Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
Chapter 34


__ADS_3

***


"Hai bro!" Bian tiba-tiba saja masuk kedalam ruangan Dean. Pria pecinta dunia malam itu, langsung duduk di sopa.


"Kau masih mengingat ku rupanya?" Dean mematikan laptopnya dan mengambil bir di lemari pendingin yang ada di ruangan. Dia mengambil satu untuk nya, dan satu untuk Bian.


"Aku hanya bertapa sebentar, dan kini aku kembali. Ingatan ku tentang mu tidak akan pernah lemah, aku tidak akan melupakan duda berjas satu ini." Sahut Bian lalu meminum bir yang di berikan Dean.


Dean tertawa mendengarnya, bertapa apanya? Dean yakin pasti sahabat nya ini melakukan sesuatu, seperti berlibur bersama wanita lain.


"Bagaimana dengan putra dan istri mu?" pertanyaan Dean tentu saja di sambut tawa renyah Bian.


"Mereka tidak tahu, hahah!!"


Dia masih belum berubah, masih sering memakai jasa wanita-wanita penggoda. Jujur saja Dean tidak habis pikir dengan istri Bian, kenapa sampai tidak tahu? ataukah dia hanya pura-pura tidak tahu?


"Dia istri mu, kalian juga sudah memiliki putra. Aku rasa kau terlalu brengsek untuk mereka." Ini bukan yang pertama Bian melakukan itu, beberapa tahun lalu dia pernah melakukannya.


Dulu sebelum istrinya hamil, lalu saat usia anak nya 2 tahun. Kala itu Bian dan Dean pergi bersama, sebenarnya mereka berniat untuk bekerja tapi Bian membawa wanita gelapnya. Kejadian itu sudah cukup lama menurut Dean, dan itu terakhir kalinya Bian melakukan itu. Tapi, kali ini dia kembali berulah.


"Ayolah, aku juga terpaksa melakukan nya. Kali ini aku di jebak." Bian membela dirinya.


"Dijebak, tapi kau sangat menikmati nya bukan?" Dean tertawa sambil menggeleng kan kepalanya.


"Aku serius." Bian berubah jadi serius, raut wajahnya pun terlihat cemas. "Aku tidak tahu, tapi sekarang aku dalam masalah besar."

__ADS_1


Dean menghembuskan nafasnya malas, kenapa bisa dia memiliki sahabat seperti Bian. Sudah tua masih saja bertingkah.


"Istri ku pernah membuat surat perjanjian, dan kami sudah menandatangani nya di atas materai. Jika aku ketahuan bersama wanita lain, dia bisa menggugat cerai dan hak asuh sepenuhnya milik dia. Aku tidak bisa menemui putra ku, bahkan dia akan mencoret nama ku sebagai ayahnya."


Perjanjian macam apa itu? tapi itu sangat bagus, seharusnya Bian tidak melanggar jika dia takut. "Kenapa kau melakukannya jika takut?"


"Aku tidak melakukan apapun, wanita gila itu menjebak ku. Dia membuat kami tidur bersama dan mengambil gambar nya, dia juga memeras ku. Liburan kemarin adalah keinginan nya, jika aku tidak melakukan itu dia akan mengirimkan foto-foto itu pada istri ku." Bian mengusap kasar wajahnya, ini cukup menguras tenaga dan kantong nya.


"Siapa?"


"Adeeva,"


...***...


Dean duduk dengan tangan yang terus menggenggam tangan mungil Zivana, keduanya tengah berada di salah satu restoran yang tak jauh dari kantor Dean. Niatnya Dean mengajak Zivana kesana untuk makan malam berdua.


"Boleh, tapi jangan pake tangan." Dean menunjuk bibir gadis itu. "Pake itu." Zivana mencubit perut Dean, tidak tahu tempat!


Dean tertawa melihat wajah kesal Zivana, sejak gadis itu hadir hidup nya jadi penuh warna. Zivana mengejar nya dan sering mengganggunya, anehnya Dean tak pernah merasa terusik. Sedari awal Dean tidak pernah merasa risih pada gadis ini, Zivana memang terkadang sedikit mengesalkan tapi gadis itu selalu membuat Dean tertawa lewat tingkah konyol nya.


"Mama dan papa ingin bertemu dengan mu. Kemarin aku sudah menceritakan tentang lamaran mu itu, dan mereka menjadi bersemangat ingin bertemu dengan mu."


Zivana yang sedang menyuap makanan pun langsung menelan makanan nya, gadis itu menjadi begitu bersemangat. "Ayo om! Ziva juga mau ketemu camer!"


Jika gadis lain akan merasa khawatir, gugup ataupun merasa takut untuk lain halnya dengan Zivana, gadis itu malah bersemangat dan begitu gembira. Dia tidak sabar bertemu dengan orang tua Dean.

__ADS_1


"Zivana, kau tidak merasa gugup? Atau kau tidak takut?"


"Untuk apa aku takut, memang nya orang tua om itu makhluk jadi-jadian apa?"


Dean terkekeh sendiri, memang benar Zivana ini lain dari yang lain. Gadis ini tidak ada tandingannya, dia benar-benar ajaib.


"Mama ku cerewet, papa juga menyeramkan. Aku saja anaknya takut pada mereka." Dean malah menakut-nakuti Zivana, padahal gadis itu tak memiliki kekhawatiran sedikit pun.


"Aku tida takut." Sahut Zivana dengan santai.


"Baiklah, besok aku akan mengajak mu bertemu mereka. Kau tidak bekerja kan?"


"Okay!"


Lihatlah gadis ini, dia begitu terlihat santai dan percaya diri. Dia terlihat tidak memiliki beban apapun, padahal Dean merencanakan itu secara spontan.


"Kau percaya diri sekali, nona. Kau tidak takut jika mama ku tiba-tiba menolak mu menjadi menantunya?"


Zivana terlihat merenung sejenak, kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, kalau orang tua om menolak gampang, biar aku bawa kabur saja anaknya." Zivana terkekeh di akhir kalimat nya, dia benar-benar tidak peduli itu sekarang ini. Entah kenapa dia merasa begitu yakin, dia juga sebenarnya sudah pernah bertemu mama Dean.


...****...


...Up nih!!!!...


Sudah pernah aku bilang, bahwa aku bukan author rajin tapi tetep berusaha untuk buat cerita ini sampai end. So, kalian harus banyak sabar🙏 semisalnya bosen, bisa di tabung dan baca kalau udah end🙏

__ADS_1


...See You Next Part ✨...


__ADS_2