Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
Chapter 40


__ADS_3

***


"Mau sampai kapan kamu jadi penguntit seperti ini? Itu rumah orang tuamu, cobalah masuk dan bicara pada mereka." Kia menatap iba sahabat nya itu.


Sudah tiga hari berturut-turut Zivana datang namun tak berani masuk, gadis itu hanya berdiri di depan gerbang lalu pergi.


"Tidak tau, mungkin untuk waktu lebih lama lagi." Zivana menatap pintu rumah yang tertutup rapat, gadis itu tersenyum pilu.


Tiga hari lalu Kia tak sengaja melihat Zivana berdiri di depan gerbang rumah, lalu esok harinya gadis itu pun melakukan hal yang sama. Ini hari ketiga Zivana melakukan itu.


"Coba saja, tidak ada salahnya bukan?" Kia menepuk pundak Zivana, dia sungguh kasihan melihat Zivana seperti ini. "Berbagi kebahagiaan dengan mereka, kamu ingin melakukan itu kan? Untuk itu, cobalah bicara pada mereka. Aku yakin, semua akan baik-baik saja."


Zivana menatap ragu pada pintu rumah yang tertutup rapat, dia takut akan semakin membuat keadaan rumit. Dia sangat ingin membagi kabar bahagia nya, dia ingin mengatakan sebentar lagi dia akan memiliki seseorang sesuai pilihan nya. Dia memilih Dean, pria yang membuat nya jatuh hati di pertemuan pertama mereka. Namun, kesan pertama orang tua Zivana tentang hubungan nya dan Dean tidaklah baik. Mereka tahu karena adanya kesalah pahaman, itu juga salah Zivana.


Seharusnya dia tidak merahasiakan apapun dari mereka, mungkin keadaan nya tidak akan seperti sekarang ini. Meski kebenaran tentang dirinya pasti terungkap, tapi setidak nya dia dan orang tuanya memiliki hubungan yang baik bukan seperti sekarang.


Andai Zivana menceritakan tentang Dean, mengungkapkan perasaan nya untuk pria itu pada orang tuanya maka kesalah pahaman itu tidak akan terjadi.


"Apa menurut kamu mereka akan menerima nya? Mereka sudah sangat kecewa karena aku diam-diam menjalin hubungan dengan om Dean, aku takut mereka malah tidak menyukai nya." Itulah ketakutan Zivana, yang selalu membuat nya ragu untuk memberi kabar bahagia nya.


"Bukan karena menjalin hubungan diam-diam, tapi mereka kecewa karena salah paham. Coba kamu jelaskan yang sebenarnya, aku yakin sekarang mereka akan mendengarkan kamu." Kia mencoba meyakinkan Zivana untuk bicara dengan keluarga nya.


Apa yang Kia katakan memang benar adanya, tapi masalah nya Zivana tidak bisa hanya bicara tapi juga harus ada bukti. Foto-foto dari Raffy kala itu, bukti kuat yang membuat mereka salah paham. Bukti pemesanan kamar hotel juga memperkuat nya, jadi semuanya akan sia-sia saja meski di jelaskan.


"Bukti pemesanan kamar hotel memperkuat semuanya. Aku bisa apa?"


...***...

__ADS_1


Suasana canggung menyelimuti ruangan Dean, hari ini dia ada rapat bersama beberapa rekan bisnis nya termasuk papa Zivana. Dean meminta Hendri untuk datang ke ruangan nya, ada hal penting yang harus dia katakan. Di sana ada Broto pria yang bisa membantu Dean menjelaskan kesalah paham yang ada.


Jujur saja Dean sedikit tidak nyaman membicarakan masalah pribadi nya dengan orang lain, tapi mau tak mau dia harus melibatkan Broto di pembicaraan mereka kali ini. Semua kekisruhan yang ada di sebabkan karena pertemuan nya dengan Broto.


"Apa yang mau kamu bicarakan? Saya harus kembali ke kantor." Kata Hendri yang tidak mau berlama-lama di sana.


"Pak Broto maaf, tapi bisakah anda menceritakan pertemuan kita di hotel kala itu. Saya butuh pernyataan jujur anda." Broto mengangguk setuju, dia menceritakan semuanya tanpa banyak bertanya meski dia tidak mengerti apapun tujuan Dean menyuruhnya untuk menceritakan semua.


"Baik, jadi___"


Flash Back On


Malam itu tiba-tiba saja ada kekacauan yang terjadi, manager hotel yang di kelola Dean meminta pria itu datang ke hotel. Di sana Broto yang merupakan rekan bisnis Dean mengalami kejadian kurang mengenakkan, sehingga dia protes pada pihak hotel dan meminta agar Dean datang.


Ada kesalahan dari staf, Broto memesan kamar hotel untuk dia dan istrinya tapi pihak hotel membuat kesalahan dengan membiarkan seorang wanita lain masuk. Sebenarnya wanita itu ingin menjatuhkan Broto, jadi dia mengaku-ngaku sebagai istri Broto. Kala itu Broto di pergoki oleh istrinya di kamar hotel dengan wanita lain, tentu saja Broto tak terima dengan tudingan istrinya.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, kekacauan yang terjadi berhasil di bereskan. Karena masalah itu mereka tidak sadar malam sudah larut, merasa sama-sama kelelahan akhirnya mereka memesan kamar di sana. Dean lupa dia belum mengantar Zivana pulang, mau menyuruh Arzan tapi pria itu sudah pergi dari sana.


"Gak apa-apa om, Ziva tidur di kamar hotel saja. Besok kita baru pulang." Jujur saja Dean merasa bersalah, Zivana pasti kelelahan karena acara kelulusan nya dan juga harus ikut dengan nya menyelesaikan kekacauan itu.


"Yakin? Bagaimana orang tua mu, apa mereka tidak akan marah?"


Zivana mengedigkan bahunya. "Entah, tapi nanti Ziva jelasin ke mereka."


Akhirnya malam itu Dean memesan satu kamar untuk Zivana, sedangkan dirinya tidur di ruangan khusus yang ada di sana. Itu dia sediakan sebagai jaga-jaga, kalau dia harus bekerja lembur di sana.


Flash Back Off

__ADS_1


Hendri meremas kaleng soda yang dia pegang, papa Zivana itu merasa begitu kesal. Bisa-bisanya dia tidak mendengarkan Zivana, dan malah langsung menuduh yang tidak-tidak. "Ziva tidak melakukan apapun, dan aku malah membiarkan Resa menghina nya."


Itulah sebabnya kenapa kita tidak boleh menyimpulkan sesuatu terlalu cepat, kadang kita perlu mencari tahu dahulu dan berpikir ratusan kali lagi untuk menyimpulkan sesuatu. Lihatlah, akibat terlalu terburu-buru menyimpulkan sesuatu dia membuat putri nya sendiri merasakan sakit.


"Bodoh! Aku membiarkan putri ku hidup sendirian di luar sana, aku membiarkan nya menderita atas sesuatu yang tidak pernah dia lakukan." Hendri kesal pada dirinya sendiri.


...***...


"Ziva?!" Resa yang baru saja sampai di rumah terkejut melihat Zivana ada di depan gerbang rumah nya, wanita itu baru kembali dari butik temannya.


Zivana tersenyum kaku, dia tidak menyangka akan ketahuan sekarang. Merasa Resa yang seperti tidak menyukai keberadaan nya, Zivana bergegas untuk pergi dari sana.


"Maaf Ziva lancang datang kemari, kalau gitu Ziva pergi dulu." Zivana menundukkan kepalanya tidak berani menatap Resa, dia tidak bisa melihat tatapan kebencian dari Resa.


"Kamu tidak mau masuk?"


Sontak saja pertanyaan dari Resa itu langsung membuat Zivana menghentikan langkah, dia langsung berbalik badan.


"Maksud mama?"


"Kamu datang kemari, tapi hanya berdiri seperti itu di depan gerbang. Apa kamu tidak mau masuk dulu?"


Apa Zivana tidak salah dengar? ini beneran Resa bukan? Dia tidak sedikit bermimpi kan?


"Mama," Zivana berkaca-kaca, dia tidak bisa mengatakan apapun untuk mendeskripsikan perasaan nya sekarang.


...***...

__ADS_1


...Up!Up!Up!Up!!...


__ADS_2