Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
Chapter 24


__ADS_3

***


"Hiksss.....La___lalu si___siapa orang tua ku? Jik___jika bukan kalian, siapa orang tuaku?" lidahnya mendadak kelu. Dia jadi susah untuk berkata-kata, dia tidak percaya tapi Resa terus mengatakan nya. Lalu jika memang dia bukan anak mereka, lantas dia anak siapa? apa benar ibu kandung seorang p*****r?


Lantas Resa langsung menatap pada suaminya, Hendri papa Zivana itu menundukkan kepalanya. Dia tidak bisa berbuat banyak, Zivana sekarang akan tahu semuanya. Dia sangat malu untuk mengatakan nya, tapi itulah kenyataannya.


Zivana bukan putri mereka, melainkan putri Hendri dengan wanita lain. Resa memang merawatnya, tapi bukan Resa yang melahirkan nya.


"Saat itu papa tidak sengaja bertemu ibu mu, kami melewatkan malam bersama. Papa tidak tahu dia mengandung kamu." Hendri rasanya tak bisa mengatakan semuanya.


Sekitar 18 tahun lalu, Hendri memiliki bisnis yang dia kembangkan bersama temannya. Bisnisnya cukup berkembang, karena itu Hendri sangat sibuk. Suatu hari dia harus pergi keluar kota, di sana pertemuan tak sengaja antara Hendri dan ibu Zivana terjadi. Keduanya jatuh cinta di situasi yang salah, Hendri sudah menikah dengan Resa kala itu.


Baru 1 tahun usia pernikahan mereka, tapi yang namanya godaan pasti sangat sulit di tolak. Hendri tidak bisa melupakan wanita yang dia temui itu, setelah beberapa bulan pada akhirnya mereka memiliki hubungan. Saat itu Hendri jadi sering pergi keluar kota dengan alasan pekerjaan, padahal dia pergi menemui kekasihnya. Saat itu ibu kandung Zivana tidak tahu tentang Hendri yang sudah beristri, sampai pada suatu malam tanpa di duga mereka melewati batas.


Beberapa bulan berlalu, ibu Zivana ternyata mengandung Zivana. Saat itu usia kandungan nya memasuki bulan ketiga, Hendri tidak mengetahui itu. Ibu kandung Zivana memutuskan untuk pindah ke kota dimana Hendri tinggal, dia hidup sendiri. Saat itu Resa juga sedang mengandung, usia kandungan mereka sama. Keduanya bertemu di rumah sakit saat cek kehamilan, dari sana ibu kandung Zivana tahu Resa adalah istri Hendri karena saat itu Hendri menemani nya.


Pada bulan ke empat, bayi dalam kandungan Resa meninggal. Rahim nya pun harus di angkat, Resa seperti itu karena kaget mendengar kenyataan suaminya memiliki wanita lain. Awalnya Resa tak terima, tapi saat Hendri menyarankan agar bayi yang di kandung wanita itu di serahkan padanya, Resa menerima semuanya. Dia merawat selama masa kehamilan wanita itu, sampai proses persalinan nya pun Resa ikut menemani.


Resa tidak tahu apakah dia jahat karena mengambil Zivana dari ibu kandungnya, tapi yang jelas dia hanya ingin anak itu untuk dia jadikan putri kesayangannya. Tak peduli siapa yang melahirkan nya, tapi Resa akan menjadi ibunya.


"Aku titip putri ku mbak. Aku senang mbak menerima nya, dan aku yakin mbak adalah ibu terbaik untuk nya." Itu kata-kata terakhir dari ibu kandung Zivana sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Wanita itu tiada usai melahirkan Zivana.


"Didik dia, dan jadikan dia wanita tangguh seperti mu. Jauhkan dia dari bayang bayang ku, aku bukan wanita baik. Jangan sampai putri ku menjadi seperti ku." Pesan itu yang sampai sekarang selalu Resa ingat, sebisa mungkin Resa melakukan semuanya untuk Zivana agar tidak sampai salah jalan.


Zivana rasanya tak percaya, cerita Hendri dan Resa terdengar begitu menyayat hati tapi apakah itu benar?


"Kalian berdua bohong! kalian bohong!" seru Zivana tak terima, gadis itu menahan air matanya agar tak jatuh. Dia tidak boleh tertipu, bisa saja keduanya mengarang cerita.


Hendri ingin memeluk nya, dia ingin menenangkan putri nya itu. Dia ingin memberikan penjelasan agar Zivana mengerti, tapi saat melihat Resa yang malah memintanya untuk diam Hendri tidak bisa apa-apa.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, aku memiliki bukti nya. Kau mungkin akan percaya setelah melihat ini." Resa pergi ke kamar nya, dia mengambil kotak berisikan surat-surat dari ibu kandung Zivana.


Didalamnya ada foto-foto saat Zivana masih dalam kandungan, ada juga foto saat terakhir Zivana digendong ibunya. Tak lupa ada sebuah pesan tertulis di belakang foto tersebut.


Zivana mengambil salah satu foto, dimana dia yang terakhir kalinya di gendong sang ibu.


Kamu cantik, tumbuhlah dengan baik. Jangan seperti ibu mu, bodoh karena cinta. Ibu menyayangi mu.


Tak terasa cairan bening menetes setelah membaca tulisan itu, terlihat sederhana namun memiliki makna. Zivana memandangi foto itu, wajah mereka benar-benar mirip. Jadi ini kenapa dia dan Resa sama sekali tidak memiliki kemiripan, ternyata memang dia bukan anak nya Resa.


"Kau percaya sekarang? Ibu mu sangat ingin kau tumbuh jadi gadis tangguh, bukan jadi p*****r seperti nya." Kata Resa.


Zivana memejamkan matanya, dia bukan p*****r ibunya juga bukan p*****r. Mereka hanya bodoh karena cinta, semua karena masalah hati.


"Aku bukan p*****r, ibu ku juga bukan p*****r. Kami berdua hanya bodoh karena perasaan kami." Balas Zivana.


Resa menatap tak percaya, baru beberapa menit dia mengetahui ibu kandungnya tapi sudah berani menjawab Resa yang membesarkan nya. Benar-benar tidak tahu diri dan terima kasih.


Rumah tangganya hampir hancur karena ibu dan anak ini, lalu sekarang reputasi nya di pertaruhankan karena kelakukan Zivana. "Kalian berdua sama-sama menjijikan. Cihh!"


Resa pergi setelah mengatakan itu, dia tidak ada waktu menonton Zivana dan dramanya. Sudah cukup dia sabar dengan gadis ini, sekarang tidak lagi. Sudah waktunya dia tahu, sudah waktunya dia sadar akan siapa dirinya yang sebenarnya agar dia tidak berlaku seenaknya.


"Ziva, pergi ke kamar kamu. Istirahat lah, papa akan membujuk mama kamu agar memberikan kamu kesempatan untuk membuktikan diri kamu." Ujar Hendri lalu menyusul Resa.


Zivana membawa kota itu bersama nya, dia masuk ke kamar dan mulai menumpahkan air mata nya. Kenyataan macam apa ini? Kenapa pahit sekali rasanya? Bukan karena dia putri p****r, tetapi karena dia yang telat mengetahui ini. Andai dia tahu sejak awal, mungkin dia akan berusaha untuk bersikap lebih pantas agar tidak ada seorang pun yang meragukan karakter nya.


"Ibu, Ziva minta maaf. Hiksss...." Zivana mengusap foto sang ibu yang sedang tersenyum sambil memperlihatkan perut buncitnya di sebalik dress.


Dia marah pada dirinya sendiri, dia kecewa pada dirinya sendiri. Dia mengecewakan orang-orang terdekat nya, dia egois karena selama ini hanya memikirkan perasaan nya. "Aku hanya berusaha untuk mendapatkan cinta, bukan hal lain nya."

__ADS_1


Surat dalam amplop berwarna coklat mengundang perhatian nya, perlahan Zivana membuka nya. Gadis itu mulai membaca kata demi kata.


Hai, sayang! Apa kabar? Ibu harap kamu bahagia tanpa ibu. Ada atau tidak adanya ibu, kamu harus bahagia ya. Ada mama Resa yang gantiin ibu buat kamu, kamu harus jadi seperti nya. Kamu harus jadi wanita tangguh, ibu yakin kamu bisa lebih dari itu.


Sebenarnya, ibu tidak tau kapan kamu akan menerima surat ini. Ibu tau, kamu pasti membenci ibu, iya kan? Tapi, apa boleh ibu memohon? Ibu mohon jangan benci ibu, takdir sudah begitu kejam karena tidak mengizinkan kita untuk bersama.


Ibu tau, kamu pasti udah tau semuanya kan? Ibu bukan wanita p*****r, ibu hanya wanita tidak beruntung karena jatuh cinta pada papa mu. Apapun yang terjadi, ibu mohon jangan membenci ibu.


Ibu menyayangi mu, putri cantik ibu.


Zivana meremas suratnya, dia memukul dadanya karena sesak. Ini terlalu menyakitkan untuk nya.


"Ziva tidak pernah membenci ibu. Ibu wanita tangguh itu, tidak perlu menjadi seperti wanita lain. Aku akan jadi wanita tangguh seperti mu, ibu."


Setelah Zivana merasa dirinya sedikit tenang, dia membuka surat kedua. Hatinya saat ini merasakan rasa sakit yang sesungguhnya, disaat seseorang yang bahkan tidak pernah dia bayangkan ternyata adalah ibu yang berjuang untuk bisa melahirkan nya. Bahkan selama ini Zivana tidak tahu, ibunya begitu kuat demi dirinya.


Temui ibu jika kamu sudah siap. Ibu sangat ingin bertemu dengan mu, akan ibu tuliskan dimana alamat rumah terakhir ibu.


TPU Pondok Indah blok A


Tangisannya tak kuasa di tahan lagi, kenyataan ini yang teramat menyakitkan. Ibunya sudah tidak ada, tidak ada lagi kesempatan untuk nya memeluk tubuh sang ibu. Tidak ada kesempatan untuk Zivana melihat secara langsung wajah cantik ibunya yang sudah mulai menua, ini yang paling dia sesali.


"Kenapa ibu berjuang untuk melahirkan Ziva, jika pada akhirnya ibu ninggalin Ziva di sini. Ziva sendirian Bu,"


Kosong tatapan nya menjadi kosong, kebenaran tentang dirinya seperti merampas semangat hidupnya. Zivana duduk melantai dengan memeluk lututnya, dia menyandarkan kepalanya pada dinding kamar. Dia kehilangan tujuan hidupnya, semua seakan sia-sia. Sekarang akan bagiamana dia hidup? bahkan orang yang selama ini merawat nya sudah tak menginginkan nya lagi.


...***...


...Up lagi guys!...

__ADS_1


...Duh, kayanya aku gk ada bakat nulis sedih gini. Ini udah berusaha semaksimal mungkin, tapi aku ngerasa gk ada part yang mengandung bawangnya 😭 mohon maaf 🙏🙏...


__ADS_2