Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
Chapter 37


__ADS_3

***


Malam kian merangkak naik, Bian masih berada di tempat hiburan malam. Arzan sudah tertidur dengan bersandar pada sopa, dia tidak bisa menahan rasa kantuknya. Sesekali Bian mengumpat kesal, dia memanggil Arzan untuk menemani nya bukan untuk tidur.


Wanita yang Bian awasi terlihat masih begitu semangat menarik di sana, Adeeva bahkan sudah banyak minum alkohol. Entah apa niat wanita itu datang kemari, menurut Bian tidak mungkin hanya untuk bersenang-senang pasti ada sesuatu di tempat itu.


"Tunggu, kemana dia?" Bian mengedarkan pandangannya, tiba-tiba saja Adeeva menghilang dari sana. Buru-buru Bian berdiri dan mendatangi tempat Adeeva berjoget tadi, dia bertanya pada salah satu orang yang tadi menari bersama Adeeva.


"Wanita yang memakai baju warna merah kemana dia? tadi dia menari di sini." Orang yang Bian tanya menunjuk pada lorong menuju keluar, tanpa pikir panjang lagi pria itu berlari menuju lorong.


Dia meninggalkan Arzan yang tertidur pulas, biarkan saja dia bangun dengan sendirinya. Bian harus mengejar Adeeva sekarang, dia beraliran dengan terus mengedarkan pandangan sebab belum melihat ada tanda-tanda Adeeva di sana.


"Kemana dia?" Bian keluar dari tempat hiburan itu, Adeeva bahkan tidak ada di sekitar sana. "Sial! dia pergi kemana?"


Diujung jalan sana, ada sebuah halte. Samar-samar Bian seperti melihat seseorang di sana, dia langsung lari untuk memastikan.


"Adeeva!!" Bian melihat wanita itu di sana, dia duduk dengan keadaan setengah sadar.


"Hah? siapa kau?" Adeeva tak bisa melihat jelas pada Bian yang kini berada di hadapannya.


Bian menarik wanita itu, meski Adeeva melakukan perlawanan tapi tenaga Bian jauh lebih kuat. "Masuk!" Bian membuka pintu mobil, karena Adeeva yang tak mau masuk juga Bian terpaksa mendorong nya untuk masuk.


"Hei! sakit tau!" seru Adeeva.


"Diam!" bentak Bian yang langsung membuat Adeeva diam.


Mobil Bian melaju kencang, dia merasa begitu murka pada wanita di samping nya. Ada banyak hal yang harus wanita itu bayar mahal, dan sepertinya dalam waktu dekat ini dia akan membayar itu.


Beberapa saat berlalu, mereka sampai di apartement yang di tinggali Adeeva selama ini. Apartemen itu sebenarnya milik Bian, dia membeli itu untuk putra nya.


"Kita dimana? Oh, hotel." Adeeva biasanya tak pernah semabuk ini, alkohol dan sejenisnya sudah biasa bagi dia tapi kali ini seperti nya dia minum sangat banyak.


Bian menarik paksa Adeeva untuk keluar, dia membawa wanita itu untuk naik ke unit nya. Beberapa orang melihat pada mereka, seakan tak peduli itu Bian terus menyeret Adeeva. Sesampainya di unit mereka, Adeeva langsung di dorong masuk dengan kasar.

__ADS_1


"Aawws! Kenapa kau kasar sekali?" Adeeva hendak berdiri namun Bian menginjak bajunya, alhasil wanita itu terduduk kembali.


"Kenapa, sakit? Kau pantas merasakan nya, setelah memeras ku dan mengancam ku hal seperti ini belum ada apa-apanya."


Adeeva terlihat mengadahkan pandangan nya, wanita itu menyipitkan mata nya. "Kau terlalu bodoh!"


"Dasar wanita gila!" Bian membuang pandangannya, pria itu sangat kesal pada Adeeva.


Tunggu, tunggu! Dia sedang mabuk bukan? Bian langsung mengeluarkan ponselnya, dia menyalakan rekaman pada ponsel yang dia keluarkan. Setelah itu dia berjongkok di hadapan Adeeva. "Jelaskan bagaimana bisa kau mendapatkan foto itu?!"


"Hahaha! itu sangat mudah, karena kau terlalu bodoh." Bian mengepalkan tangannya, sudah berapa kali wanita ini mengatai nya bodoh.


"Berhenti mengatai ku bodoh, kau pun wanita gila!"


Adeeva terlihat tertawa, wanita itu mengibaskan rambutnya. "Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya memasukan obat tidur pada minuman mu, dan mengambil gambar itu. Sangat mudah bukan?"


"Dapat!" seru Bian, dia berhasil mendapat pengakuan Adeeva dengan mudah. Pria itu langsung mematikan ponselnya lalu berdiri hendak pergi, namun Adeeva menahan kaki nya.


"Pulanglah, kemana lagi? Oh, iya aku akan mengusir mu besok." Bian berlalu dari sana, meninggalkan Adeeva yang masih duduk melantai.


...***...


Arzan mengerjabkan matanya berkali-kali setelah merasakan ada seseorang yang menepuk-nepuk bahunya, dia terbangun dengan kepala yang berdenyut nyeri. Arzan masih mencoba mengumpulkan nyawanya, dia melihat sekeliling dan betapa terkejutnya Arzan saat sadar dia masih di tempat hiburan malam.


"Kau tidak punya rumah? Kenapa tidur di sini?" Dean berdiri dengan senyum mengejek kearah nya.


"Tuan?"


"Pantas saja aku menelpon mu tapi tidak di jawab, ternyata kau tidur di sini. Untung saja Bian memberitahu ku."


Ah, iya Arzan baru sadar Bian tidak ada di sana. Kemana perginya?


"Dia sudah pulang." Kata Dean.

__ADS_1


Bian sialan! Arzan mengumpat serapah pria itu, bisa-bisanya dia meninggalkan Arzan yang menemani nya. Awas saja jika bertemu, Arzan akan membuat perhitungan. Bahkan Arzan tetap datang untuk menemani nya karena merasa kasihan, dan dengan tega nya Bian meninggalkan dia di sana.


"Awas kau, bapak satu anak! Biar ku beri pelajaran kau kalau bertemu nanti."


Dean tertawa mendengarnya, pria itu juga datang karena kasihan pada Arzan. Takut-takut ada yang menculiknya di sana, bagaimana pun Arzan adalah orang penting untuk nya.


"Sudahlah, besok kau bisa membalas nya." Ucap Dean dan berlalu dari sana. "Ayo pulang!"


Arzan bangkit mengikuti Dean dari belakang, kepalanya masih terasa pening karena tidurnya terganggu. Untung saja dia tidak di hampiri orang jahil, bisa-bisa dia mendapat masalah di sana.


"Apa yang kau dapatkan di sini?" kedua nya berjalan keluar tempat hiburan itu.


"Sakit leher, dan kepala." Sahut Arzan sambil memijat pangkal hidung nya.


"Aku pikir kau akan mendapatkan gadis di sini, ternyata tidak."


"Gadis apanya? Aku hanya mendapat sakit di leher dan kepala." Arzan merogoh kunci mobil miliknya, mereka berpisah karena membawa mobil masing-masing.


Dean terkekeh mendengar nya, kasihan asisten nya itu sudah lama sendiri masih belum menemukan seseorang yang pas juga.


"Cepat cari seorang gadis, saat datang ke acara pernikahan ku nanti kau harus membawa nya." Seru Dean yang langsung masuk kedalam mobilnya.


Tentunya Arzan masih bisa mendengar itu, dia memutar bola matanya jengah. Sombong, tidak ingat kah dia? Bahwa dia juga baru bisa melupakan mantan istrinya, itu pun berkat Zivana. Dia melupakan begitu saja nasib mereka yang beberapa bulan lalu memiliki nasib yang sama, tidak memiliki kekasih dan hanya menggilai pekerjaan.


"Dasar duda 30 hari." Umpat Arzan.


...***...


...Up!Up!Up!...


Enaknya pesta pernikahan Dean sama Ziva dimana ya?😂 Gedung mewah, pantai, sawah atau hutan ya😭😭 Jadi bingung wkwk😂😂


Btw, ini ngetik udah dari sore loh😭 cuma banyak istirahat nya, jadi baru beres sekarang 😭😭 Gak gampang ngetik ginian tuh😭😭

__ADS_1


__ADS_2