejut kala Joe langsung memeluk tubuhnya.


"Fa! Kok mati lampu?! Aduh, gimana ini?" tanyanya dengan suara bergetar. Jantungnya pun dapat Syifa dengar karena sangking kencangkan berdebar.


"Aku nggak tau, Pak. Tiba-tiba mati." Syifa mendorong dada Joe, untuk melepaskan pelukan. Berdekatan dengan saling menempel seperti itu membuatnya tidak nyaman, apalagi mereka bukan muhrim dan keadaan pun gelap gulita.


"Jangan dilepas, Fa! Aku takut!" Joe malah mengeratkan pelukan. Sedari kecil, dia memang takut dengan kegelapan. Dia juga sejujurnya paling tidak bisa tidur seorang diri, karena pasti tak akan bisa tidur.


"Takut kenapa, Pak? Orang nggak ada apa-apa. Mending Bapak telepon satpam di sini," saran Syifa.


"Nggak punya nomornya aku, Fa."


"Ya sudah telepon siapa kek, Pak, minta bantuan," saran Syifa lagi. "Nggak mungkin juga kita turun dari lantai 4. Kan jauh banget, mana gelap lagi."


Joe lantas merogoh saku dalam jasnya. Semua saku hampir dia periksa untuk mencari ponsel. Akan tetapi dalam keadaan genting seperti ini, benda pipih itu malah menghilang entah kemana. "Mana lagi hapeku?! Kok nggak ada?" tanyanya cemas.


"Mungkin ketinggalan di sofa, Pak. Ayok kita cari dulu." Syifa melangkah pelan sambil meraba-raba tembok. Joe yang masih memeluk tubuhnya itu ikut berjalan juga, mengikuti ke mana kaki Syifa melangkah.


Susah payah Joe menelan saliva. Itu dilakukannya karena tubuh keduanya begitu menempel, hingga tanpa sadar dua bongkahan dada milik Syifa bisa Joe rasakan kekenyalannya.


'Dada perawan memang beda. Enak juga, ya, nempel begini. Udah lama juga aku baru ngerasain dada cewek setelah 7 tahun lamanya menduda,' batin Joe. Otaknya seketika menjadi travelling, memikirkan dada dibalik pembungkus dan gamis. Entah dari bentuk, warna, ukuran serta rasanya.


Dan mendadak, seperti ada aliran listrik di dalam celananya, yang membuat tongkatnya yang masih luka itu sontak berdiri tegak dan berdenyut-denyut. Tubuhnya pun sekarang berubah menjadi panas dingin.

__ADS_1


...Awas khilaf, inget masih luka 🤣...


__ADS_2