
***
"Om, malu tau." Protes Zivana sambil terus menunduk.
"Malu? Why?" Dean benar-benar tidak merasa bersalah sedikitpun, padahal sekarang orang tua Dean heboh karena ulahnya.
"Mama gak lihat apa-apa!" seru mama Dean sambil memukul-mukul lengan suaminya, di sini Zivana yang dicium tapi mama Dean yang salah tingkah.
Papa Dean mengacungkan jempol nya, dia merasa bangga kepada putranya. Dia rasa Dean adalah foto copy an dirinya, benar-benar seperti dirinya dulu. "Anak papa, kau yang terhebat."
Tidak tahukah mereka Zivana sangat malu sekarang, mereka memang tidak mempermasalahkan tapi Zivana sangat tidak nyaman. Dia mencubit perut Dean, awas saja dia akan memberi pelajaran duda satu ini.
...***...
Setelah acara makan-makan dan berbincang sepuas mereka, Dean mengantar Zivana pulang. Hari ini benar-benar menjadi hari yang sangat baik, lupakan permasalahan Zivana dan orang tuanya karena sekarang gadis itu bisa merasakan kasih sayang itu lagi dari kedua orang tua Dean.
"Om, Ziva seneng banget!" girang Zivana.
"Kenapa? karena aku cium di depan orang tua ku?"
Zivana langsung memukuli lengan Dean, dia masih membahas ciuman tidak tahu tempat nya itu. "Bukan!! Om, nyebelin banget sih!"
__ADS_1
Dean memang sangat senang mengganggu gadis ini, ketika kesal wajah Zivana menjadi sangat lucu. Karena itu sekarang Dean semakin suka membuat nya kesal.
"Ya sudah, coba jelaskan kenapa bisa sesenang itu?"
Zivana yang semula berada di mode merajuk, langsung menceritakan semuanya dengan semangat. "Pertama orang tua om itu baik banget!!! mereka nerima Ziva apa adanya. Kedua, mama om Dean ngingetin Ziva sama mama Resa. Ziva seneng, bisa ngerasain kasih sayang seorang ibu lagi. Pokoknya Ziva bahagia, pake banget!!"
"Aku lebih bahagia darimu, kebahagiaan ku berkali-kali lipat." Sahut Dean.
"Makasih om, semua berkat om. Ziva sayang sama om," Zivana memeluk lengan Dean, gadis itu bersandar pada bahu Dean.
Dean mengelus lembut rambut Zivana, dia juga begitu menyayangi gadis ini. "Tetap lah bahagia seperti ini."
...***...
Sekarang ini mereka sedang berada di tempat hiburan malam, Bian meminta Arzan menemani nya mengawasi Adeeva. Sebelumnya Bian sudah memberitahukan Alderic tentang Adeeva, pria tua itu masih mengincar Adeeva.
Adeeva menjebak Bian untuk uang, dia butuh uang untuk bertahan tapi tidak mau bekerja. Dia bisa saja bersama Alderic, tapi anak Alderic tidak akan tinggal diam. Sebelumnya Adeeva mendapat teror dari anak Alderic, sebab itu dia tidak lagi bersama pria tua itu dan malah menjebak Bian.
"Mau sampai kapan kita di sini? aku juga butuh tidur." Arzan sudah bosan di sana, dia juga sangat mengantuk.
"Tunggu lah Ar, sepertinya dia di sini untuk menemui seseorang. Mungkin itu orang yang membantu dia menjebak ku."
__ADS_1
Bian terus mengawasi Adeeva dari tempat duduknya, benar-benar tidak melewatkan apapun. Mungkin dia juga tidak berkedip, kali ini Bian harus menemukan jalan keluar.
"Dia menemui orang yang membantu nya, lalu apa yang akan kau lakukan? memaksa untuk mengatakan kebenaran? kau pikir akan mudah? tentu tidak." Arzan menyandar kan kepalanya, biarkan saja Bian dengan ide konyol nya itu.
"Lantas apa yang harus aku lakukan? Dia benar-benar tidak bisa di percaya, dia bisa membuat hidupku hancur."
"Culik saja dia, itu lebih mudah bukan?" kata Arzan santai.
"Menurut mu mudah? Bagaimana jika dia menyuruh rekannya itu untuk memberitahu istri ku? Lalu aku akan terjebak, dia tidak akan mengatakan yang sebenarnya dan istri ku akan meninggalkan ku."
Rasanya Bian ingin membunuhnya, andai tidak melanggar hukum. Dia benar-benar menyusahkan, kenapa juga dia sampai memperkerjakan wanita itu.
"Ya, kau benar." Arzan mulai menguap, dia tidak tahan dengan kantuk yang menyerang.
Bian masih fokus mengintai, dia bersumpah jika sudah mendapatkan bukti dia akan memberi pelajaran wanita gila itu.
"Aku akan membuat mu membayar semuanya, dasar wanita gila!"
...***...
...Holla!! Up lagi nih😂...
__ADS_1