Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
Chapter 21


__ADS_3

***


Acara wisuda Zivana berjalan dengan lancar, kini sudah sampai pada acara terkahir. Acara yang memang wajib ada yaitu sesi foto bersama. Zivana sudah berada di antara teman-teman nya, mereka akan mengambil potret satu kelas. Sang fotografer sudah siap mengambil gambar, pada hitungan ketiga gambar mereka pun berhasil di ambil.


"Oke, ganti gaya." Instruksi sang fotografer, yang tak lain adalah Raffy.


Setelah puas mengambil banyak foto tentunya dengan pose yang beragam juga mereka mulai membubarkan diri. Nanti malam mereka akan bertemu lagi di acar prom night, malam inj khusu untuk mereka merayakan kelulusan.


"Ziva, nanti malam mau aku jemput?" tawar Raffy.


"Ah, itu gak usah Raff. Mau di anter papa, hehe..." Zivana menunjukan senyum di akhir kalimat nya, tentunya sedikit kaku karena tak enak hati.


"Ohh." Raffy menganggukkan kepalanya, lalu beralih menatap Kia. "Kia, mau bareng nanti malam?"


Kia yang tengah melihat-lihat foto yang tadi mereka ambil pun menoleh pada Raffy. Alis gadis itu tertaut heran. "Kamu ngomong sama siapa Raff?"


"Kiara!" kesal Raffy lantaran Kia seperti sedang mengejek nya.


Kia tertawa renyah, gadis itu melirik pada lelaki yang berdiri tak jauh dari mereka sekarang. "Coba tanya dia. Boleh gak aku bareng sama kamu Raff,"


Lelaki yang Kia tunjuk adalah kakak sepupunya, kakak sepupu Kia selalu melarang Kia pergi bersama seorang lelaki selain dia dan papa Kia. Satria begitu menyayangi Kia meski mereka hanya sepupu, selama ini juga Satria alasannya kenapa tidak ada lelaki yang berani mendekati Kia.


"Raffy mana berani." Kata Zivana sambil menahan tawanya, bukan apa-apa Satria itu di kenal sebagai murid berandal. Tidak ada yang berani padanya.


Kedua gadis itu menertawai Raffy, mereka pergi meninggalkan Raffy yang masih kebingungan itu. Antara meminta izin Satria, atau datang ke acara nanti malam sendirian.


"Satria sialan!" umpat Raffy yang pada akhirnya memilih pergi, dia tidak berani meminta izin Satria.


Sebenarnya Zivana juga berbohong, nanti malam dia tidak di antar papa nya melainkan oleh Dean. Hari ini pria itu tidak datang, Dean sibuk dengan pekerjaan nya. Tapi, dia sudah berjanji akan menjemput Zivana untuk acara prom night nanti. Dean juga siap menunggu gadis itu selesai dengan prom night nya.


***


Tepat pukul 18:30 Dean sudah berada di depan gerbang rumah Zivana, pria itu menepati janji nya. Zivana yang sudah menunggu nya pun langsung berlari turun dari kamar nya, gadis itu mengenakan gaun sederhana berwarna biru dongker. Untuk gaun kali ini tidak terlalu terbuka, selain karena ini masih acara dari sekolah gaun ini mama Zivana yang memilihkan.


"Mama, papa! Ziva berangkat dulu." Zivana berlari melewati orang tuanya, kedua orang tua Zivana hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Zivana.

__ADS_1


"Sama siapa Ziva?!" teriak sang Mama.


"Sama temen ma!" sahut Zivana yang sudah berada di teras rumah.


"Hati-hati!" teriakan mama nya kembali terdengar.


Zivana tersenyum senang melihat Dean sedang menunggu nya di mobil, gadis itu juga bersyukur orang tuanya tak bertanya tentang teman nya yang ini.


"Om," Zivana mengetuk kaca mobil nya, Dean menurunkan kaca mobil.


"Masuk." Titah Dean sambil membuka pintu sebelah kemudi dari dalam, tidak terlalu romantis tapi Zivana tetap suka.


"Om udah lama nunggu nya?" tanya Zivana saat sudah duduk, dia melihat raut wajah Dean yang seperti sedang menahan kesal.


Dean menggelengkan kepala, pria itu mulai melajukan mobilnya. Dari raut wajahnya Zivana tahu Dean sedang kesal, tapi pada siapa? apakah pada dirinya?


"Om, om marah sama Ziva?" tanya Zivana dengan sedikit ragu.


Dean kembali menggelengkan kepala, tentu saja semakin membuat Zivana bingung. Lantas kenapa duda satu ini?


Dean masih enggan berbicara, pria itu terus diam. Bahkan Zivana pun ikut diam, Zivana takut jika terus bertanya Dean akan semakin kesal padanya. Hening menyelimuti keduanya, sesekali Zivana mencuri pandang ke arah Dean. Pria itu tetap sama, ekspresi wajahnya masih sama.


"Kenapa diam?" Dean pada akhirnya mengeluarkan suara.


Zivana menoleh padanya. "Kenapa diam?" ulang Dean lagi.


"Om yang diam saja, jadi Ziva ikutan. Ziva takut kalau Ziva terus berbicara, nanti om marah sama Ziva. Jadi, Ziva pilih ikutan diam." Tutur Zivana yang malah berbicara panjang setelah diam cukup lama.


Terdengar helaan nafas berat dari Dean, pria itu menepikan mobilnya. "Saya yang seharusnya berpikir seperti itu." Kata Dean.


Zivana melongo seketika, mobil mereka berhenti di bahu jalan yang jaraknya masih lumayan jauh ke acara prom night nya.


"Kenapa om?"


Dean mendekatkan diri pada Zivana. "Saya minta maaf tidak hadir tadi siang, itu juga yang membuat saya kesal sedari tadi." Tutur Dean menjelaskan alasannya diam sedari tadi.

__ADS_1


Cukup kaget dengan alasan Dean, tapi rasa senang paling mendominasi. Karena tidak hadir di acara wisuda Zivana, om dudanya itu kesal pada dirinya sendiri. OMG! Zivana semakin di buat gila.


"Om, tidak apa. Ziva ngerti ko." Zivana mengusap-usap pelan wajah Dean, entahlah tapi Zivana suka mengusap bagian wajah Dean alasannya sederhana. Itu karena wajah Dean yang tampan, dengan kulit mulusnya.


Dean kembali melajukan mobilnya, tangan kanan nya memegang kemudi dan tangan kirinya menggenggam tangan Zivana. Tak terasa mereka pun sampai, Dean tidak bisa ikut turun karena di sana sudah ramai. Ini acara untuk merayakan kelulusan anak SMA, tidak mungkin Dean ikut bergabung.


"Om, Ziva masuk dulu ya." Kata Zivana. "Mau nungguin dimana? Atau om pulang aja dulu, nanti Ziva telpon."


"Saya tunggu di caffe depan, kalau sudah selesai telpon saya." Ujar Dean, gadis itu mengangguk mengerti.


Zivana keluar dari mobil Dean, dan di depan pintu masuk sudah ada Raffy yang menunggu nya. Laki-laki sedari tadi memperhatikan mobil Dean, tanpa di sangka ternyata Zivana keluar dari sana. Raffy seperti kenal dengan mobil itu, tapi dia lupa dimana dia pernah melihat nya.


Setelah melihat Zivana keluar dari mobil, rasa penasaran Raffy semakin besar. Dia berusaha melihat orang yang ada di kursi kemudi, karena Raffy yakin itu bukan papa Zivana. "Ziva!" panggil Raffy, sambil menghampiri Zivana.


Zivana tersentak kaget, jangan sampai Raffy melihat dia di antar oleh Dean bisa jadi bahan gosipan di acara nanti. "Ehh Raff,"


"Papa kamu? Aku mau kenalan dong." Ujar Raffy, sengaja ingin memastikan siapa orang yang mengantar Zivana.


"Iya Raff. Tapi, kita udah terlat Raff, nanti saja kenalan nya." Zivana mencoba mengalihkan perhatian Raffy.


Raffy yang memang penasaran masih mencoba melihat kedalam mobil, dan sialnya kacanya tidak tembus pandang. Jadi orang yang dari luar tidak bisa melihat kedalam mobil.


"Ayo Raff," Zivana mendorong-dorong tubuh Raffy agar pergi dari sana. "Raffy, ayo!"


Jika Raffy sampai melihat Dean itu akan menjadi masalah, mereka pernah bertemu di club waktu itu dan jika Raffy mengingatnya Raffy bisa curiga. Zivana takut Raffy salah paham, dia takut Raffy berpikiran aneh tentang nya. Biasanya jika ada seorang gadis muda menjalin hubungan dengan pria yang umurnya lebih dewasa, maka berita tidak mengenakan selalu terdengar. Mereka akan beranggapan si gadis menjual diri, atau si gadis jadi simpanan suami orang dan masih banyak lagi.


Keduanya masuk dengan Zivana menyeret Raffy. Dean memperhatikan semuanya dari dalam mobil, dia ingat laki-laki itu yang pernah dia temui di club. Perasaan Dean jadi tidak karuan, dia jadi ragu untuk meninggalkan Zivana di sana.


"Sial! Aku harus apa?" Dean mengumpati dirinya. Dia tidak suka melihat cara Raffy memandang Zivana, dia juga tidak suka melihat mereka berdua dekat.


Jadi, Dean pergi atau dia harus masuk untuk mengawasi Zivana?


"Ah, astaga! Ini benar-benar gila." frustasi Dean, dia mengusap wajah nya dengan kasar.


...***...

__ADS_1


...Hallo, up nih!...


...Lama ngilang ya😭 Maaf banget 🙏 mendadak otak nya butuh refreshing 😭🙏...


__ADS_2