
***
Seperti yang Dean katakan mereka berdua pergi berbelanja dan mengunjungi universitas tempat Zivana akan melanjutkan kuliah nya, ada banyak bahan yang mereka beli sengaja untuk di jadikan stok supaya Zivana tidak kesulitan nanti nya. Berbelanja kebutuhan rumah tangga di tempat baru, tidaklah mudah. Bukan hanya karena tempat nya yang asing, tapi yang dia beli pun sedikit asing.
Biasanya Zivana akan memakai bahan yang ada di dapur rumah nya, tanpa tahu dimana membelinya. Gadis itu juga tidak terlalu tahu mengenai bumbu-bumbu, dan ada beberapa sayuran yang dia tidak tahu namanya. Untung nya Dean cukup banyak tahu, pria itu begitu sabar mengenalkan beberapa bahan yang tidak gadis itu ketahui.
"Om, ini udah cukup kayaknya." Zivana melihat keranjang belanja yang di bawa Dean sudah terisi penuh, jika di lihat-lihat juga seperti tidak ada yang kurang.
"Hmmm, apa tidak ada yang tertinggal? Coba ingat-ingat lagi." Kata Dean.
Zivana berpikir sejenak, dia tidak tahu tapi dia rasa semuanya sudah cukup tidak ada yang kurang. "Udah om, Ziva rasanya tidak ada yang kurang. Kalau pun ada nanti kita bisa beli kemari lagi kan?"
Dean pun setuju untuk menyudahi acara berbelanja nya, keduanya mengantri untuk membayar belanjaan. Setelah mendapat giliran Dean langsung membayar nya, dan setelah itu kedua nya bergegas untuk pergi ke kampus. Jaraknya tak terlalu jauh, mereka hanya menempuh perjalanan sekitar 15 menit.
Zivana menatap gedung kampus nya, gadis itu merasa ragu untuk masuk. Melihat begitu banyak nya orang di kampus itu membuat Zivana sedikit ragu, apakah dia mampu menyesuaikan diri? Pasti ada banyak orang yang berasal dari berbagai negara.
"Ayo!" Dean menggandeng tangan gadis itu, mengajak nya masuk untuk melihat-lihat. Dia juga datang untuk bertemu salah satu dosen di sana, dosen senior yang dulu juga sempat menjadi dosen nya.
"Om, Ziva jadi ragu."
"Why? Jangan mengkhawatirkan apapun, di sini semuanya aman. Ada banyak juga orang orang Asia di sini, bahkan ada banyak mahasiswa asal Indonesia." Dean mencoba memberikan pengertian pada Zivana.
Dean tetap memaksa Zivana untuk masuk, dia terus menggandeng gadis itu. Dean menunjukkan beberapa orang yang di ketahui berasal dari Indonesia, dia menunjukan pada Zivana bahwa bukan hanya dia yang berasal dari Indonesia tapi ada banyak dan mereka baik-baik saja di sini. Melanjutkan kuliah dengan baik, bahkan memiliki banyak teman.
__ADS_1
"Lihat, kau bisa memiliki banyak teman dan banyak belajar bahasa. Jadi, apa yang harus di khawatir kan?"
Zivana perlahan mulai meyakinkan dirinya, gadis itu tak lagi bersembunyi di balik tubuh kekar Dean. Dia akan mencoba, jika orang lain saja bisa kenapa dia tidak.
***
Arzan baru terbangun dari tidurnya, dia tidur cukup lama karena habis meminum obat. Arzan duduk merenung di dalam kamarnya, pria itu masih memikirkan yang dia lihat di toko obat tadi. Seakan itu adalah mimpi, dan dia sangat berharap itu adalah mimpi.
Sayangnya itu adalah sebuah kenyataan, bukan mimpi. Perjuangannya selama ini ternyata tidak ada gunanya, pada akhirnya semua sia-sia saja. Dia telah melewatkan kesempatan untuk melupakan semuanya, di saat seharusnya dia melangkah maju tanpa mengingat apapun Arzan justru melangkah maju karena mengingat itu.
Dia bekerja keras demi orang ini, demi orang yang ternyata sudah tak mengingatnya lagi. Harapan Arzan hancur, waktu selama 5 tahun ini tidak ada artinya. Tapi, dia juga sangat bersyukur orang yang ingin dia bahagiakan telah bahagia meski bukan bersama dirinya.
"Setidaknya kau bahagia dengan kehidupan mu, biarkan aku merasakan sakit nya sendiri dan bisa segera melupakan semuanya."
Gladys nama itu beberapa tahun belakangan ini menghantui Arzan, pria itu sangat ingin bisa bertemu dengan nya kembali. Dia dulu berlaku tidak adil pada nya demi mencari orang tuanya, tapi sekarang Arzan ingin menebus semuanya.
Sayangnya, Gladys yang dulu berangkat ke London hanya untuk melanjutkan kuliah kini telah menetap di sana. Gladys pun sudah memiliki keluarga, dan dari apa yang Arzan lihat sepertinya dia hidup bahagia.
"Glad, aku bahagia untuk mu. Aku selalu berdoa yang terbaik untuk mu." Arzan menatap fotonya dan Gladys yang di ambil beberapa tahun lalu, dia masih menyimpan dengan baik foto tersebut.
Pantas saja kenapa selama ini Arzan tidak bisa menemukan keberadaan Gladys, ternyata gadis itu mengganti identitas nya. Dia dan Gladys sama-sama anak yang di besarkan di panti asuhan, tapi Arzan beruntung karena bertemu Dean dan bekerja dengan nya.
Arzan dulu menjamin kehidupan Gladys dari hasil kerja nya, sampai dimana gadis itu mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah dan Arzan ingin mencari orang tuanya. Gladys tahu Arzan tidak akan membiarkan nya pergi jauh, sebab itu dia pergi tanpa sepengetahuan Arzan.
__ADS_1
Tentu saja Arzan marah, karena itu dia mengabaikan Gladys saat gadis itu sempat kembali ke Indonesia. Arzan memilih untuk mencari orang tuanya, dan membiarkan Gladys dengan keinginan nya. Tapi, dia tidak pernah berniat untuk melupakan Gladys dan janji-janji yang pernah mereka buat. Dia hanya marah saat itu, sayangnya dia terlambat. Gladys sudah memutuskan untuk pergi jauh, gadis itu memilih jalannya sendiri.
Arzan duduk dengan kepala tertunduk, dia merasakan pusing yang kian menjalar saat memikirkan itu. Dia juga teringat seseorang yang mungkin merasa kecewa padanya saat ini, gadis yang beberapa waktu lalu mengisi hari-harinya. Dia menemukan orang baru, tapi rasa bersalahnya pada Gladys membuat nya mengabaikan semuanya.
Saat ini Arzan rasanya ingin menghilang sebentar dari kerumitan ini, dia ingin menenangkan dirinya dan memikirkan semua dari awal. Dia juga harus melangkah maju tanpa beban apapun lagi, dan tentu nya dia juga butuh waktu untuk mengerti apa yang perasaan nya inginkan sekarang ini.
...***...
Dean dan Zivana baru saja sampai di apartement mereka, setelah seharian ini datang ke beberapa tempat. Sangat melelahkan tentunya, Zivana bahkan sudah merasa mengantuk sepanjang perjalanan.
"Mandi jangan tidur." Dean memberikan peringatan saat melihat Zivana yang malah duduk bersandar di sopa, pria itu membawa belanjaan ke dapur.
"Tapi, Ziva ngantuk om!"
Dean yang sedang berada di dapur itu mendengar suara Zivana, dia melihat jam yang menunjukan baru pukul 5 sore. Dean sebenarnya lelah jika harus merapihkan belanjaan sendirian, tapi dia juga kasihan pada Zivana.
"Tidurlah, nanti akan aku bangunkan saat makan malam." Kata Dean sambil berjalan melewati Zivana menuju kamar, pria itu akan mandi lebih dulu baru merapihkan belanjaan mereka.
Tentu nya tanpa pikir panjang lagi, Zivana langsung meringkuk di sopa. Gadis itu tertidur pulas di sana. "Tidur beneran?" Dean mendengus saat melihat itu, dia selalu di nistakan oleh istri kecilnya itu.
...***...
...Up!Up!Up!...
__ADS_1