Mengejar Duda 30 Hari

Mengejar Duda 30 Hari
S2• Aku bukan sopir mu


__ADS_3

***


Sejak pembicaraan antara Kia dan Arzan malam tadi, keduanya mendadak jadi saling diam. Kecanggungan tiba-tiba saja muncul di antara keduanya. Baik Arzan ataupun Kia sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing, suasana meja makan pagi ini terasa jauh lebih sepi dari biasanya.


Kia memilih untuk diam sebab dia tidak memiliki topik pembicaraan apapun, mau membahas mengenai investasi yang di janjikan Arzan rasanya Kia sedikit malu. Kia menunggu pria itu memulai pembicaraan di antara mereka, terutama mengenai investasi itu. Tapi, sepertinya tidak ada tanda-tanda Arzan akan memulai pembicaraan.


Sama halnya dengan Kia, pria itu juga merasa bingung mau membahas apa. Dia ingin mengatakan sesuatu tentang investasi yang dia janjikan, tapi penolakan Kia semalam membuat Arzan ragu. Arzan takut Kia merasa tidak nyaman, perkataan Kia semalam masih terngiang jelas. Dia ingin Arzan berhenti ikut campur, sudah dapat di pastikan Kia tidak suka di kasihani gadis itu sangat menjaga martabat dan harga dirinya.


Lama keduanya sama-sama diam, menyantap sarapan dengan tenang padahal keduanya sama-sama sibuk menahan diri untuk tidak mengatakan apapun yang bisa membuat kesal lawan bicara mereka.


"Kia, investasi itu____"


"Investasi nya____"


Keduanya bersuara secara bersamaan, keduanya saling melempar pandangan. "Oh, itu silahkan kau duluan." Kata Kia.


"Tidak, kau duluan saja." Sahut Arzan.


"Tidak, tidak! Sepertinya yang mau kau bicarakan jauh lebih penting, jadi silahkan bicara lebih dulu." Kia masih kekeh meminta Arzan untuk berbicara lebih dulu.


Akhirnya kedua orang itu malah terlibat perdebatan, saling menunjuk satu sama lain untuk berbicara lebih dulu. Tanpa sadar mereka bukan saling mengalah, malah lebih ingin menang sendiri.


"Cepat kau lebih dulu, aku tidak punya banyak waktu. Sebentar lagi harus berangkat ke kantor." Tegas Arzan.


"Kau yang mempersulit, sudahlah kau lebih dulu supaya semuanya cepat selesai. Kata mu tidak punya banyak waktu, ya sudah cepat bicara." Kia masih kekeh, dia bahkan jauh terdengar emosi dari Arzan.


Arzan menatap Kia sekilas, gadis itu memang keras kepala. Akhirnya Arzan mengalah, dia berbicara lebih dulu.

__ADS_1


"Aku akan membuat perjanjian untuk investasi yang akan aku berikan kepada perusahaan papa mu. Minta dia untuk mengosongkan jadwal nya besok, kau juga harus ikut besok." Jelas Arzan.


Kia mengangguk mengerti, dia akan pulang hari ini kalau begitu. "Baiklah, aku akan meminta papa untuk menemui mu besok."


Arzan berdehem singkat, dia sudah selesai dengan sarapannya. "Aku berangkat."


"Tunggu! Tunggu! Aku ikut, sampai halte bus di depan itu. Aku akan pulang ke rumah, dan akan memberitahu papa." Kia pun langsung membereskan bekas makan mereka, setelah itu Kia berlari masuk ke kamar untuk mengambil ponsel nya.


"Ayo, uncle!" seru Kia yang baru keluar dari kamar, dia melihat ke arah dapur tapi sudah tidak ada Arzan di sana.


"Uncle!" panggil nya lagi, dia mencari sosok Arzan di dalam apartemen tapi tidak ada.


"Uncle! Kau dimana? Ayo, berangkat!"


Kia mencebik kesal, apakah Arzan meninggalkan nya? Benar-benar tidak memiliki hati nurani, Kia hanya meminta tumpangan untuk ke halte bus yang kebetulan di lewati juga oleh Arzan.


Baru saja Kia akan masuk kedalam lift, ponselnya berdering. Dia menatap malas pada layar ponselnya, tertera nama Arzan di panggilan masuk itu.


"Hallo!" dengan malas Kia menjawab panggilan dari Arzan, terdengar suara bising di seberang sana itu seperti suara kendaraan yang saling bersautan.


"Aku berangkat lebih dulu, ada sopir yang akan mengantar mu pulang. Turunlah saat sudah siap, sopir akan mengantar mu." kata Arzan di sebrang telepon sana.


Kia mencebik kesal, pria itu padahal hanya tinggal memberi tumpangan sampai halte bus tidak perlu mengantar Kia sampai rumah. Tapi, nyatanya Arzan malah meninggalkannya Kia dan berangkat lebih dulu.


"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri." Sahut Kia.


Terdengar sebuah kekehan kecil di sebrang sana, Arzan mengerti Kia marah padanya. Gadis itu mudah marah, tapi dia juga mudah untuk melupakan nya.

__ADS_1


"Kenapa, kau menertawai ku?" kesal Kia.


"Tidak, aku tidak menertawai mu. Coba turun dulu, sopir nya sudah menunggu mu. Kasihan dia, sudah menunggu sejak tadi."


Kia berpikir sejenak, benar juga kasihan sopir nya pasti sudah menunggu Kia di bawah. Akhirnya Kia pun turun, buru-buru Kia masuk kedalam lift. Setelah sampai di bawah, Kia mencari mobil yang Arzan maksud.


"Uncle, mobil seperti apa yang sopir itu gunakan?" tanya Kia, sambungan telepon mereka masih terhubung.


"Coba pergi ke area parkir."


Kia menurut, meski terus menggerutu kesal tapi dia tetap menurut. Gadis itu mengedarkan pandangannya, tidak menemukan siapapun yang sedang menunggu nya.


Tin! Tin! Tin!


Klakson mobil mengejutkan Kia, gadis itu menatap sengit pada mobil yang tiba-tiba saja membunyikan klakson begitu keras.


"Ayo masuk!" Kia melotot ketika mendengar suara Arzan, pria itu rupanya masih ada di sana. Jadi, dia hanya mengerjai Kia? Wah, dia sudah mulai berani sekarang mengganggu seorang Kiara.


"Uncle, aku marah padamu." Kia berniat untuk pergi dari sana, namun suara Arzan kembali menghentikan langkahnya.


"Aku tidak peduli, cepat naik aku akan mengantar mu sampai halte. Jika tidak mau ya sudah, aku pergi." Sahut Arzan terdengar seperti mengancam, mau tak mau akhirnya Kia berbalik gadis itu menurut untuk masuk kedalam mobil Arzan.


"Aku bukan sopir mu, duduklah di kursi depan." Kembali Arzan mengeluarkan protes saat Kia akan duduk di kursi belakang.


"Iya, iya. Dasar bawel!" Kia terdengar begitu kesal, lama-lama Arzan itu menyebalkan.


...***...

__ADS_1


...Up!Up!Up!...


__ADS_2