Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
Chapter 18


__ADS_3

***


Semakin malam suasana pesta semakin meriah. Banyak orang menari-nari di bawah kerlap-kerlip nya lampu di sana, anak dan istri Bian sudah pulang lebih dulu. Pesta yang Bian buat sungguh sangat menakjubkan untuk mereka yang hidup tanpa aturan, mereka bebas memilih wanita yang mereka mau. Ini juga sebagai bentuk promosi dari tempat hiburan baru.


Adeeva menari dengan gemulai di sana, Alderic larut dalam buaian wanita itu. Keduanya menari dengan enerjik, sungguh couple yang serasi.


"Ar, lihat wanita itu. Dia wanita terbaik di tempat ku, dulu." Bian menunjukan seorang wanita yang sedang menemani salah satu tamu. Wanita itu menggunakan dress di atas lutut berwarna hitam.


Arzan melihat sekilas pada wanita yang Bian maksud, pria itu memutar bola matanya jengah. "Dia terlihat tua." Kata Arzan.


Bian tergelak mendengar nya. "Ku pikir kau tidak bisa membedakan wanita tua dan seorang gadis muda."


Arzan mendengus kesal, Bian pikir Arzan itu apa sampai tidak bisa membedakan wanita muda dan tua.


Sementara itu di bagian sudut lain, Dean sedang di liputi kekesalan. Bisa-bisanya dia mengajak Zivana ke pesta ini, jika saja tahu akan seperti ini dia tidak akan mengajak gadis ini. Zivana malah terlihat asik mengobrol dengan salah satu tamu di sana, pria yang berumuran lebih muda dari Dean. Keduanya saling kenal karena papa mereka rekan bisnis.


"Masih sekolah?" tanya pria bernama Alfi pada Zivana.


Zivana mengangguk. "Iya, kamu?"


"Aku sudah kuliah." Jawab Alfi.


"Kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Alfi, yang di jawab gelengan kepala oleh Zivana.


Pembahasan tentang sekolah Zivana, lalu kuliah Alfi berlanjut sampai melupakan Dean yang berada di sana. Zivana terbawa suasana, dia sangat senang mengobrol dengan Alfi. Sesekali Dean berdehem untuk menyadarkan Zivana, namun Zivana rupanya terlalu asik dengan Alfi.


"Oh, iya Ziva. Ini om kamu?" Alfi beralih pada Dean yang kini tengah menatap tajam keduanya.


Zivana baru tersadar, dia melihat wajah tak bersahabat Dean. Gadis itu tersenyum kaku, di tambah pertanyaan dari Alfi. "Oh, ini. Ini.... Ini om Dean," Zivana mendadak jadi bingung harus menjawab apa.


Dean menautkan alisnya, dia menatap gadis itu dengan tatapan sulit di artikan. Jika biasanya Zivana akan mengaku sebagai calon istrinya, lalu kenapa saat di tanya Alfi seperti sekarang gadis itu terlihat bingung.


"Hallo, om. Maaf ya, saya tidak menyadari kehadiran om." Alfi tersenyum ramah, tapi lelaki itu tampak seperti tak enak hati.


Dean hanya berdehem singkat, pria itu mengendurkan dasi yang dia kenakan. Terlihat Dean yang mengambil gelas berisikan win, lalu meminum habis isi gelas itu.

__ADS_1


"Om," tegur Zivana saat Dean kembali menenggak minuman beralkohol itu.


"Apa?!" sahut Dean yang terdengar sedikit meninggi.


Zivana nampak menggelengkan kepalanya, dia tidak suka melihat Dean yang terlalu banyak minum. "Jangan minum lagi, om udah banyak minum."


Dean terkekeh kecil, pria itu kembali menuangkan win dalam gelas nya. Tak peduli dengan larangan Zivana, gadis itu terlanjur membuat nya kesal. "Siapa kau yang harus aku dengarkan?"


Dean tertawa hambar, sepertinya pria itu mulai kehilangan kesadaran nya. Minuman beralkohol itu mulai berpengaruh padanya. "Untuk apa aku mendengarkan mu?" Dean membanting gelasnya ke lantai. "Sialan!"


Pecahan dari gelas Dean berserakan, Zivana sangat terkejut di buatnya. Untung saja keadaan di pesta sangat berisik, sehingga suara pecahan gelas itu tidak menarik perhatian tamu yang lain.


"Om! Bisakah bersikap lebih sopan? ini di pesta orang, kenapa bersikap seperti ini?" Zivana terlihat kesal karena ulah Dean ini.


"Bersikap sopan? Kenapa tidak kau terapkan pada diri mu sendiri, bukan kah selama ini yang tidak sopan itu kau?!" bentak Dean tanpa sadar, pria itu menatap sengit Zivana.


Zivana memejamkan matanya, gadis itu menundukkan kepalanya. "Benarkan? Jangan sok mengajari ku," Dean mencengkram dagu gadis itu.


Alfi yang melihat itu pun berusaha melepaskan tangan Dean. "Om, lepasin!"


Alfi yang tak tahu ada hubungan apa di antara keduanya cukup bingung, tapi dia tidak bisa melihat seorang pria berlaku kasar pada seorang gadis. "Saya tidak tau kalian memiliki hubungan apa. Tapi, bisa kah om bersikap lebih lembut?" kata Alfi.


Dean membuang sengit wajahnya, ini benar-benar membuat dirinya muak. "Lihat, kalian bahkan terdengar kompak. Yang satu mengajari sopan santun, dan yang satu mengajari ku bersikap lembut."


Tidak, ini tidak seperti yang Dean simpulkan. Zivana tidak bermaksud untuk so mengajari, dia hanya ingin mengingatkan saja. "Om, maafin Ziva. Maksud Ziva bukan seperti itu,"


Zivana berusaha meraih tangan pria itu, namun Dean menghindar. Pria itu nampak berjalan menjauh, meski dengan sempoyongan Dean berjalan menjauh dari Zivana dan juga Alfi.


"Om!" Zivana mengikuti nya, dia harus membuat Dean mengerti.


Terlihat Dean yang berjalan kearah lorong menuju kamar-kamar yang ada di sana, Zivana mengikuti pria itu dari belakang. Dean menekan-nekan tombol di depan pintu itu, sial! Karena keadaan dirinya yang tak sadar, Dean gagal memasukan password untuk membuka pintu. Percobaan kedua gagal, ketiga pun masih gagal.


"Sialan!" umpat Dean lalu menendang pintu kamar itu. Dia berjongkok di depan pintu, pria itu menundukkan kepalanya.


"Om," Zivana berdiri di hadapannya, gadis itu berusaha menyentuh pundak Dean namun di tepis. "Om, dengerin Ziva dulu."

__ADS_1


Zivana tak menyerah, dia ikut berjongkok di hadapan Dean. Gadis itu mengangkat dagu Dean agar mau menatap nya. "Maafin Ziva ya, Ziva salah."


Dean diam tanpa berkata-kata, dia menatap dalam manik teduh milik Zivana. "Om, mau masuk? Ziva bantu ya," Gadis itu membantu Dean untuk berdiri.


Tidak ada penolakan ataupun persetujuan, Dean hanya diam dan mengikuti apa yang gadis itu lakukan. Zivana membuka pintu kamarnya, gadis itu menuntut Dean masuk.


Zivana mendudukkan pria itu di sisi ranjang, kemudian berjongkok melepaskan sepatu yang Dean kenakan. Zivana tahu Dean sekarang ini sedang tidak sadar, karena itu dia tidak terlalu mengambil hati perkataan Dean yang sebelumnya.


"Om, istirahat ya." Zivana berusaha menidurkan Dean, namun pria itu menahan tangan nya.


"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Dean.


Zivana tersenyum hangat, gadis itu merapihkan rambut Dean yang sedikit berantakan. "Karena Ziva sayang sama om, Ziva juga cinta sama om."


Dean membuang wajah kesembarang arah. "Bohong!" cetusnya.


Zivana menangkup wajah Dean, gadis itu mencium bibir Dean. "Om, percaya sekarang?"


Dean mengusap bibir nya, dia kembali menatap gadis itu. "Aku tidak suka melihat mu dekat dengan pria lain. Aku benci melihat senyum mu di tunjukan pada pria lain, aku sangat benci kau terlihat nyaman mengobrol dengan pria lain. Kau milikku, dan hanya aku yang berhak atas dirimu."


Penuturan Dean berhasil membuat Zivana tersenyum lebar, entah sadar atau tidak Dean sama saja mengungkapkan perasaan sukanya. Dari kata-kata yang dia ucapkan, itu artinya Dean membalas perasaan Zivana. Pria itu sudah menyukai Zivana.


"Om, i love you." Kata itu yang pernah Zivana ucapakan namun tak mendapatkan balasan yang sama, kini kembali dia ucapkan.


"Your my mine." Tegas Dean.


...***...


...Your my mine\= kamu milik ku...


...Uuhhh, langsung di klaim sebagai miliknya dong😭🤣...


...Btw, maaf ya baru up🙏 abis penilaian akhir tahun kemarin di lanjut ujian praktik, nah karena terlalu sibuk sampe lupa waktu istirahat jadinya badan drop🤒🤕🤧😭...


...Stay Healthy Guys! Jaga kesehatan ya 🤗 See You Next Part ✨...

__ADS_1


__ADS_2